<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wah! 11 Ribu Pengungsi Rohingya Banjiri Bangladesh Tiap Harinya</title><description>Pasukan penjaga perbatasan Bangladesh melaporkan lebih dari 11.000   pengungsi Rohingya melintasi perbatasan dari Myanmar setiap harinya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/11/18/1793300/wah-11-ribu-pengungsi-rohingya-banjiri-bangladesh-tiap-harinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/11/18/1793300/wah-11-ribu-pengungsi-rohingya-banjiri-bangladesh-tiap-harinya"/><item><title>Wah! 11 Ribu Pengungsi Rohingya Banjiri Bangladesh Tiap Harinya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/11/18/1793300/wah-11-ribu-pengungsi-rohingya-banjiri-bangladesh-tiap-harinya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/11/18/1793300/wah-11-ribu-pengungsi-rohingya-banjiri-bangladesh-tiap-harinya</guid><pubDate>Rabu 11 Oktober 2017 14:52 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/11/18/1793300/wah-11-ribu-pengungsi-rohingya-banjiri-bangladesh-tiap-harinya-sbEnSHUlLj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengungsi Rohingya. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/11/18/1793300/wah-11-ribu-pengungsi-rohingya-banjiri-bangladesh-tiap-harinya-sbEnSHUlLj.jpg</image><title>Pengungsi Rohingya. (Foto: Reuters)</title></images><description>JENEWA &amp;ndash; Bangladesh dan lembaga-lembaga Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB) meningkatkan kewaspadaan seiring dengan peningkatan pergerakan  pengungsi Rohingya.   Pasukan penjaga perbatasan Bangladesh melaporkan lebih dari 11.000  pengungsi Rohingya melintasi perbatasan dari Myanmar setiap harinya. Itu  diperkirakan akan terus terjadi dalam beberapa pekan mendatang.  Padahal, pekan lalu jumlah pergerakan pengungsi hanya 2.000 orang  per hari.   Kini, lebih dari setengah juta warga Rohingya mengungsi, meninggalkan  Myanmar sejak 25 Agustus lalu. &amp;rdquo;Kita kembali ke situasi siaga penuh,  di mana pergerakan pengungsi menunjukkan peningkatan. Kita melihat  peningkatan hingga 11.000 pengungsi setiap harinya,&amp;rdquo; ujar juru bicara  Komisioner Tinggi untuk Pengungsi PBB (UNHCR) Adrian Edwards di Jenewa, Selasa 10 Oktober 2017.  &amp;rdquo;Kita mendapatkan jumlah pengungsi terbanyak selama enam pekan situasi  darurat. Kita akan mengupayakan segala cara saat mencapai puncak. Yang  jelas, kita telah siap untuk menerima kedatangan pengungsi dalam jumlah  yang lebih besar,&amp;rdquo; tutur Edwards.
(Baca juga: Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar)
Mayoritas pengungsi terbaru datang dari wilayah Buthidaung di Negara  Bagian Rakhine yang berjarak 20-25 km timur Maungdaw. &amp;rdquo;Beberapa  pengungsi mengungkapkan, mereka melarikan diri karena desanya dibakar  dan diancam akan dibunuh jika kembali ke kampung halaman,&amp;rdquo; tutur Edwards.    Dia mengungkapkan, pihaknya tidak mengetahui momentum apa yang  mengendalikan peristiwa ini. Beberapa pengungsi menyatakan, mereka  melarikan diri beberapa hari lalu dan beberapa pihak menyatakan dua  pekan lalu. Itu mengindikasikan terdapat permasalahan baru.   &amp;rdquo;Kalian mungkin mendapatkan informasi dari media di mana saya belum  bisa memverifikasi. Namun, banyak laporan yang menyebutkan terjadi  penembakan di dekat perbatasan,&amp;rdquo; ujar Edwards.
Sementara itu, imunisasi  kolera besar-besaran kemarin digelar di Cox&amp;iacute;s Bazar, Bangladesh. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, imunisasi bertujuan untuk  melindungi warga Rohingya yang baru datang dan komunitas Bangladesh agar  tidak terkena penyakit mematikan. Sebanyak 900.000 vaksin  didistribusikan, termasuk 650.000 vaksin yang akan dibagikan selama 10  hari dan 250.000 vaksin yang khusus diberikan kepada anak-anak.
