<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pidato Suu Kyi Dianggap &quot;Menggabungkan Kebohongan dengan Menyalahkan Etnis Rohingya&quot;</title><description>Pidato pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi dianggap tidak  membela warga minoritas Rohingya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779648/pidato-suu-kyi-dianggap-menggabungkan-kebohongan-dengan-menyalahkan-etnis-rohingya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779648/pidato-suu-kyi-dianggap-menggabungkan-kebohongan-dengan-menyalahkan-etnis-rohingya"/><item><title>Pidato Suu Kyi Dianggap &quot;Menggabungkan Kebohongan dengan Menyalahkan Etnis Rohingya&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779648/pidato-suu-kyi-dianggap-menggabungkan-kebohongan-dengan-menyalahkan-etnis-rohingya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/20/18/1779648/pidato-suu-kyi-dianggap-menggabungkan-kebohongan-dengan-menyalahkan-etnis-rohingya</guid><pubDate>Rabu 20 September 2017 14:53 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/20/18/1779648/pidato-suu-kyi-dianggap-menggabungkan-kebohongan-dengan-menyalahkan-etnis-rohingya-qqxzSuTZMe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suu Kyi. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/20/18/1779648/pidato-suu-kyi-dianggap-menggabungkan-kebohongan-dengan-menyalahkan-etnis-rohingya-qqxzSuTZMe.jpg</image><title>Suu Kyi. (Foto: Reuters)</title></images><description>YANGON &amp;ndash; Pidato pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi dianggap tidak  membela warga minoritas Rohingya. Dia hanya membela kepentingan politik  dalam negeri dan tetap mengorbankan warga Rohingya.   Direktur Amnesty International untuk wilayah Asia Tenggara dan Pasifik  James Gomes mengungkapkan, peraih Nobel Perdamaian itu telah  &amp;ldquo;menenggelamkan kepalanya di pasir&amp;rdquo; dengan mengabaikan pelanggaran hak  asasi manusia yang dilakukan militer di Rakhine.
&amp;ldquo;Pidatonya (Suu Kyi)  menggabungkan kebohongan dan menyalahkan korban (etnis Rohingya),&amp;rdquo;  tuding Gomes dilansir BBC.   Hal senada diungkapkan Deputi Direktur Human Rights Watch (HRW) wilayah  Asia Phil Robertson. &amp;ldquo;Suu Kyi menyatakan operasi pembersihan dihentikan  sejak September. Jika itu benar, siapa yang membakar desa-desa  (Rohingya) yang kita lihat dalam dua pekan lalu?&amp;rdquo; tanya Robertson
(Baca juga: Pengungsi Rohingya: Suu Kyi adalah Pengkhianat, Kami Tak Bisa Mengandalkan Kata-katanya!)
Sebelumnya pada pidato di depan parlemen Myanmar, Aung San Suu Kyi  mengungkapkan banyak warga Rohingya yang tidak mengungsi.
Dia juga menegaskan akan menerima siapa pun pengungsi yang ingin  kembali. &amp;ldquo;Kami siap dengan proses repatriasi pengungsi secepatnya, kapan  pun. Siapa pun yang diverifikasi sebagai pengungsi dari negeri ini akan  diterima kembali tanpa masalah, dan akan mendapat keamanan penuh dan  akses terhadap bantuan kemanusiaan,&amp;rdquo; ujarnya.
Klaim Suu Kyi itu dinilai  aneh. Pasalnya, sebagian besar warga etnis Rohingya tidak mendapatkan status  kewarganegaraan. Hanya 40.000 warga Rohingya yang mendapatkan status  kewarganegaraan. Dalam beberapa pekan terakhir, Suu Kyi menjadi sasaran  kecaman masyarakat internasional, terkait caranya menangani kekerasan  terhadap para Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.
(Baca juga: 6 Poin Pidato Suu Kyi Soal Rohingya, Cek Mana yang Benar)  &amp;ldquo;Saya tidak takut kecaman dan pengawasan dunia internasional atas  penanganan pemerintah terhadap krisis Rohingya yang sedang berlangsung,&amp;rdquo;  ujarnya.
