<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nah Lho! Warga Filipina Anggap Perang Narkoba Duterte Hanya Tewaskan Pengedar Miskin</title><description>Sebagian besar warga Filipina yakin hanya orang miskin yang tewas dalam perang melawan narkoba di negaranya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787807/nah-lho-warga-filipina-anggap-perang-narkoba-duterte-hanya-tewaskan-pengedar-miskin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787807/nah-lho-warga-filipina-anggap-perang-narkoba-duterte-hanya-tewaskan-pengedar-miskin"/><item><title>Nah Lho! Warga Filipina Anggap Perang Narkoba Duterte Hanya Tewaskan Pengedar Miskin</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787807/nah-lho-warga-filipina-anggap-perang-narkoba-duterte-hanya-tewaskan-pengedar-miskin</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/03/18/1787807/nah-lho-warga-filipina-anggap-perang-narkoba-duterte-hanya-tewaskan-pengedar-miskin</guid><pubDate>Selasa 03 Oktober 2017 15:06 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/03/18/1787807/nah-lho-warga-filipina-anggap-perang-narkoba-duterte-hanya-tewaskan-pengedar-miskin-coJAtX7I4Q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Protes terhadap Duterte. (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/03/18/1787807/nah-lho-warga-filipina-anggap-perang-narkoba-duterte-hanya-tewaskan-pengedar-miskin-coJAtX7I4Q.jpg</image><title>Protes terhadap Duterte. (Foto: AP)</title></images><description>MANILA - Sebagian besar warga Filipina yakin hanya orang miskin yang tewas dalam perang melawan narkoba di negaranya.   Mereka mendesak Presiden Rodrigo Duterte mengungkap identitas tersangka  gembong narkoba dan membawanya ke pengadilan. Hasil survei terhadap  1.200 warga Filipina oleh Social Weather Stations (SWS) itu dirilis Senin 2 Oktober 2017.
Survei yang digelar Juni lalu, juga menunjukkan pendapat publik  terpecah atas validitas laporan kepolisian dalam operasi melawan  narkoba. Lebih dari 3.800 orang tewas selama 15 bulan perang melawan  narkoba yang digelar Duterte melalui berbagai operasi kepolisian.   Kelompok hak asasi manusia (HAM) menyatakan korban tewas jauh lebih banyak  dibandingkan dengan data resmi pemerintah. Beberapa aktivis menyatakan, pria  bersenjata bekerja sama dengan kepolisian untuk membunuh para pengedar  dan pengguna narkoba.
Kepolisian dan pemerintah menyangkal tuduhan  tersebut dan menganggap para pengkritik memanfaatkan data korban tewas  untuk kepentingan politik. Tingginya korban tewas dalam perang melawan  kejahatan narkoba itu pun memicu penghatian internasional. Meski  demikian, survei domestik menunjukkan rakyat Filipina  sebagian besar mendukung langkah tegas tersebut.
(Baca juga: Ketika Duterte Memuji AS, &quot;Mereka Adalah Sekutu Kita dan Mereka Membantu Kita&quot;)  Perang melawan narkoba itu pun mendapat perhatian publik setelah  personel kepolisian menewaskan pelajar berusia 17 tahun pada 16 Agustus  lalu. Dua saksi mata kemarin mengatakan pada tim penyelidikan senat  bahwa mereka melihat petugas kepolisian membunuh remaja lain yang  ditangkap sebelumnya di lokasi sama atas tuduhan perampokan.
Dalam dua  kasus pembunuhan itu, kepolisian menyatakan para korban melawan saat  ditangkap. Seorang remaja ketiga ditahan dengan korban kedua ditemukan  tewas dengan 30 luka tikaman di provinsi yang jaraknya sekitar tiga jam  mengemudi dari ibu kota Filipina.   Duterte beberapa kali menyatakan memiliki dokumen berisi 6.000 tersangka  gembong narkoba di negara itu. &amp;ldquo;Sebanyak 74% responden ingin Duterte  membeberkan dokumen tersebut ke publik,&amp;rdquo; ungkap hasil survei SWS dikutip  kantor berita Reuters.