(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)  Pasalnya, penyebaran kolera sangat mungkin terjadi di antara pengungsi  dan warga Bangladesh. &amp;rdquo;Untungnya, kita tidak mendapatkan kasus kolera  sejauh ini,&amp;rdquo; ujar juru bicara WHO Christian Lindmeier. Sejauh ini, WHO  hanya mendeteksi 10.000 kasus diare sepanjang satu pekan terakhir.   Kementerian Kesehatan Bangladesh juga belum mengidentifikasi pasien  yang terserang kolera. Namun, mereka menegaskan risiko penyebaran  penyakit kolera masih bisa terjadi. &amp;rdquo;Risiko kolera ada di depan mata,&amp;rdquo; N  Paranietharan, perwakilan WHO di Bangladesh.   Namun demikian, dia tidak memprediksi akan terjadi wabah kolera seperti  di Yaman. Kondisi kamp pengungsi yang tidak layak karena hanya beratap  plastik dan bertiang bambu menjadikan risiko penyakit mudah tersebar  dengan mudah. Sebanyak 3.000 jamban telah dibangun, tetapi banyak  pengungsi memilih BAB di sungai. Sumur baru juga sudah digali. Tempat  pembuangan sampah juga sudah diperbanyak.   &amp;rdquo;Vaksinasi tidak akan menolong jika perbaikan air, sanitasi, dan  higienitas tidak didukung penuh,&amp;rdquo; ungkap Paranietharan. &amp;rdquo;Fasilitas  sanitasi belum memenuhi standar. Itu semua perlu ditingkatkan dengan  cepat,&amp;rdquo; paparnya. Di klinik kamp pengungsi Kutupalong yang dijalankan  Medical Teams International, banyak pasien mengalami diare.
(Baca juga: Pengungsi Rohingya di India: Manusia Mana yang Mau Kembali ke Tempat Mereka Akan Dibantai?)  Dokter anak di klinik  tersebut, Bruce Murray mengungkapkan, kolera dikenal sebagai  endemik di Bangladesh.   Dia mengungkapkan, setengah juta pengungsi hidup dengan kondisi memprihatinkan. &amp;rdquo;Wabah kolera hanya masalah kapan akan terjadi,&amp;rdquo; tutur Murray.  Sementara itu, Pemerintah Myanmar kemarin melakukan upaya untuk  memperbaiki hubungan antarumat beragama dengan mengadakan doa bersama di  Stadion Yangon.   Acara itu digelar oleh partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi, Liga  Nasional untuk Demokrasi (NLD). Banyak tokoh umat Buddha, Islam, Hindu,  dan Kristen bergabung dalam acara tersebut. &amp;rdquo;Acara ini mengenai  perdamaian dan stabilitas,&amp;rdquo; ujar juru bicara NLD Aung Shin kepada  Reuters.   &amp;rdquo;Perdamaian di Rakhine dan perdamaian seluruh negara,&amp;rdquo; ujarnya.
Krisis  Rohingya memang menjadi tekanan berat terhadap Suu Kyi dan partainya.  Apalagi, partainya tidak mengusung satu pun kandidat anggota parlemen  dari kubu muslim pada pemilu 2015. Rohingya juga bukan diklasifikasikan  etnis minoritas di Myanmar dan mereka juga tidak mendapatkan  kewarganegaraan.</description><content:encoded>JENEWA &amp;ndash; Bangladesh dan lembaga-lembaga Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB) meningkatkan kewaspadaan seiring dengan peningkatan pergerakan  pengungsi Rohingya.   Pasukan penjaga perbatasan Bangladesh melaporkan lebih dari 11.000  pengungsi Rohingya melintasi perbatasan dari Myanmar setiap harinya. Itu  diperkirakan akan terus terjadi dalam beberapa pekan mendatang.  Padahal, pekan lalu jumlah pergerakan pengungsi hanya 2.000 orang  per hari.   Kini, lebih dari setengah juta warga Rohingya mengungsi, meninggalkan  Myanmar sejak 25 Agustus lalu. &amp;rdquo;Kita kembali ke situasi siaga penuh,  di mana pergerakan pengungsi menunjukkan peningkatan. Kita melihat  peningkatan hingga 11.000 pengungsi setiap harinya,&amp;rdquo; ujar juru bicara  Komisioner Tinggi untuk Pengungsi PBB (UNHCR) Adrian Edwards di Jenewa, Selasa 10 Oktober 2017.  &amp;rdquo;Kita mendapatkan jumlah pengungsi terbanyak selama enam pekan situasi  darurat. Kita akan mengupayakan segala cara saat mencapai puncak. Yang  jelas, kita telah siap untuk menerima kedatangan pengungsi dalam jumlah  yang lebih besar,&amp;rdquo; tutur Edwards.
