<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE STORY: &quot;Pria yang Menyelamatkan Dunia,&quot; Stanislav Petrov Meninggal Tanpa Diketahui  </title><description>Sebagai seorang perwira dengan jasa besar, nama Stanislav Petrov relatif tidak banyak terdengar.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778526/okezone-story-pria-yang-menyelamatkan-dunia-stanislav-petrov-meninggal-tanpa-diketahui</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778526/okezone-story-pria-yang-menyelamatkan-dunia-stanislav-petrov-meninggal-tanpa-diketahui"/><item><title>OKEZONE STORY: &quot;Pria yang Menyelamatkan Dunia,&quot; Stanislav Petrov Meninggal Tanpa Diketahui  </title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778526/okezone-story-pria-yang-menyelamatkan-dunia-stanislav-petrov-meninggal-tanpa-diketahui</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778526/okezone-story-pria-yang-menyelamatkan-dunia-stanislav-petrov-meninggal-tanpa-diketahui</guid><pubDate>Selasa 19 September 2017 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/18/18/1778526/okezone-story-pria-yang-menyelamatkan-dunia-stanislav-petrov-meninggal-tanpa-diketahui-0SFHlUNAAL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keputusan yang diambil Stanislav Petrov pada 26 September 1983 menghindarkan dunia dari ancaman Perang Nuklir. (Foto: Sputnik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/18/18/1778526/okezone-story-pria-yang-menyelamatkan-dunia-stanislav-petrov-meninggal-tanpa-diketahui-0SFHlUNAAL.jpg</image><title>Keputusan yang diambil Stanislav Petrov pada 26 September 1983 menghindarkan dunia dari ancaman Perang Nuklir. (Foto: Sputnik)</title></images><description>TIDAK banyak yang tahu bahwa sekira tiga dekade yang lalu, sebuah krisis nuklir antara Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS) yang mungkin memicu Perang Dunia III berhasil dicegah oleh seorang perwira Uni Soviet. Namun, meski tercatat dalam sejarah sebagai orang yang berhasil mencegah perang nuklir, Stanislav Petrov relatif tidak dikenal luas, bahkan setelah dia meninggal dunia.
Keputusan yang diambil Petrov pada hari menentukan itu sebenarnya tidak akan pernah diketahui tanpa jasa dari Karl Schumacher, seorang aktivis politik dari Jerman yang menyampaikan kisah Petrov kepada khalayak di Barat. Schumacher juga yang akhirnya mengetahui bahwa sang pahlawan telah meninggal dunia tanpa mendapat sorotan. &amp;nbsp;
Pada 26 September 1983, Letnan Kolonel Stanislav Petrov sedang bertugas mengawasi sistem radar peringatan dini di sebuah bungker di dekat Moskow. Lewat tengah malam, Petrov melihat sesuatu yang mengejutkan di layar radarnya, sebuah rudal yang ditembakkan dari AS menuju ke Uni Soviet. &amp;nbsp;
Petrov tidak memiliki banyak waktu untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Dari saat rudal diluncurkan, Kremlin hanya mempunyai waktu sekira 30 menit untuk memutuskan menekan tombol merah dan membalas serangan. Sementara bagi Petrov, dia hanya memiliki waktu 15 menit untuk menentukan apakah ancaman yang tampak pada layar radarnya adalah ancaman asli atau alarm palsu serta melaporkannya pada komandannya. &amp;nbsp;
&quot;Kursi saya yang nyaman terasa seperti wajan panas dan kaki saya lemas. Saya bahkan merasa saya tidak bisa berdiri. Seperti itulah perasaan gugup yang saya rasakan saat saya mengambil keputusan, &quot; kata Petrov sebagaimana dikutip dari RT, Selasa (19/7/2017).Hal ini membuat Petrov merasa kalut. Dia tahu bahwa jika mendapat  serangan dari AS, maka Moskow akan membalas dengan kekuatan penuh yang  mungkin berarti pengerahan senjata nuklir.