Survei itu juga menunjukkan 60% responden  sepakat dengan pernyataan hanya pengedar narkoba miskin yang dibunuh.  Duterte juga dikritik bahwa kampanyenya merupakan perang melawan warga  miskin. Survei juga menunjukkan hampir setengah responden tidak  berpendapat mengenai apakah polisi mengatakan kebenaran saat menjelaskan  korban tewas itu terjadi hanya ketika tersangka menolak ditangkap.   Sebanyak 28% responden menjelaskan polisi berbohong, tapi 25% responden  lainnya yakin polisi jujur. Rakyat Filipina pekan lalu menuding Barat  bersikap bias, hipokrit, dan intervensi setelah 39 negara yang sebagian  besar dari Eropa menyoroti perang melawan narkoba tersebut.</description><content:encoded>MANILA - Sebagian besar warga Filipina yakin hanya orang miskin yang tewas dalam perang melawan narkoba di negaranya.   Mereka mendesak Presiden Rodrigo Duterte mengungkap identitas tersangka  gembong narkoba dan membawanya ke pengadilan. Hasil survei terhadap  1.200 warga Filipina oleh Social Weather Stations (SWS) itu dirilis Senin 2 Oktober 2017.
Survei yang digelar Juni lalu, juga menunjukkan pendapat publik  terpecah atas validitas laporan kepolisian dalam operasi melawan  narkoba. Lebih dari 3.800 orang tewas selama 15 bulan perang melawan  narkoba yang digelar Duterte melalui berbagai operasi kepolisian.   Kelompok hak asasi manusia (HAM) menyatakan korban tewas jauh lebih banyak  dibandingkan dengan data resmi pemerintah. Beberapa aktivis menyatakan, pria  bersenjata bekerja sama dengan kepolisian untuk membunuh para pengedar  dan pengguna narkoba.
Kepolisian dan pemerintah menyangkal tuduhan  tersebut dan menganggap para pengkritik memanfaatkan data korban tewas  untuk kepentingan politik. Tingginya korban tewas dalam perang melawan  kejahatan narkoba itu pun memicu penghatian internasional. Meski  demikian, survei domestik menunjukkan rakyat Filipina  sebagian besar mendukung langkah tegas tersebut.
(Baca juga: Ketika Duterte Memuji AS, &quot;Mereka Adalah Sekutu Kita dan Mereka Membantu Kita&quot;)  Perang melawan narkoba itu pun mendapat perhatian publik setelah  personel kepolisian menewaskan pelajar berusia 17 tahun pada 16 Agustus  lalu. Dua saksi mata kemarin mengatakan pada tim penyelidikan senat  bahwa mereka melihat petugas kepolisian membunuh remaja lain yang  ditangkap sebelumnya di lokasi sama atas tuduhan perampokan.
Dalam dua  kasus pembunuhan itu, kepolisian menyatakan para korban melawan saat  ditangkap. Seorang remaja ketiga ditahan dengan korban kedua ditemukan  tewas dengan 30 luka tikaman di provinsi yang jaraknya sekitar tiga jam  mengemudi dari ibu kota Filipina.   Duterte beberapa kali menyatakan memiliki dokumen berisi 6.000 tersangka  gembong narkoba di negara itu. &amp;ldquo;Sebanyak 74% responden ingin Duterte  membeberkan dokumen tersebut ke publik,&amp;rdquo; ungkap hasil survei SWS dikutip  kantor berita Reuters.
Survei itu juga menunjukkan 60% responden  sepakat dengan pernyataan hanya pengedar narkoba miskin yang dibunuh.  Duterte juga dikritik bahwa kampanyenya merupakan perang melawan warga  miskin. Survei juga menunjukkan hampir setengah responden tidak  berpendapat mengenai apakah polisi mengatakan kebenaran saat menjelaskan  korban tewas itu terjadi hanya ketika tersangka menolak ditangkap.   Sebanyak 28% responden menjelaskan polisi berbohong, tapi 25% responden  lainnya yakin polisi jujur. Rakyat Filipina pekan lalu menuding Barat  bersikap bias, hipokrit, dan intervensi setelah 39 negara yang sebagian  besar dari Eropa menyoroti perang melawan narkoba tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
