<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nah! Pemerhati HAM Ingin Suu Kyi dan Pejabat Militer Myanmar Diberi Sanksi Terkait Rohingya</title><description>Kelompok pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM) menyerukan agar militer Myanmar mendapatkan sanksi dan embargo senjata.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778736/nah-pemerhati-ham-ingin-suu-kyi-dan-pejabat-militer-myanmar-diberi-sanksi-terkait-rohingya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778736/nah-pemerhati-ham-ingin-suu-kyi-dan-pejabat-militer-myanmar-diberi-sanksi-terkait-rohingya"/><item><title>Nah! Pemerhati HAM Ingin Suu Kyi dan Pejabat Militer Myanmar Diberi Sanksi Terkait Rohingya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778736/nah-pemerhati-ham-ingin-suu-kyi-dan-pejabat-militer-myanmar-diberi-sanksi-terkait-rohingya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/19/18/1778736/nah-pemerhati-ham-ingin-suu-kyi-dan-pejabat-militer-myanmar-diberi-sanksi-terkait-rohingya</guid><pubDate>Selasa 19 September 2017 12:00 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/19/18/1778736/nah-pemerhati-ham-ingin-suu-kyi-dan-pejabat-militer-myanmar-diberi-sanksi-terkait-rohingya-OPzpTnuFe8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suu Kyi. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/19/18/1778736/nah-pemerhati-ham-ingin-suu-kyi-dan-pejabat-militer-myanmar-diberi-sanksi-terkait-rohingya-OPzpTnuFe8.jpg</image><title>Suu Kyi. (Foto: Reuters)</title></images><description>YANGON &amp;ndash; Kelompok pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM) menyerukan agar militer Myanmar mendapatkan sanksi dan embargo senjata.  Pasalnya, militer Myanmar dianggap bertanggung jawab atas 410.000  pengungsi Myanmar yang mengungsi ke perbatasan Bangladesh. Human Rights  Watch (HRW) menyatakan, pasukan keamanan Myanmar telah dikecam para  pemimpin dunia terkait kekerasan dan eksodus pengungsi. Mereka meminta  agar dunia menghukum dan memberlakukan sanksi keamanan terhadap para  jenderal Myanmar karena pelanggaran HAM yang telah mereka lakukan.   &amp;ldquo;Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara yang  memberikan perhatian seharusnya memberlakukan sanksi dan embargo senjata  terhadap militer Myanmar dan menyerukan diakhirinya upaya pembersihan  etnis,&amp;rdquo; demikian keterangan HRW dilansir Reuters .
Bukan hanya para  pejabat militer yang disalahkan atas krisis kemanusiaan Rohingya. Peraih  Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi juga mendapatkan kritikan pedas dari  luar negeri agar tidak berupaya menghentikan kekerasan terhadap warga  etnik Rohingya. Suu Kyi dianggap tidak memiliki pengaruh untuk menekan  militer.
(Baca juga: Angkat Bicara Soal Rohingya, Suu Kyi: Kami Juga Prihatin)  Di Myanmar, militer masih memegang kontrol kebijakan keamanan. Simpati  terhadap minoritas Rohingya memang sangat minim. Suu Kyi diperkirakan  akan menyampaikan pidatonya tentang penanganan krisis Rohingya pada hari  ini. HRW menyerukan negaranegara yang memperhatikan nasib warga  Rohingya untuk memberlakukan larangan perjalanan dan membekukan aset  terhadap para pejabat keamanan yang memerintahkan penyalahgunaan  wewenang.   &amp;ldquo;Negara-negara tersebut seharusnya memperluas embargo senjata yang sudah  diberlakukan agar diberlakukan untuk pelarangan penjualan seluruh  senjata, bantuan, dan kerja sama,&amp;rdquo; ucap HRW.
Mereka juga meminta  negara-negara di seluruh dunia untuk melarang transaksi keuangan dengan  perusahaan yang dimiliki militer Myanmar. Selama bertahun-tahun,  AmerikaSerikat (AS) dan negara Barat lainnya memberlakukan sanksi kepada  Myanmar untuk mengakhiri pemerintahan junta militer dan mendukung  kampanye Suu Kyi untuk demokrasi.
