<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar</title><description>Setelah Adjida diperkosa,  dia juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri si prajurit menembak  mati ayahnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792543/sedih-bocah-rohingya-diperkosa-dan-harus-melihat-sang-ayah-ditembak-mati-tentara-myanmar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792543/sedih-bocah-rohingya-diperkosa-dan-harus-melihat-sang-ayah-ditembak-mati-tentara-myanmar"/><item><title>Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792543/sedih-bocah-rohingya-diperkosa-dan-harus-melihat-sang-ayah-ditembak-mati-tentara-myanmar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/10/18/1792543/sedih-bocah-rohingya-diperkosa-dan-harus-melihat-sang-ayah-ditembak-mati-tentara-myanmar</guid><pubDate>Selasa 10 Oktober 2017 14:26 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/10/18/1792543/sedih-bocah-rohingya-diperkosa-dan-harus-melihat-sang-ayah-ditembak-mati-tentara-myanmar-COI1oVRdqd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengungsi Rohingya. (Foto: BBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/10/18/1792543/sedih-bocah-rohingya-diperkosa-dan-harus-melihat-sang-ayah-ditembak-mati-tentara-myanmar-COI1oVRdqd.jpg</image><title>Pengungsi Rohingya. (Foto: BBC)</title></images><description>BUKAN hanya perempuan dewasa pengungsi Rohingya yang menjadi korban  pemerkosaan massal, tetapi banyak anak-anak di bawah umur juga ternyata  menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan tentara Myanmar.Salah  satu korban adalah Adjida yang masih trauma karena diperkosa tentara  Myanmar dengan mengenakan masker di wajahnya. Bocah berusia 13 tahun itu  menceritakan sudah meminta tentara menghentikan aksi kejamnya, tetapi  tentara itu tak memiliki belas kasihan.Setelah Adjida diperkosa,  dia juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri si prajurit menembak  mati ayahnya yang bersembunyi di bawah meja. Dia berusaha melarikan  diri ke hutan, tetapi tentara Myanmar berhasil menangkapnya kembali.  &amp;ldquo;Saya masih merasakan sakit. Saya telah kehilangan keperawanan. Saya  sulit menemukan suami,&amp;rdquo; ujar Adjida dilansir Reuters.Rumah  Adjida juga sudah dibakar di Kawarbil oleh tentara Myanmar. Setelah  itu, dia melarikan diri ke perbatasan Bangladesh bersama kakak  perempuannya, Minara, sebulan lalu. Mereka tinggal di kamp pengungsi  sementara yang terbuat dari bambu dan beratapkan plastik.
(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)&amp;ldquo;Orang  tua kita dan dua kakak perempuan tewas. Mereka tidak lagi bisa merawat kita.  Di kamp, kita mendengar beberapa gadis juga diperkosa. Itu kenapa kita  tetap berada di tenda sepanjang waktu,&amp;rdquo; ungkap Minara. Baik  Adjida dan Minara tetap melanjutkan sekolah di kamp pengungsi. Mereka  juga mengaku malu dengan apa yang telah terjadi dengan mereka. &amp;ldquo;Saya  memiliki banyak mimpi untuk masa depan,&amp;rdquo; ungkap Minara. Dia  mengaku juga tak memiliki baju lagi untuk menutupi tubuhnya. Dia  meminjam baju dari tetangganya di kamp pengungsian. Minara dan Adjida  enggan kembali ke Myanmar. &amp;ldquo;Saya lebih baik mati dari pada kembali ke  Myanmar,&amp;rdquo; ungkap Minara. Dia mengaku di Bangladesh tidak ada lagi  senjata.