Kemudian, Suu Kyi juga mengutuk semua bentuk pelanggaran hak  asasi manusia. Dia mengatasnamakan mengadili siapa pun yang bertanggung  jawab atas pelanggaran HAM di Rakhine.
&amp;ldquo;Kami ingin mencari tahu, permasalahan sebenarnya. Ada tudingan dan    tudingan balik. Kami harus mengkaji tuduhan dari semua pihak. Kami harus    memastikan bahwa tudingan- tudingan itu didasarkan fakta yang kuat,&amp;rdquo;    paparnya. Dia mengungkapkan pihaknya akan mengumpulkan fakta-faktanya    untuk mencari solusi.
(Baca juga: Tolong! Ribuan Muslim Rohingya Masih Terjebak di Rakhine, Dibayangi Ancaman Pembunuhan)  PBB Minta Akses ke Rakhine   Kepala penyidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kekerasan di    Myanmar, Marzuki Darusman, kemarin meminta akses kepada Pemerintah    Myanmar untuk menyelidiki pembunuhan massal terhadap warga etnik    Rohingya. Dia juga berharap dengan dukungan Dewan Hak Asasi Manusia PBB    akan mendapatkan akses ke Negara Bagian Rakhine secepatnya.Tim yang dipimpin Marzuki telah bekerja Agustus lalu. Marzuki   mengungkapkan waktunya akan berakhir dengan tenggat waktu hingga Maret   2018 dan meminta perpanjangan enam bulan. Darusman berharap izin untuk   memasuki Myanmar segera terwujud menyusul niat baik pemimpin nasional   Aung Suu Kyi.   &amp;ldquo;Kini dengan eskalasi ketegangan di Rakhine  utara, kita akan  memverifikasi fakta di lapangan sehingga menghasilkan  laporan yang  mendalam dan berkualitas pada Maret 2018,&amp;rdquo; ujarnya  dilansir Reuters.
Marzuki mengatakan tekanan kepada Myanmar untuk  mengizinkan masuknya tim  penyelidik PBB perlu terus dilakukan karena  itu demi kebaikan  pemerintah Myanmar dan rakyat sendiri.   Dia  juga mengatakan PBB sudah mengirim tim ke perbatasan Bangladesh.   Menurut Marzuki, ada sinyal kalau krisis kemanusiaan akan makin   memburuk. Sebelumnya, Kelompok pemerhati HAM menyerukan agar militer   Myanmar mendapatkan sanksi dan embargo senjata. Pasalnya, militer   Myanmar dianggap bertanggung jawab atas 410.000 pengungsi Myanmar yang   mengungsi ke perbatasan Bangladesh.</description><content:encoded>YANGON &amp;ndash; Pidato pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi dianggap tidak  membela warga minoritas Rohingya. Dia hanya membela kepentingan politik  dalam negeri dan tetap mengorbankan warga Rohingya.   Direktur Amnesty International untuk wilayah Asia Tenggara dan Pasifik  James Gomes mengungkapkan, peraih Nobel Perdamaian itu telah  &amp;ldquo;menenggelamkan kepalanya di pasir&amp;rdquo; dengan mengabaikan pelanggaran hak  asasi manusia yang dilakukan militer di Rakhine.
&amp;ldquo;Pidatonya (Suu Kyi)  menggabungkan kebohongan dan menyalahkan korban (etnis Rohingya),&amp;rdquo;  tuding Gomes dilansir BBC.   Hal senada diungkapkan Deputi Direktur Human Rights Watch (HRW) wilayah  Asia Phil Robertson. &amp;ldquo;Suu Kyi menyatakan operasi pembersihan dihentikan  sejak September. Jika itu benar, siapa yang membakar desa-desa  (Rohingya) yang kita lihat dalam dua pekan lalu?&amp;rdquo; tanya Robertson
(Baca juga: Pengungsi Rohingya: Suu Kyi adalah Pengkhianat, Kami Tak Bisa Mengandalkan Kata-katanya!)
