<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nah Lho! Iran Kedapatan 32 Kali Berusaha Membeli Teknologi Nuklir Secara Ilegal</title><description>Laporan intelijen ini  berpotensi &amp;ldquo;memvonis&amp;rdquo; Teheran melanggar kesepakatan nuklir Tahun 2015.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792449/nah-lho-iran-kedapatan-32-kali-berusaha-membeli-teknologi-nuklir-secara-ilegal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792449/nah-lho-iran-kedapatan-32-kali-berusaha-membeli-teknologi-nuklir-secara-ilegal"/><item><title>Nah Lho! Iran Kedapatan 32 Kali Berusaha Membeli Teknologi Nuklir Secara Ilegal</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792449/nah-lho-iran-kedapatan-32-kali-berusaha-membeli-teknologi-nuklir-secara-ilegal</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792449/nah-lho-iran-kedapatan-32-kali-berusaha-membeli-teknologi-nuklir-secara-ilegal</guid><pubDate>Selasa 10 Oktober 2017 12:07 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/10/18/1792449/nah-lho-iran-kedapatan-32-kali-berusaha-membeli-teknologi-nuklir-secara-ilegal-WRRkdhGqRN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rudal milik Iran. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/10/18/1792449/nah-lho-iran-kedapatan-32-kali-berusaha-membeli-teknologi-nuklir-secara-ilegal-WRRkdhGqRN.jpg</image><title>Rudal milik Iran. (Foto: Reuters)</title></images><description>WASHINGTON - Sebanyak tiga laporan badan intelijen Jerman  mengungkap bahwa Iran berusaha membeli teknologi nuklir dan balistik  militer secara ilegal sebanyak tiga kali. Laporan intelijen ini  berpotensi &amp;ldquo;memvonis&amp;rdquo; Teheran melanggar kesepakatan nuklir Tahun 2015.Tiga laporan mata-mata Jerman itu diperoleh Fox News dan dilansir Selasa (10/10/2017). Laporan secara rinci dibuat mulai September hingga Oktober.Menurut  dokumen yang sensitif tersebut, 32 usaha Teheran salah satunya  dilakukan di negara bagian North Rhine-Westphalia, Jerman. Laporan  tersebut mencantumkan Iran sebagai negara yang terlibat dalam  proliferasi, yang didefinisikan sebagai &amp;rdquo;penyebar senjata atom, biologi  atau kimia pemusnah massal&amp;rdquo;.Badan intelijen di North  Rhine-Westphalia menuduh Iran menggunakan perusahaan di Uni Emirat Arab,  Turki dan China untuk menghindari pembatasan internasional terhadap  program nuklir dan misilnya.
(Baca juga: Tillerson: Kesepakatan Nuklir Iran Harus Berubah Jika Ingin AS Bertahan)
Kesepakatan nuklir antara Iran dan  enam kekuatan dunia (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Jerman, Prancis  dan China) terjadi Tahun 2015. Perjanjian itu secara resmi  diimplementasikan per 16 Januari 2016. Dalam perjanjian itu, Iran  bersedia mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi  atau embargo yang puluhan tahun menyengsarakan Teheran.Mayoritas  upaya ilegal Iran itu terjadi Tahun 2016 di North Rhine-Westphalia.  Pada tahun sebelumnya, badan intelijen di Jerman tersebut mencatat 141  upaya Iran untuk mengamankan barang-barang terlarang guna tujuan  proliferasi.Laporan kedua dari badan intelijen negara bagian  Hesse, Jerman. Disebutkan bahwa Iran, Pakistan, Korea Utara dan Sudan  menggunakan &amp;rdquo;tamu akademisi&amp;rdquo; untuk kegiatan ilegal yang berkaitan dengan  program senjata nuklir dan lainnya. &amp;rdquo;Contoh untuk jenis aktivitas ini  terjadi di sektor teknologi elektronik sehubungan dengan penerapan  pengayaan uranium,&amp;rdquo; bunyi dokumen tersebut.
(Baca juga: Soroti Isu Timteng di Sidang Majelis Umum PBB, Trump: Kesepakatan Nuklir Iran adalah Hal Memalukan Bagi AS)
Pejabat intelijen  juga mengutip contoh dinas intelijen asing yang menggunakan &amp;rdquo;pertukaran  penelitian di universitas-universitas di bidang prosedur biologis dan  kimia&amp;rdquo;. Ketika ditanya apakah Iran terlibat dalam kasus akademis dan  penelitian, pihak badan intelijen Hesse menolak berkomentar.
Pada  bulan April, Senator Florida Marco Rubio mengatakan kepada Fox  News  bahwa dia sangat prihatin tentang peran Iran dalam membantu Suriah   mengembangkan program senjata kimia. Rubio, yang seorang Republikan,   mengatakan bahwa dia terganggu oleh laporan bahwa baik Iran maupun Rusia   terlibat dalam program senjata kimia Presiden Suriah Bashar al-Assad.&amp;rdquo;Kongres   dan Gedung Putih harus bekerja sama untuk menahan rezim Assad   bertanggung jawab atas kejahatan perangnya dan menjatuhkan sanksi keras   terhadap para pengikutnya,&amp;rdquo; kata Rubio kepada Fox News.Laporan   intelijen ketiga berasal dari negara bagian Sachsen-Anhalt. Disebutkan   bahwa Iran bekerja &amp;rdquo;tanpa henti&amp;rdquo; dalam program rudalnya.&amp;rdquo;Dengan   rudal balistik dan roket jarak jauh, Iran akan berada dalam posisi  untuk  tidak hanya bisa mengancam Eropa,&amp;rdquo; bunyi laporan intelijen  tersebut.
