<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Panas! Pemimpin Catalunya Klaim Hak untuk Merdeka Pasca-Referendum</title><description>Carles Puigdemont mengatakan, wilayah itu telah  memperoleh hak untuk menuntut kemerdekaan setelah referendum pada hari  Minggu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787661/panas-pemimpin-catalunya-klaim-hak-untuk-merdeka-pasca-referendum</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787661/panas-pemimpin-catalunya-klaim-hak-untuk-merdeka-pasca-referendum"/><item><title>Panas! Pemimpin Catalunya Klaim Hak untuk Merdeka Pasca-Referendum</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787661/panas-pemimpin-catalunya-klaim-hak-untuk-merdeka-pasca-referendum</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787661/panas-pemimpin-catalunya-klaim-hak-untuk-merdeka-pasca-referendum</guid><pubDate>Selasa 03 Oktober 2017 12:12 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/03/18/1787661/panas-pemimpin-catalunya-klaim-hak-untuk-merdeka-pasca-referendum-RHQesp2hfM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont. (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/03/18/1787661/panas-pemimpin-catalunya-klaim-hak-untuk-merdeka-pasca-referendum-RHQesp2hfM.jpg</image><title>Pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont. (Foto: AP)</title></images><description>CATALAN - Pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont mengatakan, wilayah itu telah  memperoleh hak untuk menuntut kemerdekaan setelah referendum pada hari  Minggu (1/10).
Pemerintah Spanyol telah melarang pemungutan suara yang dinyatakan  tidak konstitusional itu dan mengirim polisi serta pasukan anti huru-hara untuk menghentikan pemungutan suara. Bentrokan antara polisi  dan para pemilih membuat ratusan orang cedera.
Pemerintah Spanyol telah mengerahkan ribuan polisi untuk menghentikan  para pemilih di wilayah Catalunya, Spanyol utara, memberikan suara  mereka. Tapi pemilih datang dalam jumlah besar, dan di beberapa tempat  bentrok dengan polisi.
Setelah terjadi kekerasan sepanjang hari, presiden wilayah tersebut  mengumumkan Catalunya telah memperoleh hak untuk menjadi negara merdeka.
(Baca juga: Mencekam! Referendum Catalunya Berujung Bentrok, 760 Orang Jadi Korban)
&quot;Oleh karena itu dalam beberapa hari mendatang, pemerintah saya akan  mengirim hasil pemungutan suara hari ini kepada parlemen Catalan,  lembaga kedaulatan rakyat yang sah, supaya bisa bertindak sesuai dengan  hukum referendum,&quot; ujar Puigdemont.
Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menuduh pemerintah separatis di  Catalunya memperolok-olok demokrasi, dan mengatakan, tidak ada  referendum pada hari Minggu itu.
&quot;Kami telah memenuhi kewajiban kami, kami telah bertindak sejak awal  sesuai hukum dan hanya di bidang hukum. Telah terbukti bahwa negara  demokratis kami memiliki sumber daya untuk mempertahankan diri dari  serangan serius yang diusahakan dengan referendum ilegal ini,&quot; tegas  Rajoy.
(Baca juga: Duh! Catalunya Klaim 90% Pemilih saat Referendum Ingin Merdeka dari Spanyol)
Para pemimpin politik wilayah itu menyalahkan pemerintah Rajoy atas  terjadinya kekerasan tersebut dan mengatakan mereka akan meminta Uni  Eropa untuk mencela tindakan Spanyol tersebut.
Catalnya, wilayah terkaya Spanyol, telah kehilangan sebagian otonomi  tahun 2010. Golongan separatis memenangkan pemilihan Catalunya lima  tahun kemudian, dan mulai mengusahakan pemungutan suara atau referendum  untuk kemerdekaan. Konstitusi Spanyol menyatakan bahwa negara Spanyol  tidak dapat dipecah-pecah.
Ratusan orang Spanyol berkumpul di ibukota Madrid hari Minggu memprotes referendum tersebut.