Sebelumnya pada pidato di depan parlemen Myanmar, Aung San Suu Kyi  mengungkapkan banyak warga Rohingya yang tidak mengungsi.
Dia juga menegaskan akan menerima siapa pun pengungsi yang ingin  kembali. &amp;ldquo;Kami siap dengan proses repatriasi pengungsi secepatnya, kapan  pun. Siapa pun yang diverifikasi sebagai pengungsi dari negeri ini akan  diterima kembali tanpa masalah, dan akan mendapat keamanan penuh dan  akses terhadap bantuan kemanusiaan,&amp;rdquo; ujarnya.
Klaim Suu Kyi itu dinilai  aneh. Pasalnya, sebagian besar warga etnis Rohingya tidak mendapatkan status  kewarganegaraan. Hanya 40.000 warga Rohingya yang mendapatkan status  kewarganegaraan. Dalam beberapa pekan terakhir, Suu Kyi menjadi sasaran  kecaman masyarakat internasional, terkait caranya menangani kekerasan  terhadap para Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.
(Baca juga: 6 Poin Pidato Suu Kyi Soal Rohingya, Cek Mana yang Benar)  &amp;ldquo;Saya tidak takut kecaman dan pengawasan dunia internasional atas  penanganan pemerintah terhadap krisis Rohingya yang sedang berlangsung,&amp;rdquo;  ujarnya.
Kemudian, Suu Kyi juga mengutuk semua bentuk pelanggaran hak  asasi manusia. Dia mengatasnamakan mengadili siapa pun yang bertanggung  jawab atas pelanggaran HAM di Rakhine.
&amp;ldquo;Kami ingin mencari tahu, permasalahan sebenarnya. Ada tudingan dan    tudingan balik. Kami harus mengkaji tuduhan dari semua pihak. Kami harus    memastikan bahwa tudingan- tudingan itu didasarkan fakta yang kuat,&amp;rdquo;    paparnya. Dia mengungkapkan pihaknya akan mengumpulkan fakta-faktanya    untuk mencari solusi.
(Baca juga: Tolong! Ribuan Muslim Rohingya Masih Terjebak di Rakhine, Dibayangi Ancaman Pembunuhan)  PBB Minta Akses ke Rakhine   Kepala penyidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kekerasan di    Myanmar, Marzuki Darusman, kemarin meminta akses kepada Pemerintah    Myanmar untuk menyelidiki pembunuhan massal terhadap warga etnik    Rohingya. Dia juga berharap dengan dukungan Dewan Hak Asasi Manusia PBB    akan mendapatkan akses ke Negara Bagian Rakhine secepatnya.Tim yang dipimpin Marzuki telah bekerja Agustus lalu. Marzuki   mengungkapkan waktunya akan berakhir dengan tenggat waktu hingga Maret   2018 dan meminta perpanjangan enam bulan. Darusman berharap izin untuk   memasuki Myanmar segera terwujud menyusul niat baik pemimpin nasional   Aung Suu Kyi.   &amp;ldquo;Kini dengan eskalasi ketegangan di Rakhine  utara, kita akan  memverifikasi fakta di lapangan sehingga menghasilkan  laporan yang  mendalam dan berkualitas pada Maret 2018,&amp;rdquo; ujarnya  dilansir Reuters.
Marzuki mengatakan tekanan kepada Myanmar untuk  mengizinkan masuknya tim  penyelidik PBB perlu terus dilakukan karena  itu demi kebaikan  pemerintah Myanmar dan rakyat sendiri.   Dia  juga mengatakan PBB sudah mengirim tim ke perbatasan Bangladesh.   Menurut Marzuki, ada sinyal kalau krisis kemanusiaan akan makin   memburuk. Sebelumnya, Kelompok pemerhati HAM menyerukan agar militer   Myanmar mendapatkan sanksi dan embargo senjata. Pasalnya, militer   Myanmar dianggap bertanggung jawab atas 410.000 pengungsi Myanmar yang   mengungsi ke perbatasan Bangladesh.</content:encoded></item></channel></rss>