(Baca juga: Pengungsi Rohingya di India: Manusia Mana yang Mau Kembali ke Tempat Mereka Akan Dibantai?)Sedangkan adiknya, Adjida, juga sepakat dengan pendapat  kakaknya. &amp;ldquo;Saya lebih baik mati ketika tentara Myanmar menangkap saya  lagi. Lebih baik mati dibandingkan kehilangan keperawanan,&amp;rdquo; tutur  Adjida. Menurut kepala perlindungan anak-anak Badan Perserikatan  Bangsa- Bangsa Urusan Pengungsi Jean Lieby mengungkapkan, kekerasan  seksual memang kerap terjadi terhadap perempuan etnik Rohingya.  &amp;ldquo;Sebanyak 800 insiden kekerasan gender dilaporkan pengungsi Rohingya.  Separuh di antaranya adalah kekerasan seksual,&amp;rdquo; ungkap Lieby. Namun,  lembaga kemanusiaan mengalami banyak kesulitan memberikan bantuan  dengan banyaknya jumlah pengungsi. &amp;ldquo;Kita baru sebulan di sini, ternyata  jumlah pengungsi sangat banyak. Setengah juta orang berdatangan,&amp;rdquo; ungkap  Lieby. Dia mengungkapkan, pihaknya terus bekerja sama membantu  pengungsi anak-anak. &amp;ldquo;Kita juga fokus menyembuhkan anak-anak yang  menjadi korban pemerkosaan,&amp;rdquo; tuturnya.Sebanyak 515.000 pengungsi Rohingya tiba di Bangladesh karena kekerasan  yang semakin intensif di negara bagian Rakhine, Myanmar. PBB menyebut  aksi militer Myanmar sebagai pembersihan etnik.   &amp;ldquo;Mereka merasa nyaman di sini. Mereka sering berbicara terbuka tentang  trauma mereka,&amp;rdquo; ungkap juru bicara UNFPA (Badan PBB untuk Dana Penduduk)  Veronica Pedrosa. Lembaga donor membangun tempat aman di kamp pengungsi  Kutupalong.   Di lokasi itu, perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan  seksual bisa mendapatkan konseling dan dukungan. Meskipun konseling  sudah dilaksanakan, masih banyak anak-anak tidak mengaku kalau mereka  adalah korban pemerkosaan.   &amp;ldquo;Anak-anak mengalami ketakutan jika disebut sebagai korban pemerkosaan.  Mereka khawatir dengan opini buruk tentang keluarganya,&amp;rdquo; ujar Rebecca  Duskin, perawat yang fokus menangani korban kekerasan seksual.   Sementara sedikitnya 12 orang pengungsi Rohingya tewas, mayoritas adalah  anak-anak, tenggelam ketika kapal yang mereka tumpangi terbalik. Itu  menjadi korban terbaru para pengungsi yang melarikan diri dari tanah air  mereka karena kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.</description><content:encoded>BUKAN hanya perempuan dewasa pengungsi Rohingya yang menjadi korban  pemerkosaan massal, tetapi banyak anak-anak di bawah umur juga ternyata  menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan tentara Myanmar.Salah  satu korban adalah Adjida yang masih trauma karena diperkosa tentara  Myanmar dengan mengenakan masker di wajahnya. Bocah berusia 13 tahun itu  menceritakan sudah meminta tentara menghentikan aksi kejamnya, tetapi  tentara itu tak memiliki belas kasihan.Setelah Adjida diperkosa,  dia juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri si prajurit menembak  mati ayahnya yang bersembunyi di bawah meja. Dia berusaha melarikan  diri ke hutan, tetapi tentara Myanmar berhasil menangkapnya kembali.  &amp;ldquo;Saya masih merasakan sakit. Saya telah kehilangan keperawanan. Saya  sulit menemukan suami,&amp;rdquo; ujar Adjida dilansir Reuters.Rumah  Adjida juga sudah dibakar di Kawarbil oleh tentara Myanmar. Setelah  itu, dia melarikan diri ke perbatasan Bangladesh bersama kakak  perempuannya, Minara, sebulan lalu. Mereka tinggal di kamp pengungsi  sementara yang terbuat dari bambu dan beratapkan plastik.