Namun, warga Catalan juga memiliki pendukung di seluruh dunia.  Beberapa dari mereka bergabung dalam demonstrasi di Ibu Kota Skotlandia,  Edinburgh, hari Minggu.&quot;Saya pikir semua negara di dunia, apakah itu kawasan Basque,   Catalunya, Scotlandia, dan tempat lain, seperti Palestina, dan   Kurdistan, mereka semua mempunyai hak untuk berdiri sebagai negara, dan   saya mendukung semua gerakan ini,&quot; kata Sonja Coquelin.
Kebrutalan polisi pada hari Minggu juga telah dikecam oleh sebagian   politisi Eropa. Referendum tersebut telah memicu terjadinya krisis   politik terbesar dalam peemrintah di Spanyol yang berusia 42 tahun itu.</description><content:encoded>CATALAN - Pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont mengatakan, wilayah itu telah  memperoleh hak untuk menuntut kemerdekaan setelah referendum pada hari  Minggu (1/10).
Pemerintah Spanyol telah melarang pemungutan suara yang dinyatakan  tidak konstitusional itu dan mengirim polisi serta pasukan anti huru-hara untuk menghentikan pemungutan suara. Bentrokan antara polisi  dan para pemilih membuat ratusan orang cedera.
Pemerintah Spanyol telah mengerahkan ribuan polisi untuk menghentikan  para pemilih di wilayah Catalunya, Spanyol utara, memberikan suara  mereka. Tapi pemilih datang dalam jumlah besar, dan di beberapa tempat  bentrok dengan polisi.
Setelah terjadi kekerasan sepanjang hari, presiden wilayah tersebut  mengumumkan Catalunya telah memperoleh hak untuk menjadi negara merdeka.
(Baca juga: Mencekam! Referendum Catalunya Berujung Bentrok, 760 Orang Jadi Korban)
&quot;Oleh karena itu dalam beberapa hari mendatang, pemerintah saya akan  mengirim hasil pemungutan suara hari ini kepada parlemen Catalan,  lembaga kedaulatan rakyat yang sah, supaya bisa bertindak sesuai dengan  hukum referendum,&quot; ujar Puigdemont.
Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menuduh pemerintah separatis di  Catalunya memperolok-olok demokrasi, dan mengatakan, tidak ada  referendum pada hari Minggu itu.
&quot;Kami telah memenuhi kewajiban kami, kami telah bertindak sejak awal  sesuai hukum dan hanya di bidang hukum. Telah terbukti bahwa negara  demokratis kami memiliki sumber daya untuk mempertahankan diri dari  serangan serius yang diusahakan dengan referendum ilegal ini,&quot; tegas  Rajoy.
(Baca juga: Duh! Catalunya Klaim 90% Pemilih saat Referendum Ingin Merdeka dari Spanyol)
Para pemimpin politik wilayah itu menyalahkan pemerintah Rajoy atas  terjadinya kekerasan tersebut dan mengatakan mereka akan meminta Uni  Eropa untuk mencela tindakan Spanyol tersebut.
Catalnya, wilayah terkaya Spanyol, telah kehilangan sebagian otonomi  tahun 2010. Golongan separatis memenangkan pemilihan Catalunya lima  tahun kemudian, dan mulai mengusahakan pemungutan suara atau referendum  untuk kemerdekaan. Konstitusi Spanyol menyatakan bahwa negara Spanyol  tidak dapat dipecah-pecah.
Ratusan orang Spanyol berkumpul di ibukota Madrid hari Minggu memprotes referendum tersebut.
Namun, warga Catalan juga memiliki pendukung di seluruh dunia.  Beberapa dari mereka bergabung dalam demonstrasi di Ibu Kota Skotlandia,  Edinburgh, hari Minggu.&quot;Saya pikir semua negara di dunia, apakah itu kawasan Basque,   Catalunya, Scotlandia, dan tempat lain, seperti Palestina, dan   Kurdistan, mereka semua mempunyai hak untuk berdiri sebagai negara, dan   saya mendukung semua gerakan ini,&quot; kata Sonja Coquelin.
Kebrutalan polisi pada hari Minggu juga telah dikecam oleh sebagian   politisi Eropa. Referendum tersebut telah memicu terjadinya krisis   politik terbesar dalam peemrintah di Spanyol yang berusia 42 tahun itu.</content:encoded></item></channel></rss>
