<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tegas! Militan Rohingya Bantah Punya Hubungan dengan Kelompok Asing</title><description>Kelompok militan Rohingya, ARSA membantah punya hubungan dengan militan asing.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/07/18/1790791/tegas-militan-rohingya-bantah-punya-hubungan-dengan-kelompok-asing</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/07/18/1790791/tegas-militan-rohingya-bantah-punya-hubungan-dengan-kelompok-asing"/><item><title>Tegas! Militan Rohingya Bantah Punya Hubungan dengan Kelompok Asing</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/07/18/1790791/tegas-militan-rohingya-bantah-punya-hubungan-dengan-kelompok-asing</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/07/18/1790791/tegas-militan-rohingya-bantah-punya-hubungan-dengan-kelompok-asing</guid><pubDate>Sabtu 07 Oktober 2017 15:17 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/07/18/1790791/tegas-militan-rohingya-bantah-punya-hubungan-dengan-kelompok-asing-u0NNDgkgT6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Militan Rohingya. (Foto: Ist/Sindonews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/07/18/1790791/tegas-militan-rohingya-bantah-punya-hubungan-dengan-kelompok-asing-u0NNDgkgT6.jpg</image><title>Militan Rohingya. (Foto: Ist/Sindonews)</title></images><description>YANGON - Kelompok militan Rohingya, ARSA membantah punya hubungan dengan militan asing. Pemimpin kelompok itu, Ata  Ullah, menghubungkan terbentuknya kelompok tersebut denga kekerasan  komunal umat Muslim dengan Buddha di Rakhine pada 2012 lalu. Saat itu,  hampir 200 orang terbunuh dan 140 ribu lainnya, kebanyakan Rohingya,  mengungsi.Kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka  memperjuangkan hak Rohingya. Etnis Rohingya selama ini tidak pernah  dianggap sebagai minoritas pribumi di Myanmar dan oleh karena itu  kewarganegaraan mereka ditolak di bawah undang-undang yang menghubungkan  kewarganegaraan dengan etnisitas.Kelompok tersebut mengulangi permintaan mereka agar Rohingya dikenali sebagai kelompok etnis asli pribumi.&quot;Semua  orang Rohingya harus diizinkan pulang ke rumah dengan selamat dengan  harga diri untuk secara bebas menentukan status politik mereka dan  mengejar ekonomi, sosial dan mengembangkan budaya mereka,&quot; kata kelompok  itu seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (7/10/2017).
(Baca juga: Akhiri Kekerasan di Rakhine, Militan Rohingya Klaim Siap Berdamai)Rohingya  telah lama menghadapi diskriminasi dan penindasan di Negara Bagian  Rakhine di mana hubungan buruk antara mereka dan etnis Rakhine, yang  berasal dari kekerasan oleh kedua belah pihak, kembali ke generasi  berikutnya.ARSA juga mengutuk pemerintah Myanmar karena  menghalangi bantuan kemanusiaan di Rakhine. Mereka juga mengatakan  bersedia untuk membahas gencatan senjata dengan organisasi internasional  sehingga bantuan dapat diberikan.Sekitar 515.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh namun ribuan orang masih berada di Rakhine.
(Baca juga: Haru! Senyum Anak-Anak Pengungsi Rohingya Merekah saat Terima Bantuan dari Indonesia)Pemimpin  Myanmar Aung San Suu Kyi telah menghadapi kecaman pedas karena tidak  berbuat lebih banyak untuk menghentikan kekerasan tersebut, walaupun  sebuah konstitusi rancangan militer tidak memberinya kekuatan atas  pasukan keamanan.Suu Kyi telah mengecam pelanggaran hak asasi  manusia dan mengatakan bahwa Myanmar siap untuk memulai sebuah proses  yang disetujui oleh Bangladesh pada tahun 1993 dimana seseorang yang  diverifikasi sebagai pengungsi akan diterima kembali.Banyak  pengungsi khawatir mereka tidak memiliki dokumen yang mereka yakin akan  diminta oleh Myanmar untuk mengizinkan mereka kembali.</description><content:encoded>YANGON - Kelompok militan Rohingya, ARSA membantah punya hubungan dengan militan asing. Pemimpin kelompok itu, Ata  Ullah, menghubungkan terbentuknya kelompok tersebut denga kekerasan  komunal umat Muslim dengan Buddha di Rakhine pada 2012 lalu. Saat itu,  hampir 200 orang terbunuh dan 140 ribu lainnya, kebanyakan Rohingya,  mengungsi.Kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka  memperjuangkan hak Rohingya. Etnis Rohingya selama ini tidak pernah  dianggap sebagai minoritas pribumi di Myanmar dan oleh karena itu  kewarganegaraan mereka ditolak di bawah undang-undang yang menghubungkan  kewarganegaraan dengan etnisitas.Kelompok tersebut mengulangi permintaan mereka agar Rohingya dikenali sebagai kelompok etnis asli pribumi.&quot;Semua  orang Rohingya harus diizinkan pulang ke rumah dengan selamat dengan  harga diri untuk secara bebas menentukan status politik mereka dan  mengejar ekonomi, sosial dan mengembangkan budaya mereka,&quot; kata kelompok  itu seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (7/10/2017).
(Baca juga: Akhiri Kekerasan di Rakhine, Militan Rohingya Klaim Siap Berdamai)Rohingya  telah lama menghadapi diskriminasi dan penindasan di Negara Bagian  Rakhine di mana hubungan buruk antara mereka dan etnis Rakhine, yang  berasal dari kekerasan oleh kedua belah pihak, kembali ke generasi  berikutnya.ARSA juga mengutuk pemerintah Myanmar karena  menghalangi bantuan kemanusiaan di Rakhine. Mereka juga mengatakan  bersedia untuk membahas gencatan senjata dengan organisasi internasional  sehingga bantuan dapat diberikan.Sekitar 515.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh namun ribuan orang masih berada di Rakhine.
(Baca juga: Haru! Senyum Anak-Anak Pengungsi Rohingya Merekah saat Terima Bantuan dari Indonesia)Pemimpin  Myanmar Aung San Suu Kyi telah menghadapi kecaman pedas karena tidak  berbuat lebih banyak untuk menghentikan kekerasan tersebut, walaupun  sebuah konstitusi rancangan militer tidak memberinya kekuatan atas  pasukan keamanan.Suu Kyi telah mengecam pelanggaran hak asasi  manusia dan mengatakan bahwa Myanmar siap untuk memulai sebuah proses  yang disetujui oleh Bangladesh pada tahun 1993 dimana seseorang yang  diverifikasi sebagai pengungsi akan diterima kembali.Banyak  pengungsi khawatir mereka tidak memiliki dokumen yang mereka yakin akan  diminta oleh Myanmar untuk mengizinkan mereka kembali.</content:encoded></item></channel></rss>