(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)&amp;ldquo;Orang  tua kita dan dua kakak perempuan tewas. Mereka tidak lagi bisa merawat kita.  Di kamp, kita mendengar beberapa gadis juga diperkosa. Itu kenapa kita  tetap berada di tenda sepanjang waktu,&amp;rdquo; ungkap Minara. Baik  Adjida dan Minara tetap melanjutkan sekolah di kamp pengungsi. Mereka  juga mengaku malu dengan apa yang telah terjadi dengan mereka. &amp;ldquo;Saya  memiliki banyak mimpi untuk masa depan,&amp;rdquo; ungkap Minara. Dia  mengaku juga tak memiliki baju lagi untuk menutupi tubuhnya. Dia  meminjam baju dari tetangganya di kamp pengungsian. Minara dan Adjida  enggan kembali ke Myanmar. &amp;ldquo;Saya lebih baik mati dari pada kembali ke  Myanmar,&amp;rdquo; ungkap Minara. Dia mengaku di Bangladesh tidak ada lagi  senjata.
(Baca juga: Pengungsi Rohingya di India: Manusia Mana yang Mau Kembali ke Tempat Mereka Akan Dibantai?)Sedangkan adiknya, Adjida, juga sepakat dengan pendapat  kakaknya. &amp;ldquo;Saya lebih baik mati ketika tentara Myanmar menangkap saya  lagi. Lebih baik mati dibandingkan kehilangan keperawanan,&amp;rdquo; tutur  Adjida. Menurut kepala perlindungan anak-anak Badan Perserikatan  Bangsa- Bangsa Urusan Pengungsi Jean Lieby mengungkapkan, kekerasan  seksual memang kerap terjadi terhadap perempuan etnik Rohingya.  &amp;ldquo;Sebanyak 800 insiden kekerasan gender dilaporkan pengungsi Rohingya.  Separuh di antaranya adalah kekerasan seksual,&amp;rdquo; ungkap Lieby. Namun,  lembaga kemanusiaan mengalami banyak kesulitan memberikan bantuan  dengan banyaknya jumlah pengungsi. &amp;ldquo;Kita baru sebulan di sini, ternyata  jumlah pengungsi sangat banyak. Setengah juta orang berdatangan,&amp;rdquo; ungkap  Lieby. Dia mengungkapkan, pihaknya terus bekerja sama membantu  pengungsi anak-anak. &amp;ldquo;Kita juga fokus menyembuhkan anak-anak yang  menjadi korban pemerkosaan,&amp;rdquo; tuturnya.Sebanyak 515.000 pengungsi Rohingya tiba di Bangladesh karena kekerasan  yang semakin intensif di negara bagian Rakhine, Myanmar. PBB menyebut  aksi militer Myanmar sebagai pembersihan etnik.   &amp;ldquo;Mereka merasa nyaman di sini. Mereka sering berbicara terbuka tentang  trauma mereka,&amp;rdquo; ungkap juru bicara UNFPA (Badan PBB untuk Dana Penduduk)  Veronica Pedrosa. Lembaga donor membangun tempat aman di kamp pengungsi  Kutupalong.   Di lokasi itu, perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan  seksual bisa mendapatkan konseling dan dukungan. Meskipun konseling  sudah dilaksanakan, masih banyak anak-anak tidak mengaku kalau mereka  adalah korban pemerkosaan.   &amp;ldquo;Anak-anak mengalami ketakutan jika disebut sebagai korban pemerkosaan.  Mereka khawatir dengan opini buruk tentang keluarganya,&amp;rdquo; ujar Rebecca  Duskin, perawat yang fokus menangani korban kekerasan seksual.   Sementara sedikitnya 12 orang pengungsi Rohingya tewas, mayoritas adalah  anak-anak, tenggelam ketika kapal yang mereka tumpangi terbalik. Itu  menjadi korban terbaru para pengungsi yang melarikan diri dari tanah air  mereka karena kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.</content:encoded></item></channel></rss>
