<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nah! Spanyol Diwanti-wanti Potensi Perlawanan Masif dari Warga Catalunya</title><description>Konflik antara Catalunya dan Spanyol itu semakin memanas dan bisa memicu  kerusuhan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/24/18/1801290/nah-spanyol-diwanti-wanti-potensi-perlawanan-masif-dari-warga-catalunya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/24/18/1801290/nah-spanyol-diwanti-wanti-potensi-perlawanan-masif-dari-warga-catalunya"/><item><title>Nah! Spanyol Diwanti-wanti Potensi Perlawanan Masif dari Warga Catalunya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/24/18/1801290/nah-spanyol-diwanti-wanti-potensi-perlawanan-masif-dari-warga-catalunya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/24/18/1801290/nah-spanyol-diwanti-wanti-potensi-perlawanan-masif-dari-warga-catalunya</guid><pubDate>Selasa 24 Oktober 2017 12:50 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/24/18/1801290/nah-spanyol-diwanti-wanti-potensi-perlawanan-masif-dari-warga-catalunya-YS5NXQhO9Q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Referendum Catalunya. (Foto: Ist/Sindonews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/24/18/1801290/nah-spanyol-diwanti-wanti-potensi-perlawanan-masif-dari-warga-catalunya-YS5NXQhO9Q.jpg</image><title>Referendum Catalunya. (Foto: Ist/Sindonews)</title></images><description>MADRID - Catalunya yakin semua pejabat termasuk kepolisian akan melawan  upaya Madrid mencabut otonomi dan menerapkan pemerintahan langsung di  wilayah tersebut.   Konflik antara Catalunya dan Spanyol itu semakin memanas dan bisa memicu  kerusuhan. Pemerintah Spanyol telah memulai proses penerapan konstitusi  dengan memecat pemerintahan regional Catalunya dan menggelar pemilu baru  di wilayah itu untuk mengatasi upaya kemerdekaan. Voting di Senat akan  dilakukan untuk menerapkan pemerintahan langsung tersebut pada Jumat  (27/10) mendatang.   Meski demikian, para pemimpin kampanye kemerdekaan Catalunya  menegaskan, referendum 1 Oktober memberi mandat bagi mereka untuk  mengklaim kemerdekaan dari Spanyol.
&amp;ldquo;Ini bukan kami menolak perintah.  Ini bukan keputusan pribadi. Ini keputusan tujuh juta orang,&amp;rdquo; kata  Kepala Urusan Luar Negeri Catalunya Raul Romeva pada radio BBC
Romeva  ditanya apakah dia percaya semua lembaga, termasuk kepolisian akan  mengikuti perintah dari Catalunya daripada perintah dari Pemerintah Spanyol. &amp;ldquo;Dari  perspektif itu, saya tidak ragu semua pegawai sipil di Catalunya akan  mengikuti perintah dari lembaga sah dan terpilih yang kami memiliki hak  sekarang di Catalunya,&amp;rdquo; katanya.
(Baca juga: Aliansi Kemerdekaan Catalunya Bersumpah untuk Lawan &quot;Pasal Pamungkas&quot; Spanyol)  Otoritas Catalunya menjelaskan, sekitar 90% dari mereka yang mengikuti  referendum 1 Oktober memilih untuk merdeka. Meski demikian, tingkat  partisipasi pemilih hanya 43% atau hanya 1 dari 3 warga Catalunya yang  ikut referendum.
Para penentang kemerdekaan memboikot referendum itu.  Krisis Catalunya memicu kekhawatiran negara-negara Eropa bahwa tren itu  akan menyebar ke penjuru benua. Dari Skotlandia hingga Flanders dan  Lombardy, krisis keuangan 2007-2009, pengangguran dan migrasi telah  memperkuat partai-partai populis dan anti-Uni Eropa (UE), serta  mendorong kembali perpecahan wilayah.   Dua wilayah kaya di Italia Utara juga telah memilih otonomi lebih luas  dalam referendum pekan lalu. Saat konferensi tingkat tinggi Eropa pekan  lalu, para pemimpin berupaya meminimalisasikan krisis tersebut dan  menyebut upaya kemerdekaan Catalunya merupakan isu domestik.
Pembangkangan sipil itu juga didukung Partai CUP yang menjadi pendukung  utama pemerintahan minoritas prokemerdekaan. Menurut partai sayap kiri  jauh itu, tindakan Madrid merupakan agresi terhadap semua warga  Catalunya.
(Baca juga: Spanyol Akan Pecat Presiden Catalunya Sekaligus Ambil Alih Pemerintahan )  &amp;ldquo;Agresi akan menghadapi pembangkangan sipil secara masif,&amp;rdquo; ungkap  pernyataan CUP dikutip kantor berita Reuters.
