<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Relawan Tagana, Garda Terdepan Penanggulangan Bencana di Seluruh Pelosok Indonesia</title><description></description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/26/542/1802970/relawan-tagana-garda-terdepan-penanggulangan-bencana-di-seluruh-pelosok-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/26/542/1802970/relawan-tagana-garda-terdepan-penanggulangan-bencana-di-seluruh-pelosok-indonesia"/><item><title>Relawan Tagana, Garda Terdepan Penanggulangan Bencana di Seluruh Pelosok Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/26/542/1802970/relawan-tagana-garda-terdepan-penanggulangan-bencana-di-seluruh-pelosok-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/26/542/1802970/relawan-tagana-garda-terdepan-penanggulangan-bencana-di-seluruh-pelosok-indonesia</guid><pubDate>Kamis 26 Oktober 2017 17:02 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/26/542/1802970/relawan-tagana-garda-terdepan-penanggulangan-bencana-di-seluruh-pelosok-indonesia-t692qxgdEb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Relawan Tagana (Foto: Fahmi Firdaus/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/26/542/1802970/relawan-tagana-garda-terdepan-penanggulangan-bencana-di-seluruh-pelosok-indonesia-t692qxgdEb.jpg</image><title>Relawan Tagana (Foto: Fahmi Firdaus/Okezone)</title></images><description>MINAHASA - Kementerian Sosial (Kemensos) menggelar Jambore Nasional (Jamnas) Tagana (taruna siaga bencana) Asean +3 ke XI di Stadion Maesa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
Peserta Jambore Tagana berasal dari seluruh provinsi di Indonesia, negara Asean serta sejumlah negara non Asean salah satunya Jepang.
Tagana sendiri terbentuk pasca-bencana tsunami melanda Aceh pada 2004. Oleh karena itu, relawan Tagana dituntut untuk berada di lini terdepan dalam setiap penanganan bencana yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia.
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, saat pembukaan Jambore Tagana mengatakan bahwa Indonesia patut berbangga memiliki relawan Tagana yang sangat tangguh di lapangan, terutama saat terjadinya bencana alam.
&amp;ldquo;Kita harus bisa membayangkan apa yang terjadi kalau tidak ada Tagana di frontliner itu, kalau kita hanya mengandalkan petugas dari Dinas Sosial, saya yakin kita tidak berdaya dan berapa korban di setiap kejadian,&amp;rdquo; tandasnya.
Di tempat yang sama, Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA), Adhi Karyono menambahkan, pihaknya rutin mengadakan Jambore Tagana sebagai&amp;nbsp;ajang uji kompetensi di lapangan.&amp;nbsp;
&quot;Begitu ada bencana, Tagana itu paling lambat hadir kurang dari satu jam,&quot; ujarnya.
Berdasarkan data registrasi terakhir, saat ini tercatat 35.024 relawan dari seluruh Indonesia bergabung dalam Tagana.&amp;nbsp;
Untuk menjadi relawan Tagana juga tidak sembarangan. Harus ada kualifikasi, standar dan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi.
Relawan Tagana sendiri berasal dari beragam profesi, mulai dari dokter, militer, hingga sarjana maupun magister dari berbagai disiplin ilmu. Para relawan pun selalu sigap jika terjadi bencana yang dapat datang sewaktu-waktu.
Sesuai dengan moto kerja Kemsos yaitu &quot;We Are The First to Help And Care&quot;, maka dalam penanggulangan bencana, unsur Tagana menjadi frontline yang hadir paling lambat satu jam setelah terjadi bencana itu sudah dibuktikan.
&quot;Begitu ada bencana, banjir di DKI Jakarta misalnya. Saat air di Bendung Katulampa sudah naik sekian, kami sudah siap di frontliner,&quot;sambungnya.
Jamnas Tagana tersebut bertujuan untuk melakukan konsolidasi secara nasional dan mengukur kemampuan Tagana dari setiap daerah di seluruh Indonesia melalui lomba-lomba dan pembinaan di lapangan.
Tak hanya itu, peserta yang hadir juga saling berbagi ide dan pengalamannya dengan relawan dari negara-negara tetangga yang datang.


Antusias relawan Tagana mengikuti event tahunan tersebut kata dia cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas undangan yang ditentukan. &quot;Namun kita tidak bisa melarang, karena mereka menggunakan biaya sendiri,&quot; ujarnya.
&quot;Yang dibiayai secara resmi sebetulnya 1.300 orang. Kalau tidak kita batasi bisa lebih dua kali lipat dari itu. Hari ini saja yang masuk hampir 2.000 orang. Banyak peserta penggembiranya,&quot; tambah Adhi.
Kendati demikian, dia tidak terlalu ambil pusing memikirkan kelebihan jumlah peserta Tagana. Sebab anggota Tagana tidak meminta fasilitas kamar hotel dan katering.
&quot;Mereka cukup dengan tidur di tenda dan makanan yang mereka siapkan sendiri,&quot; tambahnya.
Saat ini kata dia,&amp;nbsp; jumlah daerah rawan bencana di Indonesia mencapai 323 kabupaten. Oleh karena itu pihaknya masih kekurangan relawan Tagana.
&quot;Paling tidak kita butuh 120 ribu orang. Makanya kita bentuk Sahabat Tagana, itu biayanya lebih murah. Sekarang&amp;nbsp; sudah tiga tahun ini berjalan, sejak masa Ibu Menteri,&quot; tandasnya.


