<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE STORY: Rindukan Tanah Air, Eks Mata-mata Pyongyang di Korsel Memohon Dipulangkan ke Korut </title><description>Meski tak bisa kembali ke Korut, Seo masih bermimpi untuk kembali kepada istri dan anak laki-lakinya di sebuah negara Korea yang bersatu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/23/18/1781243/okezone-story-rindukan-tanah-air-eks-mata-mata-pyongyang-di-korsel-memohon-dipulangkan-ke-korut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/23/18/1781243/okezone-story-rindukan-tanah-air-eks-mata-mata-pyongyang-di-korsel-memohon-dipulangkan-ke-korut"/><item><title>OKEZONE STORY: Rindukan Tanah Air, Eks Mata-mata Pyongyang di Korsel Memohon Dipulangkan ke Korut </title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/23/18/1781243/okezone-story-rindukan-tanah-air-eks-mata-mata-pyongyang-di-korsel-memohon-dipulangkan-ke-korut</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/23/18/1781243/okezone-story-rindukan-tanah-air-eks-mata-mata-pyongyang-di-korsel-memohon-dipulangkan-ke-korut</guid><pubDate>Sabtu 23 September 2017 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/22/18/1781243/okezone-story-rindukan-tanah-air-eks-mata-mata-pyongyang-di-korsel-memohon-dipulangkan-ke-korut-PwRBd0ifB3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Seo Ok-Ryol ingin kembali ke Korut untuk terakhir kalinya. (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/22/18/1781243/okezone-story-rindukan-tanah-air-eks-mata-mata-pyongyang-di-korsel-memohon-dipulangkan-ke-korut-PwRBd0ifB3.jpg</image><title>Seo Ok-Ryol ingin kembali ke Korut untuk terakhir kalinya. (Foto: AFP)</title></images><description>KECINTAAN pada tanah air terkadang mengalahkan segalanya, seperti kecintaan Seo Ok-Ryol kepada Korea Utara (Korut). Meski lahir di Korea Selatan (Korsel), mantan mata-mata Pyongyang berusia 90 tahun itu masih merindukan untuk kembali ke tanah air-nya atau yang dia sebut sebagai &amp;ldquo;fatherland&amp;rdquo;, Korut, untuk terakhir kalinya.
Perjalanan hidup Seo penuh dengan tragedi. Dia menghabiskan tiga dekade di dalam penjara Korsel setelah tertangkap melakukan kegiatan mata-mata pada 1960-an. Dia terhindar dari dua hukuman mati dan mengaku terpaksa menyatakan kesetiaannya kepada Seoul agar dibebaskan dari penjara.
Namun, pria lanjut usia yang mengatakan dirinya &amp;lsquo;tidak melakukan kesalahan selain kecintaannya kepada fatherland&amp;rsquo; itu mengatakan ingin kembali ke Korut sebelum dijemput ajal.
Seo lahir di sebuah pulau di selatan Korea dan menjadi komunis saat menjadi siswa di salah satu universitas elit korea di Seoul. Dia kemudian bergabung dengan pasukan Korut pada Perang Korea dan mundur bersama mereka saat pasukan PBB mendesak maju.
Usai gencatan senjata, Seo bergabung dengan Partai Pekerja Korut dan bekerja sebagai guru di Pyongyang saat dia ditugaskan ke sekolah pelatihan mata-mata pada 1961. Dia dikirim dalam sebuah misi ke Selatan untuk mencoba merekrut pejabat senior pemerintah Korsel yang saudaranya telah membelot Utara.
&quot;Saya harus pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada istri saya,&amp;rdquo; kata Seo sebagaimana dikutip Daily Mail, Sabtu (23/9/2017).
Dia menyelundup dengan berenang melintasi Sungai Yeomhwa dan berhasil bertemu dengan orangtua dan keluarga pembelot Korsel tersebut. Namun, dia diterima dengan dingin serta penolakan dan misinya pun gagal.
Seo tinggal selama sebulan di Selatan saat pesan radio dari Pyongyang  memerintahkannya untuk kembali ke Utara. Sayangnya, dia terlambat tiba  di tempat penjemputan dan ketinggalan perahu penyelamat yang seharusnya  membawanya kembali. Putus asa, Seo sempat mencoba berenang melintasi  sungai, sampai dia ditangkap oleh angkatan laut Korsel.
&amp;ldquo;Sebagai mata-mata, Anda seharusnya bunuh diri dengan menelan kapsul  racun atau menggunakan senjata. Tetapi saat itu tidak ada waktu untuk  melakukan bunuh diri,&amp;rdquo; kata Seo.
Dia kemudian diinterogasi, disiksa dan dipukuli selama berbulan-bulan  tanpa cukup makan atau tidur sebelum dijatuhi hukuman mati oleh  pengadilan militer. Selama menunggu eksekusi, Seo ditahan di sebuah sel  tunggal, menyaksikan beberapa mata-mata Korut lain meregang nyawa di  tiang gantungan.