Ratusan anggota parlemen  Catalunya menegaskan, mereka menolak pemerintahan langsung dari Madrid dan  meminta parlemen Catalunya menggelar voting untuk mosi penolakan.  Presiden Catalunya Carles Puigdemont meminta parlemen bertemu pekan ini  untuk merespons Madrid. Langkah tersebut akan membuka jalan deklarasi  kemerdekaan secara resmi. Parlemen Catalunya akan bertemu pada Kamis  (26/10) untuk merespons langkah Pemerintah Spanyol.</description><content:encoded>MADRID - Catalunya yakin semua pejabat termasuk kepolisian akan melawan  upaya Madrid mencabut otonomi dan menerapkan pemerintahan langsung di  wilayah tersebut.   Konflik antara Catalunya dan Spanyol itu semakin memanas dan bisa memicu  kerusuhan. Pemerintah Spanyol telah memulai proses penerapan konstitusi  dengan memecat pemerintahan regional Catalunya dan menggelar pemilu baru  di wilayah itu untuk mengatasi upaya kemerdekaan. Voting di Senat akan  dilakukan untuk menerapkan pemerintahan langsung tersebut pada Jumat  (27/10) mendatang.   Meski demikian, para pemimpin kampanye kemerdekaan Catalunya  menegaskan, referendum 1 Oktober memberi mandat bagi mereka untuk  mengklaim kemerdekaan dari Spanyol.
&amp;ldquo;Ini bukan kami menolak perintah.  Ini bukan keputusan pribadi. Ini keputusan tujuh juta orang,&amp;rdquo; kata  Kepala Urusan Luar Negeri Catalunya Raul Romeva pada radio BBC
Romeva  ditanya apakah dia percaya semua lembaga, termasuk kepolisian akan  mengikuti perintah dari Catalunya daripada perintah dari Pemerintah Spanyol. &amp;ldquo;Dari  perspektif itu, saya tidak ragu semua pegawai sipil di Catalunya akan  mengikuti perintah dari lembaga sah dan terpilih yang kami memiliki hak  sekarang di Catalunya,&amp;rdquo; katanya.
(Baca juga: Aliansi Kemerdekaan Catalunya Bersumpah untuk Lawan &quot;Pasal Pamungkas&quot; Spanyol)  Otoritas Catalunya menjelaskan, sekitar 90% dari mereka yang mengikuti  referendum 1 Oktober memilih untuk merdeka. Meski demikian, tingkat  partisipasi pemilih hanya 43% atau hanya 1 dari 3 warga Catalunya yang  ikut referendum.
Para penentang kemerdekaan memboikot referendum itu.  Krisis Catalunya memicu kekhawatiran negara-negara Eropa bahwa tren itu  akan menyebar ke penjuru benua. Dari Skotlandia hingga Flanders dan  Lombardy, krisis keuangan 2007-2009, pengangguran dan migrasi telah  memperkuat partai-partai populis dan anti-Uni Eropa (UE), serta  mendorong kembali perpecahan wilayah.   Dua wilayah kaya di Italia Utara juga telah memilih otonomi lebih luas  dalam referendum pekan lalu. Saat konferensi tingkat tinggi Eropa pekan  lalu, para pemimpin berupaya meminimalisasikan krisis tersebut dan  menyebut upaya kemerdekaan Catalunya merupakan isu domestik.
Pembangkangan sipil itu juga didukung Partai CUP yang menjadi pendukung  utama pemerintahan minoritas prokemerdekaan. Menurut partai sayap kiri  jauh itu, tindakan Madrid merupakan agresi terhadap semua warga  Catalunya.
(Baca juga: Spanyol Akan Pecat Presiden Catalunya Sekaligus Ambil Alih Pemerintahan )  &amp;ldquo;Agresi akan menghadapi pembangkangan sipil secara masif,&amp;rdquo; ungkap  pernyataan CUP dikutip kantor berita Reuters.
Ratusan anggota parlemen  Catalunya menegaskan, mereka menolak pemerintahan langsung dari Madrid dan  meminta parlemen Catalunya menggelar voting untuk mosi penolakan.  Presiden Catalunya Carles Puigdemont meminta parlemen bertemu pekan ini  untuk merespons Madrid. Langkah tersebut akan membuka jalan deklarasi  kemerdekaan secara resmi. Parlemen Catalunya akan bertemu pada Kamis  (26/10) untuk merespons langkah Pemerintah Spanyol.</content:encoded></item></channel></rss>
