<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengunjungi Museum G30S/PKI, Saksi Gugurnya Pahlawan Revolusi</title><description>Rumah ini merupakan salah satu saksi bisu dari kejadian penembakan Jenderal Ahmad Yani.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/30/337/1786225/mengunjungi-museum-g30s-pki-saksi-gugurnya-pahlawan-revolusi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/30/337/1786225/mengunjungi-museum-g30s-pki-saksi-gugurnya-pahlawan-revolusi"/><item><title>Mengunjungi Museum G30S/PKI, Saksi Gugurnya Pahlawan Revolusi</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/30/337/1786225/mengunjungi-museum-g30s-pki-saksi-gugurnya-pahlawan-revolusi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/30/337/1786225/mengunjungi-museum-g30s-pki-saksi-gugurnya-pahlawan-revolusi</guid><pubDate>Sabtu 30 September 2017 16:36 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/30/337/1786225/mengunjungi-museum-g30s-pki-saksi-gugurnya-pahlawan-revolusi-nQ6r564Gu8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Museum Ahmad Yani (Foto: Antarafoto)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/30/337/1786225/mengunjungi-museum-g30s-pki-saksi-gugurnya-pahlawan-revolusi-nQ6r564Gu8.jpg</image><title>Museum Ahmad Yani (Foto: Antarafoto)</title></images><description>JAKARTA - Siang itu kami berkunjung ke salah satu museum peristiwa G30S/PKI, yaitu Sasmita Loka Ahmad Yani, yang pernah menjadi kediaman Jenderal Ahmad Yani, salah satu Pahlawan Revolusi.

Lokasinya di Jalan Lembang D 58 Menteng Jakarta Pusat. Tempat tersebut mulai menjadi museum pada 1 Oktober 1966. Rumah ini merupakan salah satu saksi bisu dari kejadian penembakan Jenderal Ahmad Yani. Museum buka setiap hari kecuali Senin, dari jam 8 pagi sampai 2 siang.

Kami merasakan perawatan dari museum ini sangat baik, terlihat dari bagian dalam rumah yang sangat rapi. Tidak terlihat adanya bagian sudut ruangan yang kotor.

Petugas museum akan menjelaskan kepada pengunjung proses kediaman Jenderal Ahmad Yani menjadi museum dan menceritakan kembali peristiwa G30S/PKI di tempat itu pada dinihari 1 Oktober 1965.

Petugas bernama Dwi mengatakan tidak ada perayaan khusus dari museum menjelang Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, namun dia mengaku setiap  mendekati tanggal tersebut jumlah  pengunjung lebih banyak dari biasanya.

Petugas lainnya, Sartono (50) mengaku sudah lama menjaga museum tersebut bersama Dwi. Dia mengaku pengalaman hidupnya yang membuat ia tetap setia menjaga museum tersebut.

&quot;Bulan September lumayan banyak sekolah-sekolah yang melakukan kunjungan ke museum ini untuk memperkenalkan sejarah pada anak murid mereka,&quot; kata Sartono.

Saat kami berkunjung ke museum ini, pekan ketiga September 2017,  terlihat beberapa sekolah mengirim siswa-siswa mereka berkunjung ke Sasmita Loka Ahmad Yani.

Kebanyakan siswa yang datang tidak mengetahui sosok Jenderal Ahmad Yani. &quot;Saya tidak tahu, baru tahu sekarang  pas datang,&quot; kata Danish H. Darhan, salah seorang murid dari sekolah Bogor di museum tersebut.

Saat memasuki ruangan pertama yaitu ruang tunggu, pengunjung diharuskan melepas alas kaki. Hawa sejuk dari mesin pendingin ruangan pun segera terasa.

Ada dua patung macan di ruangan tersebut. Museum itu memajang  baju dinas hingga senjata Jenderal Ahmad Yani. Koleksi yang digelar antara lain kursi tamu Jenderal Ahmad Yani, tongkat komando, pakaian, cincin, kacamata, keris, dan uang gaji Oktober 1965 Rp123 ribu yang belum sempat diserahkan kepada Ibu Yani. Ada juga berbagai cinderamata dari berbagai daerah dan luar negeri.

Ruangan yang ada antara lain ruang tunggu, ruang ajudan, ruang  santai, ruang khusus, ruang makan, ruang tidur, ruang kamar tidur  putra/putri, ruang dokumentasi foto, dan juga ruang pahlawan revolusi.

