<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tolong! Ribuan Muslim Rohingya Masih Terjebak di Rakhine, Dibayangi Ancaman Pembunuhan</title><description>Ribuan Muslim Rohingya dari dua desa terpencil  terjebak setelah  tidak diberi jalan aman yang mereka minta untuk mengungsi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779452/tolong-ribuan-muslim-rohingya-masih-terjebak-di-rakhine-dibayangi-ancaman-pembunuhan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779452/tolong-ribuan-muslim-rohingya-masih-terjebak-di-rakhine-dibayangi-ancaman-pembunuhan"/><item><title>Tolong! Ribuan Muslim Rohingya Masih Terjebak di Rakhine, Dibayangi Ancaman Pembunuhan</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779452/tolong-ribuan-muslim-rohingya-masih-terjebak-di-rakhine-dibayangi-ancaman-pembunuhan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779452/tolong-ribuan-muslim-rohingya-masih-terjebak-di-rakhine-dibayangi-ancaman-pembunuhan</guid><pubDate>Rabu 20 September 2017 10:25 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/20/18/1779452/tolong-ribuan-muslim-rohingya-masih-terjebak-di-rakhine-dibayangi-ancaman-pembunuhan-dGeneqBp7e.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengungsi Rohingya. (Foto: Ist/Sindonews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/20/18/1779452/tolong-ribuan-muslim-rohingya-masih-terjebak-di-rakhine-dibayangi-ancaman-pembunuhan-dGeneqBp7e.jpg</image><title>Pengungsi Rohingya. (Foto: Ist/Sindonews)</title></images><description>SITTWE - Ribuan Muslim Rohingya dari dua desa terpencil  terjebak setelah  tidak diberi jalan aman yang mereka minta untuk mengungsi. Hal itu  diungkapkan oleh seorang pejabat senior pemerintah setempat.Penduduk  desa Rohingya mengatakan bahwa mereka ingin pergi tapi membutuhkan  perlindungan pemerintah dari penduduk sekelompok orang yang mengancam akan  membunuh mereka. Mereka juga mengatakan bahwa mereka kekurangan makanan  sejak 25 Agustus, ketika gerilyawan Rohingya melancarkan serangan  mematikan di negara bagian Rakhine, memprovokasi tindakan keras oleh  militer Myanmar.Warga desa Ah Nauk Pyin, salah satu dari dua  desa Rohingya, mengatakan bahwa mereka berharap untuk pindah ke tempat  aman di sebuah kamp di luar Sittwe, ibu kota negara bagian terdekat.
(Baca juga: Terungkap! Hasil Citra Satelit, Militer Myanmar Musnahkan 214 Desa Rohingya)Penduduk  Rohingya Ah Nauk Pyin mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pilihan  lain kecuali tetap tinggal, dan hubungan mereka dengan tetangga Rakhine  yang penuh dengan ketegangan dapat pecah setiap saat.Sekitar  2.700 orang tinggal di Ah Nauk Pyin, yang setengah di antaranya  berlindung di antara pohon buah-buahan dan pohon kelapa di semenanjung  yang tersapu hujan. Penduduknya mengatakan bahwa pria Rakhine telah  mengancam via telefon dan baru saja berkumpul di luar desa dengan  berteriak, &quot;Tinggalkan, atau kita akan membunuh Anda semua&quot;.
(Baca juga: Nah! Pemerhati HAM Ingin Suu Kyi dan Pejabat Militer Myanmar Diberi Sanksi Terkait Rohingya)&quot;Pada  hari Selasa pagi, warga desa Rakhine mengusir dua orang Rohingya yang  mencoba ke ladang mereka,&quot; kata pemimpin desa Ah Nauk Pyin, Maung Maung.Rakhine  menolak melecehkan tetangga Muslim mereka, namun ingin mereka pergi,  karena khawatir mereka bisa berkolaborasi dengan militan dari Arakan  Rohingya Salvation Army (ARSA), yang melakukan serangan 25 Agustus.Khin  Tun Aye, kepala Shwe Laung Tin, salah satu desa Rakhine di dekatnya,  membenarkan bahwa mereka telah mengusir kedua orang Rohingya tersebut  jika mereka berencana menyerang atau meledakkan desanya.
