<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HISTORIPEDIA: Bendungan di Italia Jebol, 2.000 Orang Tewas Diterjang Gelombang Setinggi 200 Meter</title><description></description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/09/18/1791205/historipedia-bendungan-di-italia-jebol-2-000-orang-tewas-diterjang-gelombang-setinggi-200-meter</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/09/18/1791205/historipedia-bendungan-di-italia-jebol-2-000-orang-tewas-diterjang-gelombang-setinggi-200-meter"/><item><title>HISTORIPEDIA: Bendungan di Italia Jebol, 2.000 Orang Tewas Diterjang Gelombang Setinggi 200 Meter</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/09/18/1791205/historipedia-bendungan-di-italia-jebol-2-000-orang-tewas-diterjang-gelombang-setinggi-200-meter</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/09/18/1791205/historipedia-bendungan-di-italia-jebol-2-000-orang-tewas-diterjang-gelombang-setinggi-200-meter</guid><pubDate>Senin 09 Oktober 2017 06:02 WIB</pubDate><dc:creator>Djanti Virantika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/08/18/1791205/historipedia-bendungan-di-italia-jebol-2-000-orang-tewas-diterjang-gelombang-setinggi-200-meter-5zA9krSVKD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bendungan Vajont di Italia. (Foto: Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/08/18/1791205/historipedia-bendungan-di-italia-jebol-2-000-orang-tewas-diterjang-gelombang-setinggi-200-meter-5zA9krSVKD.jpg</image><title>Bendungan Vajont di Italia. (Foto: Getty Images)</title></images><description>BENCANA besar yang merenggut nyawa ribuan orang pernah terjadi di Italia. Peristiwa yang tak terlupakan itu terjadi pada 9 Oktober 1963.
Bencana ini berawal dari tanah yang longsor di Pegunungan Monte Toc, Italia. Tak jauh dari tanah yang longsor itu terdapat Bendungan Diga del Vajont. Bendungan tersebut dibangun untuk memasok tenaga air ke Italia Utara.
Bendungan tersebut dibangun 875 kaki di atas Sungai Piave dengan lebar 75 kaki. Bendungan yang terletak 10 mil timur laut Belluno itu merupakan waduk yang sangat besar. Lebih dari 300 ribu kubik air ditampung dalam bendungan tersebut.
Ketika dibangun, Diga del Vajont adalah bendungan tertinggi dari sejenisnya di dunia. Bendungan memanfaatkan air gunung untuk menciptakan danau guna menghasilkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Hal ini dilakukan untuk menopang ekonomi pascaperang Italia Utara. Namun, bendungan yang kukuh itu dibangun di lokasi yang salah.
Bendungan yang terletak di Jurang Vaiont, bagian Pegunungan Alpen itu dikenal karena kontur tanahnya yang tidak stabil. Tetapi para insinyur dan ahli geologi telah mengabaikan peringatan penduduk setempat bahwa tanahnya tidak stabil. Mereka tidak mempertimbangkan laporan geologi, masalah tektonik, pengetahuan lokal tentang wilayah, dan ketidakstabilan wilayah tersebut.
Penduduk setempat sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa pekerjaan mereka telah memicu gerakan seismik yang mengkhawatirkan. Sejak 1960, tak lama setelah pembangunan tersebut selesai, terjadi longsor kecil. Ketakutan bahwa Monte Toc akan runtuh tersebar luas di daerah tersebut.
Selain itu, pembangun dan manajer telah gagal untuk mengamati persyaratan konservasi tanah dan memenuhi reservoir dengan baik melebihi peraturan keselamatan. Kekhawatiran terkait keuangan terhadap pengembangan dan keahlian teknis telah melampaui pertimbangan nyata faktor lingkungan di lembah dan ancaman terhadap kehidupan manusia. Meski membawa berkah, kehadiran bendungan tersebut juga secara bersamaan menjadi ancaman bagi masyarakat.Hal yang ditakutkan terjadi. Pada 1963, hujan deras  mengguyur wilayah tersebut. Pada pukul 22.41 waktu setempat, lahan yang basah tidak dapat lagi menahan guyuran hujan. Sebuah bencana pun terjadi.
Longsoran besar runtuh dari atas gunung. Sekira 45 menit kemudian, bongkahan besar itu terjun ke bendungan yang baru dibuat tersebut dan seketika menciptakan tsunami besar. Gelombang air lebih dari 200 meter (m) muncul di atas bendungan sebelum terjun cepat ke Longarone.
Terjangan air pun tak dapat dihindarkan. Sebelum menerjang permukiman, pekerja yang tinggal di samping bendungan itu terbunuh terlebih dahulu. Air yang tergusur jatuh di atas bendungan, kemudian masuk ke Sungai Piave yang berada di bawahnya.
Sungai itu kemudian menerjang Kota Longarone. Tsunami besar menyerbu permukiman warga. Di bawah guyuran hujan, tak banyak warga yang berada di luar rumah saat itu. Hal ini membuat banyak warga yang tewas karena tak mengetahui datangnya air tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama, terjangan air itu membuat ribuan orang tewas. Hanya dalam hitungan beberapa menit, Kota Longarone hampir lenyap. Setelah memorak-porandakan Longarone, gelombang seperti tsunami itu meluncur ke San Martino. Ratusan orang lainnya tewas di sana.