Setelah melewati beberapa kamar yang dulu digunakan Ahmad Yani dan  anak-anaknya, ada lorong yang dulu merupakan tempat Jenderal Ahmad Yani  diseret keluar rumah, ke arah taman belakang.

Di samping rumah ada  ruangan untuk mobil yang digunakan Jenderal  Ahmad Yani. Di bagian atas ada aula yang biasa digunakan untuk pemutaran  video film Penumpasan G30S/PKI.

Selanjutnya, di depan rumah ada taman dan patung sang Jenderal dengan  bendera Merah Putih. Menurut wikipedia, rumah tersebut dibangun sekitar  tahun 1930 - 1940 pada saat pengembangan wilayah Menteng dan  Gondangdia, semula gedung ini dipergunakan sebagai rumah tinggal pejabat  maskapai swasta Belanda/Eropa

Pada tahun 1950-an dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara, kemudian  dihuni oleh Letjen Ahmad Yani sebagai perwira tinggi TNI AD dengan  jabatan  terakhir Menteri/Panglima Angkatan Darat RI.

Komplek Monumen Pancasila Sakti pada hari yang sama, Selasa (19/9)  kami juga berkunjung ke komplek Monumen Pancasila Sakti.  Beberapa  petugas terlihat sibuk mengecat tembok  dan beberapa petugas dinas  kebersihan memotong rumput. Ada juga petugas pemadam kebakaran yang  sedang menyiram tanaman.

&quot;Kami dari dinas pemadam kebakaran  menyiram lapangan yang kering  karena kemarau akhir - akhir bulan ini, pengerjaan ini kami lakukan  sudah hampir sebulan dan akan selesai pada H-1 upacara,&quot; kata Supana  salah satu komandan regu pemadam kebakaran sektor TMII Jakarta Timur.

Dia menjelaskan ada lima personel yang bertugas dengan satu mobil  pompa air.  Monumen ini berdiri di atas lahan seluas 9 hektar, terdiri  dari Museum Pengkhianatan PKI (Komunis), Sumur Tua tempat  membuang  jenazah 7 Pahlawan Revolusi, Rumah Penyiksaan, Pos Komando, Dapur Umum,  Mobil-Mobil tua peninggalan Pahlawan Revolusi dan Museum Paseban.

Saat pertama masuk Museum Pengkhianatan PKI  pengunjung disambut  koleksi foto pemberontakan PKI, pengangkatan jenazah 7 Pahlawan  Revolusi, dan beberapa diorama pemberontakan PKI di Indonesia.

Di Rumah Penyiksaan, terdapat diorama penyiksaan tujuh Pahlawan  Revolusi. Tempat tersebut awalnya adalah sekolah. Pos Komando adalah  tempat milik warga yang dipakai gerakan G/30S/PKI untuk merencanakan  penculikan terhadap tujuh Pahlawan Revolusi.

Dapur Umum adalah rumah warga yang tanpa izin pemiliknya dijadikan tempat logistik anggota gerakan tersebut.

Museum Paseban, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1  Oktober 1981 berisi tidak kurang dari sembilan diorama, antara lain  penculikan Letjen TNI Ahmad Yani, pengangkatan jenazah Pahlawan  Revolusi, dan Proses lahirnya Supersemar.

Terdapat Ruang Relik berisi pakaian yang dikenakan para korban saat  diculik, serta hasil visum dari dokter. Ada juga alat bantu pernafasan  yang dikenakan tim evaluasi jenazah dari dalam sumur.

Di kompleks itu juga ada ruang teater yang memutar rekaman bersejarah  pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi hingga pemakaman ke Taman Makam  Pahlawan Kalibata.

Pengunjung pada hari itu kebanyakan adalah kelompok pelajar yang   melakukan study tour. Sebagian dari mereka mengelilingi museum   didampingi para guru.

&quot;Kami mengajak para siswa dan siswi mengetahui sejarah sekaligus   menumbuhkan rasa nasionalisme, terlebih lagi menjelang Hari Kesaktian   Pancasila,&quot; ujar Aida Mudrikah (40), salah satu guru SMA di Yayasan   Islam Al-Ayaniyah tanggerang.

Vijanatin (17) salah satu siswi SMA YIA, mengatakan pertama kali   datang ke museum tersebut. &quot;Saya jadi tahu sejarah, di museum ini banyak   pengetahuan baru,&quot; katanya.

