<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nah Lho, Myanmar Akui 471 Desa Rohingya Jadi Target 'Operasi Pembersihan' Tentara</title><description>Pemerintah Myanmar mengakui sebanyak 471 desa  yang dihuni minoritas  Muslim Rohingya menjadi target &amp;ldquo;operasi  pembersihan&amp;rdquo; oleh tentara.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/14/18/1775757/nah-lho-myanmar-akui-471-desa-rohingya-jadi-target-operasi-pembersihan-tentara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/14/18/1775757/nah-lho-myanmar-akui-471-desa-rohingya-jadi-target-operasi-pembersihan-tentara"/><item><title>Nah Lho, Myanmar Akui 471 Desa Rohingya Jadi Target 'Operasi Pembersihan' Tentara</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/14/18/1775757/nah-lho-myanmar-akui-471-desa-rohingya-jadi-target-operasi-pembersihan-tentara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/14/18/1775757/nah-lho-myanmar-akui-471-desa-rohingya-jadi-target-operasi-pembersihan-tentara</guid><pubDate>Kamis 14 September 2017 12:52 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/14/18/1775757/nah-lho-myanmar-akui-471-desa-rohingya-jadi-target-operasi-pembersihan-tentara-VJYhVIXiC8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Desa-desa etnis Rohingya dibakar. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/14/18/1775757/nah-lho-myanmar-akui-471-desa-rohingya-jadi-target-operasi-pembersihan-tentara-VJYhVIXiC8.jpg</image><title>Desa-desa etnis Rohingya dibakar. (Foto: Reuters)</title></images><description>YANGON - Pemerintah Myanmar mengakui sebanyak 471 desa  yang dihuni minoritas Muslim Rohingya menjadi target &amp;ldquo;operasi  pembersihan&amp;rdquo; oleh tentara sejak akhir Agustus lalu. Dari jumlah itu,  sebanyak 40 persen atau 176 desa kini benar-benar kosong.Pengakuan  ini disampaikan juru bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay. Selain 176  desa sudah kosong, 34 desa lainnya sebagian telah ditinggalkan warga  Rohingya.Tindakan keras militer diluncurkan sebagai respons atas  serangan serangan militan Rohingya terhadap pos-pos polisi yang  menewaskan 12 petugas pada 25 Agustus lalu. Operasi militer itu memaksa  sekitar 370.000 warga Rohingya eksodus ke Bangladesh.Pemimpin de  facto Myanmar Aung San Suu Kyi menuai kecaman masyarakat internasional  karena tidak berbuat banyak untuk mencegah kekerasan yang dilakukan  militer. Selain itu, Suu Kyi yang menjadi ikon pejuang demokrasi dan  peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1991 dinilai sudah semestinya turun  tangan mencegah kekerasan.
(Baca juga: Nah Lho, Suu Kyi Dipastikan Absen di Sidang Umum PBB, Diduga karena Krisis Rohingya)Peraih Nobel tersebut sedianya akan  menghadiri Sidang Umum PBB minggu depan. Namun Zaw Htay mengatakan bahwa  Suu Kyi tidak akan menghadirinya.&amp;rdquo;Alasan pertama adalah karena  serangan teroris Rakhine,&amp;rdquo; kata Zaw Htay. &amp;rdquo;Alasan kedua adalah ada orang  yang menghasut kerusuhan di beberapa daerah, yang ketiga adalah bahwa  kita mendengar akan ada serangan teroris dan kita mencoba untuk  mengatasi masalah ini,&amp;rdquo; lanjut dia, seperti dilansir The Guardian, Kamis (14/9/2017).Wakil presiden kedua, Henry Van Tio, akan mewakili Myanmar dalam Sidang Umum PBB.