(Baca juga: Hmm... Krisis Rohingya, China Ambil Sikap Mendukung Myanmar di PBB)&quot;Mereka  seharusnya tidak menutup diri pada situasi konflik saat ini. Orang hidup  dalam ketakutan terus-menerus,&quot; katanya menyalahkan penduduk Rohingya  Ah Nauk Pyin.Kantor Koordinator Residen PBB di Myanmar  mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya &quot;sadar dan peduli&quot; mengenai  situasi tersebut dan mendiskusikannya dengan pemerintah Myanmar.Sementara  itu, terkait hal ini, Sekretaris pemerintah negara bagian Rakhine Tin  Maung Swe mengatakan bahwa permintaan dari dua desa untuk jalur yang  aman telah ditolak. Mereka dianggap memiliki cukup beras dan dilindungi  oleh sebuah pos polisi terdekat.&quot;Alasan mereka tidak bisa diterima. Mereka harus tinggal di tempat asalnya,&quot; katanya seperti dilansir dari Reuters, Rabu (20/9/2017).Menurut  Tin Maung Swe langkah seperti itu tidak mungkin karena bisa membuat  marah umat Buddha Rakhine dan selanjutnya mengobarkan ketegangan komunal.Tin  Maung Swe tidak mengizinkan Reuters mengunjungi daerah tersebut untuk  alasan keamanan. Namun ia mengatakan pihak berwenang akan menilai  kebutuhan mereka yang tinggal di sana.&quot;Jika mereka butuh makanan, kami siap mengirimkannya. Jangan khawatir tentang itu,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>SITTWE - Ribuan Muslim Rohingya dari dua desa terpencil  terjebak setelah  tidak diberi jalan aman yang mereka minta untuk mengungsi. Hal itu  diungkapkan oleh seorang pejabat senior pemerintah setempat.Penduduk  desa Rohingya mengatakan bahwa mereka ingin pergi tapi membutuhkan  perlindungan pemerintah dari penduduk sekelompok orang yang mengancam akan  membunuh mereka. Mereka juga mengatakan bahwa mereka kekurangan makanan  sejak 25 Agustus, ketika gerilyawan Rohingya melancarkan serangan  mematikan di negara bagian Rakhine, memprovokasi tindakan keras oleh  militer Myanmar.Warga desa Ah Nauk Pyin, salah satu dari dua  desa Rohingya, mengatakan bahwa mereka berharap untuk pindah ke tempat  aman di sebuah kamp di luar Sittwe, ibu kota negara bagian terdekat.
(Baca juga: Terungkap! Hasil Citra Satelit, Militer Myanmar Musnahkan 214 Desa Rohingya)Penduduk  Rohingya Ah Nauk Pyin mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pilihan  lain kecuali tetap tinggal, dan hubungan mereka dengan tetangga Rakhine  yang penuh dengan ketegangan dapat pecah setiap saat.Sekitar  2.700 orang tinggal di Ah Nauk Pyin, yang setengah di antaranya  berlindung di antara pohon buah-buahan dan pohon kelapa di semenanjung  yang tersapu hujan. Penduduknya mengatakan bahwa pria Rakhine telah  mengancam via telefon dan baru saja berkumpul di luar desa dengan  berteriak, &quot;Tinggalkan, atau kita akan membunuh Anda semua&quot;.
(Baca juga: Nah! Pemerhati HAM Ingin Suu Kyi dan Pejabat Militer Myanmar Diberi Sanksi Terkait Rohingya)&quot;Pada  hari Selasa pagi, warga desa Rakhine mengusir dua orang Rohingya yang  mencoba ke ladang mereka,&quot; kata pemimpin desa Ah Nauk Pyin, Maung Maung.Rakhine  menolak melecehkan tetangga Muslim mereka, namun ingin mereka pergi,  karena khawatir mereka bisa berkolaborasi dengan militan dari Arakan  Rohingya Salvation Army (ARSA), yang melakukan serangan 25 Agustus.Khin  Tun Aye, kepala Shwe Laung Tin, salah satu desa Rakhine di dekatnya,  membenarkan bahwa mereka telah mengusir kedua orang Rohingya tersebut  jika mereka berencana menyerang atau meledakkan desanya.
(Baca juga: Hmm... Krisis Rohingya, China Ambil Sikap Mendukung Myanmar di PBB)&quot;Mereka  seharusnya tidak menutup diri pada situasi konflik saat ini. Orang hidup  dalam ketakutan terus-menerus,&quot; katanya menyalahkan penduduk Rohingya  Ah Nauk Pyin.Kantor Koordinator Residen PBB di Myanmar  mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya &quot;sadar dan peduli&quot; mengenai  situasi tersebut dan mendiskusikannya dengan pemerintah Myanmar.Sementara  itu, terkait hal ini, Sekretaris pemerintah negara bagian Rakhine Tin  Maung Swe mengatakan bahwa permintaan dari dua desa untuk jalur yang  aman telah ditolak. Mereka dianggap memiliki cukup beras dan dilindungi  oleh sebuah pos polisi terdekat.&quot;Alasan mereka tidak bisa diterima. Mereka harus tinggal di tempat asalnya,&quot; katanya seperti dilansir dari Reuters, Rabu (20/9/2017).Menurut  Tin Maung Swe langkah seperti itu tidak mungkin karena bisa membuat  marah umat Buddha Rakhine dan selanjutnya mengobarkan ketegangan komunal.Tin  Maung Swe tidak mengizinkan Reuters mengunjungi daerah tersebut untuk  alasan keamanan. Namun ia mengatakan pihak berwenang akan menilai  kebutuhan mereka yang tinggal di sana.&quot;Jika mereka butuh makanan, kami siap mengirimkannya. Jangan khawatir tentang itu,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