Pada 1963, hukuman matinya dibatalkan karena dia dianggap sebagai  seorang mata-mata pemula yang gagal menjalankan misinya. Namun, dia  kembali divonis mati pada 1973 setelah ketahuan berusaha membujuk  tahanan lain untuk menganut komunisme.
&amp;ldquo;Ibu saya berulangkali pingsan di pengadilan saat jaksa menuntut  hukuman mati dan hakim menjatuhkan hukuman mati,&amp;rdquo;kata Seo dalam  wawancara dengan media internasional.
Orangtua Seo menjual rumah mereka untuk menutupi biaya pengadilan  putranya, tetapi mereka meninggal saat Seo masih mendekam di penjara.  Pihak Korsel melakukan berbagai upaya untuk membuat para tahanan Korut  berpindah keyakinan, bahkan dengan cara penyiksaan seperti waterboarding, pemukulan, membatasi makanan dan tidur, atau menempatkan mereka di sel kecil dan tertutup.
Seo bertahan dan menolak melepaskan ideologi komunisnya meski dia  kemudian harus kehilangan mata kirinya karena radang. Tetapi setelah  tiga dekade, pada 1991, Seo akhirnya berkompromi dan berjanji untuk  menaati hukum Korsel.
Dilepaskan pada pembebasan bersyarat, dia pindah ke Gwangju, dekat   dengan tempat kelahiran dan saudara kandungnya. Dia tidak melepaskan   kesetiaannya pada Korut, memuji negara di mana dia bisa lulus dari   universitas elit dengan subsidi dari negara. Di apartemennya, Seo   menyuarakan pembelaan terhadap program nuklir dan rudal Korut yang dia   anggap perlu untuk melindungi negaranya dari invasi asing seperti   Amerika Serikat (AS).
Beberapa tahun setelah pembebasannya, seorang wanita Korea di Jerman   yang mengunjungi Pyongyang mengatakan bahwa istri dan anak laki-laki  Seo  masih hidup. Tetapi dia menyarankan pada Seo untuk tidak mencoba   menghubungi mereka karena khawatir akan berdampak buruk pada peluang   karier putranya.
Seo yang tidak pernah menikah lagi kehilangan kata-kata saat ditanya   apa yang akan dia ceritakan kepada istrinya jika mereka bertemu lagi.
&quot;Saya ingin mengatakannya, terima kasih telah terus hidup. Aku telah   merindukanmu. Saya tidak pernah berharap untuk berpisah denganmu untuk   waktu yang lama,&amp;rdquo; kata Seo sambil berusaha&amp;nbsp; mengendalikan suaranya.
Meski Korsel telah memulangkan 60 tahanan, yang terdiri dari tentara,   gerilyawan dan mata-mata Korut menyusul pertemuan puncak kedua negara   pada 2000, Seo tidak memenuhi syarat untuk dipulangkan karena dia telah   menyatakan sumpah setia kepada Seoul.
Walau begitu, Seo masih bermimpi untuk kembali kepada istri dan anak   laki-lakinya di sebuah negara Korea yang bersatu. Sejumlah aktivis saat   ini telah meluncurkan petisi agar Seo dan beberapa refuseniks Korut   lainnya di Korsel dapat dipulangkan ke Tanah Air mereka.
Seo adalah sebuah gambaran dari dampak terpisahnya Semenanjung Korea   yang juga dirasakan banyak warga Korea lainnya. Di sisi Selatan, Seo   masih memiliki kerabat dan saudara sementara di Utara dia memiliki   seorang istri dan dua orang anak.</description><content:encoded>KECINTAAN pada tanah air terkadang mengalahkan segalanya, seperti kecintaan Seo Ok-Ryol kepada Korea Utara (Korut). Meski lahir di Korea Selatan (Korsel), mantan mata-mata Pyongyang berusia 90 tahun itu masih merindukan untuk kembali ke tanah air-nya atau yang dia sebut sebagai &amp;ldquo;fatherland&amp;rdquo;, Korut, untuk terakhir kalinya.
Perjalanan hidup Seo penuh dengan tragedi. Dia menghabiskan tiga dekade di dalam penjara Korsel setelah tertangkap melakukan kegiatan mata-mata pada 1960-an. Dia terhindar dari dua hukuman mati dan mengaku terpaksa menyatakan kesetiaannya kepada Seoul agar dibebaskan dari penjara.
Namun, pria lanjut usia yang mengatakan dirinya &amp;lsquo;tidak melakukan kesalahan selain kecintaannya kepada fatherland&amp;rsquo; itu mengatakan ingin kembali ke Korut sebelum dijemput ajal.
Seo lahir di sebuah pulau di selatan Korea dan menjadi komunis saat menjadi siswa di salah satu universitas elit korea di Seoul. Dia kemudian bergabung dengan pasukan Korut pada Perang Korea dan mundur bersama mereka saat pasukan PBB mendesak maju.
Usai gencatan senjata, Seo bergabung dengan Partai Pekerja Korut dan bekerja sebagai guru di Pyongyang saat dia ditugaskan ke sekolah pelatihan mata-mata pada 1961. Dia dikirim dalam sebuah misi ke Selatan untuk mencoba merekrut pejabat senior pemerintah Korsel yang saudaranya telah membelot Utara.