(Baca juga: Senator AS: 'Kuliahi' Suu Kyi soal Rohingya Bukan Sebuah Solusi)Aung  San Suu Kyi, yang telah dikritik karena menyalahkan &amp;rdquo;teroris&amp;rdquo; atas apa  yang dia sebut sebagai gunung es kesalahan informasi terkait kekerasan  di Rakhine, akan memberikan pidato di televisi, di Myanmar, minggu depan  yang akan mencakup topik yang sama dengan yang semestinya dia sampaikan  di PBB.Tahun lalu, dalam pidato pertamanya di Majelis Umum PBB  sebagai pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi mendapat pujian karena  berjanji untuk menegakkan hak-hak minoritas.Sementara itu, lima  pemenang Hadiah Nobel Perdamaian ikut bergabung  dengan masyarakat  internasional untuk mengecam Suu Kyi yang diam atas  pembantaian dan  penindasan etnis Rohingya di Rakhine. Kelima tokoh itu  adalah Mairead  Maguire, Jody Williams, Shirin Ebadi, Leymah Gbowee dan  Tawakkol Karman.Mereka  menandatangani sebuah surat yang berisi  pertanyaan kepada Suu Kyi.  &amp;rdquo;Berapa banyak Rohingya yang harus mati;  berapa banyak perempuan  Rohingya akan diperkosa; berapa banyak  komunitas yang akan diratakan  sebelum Anda menaikkan suara Anda untuk  membela mereka yang tidak  memiliki suara?,&amp;rdquo; bunyi pertanyaan mereka  untuk Suu Kyi.</description><content:encoded>YANGON - Pemerintah Myanmar mengakui sebanyak 471 desa  yang dihuni minoritas Muslim Rohingya menjadi target &amp;ldquo;operasi  pembersihan&amp;rdquo; oleh tentara sejak akhir Agustus lalu. Dari jumlah itu,  sebanyak 40 persen atau 176 desa kini benar-benar kosong.Pengakuan  ini disampaikan juru bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay. Selain 176  desa sudah kosong, 34 desa lainnya sebagian telah ditinggalkan warga  Rohingya.Tindakan keras militer diluncurkan sebagai respons atas  serangan serangan militan Rohingya terhadap pos-pos polisi yang  menewaskan 12 petugas pada 25 Agustus lalu. Operasi militer itu memaksa  sekitar 370.000 warga Rohingya eksodus ke Bangladesh.Pemimpin de  facto Myanmar Aung San Suu Kyi menuai kecaman masyarakat internasional  karena tidak berbuat banyak untuk mencegah kekerasan yang dilakukan  militer. Selain itu, Suu Kyi yang menjadi ikon pejuang demokrasi dan  peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1991 dinilai sudah semestinya turun  tangan mencegah kekerasan.
(Baca juga: Nah Lho, Suu Kyi Dipastikan Absen di Sidang Umum PBB, Diduga karena Krisis Rohingya)Peraih Nobel tersebut sedianya akan  menghadiri Sidang Umum PBB minggu depan. Namun Zaw Htay mengatakan bahwa  Suu Kyi tidak akan menghadirinya.&amp;rdquo;Alasan pertama adalah karena  serangan teroris Rakhine,&amp;rdquo; kata Zaw Htay. &amp;rdquo;Alasan kedua adalah ada orang  yang menghasut kerusuhan di beberapa daerah, yang ketiga adalah bahwa  kita mendengar akan ada serangan teroris dan kita mencoba untuk  mengatasi masalah ini,&amp;rdquo; lanjut dia, seperti dilansir The Guardian, Kamis (14/9/2017).Wakil presiden kedua, Henry Van Tio, akan mewakili Myanmar dalam Sidang Umum PBB.
(Baca juga: Senator AS: 'Kuliahi' Suu Kyi soal Rohingya Bukan Sebuah Solusi)Aung  San Suu Kyi, yang telah dikritik karena menyalahkan &amp;rdquo;teroris&amp;rdquo; atas apa  yang dia sebut sebagai gunung es kesalahan informasi terkait kekerasan  di Rakhine, akan memberikan pidato di televisi, di Myanmar, minggu depan  yang akan mencakup topik yang sama dengan yang semestinya dia sampaikan  di PBB.Tahun lalu, dalam pidato pertamanya di Majelis Umum PBB  sebagai pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi mendapat pujian karena  berjanji untuk menegakkan hak-hak minoritas.Sementara itu, lima  pemenang Hadiah Nobel Perdamaian ikut bergabung  dengan masyarakat  internasional untuk mengecam Suu Kyi yang diam atas  pembantaian dan  penindasan etnis Rohingya di Rakhine. Kelima tokoh itu  adalah Mairead  Maguire, Jody Williams, Shirin Ebadi, Leymah Gbowee dan  Tawakkol Karman.Mereka  menandatangani sebuah surat yang berisi  pertanyaan kepada Suu Kyi.  &amp;rdquo;Berapa banyak Rohingya yang harus mati;  berapa banyak perempuan  Rohingya akan diperkosa; berapa banyak  komunitas yang akan diratakan  sebelum Anda menaikkan suara Anda untuk  membela mereka yang tidak  memiliki suara?,&amp;rdquo; bunyi pertanyaan mereka  untuk Suu Kyi.</content:encoded></item></channel></rss>
