<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HARI SUMPAH PEMUDA: Perjalanan Inspiratif Malala Yousafzai, dari Eksekusi Taliban hingga Penerima Nobel Perdamaian Termuda</title><description>Di kancahdunia, salah satu pemuda inspiratif adalah seorang gadis pembelahak-hak pendidikan untuk perempuan di Pakistan, Malala Yousafzai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/28/18/1804155/hari-sumpah-pemuda-perjalanan-inspiratif-malala-yousafzai-dari-eksekusi-taliban-hingga-penerima-nobel-perdamaian-termuda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/10/28/18/1804155/hari-sumpah-pemuda-perjalanan-inspiratif-malala-yousafzai-dari-eksekusi-taliban-hingga-penerima-nobel-perdamaian-termuda"/><item><title>HARI SUMPAH PEMUDA: Perjalanan Inspiratif Malala Yousafzai, dari Eksekusi Taliban hingga Penerima Nobel Perdamaian Termuda</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/10/28/18/1804155/hari-sumpah-pemuda-perjalanan-inspiratif-malala-yousafzai-dari-eksekusi-taliban-hingga-penerima-nobel-perdamaian-termuda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/10/28/18/1804155/hari-sumpah-pemuda-perjalanan-inspiratif-malala-yousafzai-dari-eksekusi-taliban-hingga-penerima-nobel-perdamaian-termuda</guid><pubDate>Sabtu 28 Oktober 2017 13:15 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/28/18/1804155/hari-sumpah-pemuda-perjalanan-inspiratif-malala-yousafzai-dari-eksekusi-taliban-hingga-penerima-nobel-perdamaian-termuda-Ry5uDIU1HY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Malala Yousafzai. (Foto: Wallpapersite)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/28/18/1804155/hari-sumpah-pemuda-perjalanan-inspiratif-malala-yousafzai-dari-eksekusi-taliban-hingga-penerima-nobel-perdamaian-termuda-Ry5uDIU1HY.jpg</image><title>Malala Yousafzai. (Foto: Wallpapersite)</title></images><description>MELALUI jalur diplomasi, Nara Rakhmatia dan AinanNuran giat berkiprah menjalankan semangat Sumpah Pemuda. Saat  Indonesia &amp;lsquo;diserang&amp;rsquo; negara-negara lain karena dianggap abai mengutamakan hak asasi manusia (HAM), Nara dan Ainan menampar balik mereka yang menjatuhkan tuduhan tersebut. Dan halitudilakukankeduanyadalam forum bergengsidunia, SidangMajelisPerserikatanBangsa-Bangsa (PBB).
Di kancahdunia, salah satu pemuda inspiratif adalah seorang gadis pembelahak-hak pendidikan untuk perempuan di Pakistan. Berikut kisahnya.
Sepak terjang mendiang Perdana  Menteri Pakistan Benazir Bhutto memukau gadis kecil bernama Malala Yousafzai. Perempuan kelahiran Mingora itu juga mendapatkan inspirasi dari pemikiran-pemikiran serta sumbangsih ayahnya Ziauddin Yousafzai untuk kemanusiaan, salah satunya dengan membuka sekolah untuk anak-anak setempat.
Baca Juga: HARI SUMPAH PEMUDA: Ainan Nuran, dari Tari Saman hingga Kiprah sebagai Diplomat Muda yang Bela Indonesia di Panggung Dunia
Baca Juga: Hebat! Pemenang Nobel Malala Yousafzai Diterima di Universitas Oxford
Pada 2009, Malala yang saat itu berusia 11 tahun menulis blog dengan nama samaran untuk diterbitkan oleh BBC Urdu. Ia menuliskan pengalaman sehari-hari di bawah kendali kelompok militan di Provinsi Swat, tempat tinggalnya. Karya tulis sang gadis remaja mencuri perhatian dunia.
Jurnalis New York Times, Adam B. Ellick, lantas membuat dokumenter mengenai kehidupan Malala Yousafzai. Kisah-kisahnya kemudian menyebar luas hingga aktivis kemanusiaan, Desmond Tutu, menominasikan Malala sebagai penerima International Children Peace Price.
Keinginan kuat Malala untuk meraih pendidikan meski sekolah-sekolah di Swat dihancurkan oleh Taliban mendapatkan penghargaan pada 2011. Melansir dari Nobel Prize, ia diganjar International Children&amp;rsquo;s Peace Prize serta National Youth Peace Prize dari pemerintah Pakistan.