Apakah keluarga Pahlawan Revolusi juga sering berkunjung? Seorang ibu   yang pekerjaannya terkait dengan komplek tersebut, mengemukakan setiap   menjelang Hari Kesaktian Pancasila keluarga pahlawan revolusi juga   berkunjung.

&quot;Keluarga Pahlawan Revolusi, yang beragama Islam biasa tahlilan di   sini. Kalau yang beragama Kristen mereka mengadakan kebaktian di ruang   theater,&quot; kata ibu yang minta identitasnya tidak perlu ditulis.
</description><content:encoded>JAKARTA - Siang itu kami berkunjung ke salah satu museum peristiwa G30S/PKI, yaitu Sasmita Loka Ahmad Yani, yang pernah menjadi kediaman Jenderal Ahmad Yani, salah satu Pahlawan Revolusi.

Lokasinya di Jalan Lembang D 58 Menteng Jakarta Pusat. Tempat tersebut mulai menjadi museum pada 1 Oktober 1966. Rumah ini merupakan salah satu saksi bisu dari kejadian penembakan Jenderal Ahmad Yani. Museum buka setiap hari kecuali Senin, dari jam 8 pagi sampai 2 siang.

Kami merasakan perawatan dari museum ini sangat baik, terlihat dari bagian dalam rumah yang sangat rapi. Tidak terlihat adanya bagian sudut ruangan yang kotor.

Petugas museum akan menjelaskan kepada pengunjung proses kediaman Jenderal Ahmad Yani menjadi museum dan menceritakan kembali peristiwa G30S/PKI di tempat itu pada dinihari 1 Oktober 1965.

Petugas bernama Dwi mengatakan tidak ada perayaan khusus dari museum menjelang Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, namun dia mengaku setiap  mendekati tanggal tersebut jumlah  pengunjung lebih banyak dari biasanya.

Petugas lainnya, Sartono (50) mengaku sudah lama menjaga museum tersebut bersama Dwi. Dia mengaku pengalaman hidupnya yang membuat ia tetap setia menjaga museum tersebut.

&quot;Bulan September lumayan banyak sekolah-sekolah yang melakukan kunjungan ke museum ini untuk memperkenalkan sejarah pada anak murid mereka,&quot; kata Sartono.

Saat kami berkunjung ke museum ini, pekan ketiga September 2017,  terlihat beberapa sekolah mengirim siswa-siswa mereka berkunjung ke Sasmita Loka Ahmad Yani.

Kebanyakan siswa yang datang tidak mengetahui sosok Jenderal Ahmad Yani. &quot;Saya tidak tahu, baru tahu sekarang  pas datang,&quot; kata Danish H. Darhan, salah seorang murid dari sekolah Bogor di museum tersebut.

Saat memasuki ruangan pertama yaitu ruang tunggu, pengunjung diharuskan melepas alas kaki. Hawa sejuk dari mesin pendingin ruangan pun segera terasa.

Ada dua patung macan di ruangan tersebut. Museum itu memajang  baju dinas hingga senjata Jenderal Ahmad Yani. Koleksi yang digelar antara lain kursi tamu Jenderal Ahmad Yani, tongkat komando, pakaian, cincin, kacamata, keris, dan uang gaji Oktober 1965 Rp123 ribu yang belum sempat diserahkan kepada Ibu Yani. Ada juga berbagai cinderamata dari berbagai daerah dan luar negeri.

Ruangan yang ada antara lain ruang tunggu, ruang ajudan, ruang  santai, ruang khusus, ruang makan, ruang tidur, ruang kamar tidur  putra/putri, ruang dokumentasi foto, dan juga ruang pahlawan revolusi.

Setelah melewati beberapa kamar yang dulu digunakan Ahmad Yani dan  anak-anaknya, ada lorong yang dulu merupakan tempat Jenderal Ahmad Yani  diseret keluar rumah, ke arah taman belakang.

Di samping rumah ada  ruangan untuk mobil yang digunakan Jenderal  Ahmad Yani. Di bagian atas ada aula yang biasa digunakan untuk pemutaran  video film Penumpasan G30S/PKI.