Sekira 2.000 orang tewas akibat terjangan gelombang air tersebut. Seluruh warga Italia berduka saat itu. Peristiwa ini menjadi catatan kelam bagi masyarakat Negeri Piza.
Sebagai akibat dari bencana tersebut, insinyur proyek bendungan, Mario Pancini, dipanggil ke pengadilan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia menjawab pertanyaan terkait geologi daerah tersebut sebelum memulai pembangunan bendungan itu. Namun, dia bunuh diri sebelum sidang dilakukan. (DJI)</description><content:encoded>BENCANA besar yang merenggut nyawa ribuan orang pernah terjadi di Italia. Peristiwa yang tak terlupakan itu terjadi pada 9 Oktober 1963.
Bencana ini berawal dari tanah yang longsor di Pegunungan Monte Toc, Italia. Tak jauh dari tanah yang longsor itu terdapat Bendungan Diga del Vajont. Bendungan tersebut dibangun untuk memasok tenaga air ke Italia Utara.
Bendungan tersebut dibangun 875 kaki di atas Sungai Piave dengan lebar 75 kaki. Bendungan yang terletak 10 mil timur laut Belluno itu merupakan waduk yang sangat besar. Lebih dari 300 ribu kubik air ditampung dalam bendungan tersebut.
Ketika dibangun, Diga del Vajont adalah bendungan tertinggi dari sejenisnya di dunia. Bendungan memanfaatkan air gunung untuk menciptakan danau guna menghasilkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Hal ini dilakukan untuk menopang ekonomi pascaperang Italia Utara. Namun, bendungan yang kukuh itu dibangun di lokasi yang salah.
Bendungan yang terletak di Jurang Vaiont, bagian Pegunungan Alpen itu dikenal karena kontur tanahnya yang tidak stabil. Tetapi para insinyur dan ahli geologi telah mengabaikan peringatan penduduk setempat bahwa tanahnya tidak stabil. Mereka tidak mempertimbangkan laporan geologi, masalah tektonik, pengetahuan lokal tentang wilayah, dan ketidakstabilan wilayah tersebut.
Penduduk setempat sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa pekerjaan mereka telah memicu gerakan seismik yang mengkhawatirkan. Sejak 1960, tak lama setelah pembangunan tersebut selesai, terjadi longsor kecil. Ketakutan bahwa Monte Toc akan runtuh tersebar luas di daerah tersebut.
Selain itu, pembangun dan manajer telah gagal untuk mengamati persyaratan konservasi tanah dan memenuhi reservoir dengan baik melebihi peraturan keselamatan. Kekhawatiran terkait keuangan terhadap pengembangan dan keahlian teknis telah melampaui pertimbangan nyata faktor lingkungan di lembah dan ancaman terhadap kehidupan manusia. Meski membawa berkah, kehadiran bendungan tersebut juga secara bersamaan menjadi ancaman bagi masyarakat.Hal yang ditakutkan terjadi. Pada 1963, hujan deras  mengguyur wilayah tersebut. Pada pukul 22.41 waktu setempat, lahan yang basah tidak dapat lagi menahan guyuran hujan. Sebuah bencana pun terjadi.
Longsoran besar runtuh dari atas gunung. Sekira 45 menit kemudian, bongkahan besar itu terjun ke bendungan yang baru dibuat tersebut dan seketika menciptakan tsunami besar. Gelombang air lebih dari 200 meter (m) muncul di atas bendungan sebelum terjun cepat ke Longarone.
Terjangan air pun tak dapat dihindarkan. Sebelum menerjang permukiman, pekerja yang tinggal di samping bendungan itu terbunuh terlebih dahulu. Air yang tergusur jatuh di atas bendungan, kemudian masuk ke Sungai Piave yang berada di bawahnya.
Sungai itu kemudian menerjang Kota Longarone. Tsunami besar menyerbu permukiman warga. Di bawah guyuran hujan, tak banyak warga yang berada di luar rumah saat itu. Hal ini membuat banyak warga yang tewas karena tak mengetahui datangnya air tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama, terjangan air itu membuat ribuan orang tewas. Hanya dalam hitungan beberapa menit, Kota Longarone hampir lenyap. Setelah memorak-porandakan Longarone, gelombang seperti tsunami itu meluncur ke San Martino. Ratusan orang lainnya tewas di sana.
Sekira 2.000 orang tewas akibat terjangan gelombang air tersebut. Seluruh warga Italia berduka saat itu. Peristiwa ini menjadi catatan kelam bagi masyarakat Negeri Piza.
Sebagai akibat dari bencana tersebut, insinyur proyek bendungan, Mario Pancini, dipanggil ke pengadilan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia menjawab pertanyaan terkait geologi daerah tersebut sebelum memulai pembangunan bendungan itu. Namun, dia bunuh diri sebelum sidang dilakukan. (DJI)</content:encoded></item></channel></rss>
