<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Presiden Jokowi Tunda Pembentukan Densus Tipikor, PDIP: Keputusan Bijak!</title><description>Keputusan Presiden Jokowi itu dianggap menjadi tantangan bagi  Polri dan  Kejaksaan agar lebih bersinergi dengan KPK.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/25/337/1802098/presiden-jokowi-tunda-pembentukan-densus-tipikor-pdip-keputusan-bijak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/25/337/1802098/presiden-jokowi-tunda-pembentukan-densus-tipikor-pdip-keputusan-bijak"/><item><title>Presiden Jokowi Tunda Pembentukan Densus Tipikor, PDIP: Keputusan Bijak!</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/25/337/1802098/presiden-jokowi-tunda-pembentukan-densus-tipikor-pdip-keputusan-bijak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/25/337/1802098/presiden-jokowi-tunda-pembentukan-densus-tipikor-pdip-keputusan-bijak</guid><pubDate>Rabu 25 Oktober 2017 14:34 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/25/337/1802098/presiden-jokowi-tunda-pembentukan-densus-tipikor-pdip-keputusan-bijak-1tQ3cWXVTy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/25/337/1802098/presiden-jokowi-tunda-pembentukan-densus-tipikor-pdip-keputusan-bijak-1tQ3cWXVTy.jpg</image><title>Presiden Jokowi.</title></images><description>JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)  menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) bijak dalam memutuskan penundaan  pembentukan Detasemen Khusus (Densus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)  Polri.
Keputusan Presiden Jokowi itu dianggap menjadi tantangan bagi  Polri dan Kejaksaan agar lebih bersinergi dengan Komisi Pemberantasan  Korupsi (KPK).&quot;Keputusan bijak dan tantangan bagi Polri dan  jaksa agar kerjasama lebih solid dan sinergitas dengan KPK,&quot; kata Ketua  Dewan Pimpinan Pusat PDIP Hendrawan Supratikno di Gedung DPR, Senayan,  Jakarta, Rabu (25/10/2017).Walaupun, dia mengklaim bahwa Fraksi  PDIP menilai perlu pembentukan Densus Tipikor itu. &quot;Tapi kami memahami  pandangan yang seperti dikatakan Pak JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla) bahwa pengawasan ini kan sudah banyak, Pak JK sebut ada enam, ada  inspektorat, BPK dan seterusnya. Nah sampai kapan? Ternyata ketika  membuat lembaga pengawas, yang mengawasi juga lapar,&quot; paparnya.
(Baca juga: Pembentukan Densus Tipikor Ditunda, KPK Dapat Catatan Introspeksi Kinerja)Dia  menambahkan, persoalan terbesar bangsa ini dalam pembangunan adalah  birokrasi yang berbiaya tinggi. &quot;Mengapa tinggi? Dengan idiom-idiom  kalau bisa lambat kenapa dipercepat, kalau bisa dipersulit kenapa  dipermudah,&quot; ungkapnya.Lebih lanjut dia mengatakan, idiom-idiom  seperti itu menggambarkan birokrasi yang memperlambat. &quot;Mengapa  memperlambat atau mempersulit? karena rejeki lebih besar. Ini semua  berburu rejeki,&quot; katanya.
Sebelumnya, Menkopolhukam Wiranto membenarkan, pihaknya telah melakukan pertemuan  internal bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla  (JK) serta pimpinan KPK guna membahas rencana pembentukan Densus Tipikor  di Istana Negara.
&quot;Hari ini ada rapat terbatas yang dipimpin langsung Bapak  Presiden dan Wakil Presiden, juga hadir pimpinan KPK. Kami membahas  mengenai usulan Densus Tipikor dari kepolisian saat rapat dengar  pendapat dengan Komisi III DPR RI,&amp;rdquo; kata Wiranto di Kompleks Istana  Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa 24 Oktober 2017.
Wiranto mengakui, bahwa pembahasan berlangsung cukup intens. Seluruh  masukan dari sejumlah kementerian dan lembaga telah ditampung oleh  Kepala Negara.&amp;lrm;
&amp;ldquo;Beberapa pertimbangan yang saya kemukakan, yang pertama, usulan  itu berangkat dari satu niat baik dari kepolisian. Berangkat dari satu  pemikiran bahwa korupsi yang telah dilakukan  pemberantasan dan  penanggulangannya dari berbagai lembaga masih juga terlihat marak  sehingga perlu ada langkah-langkah khusus dari kepolisian dengan  mengusulkan pembentukan Densus Tipikor,&amp;rdquo; ungkapnya.