&quot;Saat pertama kali melihat pesan peringatan, saya bangkit dari kursi.  Semua bawahan saya bingung, jadi saya mulai meneriakkan perintah agar  tidak panik. Saya tahu keputusan saya akan memiliki banyak konsekuensi, &quot;  kenang Petrov dalam sebuah wawancara dengan RT pada 2010.
&quot;Sirene berbunyi untuk kedua kalinya. Huruf merah raksasa muncul di layar utama kami, berbunyi START. Di sana diinformasikan bahwa empat rudal lagi telah diluncurkan,&quot; ujarnya lagi.
Menyadari semua resiko yang mungkin terjadi, Petrov mengatakan pada  atasannya bahwa telah terjadi malfungsi pada sistem yang menyebabkan  alarm menyala. Dia memutuskan untuk menentukan bahwa tanda yang tampak  pada radarnya bukanlah rudal dari AS.
&quot;Saya akui, saya takut. Saya tahu tingkat tanggung jawab di ujung jari saya,&amp;rdquo; ujarnya.
Belakangan diketahui bahwa satelit Uni Soviet salah mendeteksi  pantulan cahaya matahari yang memantul di awan sebagai peluncuran rudal.  Namun, bukannya mendapat pujian atas perannya menghindari pecahnya  perang, Petrov justru dimarahi karena tidak mengisi jurnal perbaikan  setelah atasannya ditegur terkait kekurangan yang ada pada sistem radar  tersebut. &amp;nbsp;
&quot;Atasan saya disalahkan dan mereka tidak ingin mengakui bahwa ada  orang yang berbuat baik, tapi malah memilih untuk menyalahkan yang  lainnya.&quot;Selama lebih dari 10 tahun, kejadian itu ditutupi dan digolongkan   sebagai hal yang sangat rahasia. Bahkan Raisa, istri Petrov yang   meninggal pada 1997 tidak mengetahui peran suaminya dalam mencegah   terjadinya perang nuklir.
Barulah pada 1998, atasan Petrov, Kolonel Jenderal Yury Votintsev   buka suara dan melaporkan jasa anak buahnya kepada media. Tindakan yang   diambil Petrov pada 1983 akhirnya disorot dan dilaporkan oleh surat   kabar Jerman, Bild. &amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Setelah membaca laporan ini, saya seolah tersambar petir. Saya tidak   dapat menghilangkan pemikiran bahwa saya harus melakukan sesuatu untuk   orang yang mencegah perang nuklir dan menyelamatkan dunia,&quot; kata Karl   Schumacher dalam blog-nya.
Schumacher kemudian terbang ke Rusia untuk Petrov dan menemukannya   tinggal di sebuah apartemen di Fryazino, timur laut Moskow. Schumacher   mengundang Petrov ke Oberhausen, Jerman, sehingga penduduk setempat dapat   mengetahui kisah saat dunia berada di ambang bencana nuklir.
Selama berada di Jerman, Petrov muncul di TV lokal dan memberikan   wawancara ke beberapa surat kabar. Setelah perjalanannya tersebut, Petrov pun mendapatkan dan penghargaan dari dunia internasional. Pada   2006, Asosiasi Warga Dunia menyerahkan sebuah penghargaan, yang   berbunyi: &quot;Kepada orang yang mencegah perang nuklir,&quot; kepada Petrov di   markas besar PBB di New York.
Pada 2012, Petrov dianugerahi Hadiah Media Jerman yang juga   diberikan kepada sejumlah tokoh penting dunia lain seperti Nelson   Mandela, Dalai Lama dan Kofi Annan. Setahun kemudian dia menerima   anugerah Hadiah Perdamaian Dresden. Kisahnya bahkan diangkat ke layar   lebar pada 2014 dalam film &amp;ldquo;The Man Who Saved The World&amp;rdquo; yang dibintangi  aktor Kevin Costner.Pada 7 September, Schumacher yang masih terus berhubungan dengan    Petrov di tahun-tahun setelahnya mencoba menghubungi Petrov untuk    mengucapkan selamat ulang tahun kepada pria kelahiran 9 September 1939    itu. Namun, Schumacher justru mendapat kabar dari putra Petrov, Dmitry    bahwa sang ayah telah meninggal dunia pada 19 Mei 2017.
