<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hmm... Panglima Militer Myanmar Tolak Tuduhan Kekerasan dan Sebut Muslim Rohingya Bukan Pribumi</title><description>Jenderal Min Aung  Hlaing mengatakan bahwa warga Muslim Rohingya bukan penduduk asli atau  pribumi di negaranya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/12/18/1793975/hmm-panglima-militer-myanmar-tolak-tuduhan-kekerasan-dan-sebut-muslim-rohingya-bukan-pribumi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/12/18/1793975/hmm-panglima-militer-myanmar-tolak-tuduhan-kekerasan-dan-sebut-muslim-rohingya-bukan-pribumi"/><item><title>Hmm... Panglima Militer Myanmar Tolak Tuduhan Kekerasan dan Sebut Muslim Rohingya Bukan Pribumi</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/12/18/1793975/hmm-panglima-militer-myanmar-tolak-tuduhan-kekerasan-dan-sebut-muslim-rohingya-bukan-pribumi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/12/18/1793975/hmm-panglima-militer-myanmar-tolak-tuduhan-kekerasan-dan-sebut-muslim-rohingya-bukan-pribumi</guid><pubDate>Kamis 12 Oktober 2017 13:25 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/12/18/1793975/hmm-panglima-militer-myanmar-tolak-tuduhan-kekerasan-dan-sebut-muslim-rohingya-bukan-pribumi-wNlHRYfaE9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Panglima Militer Myanmar, Jenderal Hlaing. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/12/18/1793975/hmm-panglima-militer-myanmar-tolak-tuduhan-kekerasan-dan-sebut-muslim-rohingya-bukan-pribumi-wNlHRYfaE9.jpg</image><title>Panglima Militer Myanmar, Jenderal Hlaing. (Foto: Reuters)</title></images><description>YANGON - Panglima militer Myanmar Jenderal Min Aung  Hlaing mengatakan bahwa warga Muslim Rohingya bukan penduduk asli atau  pribumi di negaranya. Dia juga menyebut jumlah pengungsi Rohingya terlalu  dibesar-besarkan oleh media.
Komentar Jenderal Hlaing  disampaikan dalam pertemuannya dengan Duta Besar Amerika Serikat (AS)  Scot Marciel. Dia menolak menanggapi tuduhan pelanggaran yang dilakukan  anak buahnya dalam kekerasan di negara bagian Rakhine.Meski  bukan presiden, Jenderal Hlaing dianggap orang yang paling berkuasa di  negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha itu. Sebab, di bawah  konstitusi, atasan kepala junta militer adalah dirinya sendiri. Dia  tidak melapor setiap keputusan militer terhadap pemimpin de facto Aung  San Suu Kyi. Dia bahkan tidak bisa dipecat.Jenderal Hlaing yang  merujuk Rohingya dengan istilah &amp;rdquo;Bengali&amp;rdquo;, mengatakan bahwa penjajah  Inggris-lah yang bertanggung jawab atas masalah tersebut.
(Baca juga: Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar)&amp;rdquo;Orang-orang  Bengali tidak dibawa ke negara ini oleh Myanmar, tapi oleh penjajah,&amp;rdquo;  katanya kepada Marciel, menurut laporan pertemuan yang diunggah di  halaman Facebook-nya, pada hari Kamis (12/10/2017).&amp;rdquo;Mereka  bukan penduduk asli, dan catatan membuktikan bahwa mereka bahkan tidak  disebut Rohingya tapi hanya orang Bengali selama masa penjajahan,&amp;rdquo;  lanjut Panglima Militer Myanmar ini, seperti dikutip Reuters.Kantor  HAM PBB pada hari Rabu mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah  secara brutal mengusir 0,5 juta warga Rohingya dari negara bagian  Rakhine utara ke Bangladesh. Pasukan tersebut juga disebut membakar  rumah, tanaman dan desa untuk mencegah para warga minoritas itu kembali.Krisis  terbaru di Rakhine dipicu oleh serangan gerilyawan Arakan Rohingya  Salvation Army (ARSA) terhadap sekitar 30 pos keamanan polisi pada 25  Agustus 2017. Serangan itu dibalas dengan respons militer yang ganas.
(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)Kantor  HAM PBB dalam laporannya berdasarkan 65 wawancara dengan pengungsi  Rohingya yang tiba di Bangladesh, menyatakan bahwa para warga minoritas  mengalami pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan.Duta Besar AS  untuk PBB Nikki Haley pada bulan lalu mencela apa yang dia sebut  &amp;rdquo;kampanye brutal dan berkelanjutan untuk membersihkan negara dari etnis  minoritas&amp;rdquo;.
