<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngeri! Jika Perang AS-Korut Pecah, 20 Ribu Orang di Korsel Terbunuh Setiap Harinya</title><description>Jika perang pecah di Semenanjung Korea, sekitar 20.000  orang di Korea Selatan (Korsel) akan terbunuh setiap harinya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/26/18/1783108/ngeri-jika-perang-as-korut-pecah-20-ribu-orang-di-korsel-terbunuh-setiap-harinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/26/18/1783108/ngeri-jika-perang-as-korut-pecah-20-ribu-orang-di-korsel-terbunuh-setiap-harinya"/><item><title>Ngeri! Jika Perang AS-Korut Pecah, 20 Ribu Orang di Korsel Terbunuh Setiap Harinya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/26/18/1783108/ngeri-jika-perang-as-korut-pecah-20-ribu-orang-di-korsel-terbunuh-setiap-harinya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/26/18/1783108/ngeri-jika-perang-as-korut-pecah-20-ribu-orang-di-korsel-terbunuh-setiap-harinya</guid><pubDate>Selasa 26 September 2017 11:45 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/26/18/1783108/ngeri-jika-perang-as-korut-pecah-20-ribu-orang-di-korsel-terbunuh-setiap-harinya-XkTHEU4WgL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kim Jong-un. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/26/18/1783108/ngeri-jika-perang-as-korut-pecah-20-ribu-orang-di-korsel-terbunuh-setiap-harinya-XkTHEU4WgL.jpg</image><title>Kim Jong-un. (Foto: Reuters)</title></images><description>WASHINGTON - Seorang mantan jenderal Amerika Serikat  (AS) mengatakan, jika perang pecah di Semenanjung Korea, sekitar 20.000  orang di Korea Selatan (Korsel) akan terbunuh setiap harinya.  Menurutnya, angka perkiraan ini berasal dari Pentagon.Rob Givens, pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Udara AS, mengatakan kepada Los Angeles Times pada hari Senin bahwa jika perang terjadi di Korea, maka situasinya tidak sama seperti invasi di Irak, Afghanistan dan Libya. Dia  mencontohkan, invasi di Libya yang berhasil menyingkirkan Muammar  Gaddafi, pasukan AS bisa &amp;ldquo;santai&amp;rdquo; karena yang bekerja keras adalah  pasukan oposisi Libya.&amp;rdquo;Ini tidak akan menyerupai konflik  tersebut,&amp;rdquo; kata Givens. Menurut Givens, perkiraan internal Pentagon  menyebutkan korban tewas sekitar 20.000 per hari di Korsel. Angka itu  tidak termasuk korban yang ditimbulkan pada populasi Korea Utara (Korut)  antara 27 sampai 28 juta orang.
(Baca juga: Korut Tuding AS Umumkan Perang, Ternyata Ini Penyebabnya)Komentar  mantan jenderal Pentagon ini munculnya hampir bersamaan dengan  pernyataan Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho yang menuduh AS sebagai  pihak pertama yang menyatakan perang terhadap Pyongyang.Menurut  Ri, konsekuensi dari deklarasi perang itu adalah hak Pyongyang untuk  menembak jatuh pesawat pembom strategis Washington, bahkan jika tak  berada di wilayah udara Korut.
