<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nah! Komisi HAM PBB Meradang, Anggap Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis Rohingya</title><description>PBB meminta Pemerintah Myanmar menghentikan &amp;ldquo;operasi keamanan brutal&amp;rdquo;  terhadap warga etnik Rohingya di negara bagian Rakhine.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/12/18/1774105/nah-komisi-ham-pbb-meradang-anggap-myanmar-lakukan-pembersihan-etnis-rohingya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/12/18/1774105/nah-komisi-ham-pbb-meradang-anggap-myanmar-lakukan-pembersihan-etnis-rohingya"/><item><title>Nah! Komisi HAM PBB Meradang, Anggap Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis Rohingya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/12/18/1774105/nah-komisi-ham-pbb-meradang-anggap-myanmar-lakukan-pembersihan-etnis-rohingya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/12/18/1774105/nah-komisi-ham-pbb-meradang-anggap-myanmar-lakukan-pembersihan-etnis-rohingya</guid><pubDate>Selasa 12 September 2017 11:53 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/12/18/1774105/nah-komisi-ham-pbb-meradang-anggap-myanmar-lakukan-pembersihan-etnis-rohingya-YRnqPlMdS9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Demonstrasi bela etnis Rohingya. (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/12/18/1774105/nah-komisi-ham-pbb-meradang-anggap-myanmar-lakukan-pembersihan-etnis-rohingya-YRnqPlMdS9.jpg</image><title>Demonstrasi bela etnis Rohingya. (Foto: Antara)</title></images><description>JENEWA &amp;ndash; Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  meminta Pemerintah Myanmar menghentikan &amp;ldquo;operasi keamanan brutal&amp;rdquo;  terhadap warga etnik Rohingya di negara bagian Rakhine.   PBB menegaskan Pemerintah Myanmar telah melakukan pembersihan etnik  Rohingya. Komisi HAM PBB menyatakan operasi tempur Myanmar tidak perlu  dilakukan untuk membalas serangan gerilyawan pada bulan lalu. Ketegangan  etnik meningkat di Myanmar kemarin tetap menunjukkan eskalasi  peningkatan setelah kekerasan yang berlangsung selama dua pekan di  Rakhine.   Lebih dari 300.000 pengungsi Rohingya mengungsi ke perbatasan Bangladesh  untuk menyelamatkan diri. &amp;ldquo;Situasi (Rohingya) seperti contoh buku teks  tentang pembersihan etnik,&amp;rdquo; kecam Pejabat Komisi HAM PBB Zeid Ra&amp;rsquo;ad al-  Hussein di Jenewa, kemarin, dilansir Reuters. Dia mengungkapkan, lebih  dari 270.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh
(Baca juga: Kisah Horor Rohingya: Militer Minta Warga Masuk ke Rumah, Lalu Dibom!)
Banyak pengungsi terjebak di perbatasan. Banyak laporan tentang  pembakaran desa dan pembunuhan massal. &amp;ldquo;Kita menerima beragam laporan  dan citra satelit pergerakan pasukan keamanan dan gerilyawan lokal  membakar desa,&amp;rdquo; kata Zeid. &amp;ldquo;Laporan pembunuhan luar biasa juga terjadi,  termasuk penembakan terhadap warga sipil yang mengungsi,&amp;rdquo; katanya.   Zeid juga mengutip laporan terhadap otoritas keamanan Myanmar juga  menanam ranjau di sepanjang perbatasan Bangladesh. Itu dilakukan untuk  mencegah warga Rohingya kembali ke Myanmar. Selama beberapa dekade  silam, warga Rohingya tidak memiliki hak politik dan sipil lainnya,  termasuk kewarganegaraan.   &amp;ldquo;Saya menyerukan pemerintah menghentikan operasi militer brutal yang  digelar saat ini,&amp;rdquo; kata Zeid. &amp;ldquo;Banyak laporan menunjukkan adanya  pelanggaran yang terjadi. Operasi itu juga mengakibatkan diskriminasi  terhadap penduduk Rohingya,&amp;rdquo; tuturnya.