Dalam sebuah wawancara, Petrov mengatakan dia tidak pernah menganggap    dirinya sebagai pahlawan. Dia hanya seorang perwira militer yang    menjalankan tugasnya di tempat dan waktu yang tepat. &amp;nbsp;
&quot;Semua yang terjadi tidak penting bagi saya - itu adalah pekerjaan    saya, saya hanya melakukan pekerjaan saya, dan saya adalah orang yang    tepat pada saat yang tepat, itu saja. Mendiang istri saya selama 10    tahun tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dia bertanya kepada saya, &amp;lsquo;Apa    yang kamu lakukan?' Saya menjawab, 'Tidak ada, saya tidak melakukan    apa pun.'&quot;</description><content:encoded>TIDAK banyak yang tahu bahwa sekira tiga dekade yang lalu, sebuah krisis nuklir antara Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS) yang mungkin memicu Perang Dunia III berhasil dicegah oleh seorang perwira Uni Soviet. Namun, meski tercatat dalam sejarah sebagai orang yang berhasil mencegah perang nuklir, Stanislav Petrov relatif tidak dikenal luas, bahkan setelah dia meninggal dunia.
Keputusan yang diambil Petrov pada hari menentukan itu sebenarnya tidak akan pernah diketahui tanpa jasa dari Karl Schumacher, seorang aktivis politik dari Jerman yang menyampaikan kisah Petrov kepada khalayak di Barat. Schumacher juga yang akhirnya mengetahui bahwa sang pahlawan telah meninggal dunia tanpa mendapat sorotan. &amp;nbsp;
Pada 26 September 1983, Letnan Kolonel Stanislav Petrov sedang bertugas mengawasi sistem radar peringatan dini di sebuah bungker di dekat Moskow. Lewat tengah malam, Petrov melihat sesuatu yang mengejutkan di layar radarnya, sebuah rudal yang ditembakkan dari AS menuju ke Uni Soviet. &amp;nbsp;
Petrov tidak memiliki banyak waktu untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Dari saat rudal diluncurkan, Kremlin hanya mempunyai waktu sekira 30 menit untuk memutuskan menekan tombol merah dan membalas serangan. Sementara bagi Petrov, dia hanya memiliki waktu 15 menit untuk menentukan apakah ancaman yang tampak pada layar radarnya adalah ancaman asli atau alarm palsu serta melaporkannya pada komandannya. &amp;nbsp;
&quot;Kursi saya yang nyaman terasa seperti wajan panas dan kaki saya lemas. Saya bahkan merasa saya tidak bisa berdiri. Seperti itulah perasaan gugup yang saya rasakan saat saya mengambil keputusan, &quot; kata Petrov sebagaimana dikutip dari RT, Selasa (19/7/2017).Hal ini membuat Petrov merasa kalut. Dia tahu bahwa jika mendapat  serangan dari AS, maka Moskow akan membalas dengan kekuatan penuh yang  mungkin berarti pengerahan senjata nuklir.
&quot;Saat pertama kali melihat pesan peringatan, saya bangkit dari kursi.  Semua bawahan saya bingung, jadi saya mulai meneriakkan perintah agar  tidak panik. Saya tahu keputusan saya akan memiliki banyak konsekuensi, &quot;  kenang Petrov dalam sebuah wawancara dengan RT pada 2010.
&quot;Sirene berbunyi untuk kedua kalinya. Huruf merah raksasa muncul di layar utama kami, berbunyi START. Di sana diinformasikan bahwa empat rudal lagi telah diluncurkan,&quot; ujarnya lagi.
Menyadari semua resiko yang mungkin terjadi, Petrov mengatakan pada  atasannya bahwa telah terjadi malfungsi pada sistem yang menyebabkan  alarm menyala. Dia memutuskan untuk menentukan bahwa tanda yang tampak  pada radarnya bukanlah rudal dari AS.