Dia kemudian meminta negara-negara untuk menunda  pemberian senjata ke Myanmar sampai militernya melakukan tindakan  pertanggungjawaban yang memadai.Komisioner Tinggi PBB untuk HAM  Zeid Ra'ad al-Hussein telah menggambarkan operasi militer itu sebagai  &amp;rdquo;contoh buku teks pembersihan etnis&amp;rdquo;.Namun, Jenderal Hlaing  tidak menanggapi tuduhan tersebut. Dia justru menuduh kelompok  gerilyawan telah membunuh 90 orang warga Hindu dan 30 warga Rohingya  yang terkait dengan pemerintah.</description><content:encoded>YANGON - Panglima militer Myanmar Jenderal Min Aung  Hlaing mengatakan bahwa warga Muslim Rohingya bukan penduduk asli atau  pribumi di negaranya. Dia juga menyebut jumlah pengungsi Rohingya terlalu  dibesar-besarkan oleh media.
Komentar Jenderal Hlaing  disampaikan dalam pertemuannya dengan Duta Besar Amerika Serikat (AS)  Scot Marciel. Dia menolak menanggapi tuduhan pelanggaran yang dilakukan  anak buahnya dalam kekerasan di negara bagian Rakhine.Meski  bukan presiden, Jenderal Hlaing dianggap orang yang paling berkuasa di  negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha itu. Sebab, di bawah  konstitusi, atasan kepala junta militer adalah dirinya sendiri. Dia  tidak melapor setiap keputusan militer terhadap pemimpin de facto Aung  San Suu Kyi. Dia bahkan tidak bisa dipecat.Jenderal Hlaing yang  merujuk Rohingya dengan istilah &amp;rdquo;Bengali&amp;rdquo;, mengatakan bahwa penjajah  Inggris-lah yang bertanggung jawab atas masalah tersebut.
(Baca juga: Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar)&amp;rdquo;Orang-orang  Bengali tidak dibawa ke negara ini oleh Myanmar, tapi oleh penjajah,&amp;rdquo;  katanya kepada Marciel, menurut laporan pertemuan yang diunggah di  halaman Facebook-nya, pada hari Kamis (12/10/2017).&amp;rdquo;Mereka  bukan penduduk asli, dan catatan membuktikan bahwa mereka bahkan tidak  disebut Rohingya tapi hanya orang Bengali selama masa penjajahan,&amp;rdquo;  lanjut Panglima Militer Myanmar ini, seperti dikutip Reuters.Kantor  HAM PBB pada hari Rabu mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah  secara brutal mengusir 0,5 juta warga Rohingya dari negara bagian  Rakhine utara ke Bangladesh. Pasukan tersebut juga disebut membakar  rumah, tanaman dan desa untuk mencegah para warga minoritas itu kembali.Krisis  terbaru di Rakhine dipicu oleh serangan gerilyawan Arakan Rohingya  Salvation Army (ARSA) terhadap sekitar 30 pos keamanan polisi pada 25  Agustus 2017. Serangan itu dibalas dengan respons militer yang ganas.
(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)Kantor  HAM PBB dalam laporannya berdasarkan 65 wawancara dengan pengungsi  Rohingya yang tiba di Bangladesh, menyatakan bahwa para warga minoritas  mengalami pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan.Duta Besar AS  untuk PBB Nikki Haley pada bulan lalu mencela apa yang dia sebut  &amp;rdquo;kampanye brutal dan berkelanjutan untuk membersihkan negara dari etnis  minoritas&amp;rdquo;.
Dia kemudian meminta negara-negara untuk menunda  pemberian senjata ke Myanmar sampai militernya melakukan tindakan  pertanggungjawaban yang memadai.Komisioner Tinggi PBB untuk HAM  Zeid Ra'ad al-Hussein telah menggambarkan operasi militer itu sebagai  &amp;rdquo;contoh buku teks pembersihan etnis&amp;rdquo;.Namun, Jenderal Hlaing  tidak menanggapi tuduhan tersebut. Dia justru menuduh kelompok  gerilyawan telah membunuh 90 orang warga Hindu dan 30 warga Rohingya  yang terkait dengan pemerintah.</content:encoded></item></channel></rss>