(Baca juga: Kisah Warga Rohingya yang Harus Mengemis Belas Kasihan agar Tak Dibunuh)  Sebagai balasan, Myanmar justru membangun hubungan yang lebih dekat  dengan negara tetangga di utara yakni China. AS telah menyerukan  perlindungan warga sipil Rohingya. Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS  Patrick Murphy akan berkunjung ke Myanmar pada pekan ini. Dia  dijadwalkan akan berkunjung ke Sitte, ibu kota Negara Bagian Rakhine.  Dia akan bertemu dengan para pejabat pemerintah dan perwakilan berbagai  komunitas, termasuk Rohingya.
(Baca juga: Miris! Diduga Ditembak Polisi Myanmar, Jasad Bayi Rohingya Terdampar di Sungai)  Namun, dia dilarang berkunjung ke zona konflik di Rakhine utara.  Hubungan AS-Myanmar telah membaik setelah militer tak lagi berkuasa.  Pejabat pemerintahan Trump menyatakan dengan kekerasan terhadap Rohingya  menjadi penyebab hubungan AS-Myanmar akan semakin sulit. Tapi, dia  tidak memperkirakan AS akan memberlakukan sanksi dan embargo senjata  lagi terhadap Myanmar. &amp;ldquo;Banyak orang telah berinvestasi dalam lima tahun  terakhir di mana suasana sudah mencair. Itu menyebabkan semua orang  pihak bersuara dengan hati-hati,&amp;rdquo; ujar pejabat yang enggan disebutkan  namanya.&amp;ldquo;Dalam jangka panjang, jalur diplomasi mungkin akan semakin ketat,&amp;rdquo;   katanya.
Dari Cox's Bazar, Bangladesh, para pengungsi Rohingya kembali   menyuarakan penderitaan mereka yang harus mengungsi untuk menghindari   eksekusi mati dari militer Myanmar. Myanmar saat ini masih melarang   pekerja kemanusiaan dan reporter untuk memasuki zona konflik. Kelompok   pemerhati HAM menyatakan citra satelit menunjukkan 62 desa dibakar   tentara. Sebagian besar pengungsi Rohingya mengungkapkan desa mereka   telah dibakar.   Pernyataan itu dibuktikan karena masih banyak  asap hitam membumbung  tinggi ke angkasa sebagai tanda kebakaran. &amp;ldquo;Tak  ada yang tertinggal,&amp;rdquo;  ujar Nurhaba (23), penduduk desa yang berdekatan  dengan Kota Maungdaw.
Kemudian, gajah liar kemarin mengamuk di dekat  kamp pengungsi baru  Rohingya di Cox's Bazar. Dua orang Rohingya  meninggal dunia yakni seorang  kakek dan seorang bocah remaja saat  membangun penampungan sementara.   &amp;ldquo;Ada banyak gajah di hutan  yang berdekatan dengan kamp pengungsi  Rohingya. Saat pengungsi  membersihkan hutan untuk membuat tenda, gajah  itu mengamuk,&amp;rdquo; ujar  petugas kepolisian Bangladesh Chailau Murma. Tiga  orang lainnya terluka  dan langsung dilarikan ke rumah sakit.</description><content:encoded>YANGON &amp;ndash; Kelompok pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM) menyerukan agar militer Myanmar mendapatkan sanksi dan embargo senjata.  Pasalnya, militer Myanmar dianggap bertanggung jawab atas 410.000  pengungsi Myanmar yang mengungsi ke perbatasan Bangladesh. Human Rights  Watch (HRW) menyatakan, pasukan keamanan Myanmar telah dikecam para  pemimpin dunia terkait kekerasan dan eksodus pengungsi. Mereka meminta  agar dunia menghukum dan memberlakukan sanksi keamanan terhadap para  jenderal Myanmar karena pelanggaran HAM yang telah mereka lakukan.   &amp;ldquo;Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara yang  memberikan perhatian seharusnya memberlakukan sanksi dan embargo senjata  terhadap militer Myanmar dan menyerukan diakhirinya upaya pembersihan  etnis,&amp;rdquo; demikian keterangan HRW dilansir Reuters .
Bukan hanya para  pejabat militer yang disalahkan atas krisis kemanusiaan Rohingya. Peraih  Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi juga mendapatkan kritikan pedas dari  luar negeri agar tidak berupaya menghentikan kekerasan terhadap warga  etnik Rohingya. Suu Kyi dianggap tidak memiliki pengaruh untuk menekan  militer.