&quot;Saya akui, saya takut. Saya tahu tingkat tanggung jawab di ujung jari saya,&amp;rdquo; ujarnya.
Belakangan diketahui bahwa satelit Uni Soviet salah mendeteksi  pantulan cahaya matahari yang memantul di awan sebagai peluncuran rudal.  Namun, bukannya mendapat pujian atas perannya menghindari pecahnya  perang, Petrov justru dimarahi karena tidak mengisi jurnal perbaikan  setelah atasannya ditegur terkait kekurangan yang ada pada sistem radar  tersebut. &amp;nbsp;
&quot;Atasan saya disalahkan dan mereka tidak ingin mengakui bahwa ada  orang yang berbuat baik, tapi malah memilih untuk menyalahkan yang  lainnya.&quot;Selama lebih dari 10 tahun, kejadian itu ditutupi dan digolongkan   sebagai hal yang sangat rahasia. Bahkan Raisa, istri Petrov yang   meninggal pada 1997 tidak mengetahui peran suaminya dalam mencegah   terjadinya perang nuklir.
Barulah pada 1998, atasan Petrov, Kolonel Jenderal Yury Votintsev   buka suara dan melaporkan jasa anak buahnya kepada media. Tindakan yang   diambil Petrov pada 1983 akhirnya disorot dan dilaporkan oleh surat   kabar Jerman, Bild. &amp;nbsp;&amp;nbsp;
&quot;Setelah membaca laporan ini, saya seolah tersambar petir. Saya tidak   dapat menghilangkan pemikiran bahwa saya harus melakukan sesuatu untuk   orang yang mencegah perang nuklir dan menyelamatkan dunia,&quot; kata Karl   Schumacher dalam blog-nya.
Schumacher kemudian terbang ke Rusia untuk Petrov dan menemukannya   tinggal di sebuah apartemen di Fryazino, timur laut Moskow. Schumacher   mengundang Petrov ke Oberhausen, Jerman, sehingga penduduk setempat dapat   mengetahui kisah saat dunia berada di ambang bencana nuklir.
Selama berada di Jerman, Petrov muncul di TV lokal dan memberikan   wawancara ke beberapa surat kabar. Setelah perjalanannya tersebut, Petrov pun mendapatkan dan penghargaan dari dunia internasional. Pada   2006, Asosiasi Warga Dunia menyerahkan sebuah penghargaan, yang   berbunyi: &quot;Kepada orang yang mencegah perang nuklir,&quot; kepada Petrov di   markas besar PBB di New York.
Pada 2012, Petrov dianugerahi Hadiah Media Jerman yang juga   diberikan kepada sejumlah tokoh penting dunia lain seperti Nelson   Mandela, Dalai Lama dan Kofi Annan. Setahun kemudian dia menerima   anugerah Hadiah Perdamaian Dresden. Kisahnya bahkan diangkat ke layar   lebar pada 2014 dalam film &amp;ldquo;The Man Who Saved The World&amp;rdquo; yang dibintangi  aktor Kevin Costner.Pada 7 September, Schumacher yang masih terus berhubungan dengan    Petrov di tahun-tahun setelahnya mencoba menghubungi Petrov untuk    mengucapkan selamat ulang tahun kepada pria kelahiran 9 September 1939    itu. Namun, Schumacher justru mendapat kabar dari putra Petrov, Dmitry    bahwa sang ayah telah meninggal dunia pada 19 Mei 2017.
Dalam sebuah wawancara, Petrov mengatakan dia tidak pernah menganggap    dirinya sebagai pahlawan. Dia hanya seorang perwira militer yang    menjalankan tugasnya di tempat dan waktu yang tepat. &amp;nbsp;
&quot;Semua yang terjadi tidak penting bagi saya - itu adalah pekerjaan    saya, saya hanya melakukan pekerjaan saya, dan saya adalah orang yang    tepat pada saat yang tepat, itu saja. Mendiang istri saya selama 10    tahun tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dia bertanya kepada saya, &amp;lsquo;Apa    yang kamu lakukan?' Saya menjawab, 'Tidak ada, saya tidak melakukan    apa pun.'&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