</description><content:encoded>MINAHASA - Kementerian Sosial (Kemensos) menggelar Jambore Nasional (Jamnas) Tagana (taruna siaga bencana) Asean +3 ke XI di Stadion Maesa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
Peserta Jambore Tagana berasal dari seluruh provinsi di Indonesia, negara Asean serta sejumlah negara non Asean salah satunya Jepang.
Tagana sendiri terbentuk pasca-bencana tsunami melanda Aceh pada 2004. Oleh karena itu, relawan Tagana dituntut untuk berada di lini terdepan dalam setiap penanganan bencana yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia.
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, saat pembukaan Jambore Tagana mengatakan bahwa Indonesia patut berbangga memiliki relawan Tagana yang sangat tangguh di lapangan, terutama saat terjadinya bencana alam.
&amp;ldquo;Kita harus bisa membayangkan apa yang terjadi kalau tidak ada Tagana di frontliner itu, kalau kita hanya mengandalkan petugas dari Dinas Sosial, saya yakin kita tidak berdaya dan berapa korban di setiap kejadian,&amp;rdquo; tandasnya.
Di tempat yang sama, Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA), Adhi Karyono menambahkan, pihaknya rutin mengadakan Jambore Tagana sebagai&amp;nbsp;ajang uji kompetensi di lapangan.&amp;nbsp;
&quot;Begitu ada bencana, Tagana itu paling lambat hadir kurang dari satu jam,&quot; ujarnya.
Berdasarkan data registrasi terakhir, saat ini tercatat 35.024 relawan dari seluruh Indonesia bergabung dalam Tagana.&amp;nbsp;
Untuk menjadi relawan Tagana juga tidak sembarangan. Harus ada kualifikasi, standar dan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi.
Relawan Tagana sendiri berasal dari beragam profesi, mulai dari dokter, militer, hingga sarjana maupun magister dari berbagai disiplin ilmu. Para relawan pun selalu sigap jika terjadi bencana yang dapat datang sewaktu-waktu.
Sesuai dengan moto kerja Kemsos yaitu &quot;We Are The First to Help And Care&quot;, maka dalam penanggulangan bencana, unsur Tagana menjadi frontline yang hadir paling lambat satu jam setelah terjadi bencana itu sudah dibuktikan.
&quot;Begitu ada bencana, banjir di DKI Jakarta misalnya. Saat air di Bendung Katulampa sudah naik sekian, kami sudah siap di frontliner,&quot;sambungnya.
Jamnas Tagana tersebut bertujuan untuk melakukan konsolidasi secara nasional dan mengukur kemampuan Tagana dari setiap daerah di seluruh Indonesia melalui lomba-lomba dan pembinaan di lapangan.
Tak hanya itu, peserta yang hadir juga saling berbagi ide dan pengalamannya dengan relawan dari negara-negara tetangga yang datang.


Antusias relawan Tagana mengikuti event tahunan tersebut kata dia cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas undangan yang ditentukan. &quot;Namun kita tidak bisa melarang, karena mereka menggunakan biaya sendiri,&quot; ujarnya.
&quot;Yang dibiayai secara resmi sebetulnya 1.300 orang. Kalau tidak kita batasi bisa lebih dua kali lipat dari itu. Hari ini saja yang masuk hampir 2.000 orang. Banyak peserta penggembiranya,&quot; tambah Adhi.
Kendati demikian, dia tidak terlalu ambil pusing memikirkan kelebihan jumlah peserta Tagana. Sebab anggota Tagana tidak meminta fasilitas kamar hotel dan katering.
&quot;Mereka cukup dengan tidur di tenda dan makanan yang mereka siapkan sendiri,&quot; tambahnya.
Saat ini kata dia,&amp;nbsp; jumlah daerah rawan bencana di Indonesia mencapai 323 kabupaten. Oleh karena itu pihaknya masih kekurangan relawan Tagana.
&quot;Paling tidak kita butuh 120 ribu orang. Makanya kita bentuk Sahabat Tagana, itu biayanya lebih murah. Sekarang&amp;nbsp; sudah tiga tahun ini berjalan, sejak masa Ibu Menteri,&quot; tandasnya.


</content:encoded></item></channel></rss>