Selanjutnya, di depan rumah ada taman dan patung sang Jenderal dengan  bendera Merah Putih. Menurut wikipedia, rumah tersebut dibangun sekitar  tahun 1930 - 1940 pada saat pengembangan wilayah Menteng dan  Gondangdia, semula gedung ini dipergunakan sebagai rumah tinggal pejabat  maskapai swasta Belanda/Eropa

Pada tahun 1950-an dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara, kemudian  dihuni oleh Letjen Ahmad Yani sebagai perwira tinggi TNI AD dengan  jabatan  terakhir Menteri/Panglima Angkatan Darat RI.

Komplek Monumen Pancasila Sakti pada hari yang sama, Selasa (19/9)  kami juga berkunjung ke komplek Monumen Pancasila Sakti.  Beberapa  petugas terlihat sibuk mengecat tembok  dan beberapa petugas dinas  kebersihan memotong rumput. Ada juga petugas pemadam kebakaran yang  sedang menyiram tanaman.

&quot;Kami dari dinas pemadam kebakaran  menyiram lapangan yang kering  karena kemarau akhir - akhir bulan ini, pengerjaan ini kami lakukan  sudah hampir sebulan dan akan selesai pada H-1 upacara,&quot; kata Supana  salah satu komandan regu pemadam kebakaran sektor TMII Jakarta Timur.

Dia menjelaskan ada lima personel yang bertugas dengan satu mobil  pompa air.  Monumen ini berdiri di atas lahan seluas 9 hektar, terdiri  dari Museum Pengkhianatan PKI (Komunis), Sumur Tua tempat  membuang  jenazah 7 Pahlawan Revolusi, Rumah Penyiksaan, Pos Komando, Dapur Umum,  Mobil-Mobil tua peninggalan Pahlawan Revolusi dan Museum Paseban.

Saat pertama masuk Museum Pengkhianatan PKI  pengunjung disambut  koleksi foto pemberontakan PKI, pengangkatan jenazah 7 Pahlawan  Revolusi, dan beberapa diorama pemberontakan PKI di Indonesia.

Di Rumah Penyiksaan, terdapat diorama penyiksaan tujuh Pahlawan  Revolusi. Tempat tersebut awalnya adalah sekolah. Pos Komando adalah  tempat milik warga yang dipakai gerakan G/30S/PKI untuk merencanakan  penculikan terhadap tujuh Pahlawan Revolusi.

Dapur Umum adalah rumah warga yang tanpa izin pemiliknya dijadikan tempat logistik anggota gerakan tersebut.

Museum Paseban, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1  Oktober 1981 berisi tidak kurang dari sembilan diorama, antara lain  penculikan Letjen TNI Ahmad Yani, pengangkatan jenazah Pahlawan  Revolusi, dan Proses lahirnya Supersemar.

Terdapat Ruang Relik berisi pakaian yang dikenakan para korban saat  diculik, serta hasil visum dari dokter. Ada juga alat bantu pernafasan  yang dikenakan tim evaluasi jenazah dari dalam sumur.

Di kompleks itu juga ada ruang teater yang memutar rekaman bersejarah  pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi hingga pemakaman ke Taman Makam  Pahlawan Kalibata.

Pengunjung pada hari itu kebanyakan adalah kelompok pelajar yang   melakukan study tour. Sebagian dari mereka mengelilingi museum   didampingi para guru.

&quot;Kami mengajak para siswa dan siswi mengetahui sejarah sekaligus   menumbuhkan rasa nasionalisme, terlebih lagi menjelang Hari Kesaktian   Pancasila,&quot; ujar Aida Mudrikah (40), salah satu guru SMA di Yayasan   Islam Al-Ayaniyah tanggerang.

Vijanatin (17) salah satu siswi SMA YIA, mengatakan pertama kali   datang ke museum tersebut. &quot;Saya jadi tahu sejarah, di museum ini banyak   pengetahuan baru,&quot; katanya.

Apakah keluarga Pahlawan Revolusi juga sering berkunjung? Seorang ibu   yang pekerjaannya terkait dengan komplek tersebut, mengemukakan setiap   menjelang Hari Kesaktian Pancasila keluarga pahlawan revolusi juga   berkunjung.

&quot;Keluarga Pahlawan Revolusi, yang beragama Islam biasa tahlilan di   sini. Kalau yang beragama Kristen mereka mengadakan kebaktian di ruang   theater,&quot; kata ibu yang minta identitasnya tidak perlu ditulis.
</content:encoded></item></channel></rss>
