<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Simak! Babak Baru Seteru AS-Korut, dari Saling Ancam hingga Deklarasi Perang</title><description>Retorika saling mengancam antara Presiden Trump dan Pemimpin  Korut Kim  Jong-un telah memasuki babak baru dalam beberapa hari  terakhir.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/27/18/1783810/simak-babak-baru-seteru-as-korut-dari-saling-ancam-hingga-deklarasi-perang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/27/18/1783810/simak-babak-baru-seteru-as-korut-dari-saling-ancam-hingga-deklarasi-perang"/><item><title>Simak! Babak Baru Seteru AS-Korut, dari Saling Ancam hingga Deklarasi Perang</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/27/18/1783810/simak-babak-baru-seteru-as-korut-dari-saling-ancam-hingga-deklarasi-perang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/27/18/1783810/simak-babak-baru-seteru-as-korut-dari-saling-ancam-hingga-deklarasi-perang</guid><pubDate>Rabu 27 September 2017 11:33 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/27/18/1783810/simak-babak-baru-seteru-as-korut-dari-saling-ancam-hingga-deklarasi-perang-wfHxGLsoV2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi BBC. (Foto: Getty Images dan Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/27/18/1783810/simak-babak-baru-seteru-as-korut-dari-saling-ancam-hingga-deklarasi-perang-wfHxGLsoV2.jpg</image><title>Ilustrasi BBC. (Foto: Getty Images dan Reuters)</title></images><description>SEOUL - Korea Utara (Korut) memperkuat pertahanan di wilayah pantai  timur. Langkah ini diambil setelah Pyongyang mengatakan Presiden Amerika  Serikat (AS) Donald Trump mendeklarasikan perang.   Korut juga mengancam menembak jatuh pesawat-pesawat pengebom AS yang  melintas dekat Semenanjung Korea. Ketegangan meningkat setelah militer  Korut melakukan uji coba nuklir yang keenam dan yang terkuat pada Minggu  (3/9). Retorika saling mengancam antara Presiden Trump dan Pemimpin  Korut Kim Jong-un juga telah memasuki babak baru dalam beberapa hari  terakhir.   Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Korut Ri Yong-ho, Tweet Trump yang  menyatakan Ri dan Kim Jong-un tak akan lama lagi ada adalah bentuk  ancaman. Ri menilai pernyataan Trump sebagai deklarasi perang dan  Pyongyang berhak mengambil langkah untuk menghadapinya. Menlu Ri  menyampaikan hal itu setelah pertemuan tahunan Sidang Umum  Per-se-rikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, Senin (25/9).
(Baca juga: Makin Panas! Korut Mobilisasi Pesawat Tempur Setelah Pembom AS Bermanuver)  &amp;ldquo;Seluruh dunia harus mengingat secara jelas bahwa pihak AS yang terlebih  dulu menyatakan deklarasi perang terhadap negara kami,&amp;rdquo; ujar Menlu Ri  dalam jumpa pers di New York, AS, seperti dikutip kantor berita Reuters.
Korut juga memiliki hak menentukan langkah antisipasi, termasuk  menembak jatuh pesawat pengebom AS, bahkan jika pesawat tersebut tidak  berada di wilayah perbatasan udara Korut.   &amp;ldquo;Pertanyaan siapa yang tak akan ada lebih lama akan segera terjawab,&amp;rdquo;  ujar Ri.
Kantor berita Korea Selatan (Korsel) Yonhap melaporkan, Korut  telah memperkuat pertahanan dengan mengerahkan pesawat-pesawat ke  wilayah pantai timur. Tak hanya itu, Korut juga mengambil langkah lain  setelah pesawat pengebom AS terbang dekat Semenanjung Korea pada akhir  pekan lalu.