(Baca juga: Angkat Bicara Soal Rohingya, Suu Kyi: Kami Juga Prihatin)  Di Myanmar, militer masih memegang kontrol kebijakan keamanan. Simpati  terhadap minoritas Rohingya memang sangat minim. Suu Kyi diperkirakan  akan menyampaikan pidatonya tentang penanganan krisis Rohingya pada hari  ini. HRW menyerukan negaranegara yang memperhatikan nasib warga  Rohingya untuk memberlakukan larangan perjalanan dan membekukan aset  terhadap para pejabat keamanan yang memerintahkan penyalahgunaan  wewenang.   &amp;ldquo;Negara-negara tersebut seharusnya memperluas embargo senjata yang sudah  diberlakukan agar diberlakukan untuk pelarangan penjualan seluruh  senjata, bantuan, dan kerja sama,&amp;rdquo; ucap HRW.
Mereka juga meminta  negara-negara di seluruh dunia untuk melarang transaksi keuangan dengan  perusahaan yang dimiliki militer Myanmar. Selama bertahun-tahun,  AmerikaSerikat (AS) dan negara Barat lainnya memberlakukan sanksi kepada  Myanmar untuk mengakhiri pemerintahan junta militer dan mendukung  kampanye Suu Kyi untuk demokrasi.
(Baca juga: Kisah Warga Rohingya yang Harus Mengemis Belas Kasihan agar Tak Dibunuh)  Sebagai balasan, Myanmar justru membangun hubungan yang lebih dekat  dengan negara tetangga di utara yakni China. AS telah menyerukan  perlindungan warga sipil Rohingya. Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS  Patrick Murphy akan berkunjung ke Myanmar pada pekan ini. Dia  dijadwalkan akan berkunjung ke Sitte, ibu kota Negara Bagian Rakhine.  Dia akan bertemu dengan para pejabat pemerintah dan perwakilan berbagai  komunitas, termasuk Rohingya.
(Baca juga: Miris! Diduga Ditembak Polisi Myanmar, Jasad Bayi Rohingya Terdampar di Sungai)  Namun, dia dilarang berkunjung ke zona konflik di Rakhine utara.  Hubungan AS-Myanmar telah membaik setelah militer tak lagi berkuasa.  Pejabat pemerintahan Trump menyatakan dengan kekerasan terhadap Rohingya  menjadi penyebab hubungan AS-Myanmar akan semakin sulit. Tapi, dia  tidak memperkirakan AS akan memberlakukan sanksi dan embargo senjata  lagi terhadap Myanmar. &amp;ldquo;Banyak orang telah berinvestasi dalam lima tahun  terakhir di mana suasana sudah mencair. Itu menyebabkan semua orang  pihak bersuara dengan hati-hati,&amp;rdquo; ujar pejabat yang enggan disebutkan  namanya.&amp;ldquo;Dalam jangka panjang, jalur diplomasi mungkin akan semakin ketat,&amp;rdquo;   katanya.
Dari Cox's Bazar, Bangladesh, para pengungsi Rohingya kembali   menyuarakan penderitaan mereka yang harus mengungsi untuk menghindari   eksekusi mati dari militer Myanmar. Myanmar saat ini masih melarang   pekerja kemanusiaan dan reporter untuk memasuki zona konflik. Kelompok   pemerhati HAM menyatakan citra satelit menunjukkan 62 desa dibakar   tentara. Sebagian besar pengungsi Rohingya mengungkapkan desa mereka   telah dibakar.   Pernyataan itu dibuktikan karena masih banyak  asap hitam membumbung  tinggi ke angkasa sebagai tanda kebakaran. &amp;ldquo;Tak  ada yang tertinggal,&amp;rdquo;  ujar Nurhaba (23), penduduk desa yang berdekatan  dengan Kota Maungdaw.
Kemudian, gajah liar kemarin mengamuk di dekat  kamp pengungsi baru  Rohingya di Cox's Bazar. Dua orang Rohingya  meninggal dunia yakni seorang  kakek dan seorang bocah remaja saat  membangun penampungan sementara.   &amp;ldquo;Ada banyak gajah di hutan  yang berdekatan dengan kamp pengungsi  Rohingya. Saat pengungsi  membersihkan hutan untuk membuat tenda, gajah  itu mengamuk,&amp;rdquo; ujar  petugas kepolisian Bangladesh Chailau Murma. Tiga  orang lainnya terluka  dan langsung dilarikan ke rumah sakit.</content:encoded></item></channel></rss>
