<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wacana Film G30S/PKI Versi Baru, Komisi X DPR: Itu Demokrasi yang Benar</title><description>&quot;Kalau ada pihak lain yang punya versi yang berbeda buat saja film serupa dari sisi tafsir yang lain, kan mudah,&quot;</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/22/337/1780607/wacana-film-g30s-pki-versi-baru-komisi-x-dpr-itu-demokrasi-yang-benar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/22/337/1780607/wacana-film-g30s-pki-versi-baru-komisi-x-dpr-itu-demokrasi-yang-benar"/><item><title>Wacana Film G30S/PKI Versi Baru, Komisi X DPR: Itu Demokrasi yang Benar</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/22/337/1780607/wacana-film-g30s-pki-versi-baru-komisi-x-dpr-itu-demokrasi-yang-benar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/22/337/1780607/wacana-film-g30s-pki-versi-baru-komisi-x-dpr-itu-demokrasi-yang-benar</guid><pubDate>Jum'at 22 September 2017 06:10 WIB</pubDate><dc:creator>Bayu Septianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/22/337/1780607/wacana-film-g30s-pki-versi-baru-komisi-x-dpr-itu-demokrasi-yang-benar-C0ZptO5fEH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suasana jelang nobar film G30SPKI di SMK 1 Muhammadiyah Depok. (Foto: Apriyadi Hidayat/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/22/337/1780607/wacana-film-g30s-pki-versi-baru-komisi-x-dpr-itu-demokrasi-yang-benar-C0ZptO5fEH.jpg</image><title>Suasana jelang nobar film G30SPKI di SMK 1 Muhammadiyah Depok. (Foto: Apriyadi Hidayat/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan pembuatan film G30S/PKI dengan versi kekinian. Menanggapi ide tersebut, anggota Komisi X DPR RI, Dadang Rusdiana menyambut baik. Termasuk jika ada yang membuat versi dan tafsir lain dari sejarah pemberontakan yang dilakukan PKI.

&quot;Kalau ada pihak lain yang punya versi yang berbeda buat saja film serupa dari sisi tafsir yang lain, kan mudah,&quot; jelas Dadang kepada Okezone, Jumat (22/9/2017).

Dadang menambahkan, dalam era demokrasi saat ini, perbedaan pendapat lazim dilakukan dan harus saling menghargai. Apalagi, perbedaan pandangan ini ditampilkan dalam bentuk karya seni budaya yang lebih menarik dan kreatif.

&quot;Saya melihat perbedaan pandangan yang ditunjukkan dengan ekspresi budaya seperti film itu lebih menarik, kreatif dan dewasa. Biarlah nanti rakyat yang menilai,&quot; ungkapnya.
[Baca Juga: Dukung Pemutaran Film G30S PKI, Eks Danpuspom TNI: Jangan Lupakan Sejarah!]
Film &quot;Pengkhianatan G30S/PKI&quot; adalah judul film dokudrama yang dibuat tahun 1984. Film ini disutradarai Arifin C Noer dan kisah-kisah di dalamnya ditulis oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto dan investigator Ismail Saleh.
[Baca Juga: Film G30S/PKI Mau Diperbarui, Ketum GP Ansor Nilai Harus Ada Riset yang Mendalam]
Menurut Dadang, di era demokrasi seperti ini publik diharapkan tak ramai dengan adanya film tentang PKI yang berbeda dari film sebelumnya.

&quot;Jadi kalau hari ini TNI menggelar acara Film 'Pengkhianatan G30S/PKI versi Sutradara Arifin C Noer yang didasarkan pada sejarah Pak Noegroho Notosusanto, dan esok lusa ada lagi film dengan judul yang sama dari sisi yang berbeda tidak boleh jadi ramai. Itu demokrasi yang benar,&quot; pungkasnya. (sym)
</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan pembuatan film G30S/PKI dengan versi kekinian. Menanggapi ide tersebut, anggota Komisi X DPR RI, Dadang Rusdiana menyambut baik. Termasuk jika ada yang membuat versi dan tafsir lain dari sejarah pemberontakan yang dilakukan PKI.

&quot;Kalau ada pihak lain yang punya versi yang berbeda buat saja film serupa dari sisi tafsir yang lain, kan mudah,&quot; jelas Dadang kepada Okezone, Jumat (22/9/2017).

Dadang menambahkan, dalam era demokrasi saat ini, perbedaan pendapat lazim dilakukan dan harus saling menghargai. Apalagi, perbedaan pandangan ini ditampilkan dalam bentuk karya seni budaya yang lebih menarik dan kreatif.

&quot;Saya melihat perbedaan pandangan yang ditunjukkan dengan ekspresi budaya seperti film itu lebih menarik, kreatif dan dewasa. Biarlah nanti rakyat yang menilai,&quot; ungkapnya.
[Baca Juga: Dukung Pemutaran Film G30S PKI, Eks Danpuspom TNI: Jangan Lupakan Sejarah!]
Film &quot;Pengkhianatan G30S/PKI&quot; adalah judul film dokudrama yang dibuat tahun 1984. Film ini disutradarai Arifin C Noer dan kisah-kisah di dalamnya ditulis oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto dan investigator Ismail Saleh.
[Baca Juga: Film G30S/PKI Mau Diperbarui, Ketum GP Ansor Nilai Harus Ada Riset yang Mendalam]
Menurut Dadang, di era demokrasi seperti ini publik diharapkan tak ramai dengan adanya film tentang PKI yang berbeda dari film sebelumnya.

&quot;Jadi kalau hari ini TNI menggelar acara Film 'Pengkhianatan G30S/PKI versi Sutradara Arifin C Noer yang didasarkan pada sejarah Pak Noegroho Notosusanto, dan esok lusa ada lagi film dengan judul yang sama dari sisi yang berbeda tidak boleh jadi ramai. Itu demokrasi yang benar,&quot; pungkasnya. (sym)
</content:encoded></item></channel></rss>