(Baca juga: Suu Kyi Kini Dikritik Desmond Tutu, Peraih Nobel Perdamaian yang 'Cinta' Padanya)
Tahun lalu, Komisi HAM PBB  mengeluarkan laporan berdasarkan wawancara dengan warga Rohingya yang  melarikan diri ke Bangladesh, India, dan Pakistan.   Zeid menyimpulkan kalau telah terjadi serangan sistemik dan luas  terhadap Rohingya. &amp;ldquo;Itu mungkin menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan,&amp;rdquo;  ujarnya. Zeid menceritakan bahwa India merupakan salah satu negara yang  mendeportasi warga etnik Rohingya. Sekitar 40.000 warga Rohingya  bermukim di India, termasuk 16.000 orang sudah mendapatkan dokumentasi  pengungsi.   &amp;ldquo;India tidak boleh mengusir mereka karena warga Rohingya akan menghadapi  penyiksaan jika kembali ke Myanmar,&amp;rdquo; ujarnya. Seruan Komisi HAM PBB itu  setelah Menteri Luar Negeri Bangladesh AH Mahmood Ali menegaskan  tentang genosida telah terjadi di Rakhine. &amp;ldquo;Dunia internasional  menyatakan itu sebagai genosida.&quot;Kita juga mengatakan itu sebagai genosida,&amp;rdquo; ujarnya dalam rapat bersama   dengan para diplomat di Dhaka pada Minggu (10/9) dilansir Al Jazeera.   Ali mendeskripsikan tindakan kekerasan itu sebagai balas dendam tentara   Myanmar menyusul serangan terhadap aparat keamanan pada 25 Agustus   silam.   &amp;ldquo;Apakah semua orang harus dibunuh? Apakah semua desa  harus dibakar? Itu  tidak bisa diterima,&amp;rdquo; kecam Ali. Dia menegaskan  Dhaka tetap mencari  solusi damai, bukan &amp;ldquo;perang&amp;rdquo; melawan Myanmar.  Komisi Nasional untuk HAM  Bangladesh menyerukan agar para pemimpin  utama di Myanmar dihadapkan ke  Mahkamah Internasional karena melakukan  genosida terhadap warga  Rohingya.   &amp;ldquo;Genosida telah terjadi di  Myanmar. Kita berpikir untuk mewujudkan  proses hukum terhadap Myanmar  dan militer Myanmar di Mahkamah  Internasional,&amp;rdquo; kata pejabat Komisi  Nasional untuk HAM Bangladesh Kazi  Reazul Hoque saat berkunjung ke kamp  pengungsi Rohingya di Cox&amp;rsquo;s Bazar.  Pemerintah Myanmar mengklaim telah  membubarkan kerumunan massa di Taung  Dwi Gyi dengan menembakkan peluru  karet.   Dari perbatasan Myanmar&amp;ndash;Bangladesh, ribuan pengungsi  Rohingya masih  terjebak di perbatasan. Mereka tidak memiliki makanan  dan tidak tinggal  di tenda pengungsian. Hingga Minggu (10/9), jumlah  pengungsi Rohingya  tiba di Cox&amp;rsquo;s Bazar mencapai ratusan ribu orang.  Banyak pengungsi masih  terjebak di Sungai Naf yang memisahkan  Bangladesh dan Myanmar.   Ribuan pengungsi Myanmar juga masih  tertahan di Kota Maungdaw, Rakhine.  Penduduk Maungdaw mengungkapkan  kepada Reuters sekitar 500 rumah kemarin  dibakar di kota tersebut.  Banyak pengungsi yang kelaparan dan kehausan  tidak bisa melintasi  perbatasan.   Pasalnya, kerap terjadi bentrokan dengan nelayan  Bangladesh yang meminta  jasa penyeberangan dengan bayaran senilai  USD122 (Rp1,6 juta) atau  lebih. Jumlah pengungsi ke Bangladesh  diperkirakan akan terus bertambah.  Lembaga kemanusiaan dan komunitas  lokal juga berjuang keras untuk  menghadapi hal tersebut.</description><content:encoded>JENEWA &amp;ndash; Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  meminta Pemerintah Myanmar menghentikan &amp;ldquo;operasi keamanan brutal&amp;rdquo;  terhadap warga etnik Rohingya di negara bagian Rakhine.   PBB menegaskan Pemerintah Myanmar telah melakukan pembersihan etnik  Rohingya. Komisi HAM PBB menyatakan operasi tempur Myanmar tidak perlu  dilakukan untuk membalas serangan gerilyawan pada bulan lalu. Ketegangan  etnik meningkat di Myanmar kemarin tetap menunjukkan eskalasi  peningkatan setelah kekerasan yang berlangsung selama dua pekan di  Rakhine.   Lebih dari 300.000 pengungsi Rohingya mengungsi ke perbatasan Bangladesh  untuk menyelamatkan diri. &amp;ldquo;Situasi (Rohingya) seperti contoh buku teks  tentang pembersihan etnik,&amp;rdquo; kecam Pejabat Komisi HAM PBB Zeid Ra&amp;rsquo;ad al-  Hussein di Jenewa, kemarin, dilansir Reuters. Dia mengungkapkan, lebih  dari 270.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh
(Baca juga: Kisah Horor Rohingya: Militer Minta Warga Masuk ke Rumah, Lalu Dibom!)