(Baca juga: Gawat! Korut: AS Telah Umumkan Perang!)Presiden AS Donald Trump, lanjut  Ri, telah secara efektif mengumumkan perang terhadap Pyongyang, yang  berarti bahwa semua opsi ada di meja untuk kepemimpinan negaranya.&amp;rdquo;Seluruh  dunia harus ingat dengan jelas bahwa AS yang pertama kali mengumumkan  perang terhadap negara kami,&amp;rdquo; katanya seperti dikutip Reuters, Selasa (26/9/2017).&amp;rdquo;Sejak  AS mengumumkan perang terhadap negara kami, kami memiliki hak untuk  melakukan penanggulangan, termasuk hak untuk menembak jatuh (pesawat)  pembom strategis AS bahkan ketika mereka tidak berada di dalam wilayah  udara negara kami,&amp;rdquo; papar Ri.Sementara itu, manuver dua pesawat pembom B-1B AS di lepas pantai Korut  pada Sabtu lalu diketahui atas mandat Presiden Korsel Moon Jae-in.&amp;rdquo;Moon  menerima pengarahan tentang rencana tersebut selama berada di New York,  di mana pejabat Korsel dan AS mencapai kesepakatan mengenai status  operasi tersebut untuk mengirim (pesawat) pembom ke (dekat Korea)  Utara,&amp;rdquo; kata seorang pejabat dari Gedung Biru atau kantor presiden  Korsel kepada The Korea Times, dalam kondisi anonim.Pentagon  sendiri menyatakan manuver pesawat pembom AS di dekat Korut sebagai  pesan kuat bagi rezim Kim Jong-un atas perilaku sembrono Pyongyang,  termasuk rentetan uji coba rudal dan senjata nuklir.&amp;rdquo;Jelas Korea Utara adalah ancaman,&amp;rdquo; kata juru bicara Departemen Pertahanan AS Letnan Kolonel Christopher Logan pada hari Senin.</description><content:encoded>WASHINGTON - Seorang mantan jenderal Amerika Serikat  (AS) mengatakan, jika perang pecah di Semenanjung Korea, sekitar 20.000  orang di Korea Selatan (Korsel) akan terbunuh setiap harinya.  Menurutnya, angka perkiraan ini berasal dari Pentagon.Rob Givens, pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Udara AS, mengatakan kepada Los Angeles Times pada hari Senin bahwa jika perang terjadi di Korea, maka situasinya tidak sama seperti invasi di Irak, Afghanistan dan Libya. Dia  mencontohkan, invasi di Libya yang berhasil menyingkirkan Muammar  Gaddafi, pasukan AS bisa &amp;ldquo;santai&amp;rdquo; karena yang bekerja keras adalah  pasukan oposisi Libya.&amp;rdquo;Ini tidak akan menyerupai konflik  tersebut,&amp;rdquo; kata Givens. Menurut Givens, perkiraan internal Pentagon  menyebutkan korban tewas sekitar 20.000 per hari di Korsel. Angka itu  tidak termasuk korban yang ditimbulkan pada populasi Korea Utara (Korut)  antara 27 sampai 28 juta orang.
(Baca juga: Korut Tuding AS Umumkan Perang, Ternyata Ini Penyebabnya)Komentar  mantan jenderal Pentagon ini munculnya hampir bersamaan dengan  pernyataan Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho yang menuduh AS sebagai  pihak pertama yang menyatakan perang terhadap Pyongyang.Menurut  Ri, konsekuensi dari deklarasi perang itu adalah hak Pyongyang untuk  menembak jatuh pesawat pembom strategis Washington, bahkan jika tak  berada di wilayah udara Korut.
(Baca juga: Gawat! Korut: AS Telah Umumkan Perang!)Presiden AS Donald Trump, lanjut  Ri, telah secara efektif mengumumkan perang terhadap Pyongyang, yang  berarti bahwa semua opsi ada di meja untuk kepemimpinan negaranya.&amp;rdquo;Seluruh  dunia harus ingat dengan jelas bahwa AS yang pertama kali mengumumkan  perang terhadap negara kami,&amp;rdquo; katanya seperti dikutip Reuters, Selasa (26/9/2017).&amp;rdquo;Sejak  AS mengumumkan perang terhadap negara kami, kami memiliki hak untuk  melakukan penanggulangan, termasuk hak untuk menembak jatuh (pesawat)  pembom strategis AS bahkan ketika mereka tidak berada di dalam wilayah  udara negara kami,&amp;rdquo; papar Ri.Sementara itu, manuver dua pesawat pembom B-1B AS di lepas pantai Korut  pada Sabtu lalu diketahui atas mandat Presiden Korsel Moon Jae-in.&amp;rdquo;Moon  menerima pengarahan tentang rencana tersebut selama berada di New York,  di mana pejabat Korsel dan AS mencapai kesepakatan mengenai status  operasi tersebut untuk mengirim (pesawat) pembom ke (dekat Korea)  Utara,&amp;rdquo; kata seorang pejabat dari Gedung Biru atau kantor presiden  Korsel kepada The Korea Times, dalam kondisi anonim.Pentagon  sendiri menyatakan manuver pesawat pembom AS di dekat Korut sebagai  pesan kuat bagi rezim Kim Jong-un atas perilaku sembrono Pyongyang,  termasuk rentetan uji coba rudal dan senjata nuklir.&amp;rdquo;Jelas Korea Utara adalah ancaman,&amp;rdquo; kata juru bicara Departemen Pertahanan AS Letnan Kolonel Christopher Logan pada hari Senin.</content:encoded></item></channel></rss>