Namun, tidak semua pihak mendukung kampanye Malala dan ayahnya untuk   pendidikan yang setara bagi semua orang di Pakistan. Peristiwa yang   mengubah hidupnya pun terjadi pada 9 Oktober 2012 pagi. Malala ditembak   oleh pasukan Taliban yang berupaya membunuhnya.
Ia diserang saat sedang menumpang bus untuk pulang ke rumah usai  sekolah. Dua orang anggota Taliban menghentikan bus yang ditumpangi  Malala dan rekan-rekannya. Malala ditembak di tiga tempat oleh militan  Taliban. Bahkan, satu butir peluru masuk dan menembus kepala hingga  bersarang di bahunya.
Malala menderita luka serius yang dapat mengancam nyawanya. Di hari  yang sama, ia diterbangkan ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar  untuk mendapat perawatan. Empat hari kemudian, Malala diterbangkan ke  unit perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit di Birmingham,  Inggris.
Pihak rumah sakit sengaja mengatur agar Malala berada dalam kondisi  koma agar memudahkan penanganan. Meski harus menjalani sejumlah operasi  bedah, termasuk memperbaiki syaraf di wajahnya karena mengalami  kelumpuhan parsial, Malala tidak sama sekali mengalami kerusakan pada  otaknya.
Baca Juga: HARI SUMPAH PEMUDA: Nara Rakhmatia, Berawal dari Asisten Dosen hingga Menjadi Diplomat Muda yang Berhasil &quot;Bungkam&quot; 6 Negara saat Sidang PBB
Pemerintah Inggris begitu memperhatikan nasib Malala Yousafzai.  Mengutip dari situs resmi miliknya, malala.org, Malala berhasil pulih  pada Januari 2013 setelah melalui serangkaian operasi dan rehabilitasi.  Ia kembali ke pangkuan orangtuanya yang kini menetap di Birmingham  berkat suaka politik pemerintah Inggris.
Maret 2013 menjadi titik balik bagi Malala usai penembakan. Ia  kembali mengenakan seragam sekolahnya dan menempuh ilmu di Birmingham.  Keinginan kuat itu mendapatkan apresiasi dari seluruh dunia.
Di hari ulang tahun ke-16, tepatnya 12 Juli 2013, Malala berkunjung  ke New York, Amerika Serikat (AS), dan berpidato di Markas Besar  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Beberapa bulan kemudian, ia  menerbitkan buku berjudul &amp;ldquo;Saya Malala: Si Gadis yang Berjuang untuk  Pendidikan dan Ditembak oleh Taliban&amp;rdquo;.

Kerja kerasnya sebagai aktivis dunia pendidikan mendapat penghargaan  dari Parlemen Eropa pada 10 Oktober 2013. Malala diganjar penghargaan  Sakharov Prize for Freedom of Thought atau penghargaan untuk kebebasan  berpikir, sebuah hadiah yang cukup bergengsi.
Bersama ayahnya, Malala mendirikan yayasan Malala Fund pada 2014.  Lewat yayasan tersebut, Malala dan Ziauddin menyalurkan bantuan bagi  anak-anak agar mendapatkan akses pendidikan. Salah satunya dibuktikan  dengan kunjungan Malala ke kamp pengungsi Suriah di Yordania untuk  menemui pelajar-pelajar muda khususnya dari kaum perempuan.
Ia bersuara kencang untuk mendukung remaja putri di Chibok, Nigeria,  yang diculik oleh kelompok militan Boko Haram. Malala merasa senasib  dengan gadis-gadis di Chibok itu yang diculik karena berupaya menempuh  pendidikan, sesuatu yang dialaminya beberapa tahun lalu.
Atas segala sumbangsihnya di dunia pendidikan itu, Malala Yousafzai  akhirnya menerima hadiah Nobel Perdamaian bersama dengan aktivis  anak-anak India Kaliash Satyarthi pada Oktober 2014. Di usia 17 tahun,  ia menjadi orang termuda yang pernah memenangkan hadiah bergengsi  tersebut.
&amp;ldquo;Penghargaan ini bukan hanya untukku. Ini untuk anak-anak yang  terlupakan yang ingin mendapatkan pendidikan. Ini untuk anak-anak yang  terjangkit rasa takut yang ingin mendapatkan perdamaian. Ini untuk  anak-anak yang tidak mampu bersuara yang ingin merasakan perubahan,&amp;rdquo;  ujar Malala Yousafzai saat menerima penghargaan tersebut.