Banyak pengungsi terjebak di perbatasan. Banyak laporan tentang  pembakaran desa dan pembunuhan massal. &amp;ldquo;Kita menerima beragam laporan  dan citra satelit pergerakan pasukan keamanan dan gerilyawan lokal  membakar desa,&amp;rdquo; kata Zeid. &amp;ldquo;Laporan pembunuhan luar biasa juga terjadi,  termasuk penembakan terhadap warga sipil yang mengungsi,&amp;rdquo; katanya.   Zeid juga mengutip laporan terhadap otoritas keamanan Myanmar juga  menanam ranjau di sepanjang perbatasan Bangladesh. Itu dilakukan untuk  mencegah warga Rohingya kembali ke Myanmar. Selama beberapa dekade  silam, warga Rohingya tidak memiliki hak politik dan sipil lainnya,  termasuk kewarganegaraan.   &amp;ldquo;Saya menyerukan pemerintah menghentikan operasi militer brutal yang  digelar saat ini,&amp;rdquo; kata Zeid. &amp;ldquo;Banyak laporan menunjukkan adanya  pelanggaran yang terjadi. Operasi itu juga mengakibatkan diskriminasi  terhadap penduduk Rohingya,&amp;rdquo; tuturnya.
(Baca juga: Suu Kyi Kini Dikritik Desmond Tutu, Peraih Nobel Perdamaian yang 'Cinta' Padanya)
Tahun lalu, Komisi HAM PBB  mengeluarkan laporan berdasarkan wawancara dengan warga Rohingya yang  melarikan diri ke Bangladesh, India, dan Pakistan.   Zeid menyimpulkan kalau telah terjadi serangan sistemik dan luas  terhadap Rohingya. &amp;ldquo;Itu mungkin menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan,&amp;rdquo;  ujarnya. Zeid menceritakan bahwa India merupakan salah satu negara yang  mendeportasi warga etnik Rohingya. Sekitar 40.000 warga Rohingya  bermukim di India, termasuk 16.000 orang sudah mendapatkan dokumentasi  pengungsi.   &amp;ldquo;India tidak boleh mengusir mereka karena warga Rohingya akan menghadapi  penyiksaan jika kembali ke Myanmar,&amp;rdquo; ujarnya. Seruan Komisi HAM PBB itu  setelah Menteri Luar Negeri Bangladesh AH Mahmood Ali menegaskan  tentang genosida telah terjadi di Rakhine. &amp;ldquo;Dunia internasional  menyatakan itu sebagai genosida.&quot;Kita juga mengatakan itu sebagai genosida,&amp;rdquo; ujarnya dalam rapat bersama   dengan para diplomat di Dhaka pada Minggu (10/9) dilansir Al Jazeera.   Ali mendeskripsikan tindakan kekerasan itu sebagai balas dendam tentara   Myanmar menyusul serangan terhadap aparat keamanan pada 25 Agustus   silam.   &amp;ldquo;Apakah semua orang harus dibunuh? Apakah semua desa  harus dibakar? Itu  tidak bisa diterima,&amp;rdquo; kecam Ali. Dia menegaskan  Dhaka tetap mencari  solusi damai, bukan &amp;ldquo;perang&amp;rdquo; melawan Myanmar.  Komisi Nasional untuk HAM  Bangladesh menyerukan agar para pemimpin  utama di Myanmar dihadapkan ke  Mahkamah Internasional karena melakukan  genosida terhadap warga  Rohingya.   &amp;ldquo;Genosida telah terjadi di  Myanmar. Kita berpikir untuk mewujudkan  proses hukum terhadap Myanmar  dan militer Myanmar di Mahkamah  Internasional,&amp;rdquo; kata pejabat Komisi  Nasional untuk HAM Bangladesh Kazi  Reazul Hoque saat berkunjung ke kamp  pengungsi Rohingya di Cox&amp;rsquo;s Bazar.  Pemerintah Myanmar mengklaim telah  membubarkan kerumunan massa di Taung  Dwi Gyi dengan menembakkan peluru  karet.   Dari perbatasan Myanmar&amp;ndash;Bangladesh, ribuan pengungsi  Rohingya masih  terjebak di perbatasan. Mereka tidak memiliki makanan  dan tidak tinggal  di tenda pengungsian. Hingga Minggu (10/9), jumlah  pengungsi Rohingya  tiba di Cox&amp;rsquo;s Bazar mencapai ratusan ribu orang.  Banyak pengungsi masih  terjebak di Sungai Naf yang memisahkan  Bangladesh dan Myanmar.   Ribuan pengungsi Myanmar juga masih  tertahan di Kota Maungdaw, Rakhine.  Penduduk Maungdaw mengungkapkan  kepada Reuters sekitar 500 rumah kemarin  dibakar di kota tersebut.  Banyak pengungsi yang kelaparan dan kehausan  tidak bisa melintasi  perbatasan.   Pasalnya, kerap terjadi bentrokan dengan nelayan  Bangladesh yang meminta  jasa penyeberangan dengan bayaran senilai  USD122 (Rp1,6 juta) atau  lebih. Jumlah pengungsi ke Bangladesh  diperkirakan akan terus bertambah.  Lembaga kemanusiaan dan komunitas  lokal juga berjuang keras untuk  menghadapi hal tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