(Baca juga: Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar)
Mayoritas pengungsi terbaru datang dari wilayah Buthidaung di Negara  Bagian Rakhine yang berjarak 20-25 km timur Maungdaw. &amp;rdquo;Beberapa  pengungsi mengungkapkan, mereka melarikan diri karena desanya dibakar  dan diancam akan dibunuh jika kembali ke kampung halaman,&amp;rdquo; tutur Edwards.    Dia mengungkapkan, pihaknya tidak mengetahui momentum apa yang  mengendalikan peristiwa ini. Beberapa pengungsi menyatakan, mereka  melarikan diri beberapa hari lalu dan beberapa pihak menyatakan dua  pekan lalu. Itu mengindikasikan terdapat permasalahan baru.   &amp;rdquo;Kalian mungkin mendapatkan informasi dari media di mana saya belum  bisa memverifikasi. Namun, banyak laporan yang menyebutkan terjadi  penembakan di dekat perbatasan,&amp;rdquo; ujar Edwards.
Sementara itu, imunisasi  kolera besar-besaran kemarin digelar di Cox&amp;iacute;s Bazar, Bangladesh. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, imunisasi bertujuan untuk  melindungi warga Rohingya yang baru datang dan komunitas Bangladesh agar  tidak terkena penyakit mematikan. Sebanyak 900.000 vaksin  didistribusikan, termasuk 650.000 vaksin yang akan dibagikan selama 10  hari dan 250.000 vaksin yang khusus diberikan kepada anak-anak.
(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)  Pasalnya, penyebaran kolera sangat mungkin terjadi di antara pengungsi  dan warga Bangladesh. &amp;rdquo;Untungnya, kita tidak mendapatkan kasus kolera  sejauh ini,&amp;rdquo; ujar juru bicara WHO Christian Lindmeier. Sejauh ini, WHO  hanya mendeteksi 10.000 kasus diare sepanjang satu pekan terakhir.   Kementerian Kesehatan Bangladesh juga belum mengidentifikasi pasien  yang terserang kolera. Namun, mereka menegaskan risiko penyebaran  penyakit kolera masih bisa terjadi. &amp;rdquo;Risiko kolera ada di depan mata,&amp;rdquo; N  Paranietharan, perwakilan WHO di Bangladesh.   Namun demikian, dia tidak memprediksi akan terjadi wabah kolera seperti  di Yaman. Kondisi kamp pengungsi yang tidak layak karena hanya beratap  plastik dan bertiang bambu menjadikan risiko penyakit mudah tersebar  dengan mudah. Sebanyak 3.000 jamban telah dibangun, tetapi banyak  pengungsi memilih BAB di sungai. Sumur baru juga sudah digali. Tempat  pembuangan sampah juga sudah diperbanyak.   &amp;rdquo;Vaksinasi tidak akan menolong jika perbaikan air, sanitasi, dan  higienitas tidak didukung penuh,&amp;rdquo; ungkap Paranietharan. &amp;rdquo;Fasilitas  sanitasi belum memenuhi standar. Itu semua perlu ditingkatkan dengan  cepat,&amp;rdquo; paparnya. Di klinik kamp pengungsi Kutupalong yang dijalankan  Medical Teams International, banyak pasien mengalami diare.
(Baca juga: Pengungsi Rohingya di India: Manusia Mana yang Mau Kembali ke Tempat Mereka Akan Dibantai?)  Dokter anak di klinik  tersebut, Bruce Murray mengungkapkan, kolera dikenal sebagai  endemik di Bangladesh.   Dia mengungkapkan, setengah juta pengungsi hidup dengan kondisi memprihatinkan. &amp;rdquo;Wabah kolera hanya masalah kapan akan terjadi,&amp;rdquo; tutur Murray.  Sementara itu, Pemerintah Myanmar kemarin melakukan upaya untuk  memperbaiki hubungan antarumat beragama dengan mengadakan doa bersama di  Stadion Yangon.   Acara itu digelar oleh partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi, Liga  Nasional untuk Demokrasi (NLD). Banyak tokoh umat Buddha, Islam, Hindu,  dan Kristen bergabung dalam acara tersebut. &amp;rdquo;Acara ini mengenai  perdamaian dan stabilitas,&amp;rdquo; ujar juru bicara NLD Aung Shin kepada  Reuters.   &amp;rdquo;Perdamaian di Rakhine dan perdamaian seluruh negara,&amp;rdquo; ujarnya.
Krisis  Rohingya memang menjadi tekanan berat terhadap Suu Kyi dan partainya.  Apalagi, partainya tidak mengusung satu pun kandidat anggota parlemen  dari kubu muslim pada pemilu 2015. Rohingya juga bukan diklasifikasikan  etnis minoritas di Myanmar dan mereka juga tidak mendapatkan  kewarganegaraan.</content:encoded></item></channel></rss>