Pemerintah Jerman secara resmi belum mengomentari  bocoran laporan  intelijen dari tiga negara bagiannya. Pemerintah Iran  yang berkali-kali  menegaskan tidak mengembangkan senjata nuklir juga  belum mengomentari  laporan ini.</description><content:encoded>WASHINGTON - Sebanyak tiga laporan badan intelijen Jerman  mengungkap bahwa Iran berusaha membeli teknologi nuklir dan balistik  militer secara ilegal sebanyak tiga kali. Laporan intelijen ini  berpotensi &amp;ldquo;memvonis&amp;rdquo; Teheran melanggar kesepakatan nuklir Tahun 2015.Tiga laporan mata-mata Jerman itu diperoleh Fox News dan dilansir Selasa (10/10/2017). Laporan secara rinci dibuat mulai September hingga Oktober.Menurut  dokumen yang sensitif tersebut, 32 usaha Teheran salah satunya  dilakukan di negara bagian North Rhine-Westphalia, Jerman. Laporan  tersebut mencantumkan Iran sebagai negara yang terlibat dalam  proliferasi, yang didefinisikan sebagai &amp;rdquo;penyebar senjata atom, biologi  atau kimia pemusnah massal&amp;rdquo;.Badan intelijen di North  Rhine-Westphalia menuduh Iran menggunakan perusahaan di Uni Emirat Arab,  Turki dan China untuk menghindari pembatasan internasional terhadap  program nuklir dan misilnya.
(Baca juga: Tillerson: Kesepakatan Nuklir Iran Harus Berubah Jika Ingin AS Bertahan)
Kesepakatan nuklir antara Iran dan  enam kekuatan dunia (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Jerman, Prancis  dan China) terjadi Tahun 2015. Perjanjian itu secara resmi  diimplementasikan per 16 Januari 2016. Dalam perjanjian itu, Iran  bersedia mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi  atau embargo yang puluhan tahun menyengsarakan Teheran.Mayoritas  upaya ilegal Iran itu terjadi Tahun 2016 di North Rhine-Westphalia.  Pada tahun sebelumnya, badan intelijen di Jerman tersebut mencatat 141  upaya Iran untuk mengamankan barang-barang terlarang guna tujuan  proliferasi.Laporan kedua dari badan intelijen negara bagian  Hesse, Jerman. Disebutkan bahwa Iran, Pakistan, Korea Utara dan Sudan  menggunakan &amp;rdquo;tamu akademisi&amp;rdquo; untuk kegiatan ilegal yang berkaitan dengan  program senjata nuklir dan lainnya. &amp;rdquo;Contoh untuk jenis aktivitas ini  terjadi di sektor teknologi elektronik sehubungan dengan penerapan  pengayaan uranium,&amp;rdquo; bunyi dokumen tersebut.
(Baca juga: Soroti Isu Timteng di Sidang Majelis Umum PBB, Trump: Kesepakatan Nuklir Iran adalah Hal Memalukan Bagi AS)
Pejabat intelijen  juga mengutip contoh dinas intelijen asing yang menggunakan &amp;rdquo;pertukaran  penelitian di universitas-universitas di bidang prosedur biologis dan  kimia&amp;rdquo;. Ketika ditanya apakah Iran terlibat dalam kasus akademis dan  penelitian, pihak badan intelijen Hesse menolak berkomentar.
Pada  bulan April, Senator Florida Marco Rubio mengatakan kepada Fox  News  bahwa dia sangat prihatin tentang peran Iran dalam membantu Suriah   mengembangkan program senjata kimia. Rubio, yang seorang Republikan,   mengatakan bahwa dia terganggu oleh laporan bahwa baik Iran maupun Rusia   terlibat dalam program senjata kimia Presiden Suriah Bashar al-Assad.&amp;rdquo;Kongres   dan Gedung Putih harus bekerja sama untuk menahan rezim Assad   bertanggung jawab atas kejahatan perangnya dan menjatuhkan sanksi keras   terhadap para pengikutnya,&amp;rdquo; kata Rubio kepada Fox News.Laporan   intelijen ketiga berasal dari negara bagian Sachsen-Anhalt. Disebutkan   bahwa Iran bekerja &amp;rdquo;tanpa henti&amp;rdquo; dalam program rudalnya.&amp;rdquo;Dengan   rudal balistik dan roket jarak jauh, Iran akan berada dalam posisi  untuk  tidak hanya bisa mengancam Eropa,&amp;rdquo; bunyi laporan intelijen  tersebut.
Pemerintah Jerman secara resmi belum mengomentari  bocoran laporan  intelijen dari tiga negara bagiannya. Pemerintah Iran  yang berkali-kali  menegaskan tidak mengembangkan senjata nuklir juga  belum mengomentari  laporan ini.</content:encoded></item></channel></rss>