(Baca juga: Ngeri! Jika Perang AS-Korut Pecah, 20 Ribu Orang di Korsel Terbunuh Setiap Harinya)  Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menyangkal tuduhan bahwa AS  mendeklarasikan perang. Sanders menegaskan pernyataan itu tak berdasar.  Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang menyatakan, peperangan  di Semenanjung Korea tidak akan ada pemenangnya.   &amp;ldquo;Kami berharap bahwa para politisi AS dan Korut memiliki penilaian  politik yang cukup untuk menyadari bahwa menempuh langkah militer tidak  akan menjadi cara yang pantas untuk mengatasi masalah Semenanjung Korea,  dan itu harus kesadaran mereka sendiri,&amp;rdquo; paparnya. Selain menyerukan  dialog untuk menyelesaikan isu Korea, China juga mendukung sanksi PBB  yang lebih keras terhadap Korut.Ekspor bahan bakar asal China ke Korut berkurang pada Agustus lalu,   termasuk impor bijih besi dari Pyongyang, seiring melemahnya   perdagangan setelah sanksi terbaru PBB. Meski demikian, pengiriman   batubara kembali menguat setelah lima bulan kosong, sesuai data bea   cukai yang dirilis kemarin.   Di Moskow, Kementerian Luar Negeri  Rusia menyatakan, pihaknya bekerja di  belakang layar untuk menemukan  solusi politik dan penggunaan sanksi  terhadap Korut itu sudah maksimal.  Saat mengunjungi India, Menteri  Pertahanan AS James Mattis  menjelaskan, upaya diplomatik untuk mengatasi  krisis terus berlangsung.    &amp;ldquo;Anda telah melihat berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB  disahkan untuk  meningkatkan tekanan, sanksi ekonomi, dan tekanan  diplomatik pada Korut,  dan pada saat yang sama, kita mempertahankan  kemampuan untuk melawan  ancaman paling berbahaya Korut,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>SEOUL - Korea Utara (Korut) memperkuat pertahanan di wilayah pantai  timur. Langkah ini diambil setelah Pyongyang mengatakan Presiden Amerika  Serikat (AS) Donald Trump mendeklarasikan perang.   Korut juga mengancam menembak jatuh pesawat-pesawat pengebom AS yang  melintas dekat Semenanjung Korea. Ketegangan meningkat setelah militer  Korut melakukan uji coba nuklir yang keenam dan yang terkuat pada Minggu  (3/9). Retorika saling mengancam antara Presiden Trump dan Pemimpin  Korut Kim Jong-un juga telah memasuki babak baru dalam beberapa hari  terakhir.   Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Korut Ri Yong-ho, Tweet Trump yang  menyatakan Ri dan Kim Jong-un tak akan lama lagi ada adalah bentuk  ancaman. Ri menilai pernyataan Trump sebagai deklarasi perang dan  Pyongyang berhak mengambil langkah untuk menghadapinya. Menlu Ri  menyampaikan hal itu setelah pertemuan tahunan Sidang Umum  Per-se-rikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, Senin (25/9).
(Baca juga: Makin Panas! Korut Mobilisasi Pesawat Tempur Setelah Pembom AS Bermanuver)  &amp;ldquo;Seluruh dunia harus mengingat secara jelas bahwa pihak AS yang terlebih  dulu menyatakan deklarasi perang terhadap negara kami,&amp;rdquo; ujar Menlu Ri  dalam jumpa pers di New York, AS, seperti dikutip kantor berita Reuters.
Korut juga memiliki hak menentukan langkah antisipasi, termasuk  menembak jatuh pesawat pengebom AS, bahkan jika pesawat tersebut tidak  berada di wilayah perbatasan udara Korut.   &amp;ldquo;Pertanyaan siapa yang tak akan ada lebih lama akan segera terjawab,&amp;rdquo;  ujar Ri.
Kantor berita Korea Selatan (Korsel) Yonhap melaporkan, Korut  telah memperkuat pertahanan dengan mengerahkan pesawat-pesawat ke  wilayah pantai timur. Tak hanya itu, Korut juga mengambil langkah lain  setelah pesawat pengebom AS terbang dekat Semenanjung Korea pada akhir  pekan lalu.
(Baca juga: Ngeri! Jika Perang AS-Korut Pecah, 20 Ribu Orang di Korsel Terbunuh Setiap Harinya)  Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menyangkal tuduhan bahwa AS  mendeklarasikan perang. Sanders menegaskan pernyataan itu tak berdasar.  Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang menyatakan, peperangan  di Semenanjung Korea tidak akan ada pemenangnya.   &amp;ldquo;Kami berharap bahwa para politisi AS dan Korut memiliki penilaian  politik yang cukup untuk menyadari bahwa menempuh langkah militer tidak  akan menjadi cara yang pantas untuk mengatasi masalah Semenanjung Korea,  dan itu harus kesadaran mereka sendiri,&amp;rdquo; paparnya. Selain menyerukan  dialog untuk menyelesaikan isu Korea, China juga mendukung sanksi PBB  yang lebih keras terhadap Korut.Ekspor bahan bakar asal China ke Korut berkurang pada Agustus lalu,   termasuk impor bijih besi dari Pyongyang, seiring melemahnya   perdagangan setelah sanksi terbaru PBB. Meski demikian, pengiriman   batubara kembali menguat setelah lima bulan kosong, sesuai data bea   cukai yang dirilis kemarin.   Di Moskow, Kementerian Luar Negeri  Rusia menyatakan, pihaknya bekerja di  belakang layar untuk menemukan  solusi politik dan penggunaan sanksi  terhadap Korut itu sudah maksimal.  Saat mengunjungi India, Menteri  Pertahanan AS James Mattis  menjelaskan, upaya diplomatik untuk mengatasi  krisis terus berlangsung.    &amp;ldquo;Anda telah melihat berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB  disahkan untuk  meningkatkan tekanan, sanksi ekonomi, dan tekanan  diplomatik pada Korut,  dan pada saat yang sama, kita mempertahankan  kemampuan untuk melawan  ancaman paling berbahaya Korut,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