Sepak terjang Malala Yousafzai kini lebih banyak dihabiskan di Malala  Fund selain menempuh pendidikan tinggi di Oxford University, Inggris.  Yayasan tersebut memfokuskan pada bidang pendidikan dan pemberdayaan  perempuan agar dapat memenuhi potensinya sehingga dapat menjadi  pemimpin-pemimpin yang kuat dan percaya diri di negaranya masing-masing.
Yayasan Malala Fund juga bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin dunia  serta mendanai proyek-proyek pendidikan di enam negara. Malala Fund  bergabung dengan mitra-mitra lokal untuk berinvestasi lewat solusi  inovatif serta mendorong agar perempuan muda dapat menempuh pendidikan  hingga minimal jenjang menengah di seluruh dunia. Semua dilakukan Malala  pada usia 20 tahun.</description><content:encoded>MELALUI jalur diplomasi, Nara Rakhmatia dan AinanNuran giat berkiprah menjalankan semangat Sumpah Pemuda. Saat  Indonesia &amp;lsquo;diserang&amp;rsquo; negara-negara lain karena dianggap abai mengutamakan hak asasi manusia (HAM), Nara dan Ainan menampar balik mereka yang menjatuhkan tuduhan tersebut. Dan halitudilakukankeduanyadalam forum bergengsidunia, SidangMajelisPerserikatanBangsa-Bangsa (PBB).
Di kancahdunia, salah satu pemuda inspiratif adalah seorang gadis pembelahak-hak pendidikan untuk perempuan di Pakistan. Berikut kisahnya.
Sepak terjang mendiang Perdana  Menteri Pakistan Benazir Bhutto memukau gadis kecil bernama Malala Yousafzai. Perempuan kelahiran Mingora itu juga mendapatkan inspirasi dari pemikiran-pemikiran serta sumbangsih ayahnya Ziauddin Yousafzai untuk kemanusiaan, salah satunya dengan membuka sekolah untuk anak-anak setempat.
Baca Juga: HARI SUMPAH PEMUDA: Ainan Nuran, dari Tari Saman hingga Kiprah sebagai Diplomat Muda yang Bela Indonesia di Panggung Dunia
Baca Juga: Hebat! Pemenang Nobel Malala Yousafzai Diterima di Universitas Oxford
Pada 2009, Malala yang saat itu berusia 11 tahun menulis blog dengan nama samaran untuk diterbitkan oleh BBC Urdu. Ia menuliskan pengalaman sehari-hari di bawah kendali kelompok militan di Provinsi Swat, tempat tinggalnya. Karya tulis sang gadis remaja mencuri perhatian dunia.
Jurnalis New York Times, Adam B. Ellick, lantas membuat dokumenter mengenai kehidupan Malala Yousafzai. Kisah-kisahnya kemudian menyebar luas hingga aktivis kemanusiaan, Desmond Tutu, menominasikan Malala sebagai penerima International Children Peace Price.
Keinginan kuat Malala untuk meraih pendidikan meski sekolah-sekolah di Swat dihancurkan oleh Taliban mendapatkan penghargaan pada 2011. Melansir dari Nobel Prize, ia diganjar International Children&amp;rsquo;s Peace Prize serta National Youth Peace Prize dari pemerintah Pakistan.
Namun, tidak semua pihak mendukung kampanye Malala dan ayahnya untuk   pendidikan yang setara bagi semua orang di Pakistan. Peristiwa yang   mengubah hidupnya pun terjadi pada 9 Oktober 2012 pagi. Malala ditembak   oleh pasukan Taliban yang berupaya membunuhnya.
Ia diserang saat sedang menumpang bus untuk pulang ke rumah usai  sekolah. Dua orang anggota Taliban menghentikan bus yang ditumpangi  Malala dan rekan-rekannya. Malala ditembak di tiga tempat oleh militan  Taliban. Bahkan, satu butir peluru masuk dan menembus kepala hingga  bersarang di bahunya.
Malala menderita luka serius yang dapat mengancam nyawanya. Di hari  yang sama, ia diterbangkan ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar  untuk mendapat perawatan. Empat hari kemudian, Malala diterbangkan ke  unit perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit di Birmingham,  Inggris.