Namun, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa pelaksanaan  pembentukan Densus Tipikor Polri masih memerlukan kajian-kajian yang  lebih jauh lagi. Apalagi, pembentukan Densus Tipikor masih memerlukan  payung hukum.&amp;lrm;
&quot;Mengapa? Karena memang lembaga ini harus dikoordinasikan dengan   kejaksaan. Bagaimana mengenai masalah penyelidikan, penyidikan dan  penuntutan satu atap. Itu tentu butuh payung Undang-undang. Kemudian  juga yang menyangkut masalah-masalah prosesnya. Dari Menpan RB  menyatakan bahwa masih cukup panjang prosesnya,&quot; terangnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)  menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) bijak dalam memutuskan penundaan  pembentukan Detasemen Khusus (Densus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)  Polri.
Keputusan Presiden Jokowi itu dianggap menjadi tantangan bagi  Polri dan Kejaksaan agar lebih bersinergi dengan Komisi Pemberantasan  Korupsi (KPK).&quot;Keputusan bijak dan tantangan bagi Polri dan  jaksa agar kerjasama lebih solid dan sinergitas dengan KPK,&quot; kata Ketua  Dewan Pimpinan Pusat PDIP Hendrawan Supratikno di Gedung DPR, Senayan,  Jakarta, Rabu (25/10/2017).Walaupun, dia mengklaim bahwa Fraksi  PDIP menilai perlu pembentukan Densus Tipikor itu. &quot;Tapi kami memahami  pandangan yang seperti dikatakan Pak JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla) bahwa pengawasan ini kan sudah banyak, Pak JK sebut ada enam, ada  inspektorat, BPK dan seterusnya. Nah sampai kapan? Ternyata ketika  membuat lembaga pengawas, yang mengawasi juga lapar,&quot; paparnya.
(Baca juga: Pembentukan Densus Tipikor Ditunda, KPK Dapat Catatan Introspeksi Kinerja)Dia  menambahkan, persoalan terbesar bangsa ini dalam pembangunan adalah  birokrasi yang berbiaya tinggi. &quot;Mengapa tinggi? Dengan idiom-idiom  kalau bisa lambat kenapa dipercepat, kalau bisa dipersulit kenapa  dipermudah,&quot; ungkapnya.Lebih lanjut dia mengatakan, idiom-idiom  seperti itu menggambarkan birokrasi yang memperlambat. &quot;Mengapa  memperlambat atau mempersulit? karena rejeki lebih besar. Ini semua  berburu rejeki,&quot; katanya.
Sebelumnya, Menkopolhukam Wiranto membenarkan, pihaknya telah melakukan pertemuan  internal bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla  (JK) serta pimpinan KPK guna membahas rencana pembentukan Densus Tipikor  di Istana Negara.
&quot;Hari ini ada rapat terbatas yang dipimpin langsung Bapak  Presiden dan Wakil Presiden, juga hadir pimpinan KPK. Kami membahas  mengenai usulan Densus Tipikor dari kepolisian saat rapat dengar  pendapat dengan Komisi III DPR RI,&amp;rdquo; kata Wiranto di Kompleks Istana  Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa 24 Oktober 2017.
Wiranto mengakui, bahwa pembahasan berlangsung cukup intens. Seluruh  masukan dari sejumlah kementerian dan lembaga telah ditampung oleh  Kepala Negara.&amp;lrm;
&amp;ldquo;Beberapa pertimbangan yang saya kemukakan, yang pertama, usulan  itu berangkat dari satu niat baik dari kepolisian. Berangkat dari satu  pemikiran bahwa korupsi yang telah dilakukan  pemberantasan dan  penanggulangannya dari berbagai lembaga masih juga terlihat marak  sehingga perlu ada langkah-langkah khusus dari kepolisian dengan  mengusulkan pembentukan Densus Tipikor,&amp;rdquo; ungkapnya.
Namun, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa pelaksanaan  pembentukan Densus Tipikor Polri masih memerlukan kajian-kajian yang  lebih jauh lagi. Apalagi, pembentukan Densus Tipikor masih memerlukan  payung hukum.&amp;lrm;
&quot;Mengapa? Karena memang lembaga ini harus dikoordinasikan dengan   kejaksaan. Bagaimana mengenai masalah penyelidikan, penyidikan dan  penuntutan satu atap. Itu tentu butuh payung Undang-undang. Kemudian  juga yang menyangkut masalah-masalah prosesnya. Dari Menpan RB  menyatakan bahwa masih cukup panjang prosesnya,&quot; terangnya.</content:encoded></item></channel></rss>