&quot;Saya harus pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada istri saya,&amp;rdquo; kata Seo sebagaimana dikutip Daily Mail, Sabtu (23/9/2017).
Dia menyelundup dengan berenang melintasi Sungai Yeomhwa dan berhasil bertemu dengan orangtua dan keluarga pembelot Korsel tersebut. Namun, dia diterima dengan dingin serta penolakan dan misinya pun gagal.
Seo tinggal selama sebulan di Selatan saat pesan radio dari Pyongyang  memerintahkannya untuk kembali ke Utara. Sayangnya, dia terlambat tiba  di tempat penjemputan dan ketinggalan perahu penyelamat yang seharusnya  membawanya kembali. Putus asa, Seo sempat mencoba berenang melintasi  sungai, sampai dia ditangkap oleh angkatan laut Korsel.
&amp;ldquo;Sebagai mata-mata, Anda seharusnya bunuh diri dengan menelan kapsul  racun atau menggunakan senjata. Tetapi saat itu tidak ada waktu untuk  melakukan bunuh diri,&amp;rdquo; kata Seo.
Dia kemudian diinterogasi, disiksa dan dipukuli selama berbulan-bulan  tanpa cukup makan atau tidur sebelum dijatuhi hukuman mati oleh  pengadilan militer. Selama menunggu eksekusi, Seo ditahan di sebuah sel  tunggal, menyaksikan beberapa mata-mata Korut lain meregang nyawa di  tiang gantungan.
Pada 1963, hukuman matinya dibatalkan karena dia dianggap sebagai  seorang mata-mata pemula yang gagal menjalankan misinya. Namun, dia  kembali divonis mati pada 1973 setelah ketahuan berusaha membujuk  tahanan lain untuk menganut komunisme.
&amp;ldquo;Ibu saya berulangkali pingsan di pengadilan saat jaksa menuntut  hukuman mati dan hakim menjatuhkan hukuman mati,&amp;rdquo;kata Seo dalam  wawancara dengan media internasional.
Orangtua Seo menjual rumah mereka untuk menutupi biaya pengadilan  putranya, tetapi mereka meninggal saat Seo masih mendekam di penjara.  Pihak Korsel melakukan berbagai upaya untuk membuat para tahanan Korut  berpindah keyakinan, bahkan dengan cara penyiksaan seperti waterboarding, pemukulan, membatasi makanan dan tidur, atau menempatkan mereka di sel kecil dan tertutup.
Seo bertahan dan menolak melepaskan ideologi komunisnya meski dia  kemudian harus kehilangan mata kirinya karena radang. Tetapi setelah  tiga dekade, pada 1991, Seo akhirnya berkompromi dan berjanji untuk  menaati hukum Korsel.
Dilepaskan pada pembebasan bersyarat, dia pindah ke Gwangju, dekat   dengan tempat kelahiran dan saudara kandungnya. Dia tidak melepaskan   kesetiaannya pada Korut, memuji negara di mana dia bisa lulus dari   universitas elit dengan subsidi dari negara. Di apartemennya, Seo   menyuarakan pembelaan terhadap program nuklir dan rudal Korut yang dia   anggap perlu untuk melindungi negaranya dari invasi asing seperti   Amerika Serikat (AS).
Beberapa tahun setelah pembebasannya, seorang wanita Korea di Jerman   yang mengunjungi Pyongyang mengatakan bahwa istri dan anak laki-laki  Seo  masih hidup. Tetapi dia menyarankan pada Seo untuk tidak mencoba   menghubungi mereka karena khawatir akan berdampak buruk pada peluang   karier putranya.
Seo yang tidak pernah menikah lagi kehilangan kata-kata saat ditanya   apa yang akan dia ceritakan kepada istrinya jika mereka bertemu lagi.
&quot;Saya ingin mengatakannya, terima kasih telah terus hidup. Aku telah   merindukanmu. Saya tidak pernah berharap untuk berpisah denganmu untuk   waktu yang lama,&amp;rdquo; kata Seo sambil berusaha&amp;nbsp; mengendalikan suaranya.
Meski Korsel telah memulangkan 60 tahanan, yang terdiri dari tentara,   gerilyawan dan mata-mata Korut menyusul pertemuan puncak kedua negara   pada 2000, Seo tidak memenuhi syarat untuk dipulangkan karena dia telah   menyatakan sumpah setia kepada Seoul.
Walau begitu, Seo masih bermimpi untuk kembali kepada istri dan anak   laki-lakinya di sebuah negara Korea yang bersatu. Sejumlah aktivis saat   ini telah meluncurkan petisi agar Seo dan beberapa refuseniks Korut   lainnya di Korsel dapat dipulangkan ke Tanah Air mereka.
Seo adalah sebuah gambaran dari dampak terpisahnya Semenanjung Korea   yang juga dirasakan banyak warga Korea lainnya. Di sisi Selatan, Seo   masih memiliki kerabat dan saudara sementara di Utara dia memiliki   seorang istri dan dua orang anak.</content:encoded></item></channel></rss>