Pihak rumah sakit sengaja mengatur agar Malala berada dalam kondisi  koma agar memudahkan penanganan. Meski harus menjalani sejumlah operasi  bedah, termasuk memperbaiki syaraf di wajahnya karena mengalami  kelumpuhan parsial, Malala tidak sama sekali mengalami kerusakan pada  otaknya.
Baca Juga: HARI SUMPAH PEMUDA: Nara Rakhmatia, Berawal dari Asisten Dosen hingga Menjadi Diplomat Muda yang Berhasil &quot;Bungkam&quot; 6 Negara saat Sidang PBB
Pemerintah Inggris begitu memperhatikan nasib Malala Yousafzai.  Mengutip dari situs resmi miliknya, malala.org, Malala berhasil pulih  pada Januari 2013 setelah melalui serangkaian operasi dan rehabilitasi.  Ia kembali ke pangkuan orangtuanya yang kini menetap di Birmingham  berkat suaka politik pemerintah Inggris.
Maret 2013 menjadi titik balik bagi Malala usai penembakan. Ia  kembali mengenakan seragam sekolahnya dan menempuh ilmu di Birmingham.  Keinginan kuat itu mendapatkan apresiasi dari seluruh dunia.
Di hari ulang tahun ke-16, tepatnya 12 Juli 2013, Malala berkunjung  ke New York, Amerika Serikat (AS), dan berpidato di Markas Besar  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Beberapa bulan kemudian, ia  menerbitkan buku berjudul &amp;ldquo;Saya Malala: Si Gadis yang Berjuang untuk  Pendidikan dan Ditembak oleh Taliban&amp;rdquo;.

Kerja kerasnya sebagai aktivis dunia pendidikan mendapat penghargaan  dari Parlemen Eropa pada 10 Oktober 2013. Malala diganjar penghargaan  Sakharov Prize for Freedom of Thought atau penghargaan untuk kebebasan  berpikir, sebuah hadiah yang cukup bergengsi.
Bersama ayahnya, Malala mendirikan yayasan Malala Fund pada 2014.  Lewat yayasan tersebut, Malala dan Ziauddin menyalurkan bantuan bagi  anak-anak agar mendapatkan akses pendidikan. Salah satunya dibuktikan  dengan kunjungan Malala ke kamp pengungsi Suriah di Yordania untuk  menemui pelajar-pelajar muda khususnya dari kaum perempuan.
Ia bersuara kencang untuk mendukung remaja putri di Chibok, Nigeria,  yang diculik oleh kelompok militan Boko Haram. Malala merasa senasib  dengan gadis-gadis di Chibok itu yang diculik karena berupaya menempuh  pendidikan, sesuatu yang dialaminya beberapa tahun lalu.
Atas segala sumbangsihnya di dunia pendidikan itu, Malala Yousafzai  akhirnya menerima hadiah Nobel Perdamaian bersama dengan aktivis  anak-anak India Kaliash Satyarthi pada Oktober 2014. Di usia 17 tahun,  ia menjadi orang termuda yang pernah memenangkan hadiah bergengsi  tersebut.
&amp;ldquo;Penghargaan ini bukan hanya untukku. Ini untuk anak-anak yang  terlupakan yang ingin mendapatkan pendidikan. Ini untuk anak-anak yang  terjangkit rasa takut yang ingin mendapatkan perdamaian. Ini untuk  anak-anak yang tidak mampu bersuara yang ingin merasakan perubahan,&amp;rdquo;  ujar Malala Yousafzai saat menerima penghargaan tersebut.
Sepak terjang Malala Yousafzai kini lebih banyak dihabiskan di Malala  Fund selain menempuh pendidikan tinggi di Oxford University, Inggris.  Yayasan tersebut memfokuskan pada bidang pendidikan dan pemberdayaan  perempuan agar dapat memenuhi potensinya sehingga dapat menjadi  pemimpin-pemimpin yang kuat dan percaya diri di negaranya masing-masing.
Yayasan Malala Fund juga bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin dunia  serta mendanai proyek-proyek pendidikan di enam negara. Malala Fund  bergabung dengan mitra-mitra lokal untuk berinvestasi lewat solusi  inovatif serta mendorong agar perempuan muda dapat menempuh pendidikan  hingga minimal jenjang menengah di seluruh dunia. Semua dilakukan Malala  pada usia 20 tahun.</content:encoded></item></channel></rss>
