<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngaruwat Bumi, Bentuk Syukur Atas Hasil Bumi Jelang Tahun Baru Islam</title><description>Ngaruwat bumi dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang telah diberikan Allah kepada mereka.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/21/337/1780073/ngaruwat-bumi-bentuk-syukur-atas-hasil-bumi-jelang-tahun-baru-islam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/21/337/1780073/ngaruwat-bumi-bentuk-syukur-atas-hasil-bumi-jelang-tahun-baru-islam"/><item><title>Ngaruwat Bumi, Bentuk Syukur Atas Hasil Bumi Jelang Tahun Baru Islam</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/21/337/1780073/ngaruwat-bumi-bentuk-syukur-atas-hasil-bumi-jelang-tahun-baru-islam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/21/337/1780073/ngaruwat-bumi-bentuk-syukur-atas-hasil-bumi-jelang-tahun-baru-islam</guid><pubDate>Kamis 21 September 2017 08:16 WIB</pubDate><dc:creator>Mulyana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/20/337/1780073/ngaruwat-bumi-bentuk-syukur-atas-hasil-bumi-jelang-tahun-baru-islam-ohIWi7vZty.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/20/337/1780073/ngaruwat-bumi-bentuk-syukur-atas-hasil-bumi-jelang-tahun-baru-islam-ohIWi7vZty.jpg</image><title></title></images><description>SUBANG - Ngaruwat bumi, sebuah tradisi yang biasa dilakukan sebagian masyarakat Jawa barat untuk menyambut tahun baru islam. Ngaruwat bumi dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Menurut Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, ritual ngaruwat bumi yang kental dengan unsur adat dan kebudayaan dapat dijadikan daya tarik wisata jika dikelola dengan baik.

&quot;Tradisi masyarakat desa ini bisa menjadi potensi wisata yang sangat bagus jika dikelola dengan baik,&quot; ujar Dedi di sela-sela menghadiri undangan masyarakat Kampung Adat Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Subang, Jawa Barat, Rabu (20/9/2017).

Dedi mengatakan, ritual ngaruwat bumi merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Sebab, berbagai nilai kebudayaan dan religi tumbuh dari ritual ini.

&quot;Ini merupakan warisan leluhur kita. Makanya perlu dilestarikan dengan baik. Karena dari sini lah tempat tumbuhnya akar kebudayaan, secara religi juga ini merupakan bentuk rasa syukur kepada sang pencipta atas hasil panen warga masyarakat,&quot; katanya.

Dalam ritual ini, prosesi dilakukan masyarakat dengan melakukan iring-iringan dongdang atau alat yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil tani seperti padi, buah dan sayuran.

Selain itu, berbagai tarian, mulai dari jaipong sampai sisingaan khas Kabupaten Subang turut menjadi pemanis dalam ritual yang biasanya digelar secara swadaya oleh masyarakat setempat ini.

Kepala Desa Sanca, Masna mengungkapkan, kegiatan ini rutin dilakukan oleh masyarakat setiap tahun jelang pergantian tahun baru islam.

&quot;Ini kegiatan rutin disini, syukuran atas hasil panen, nanti (hasil panennya) dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan,&quot; katanya.

(ydp)</description><content:encoded>SUBANG - Ngaruwat bumi, sebuah tradisi yang biasa dilakukan sebagian masyarakat Jawa barat untuk menyambut tahun baru islam. Ngaruwat bumi dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Menurut Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, ritual ngaruwat bumi yang kental dengan unsur adat dan kebudayaan dapat dijadikan daya tarik wisata jika dikelola dengan baik.

&quot;Tradisi masyarakat desa ini bisa menjadi potensi wisata yang sangat bagus jika dikelola dengan baik,&quot; ujar Dedi di sela-sela menghadiri undangan masyarakat Kampung Adat Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Subang, Jawa Barat, Rabu (20/9/2017).

Dedi mengatakan, ritual ngaruwat bumi merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Sebab, berbagai nilai kebudayaan dan religi tumbuh dari ritual ini.

&quot;Ini merupakan warisan leluhur kita. Makanya perlu dilestarikan dengan baik. Karena dari sini lah tempat tumbuhnya akar kebudayaan, secara religi juga ini merupakan bentuk rasa syukur kepada sang pencipta atas hasil panen warga masyarakat,&quot; katanya.

Dalam ritual ini, prosesi dilakukan masyarakat dengan melakukan iring-iringan dongdang atau alat yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil tani seperti padi, buah dan sayuran.

Selain itu, berbagai tarian, mulai dari jaipong sampai sisingaan khas Kabupaten Subang turut menjadi pemanis dalam ritual yang biasanya digelar secara swadaya oleh masyarakat setempat ini.

Kepala Desa Sanca, Masna mengungkapkan, kegiatan ini rutin dilakukan oleh masyarakat setiap tahun jelang pergantian tahun baru islam.

&quot;Ini kegiatan rutin disini, syukuran atas hasil panen, nanti (hasil panennya) dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan,&quot; katanya.

(ydp)</content:encoded></item></channel></rss>
