<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Astaga! Ratusan Ribu Nyawa Balita di Sudan Selatan Terancam Akibat Malnutrisi</title><description>Hampir 300 ribu balita di Sudan Selatan berisiko meninggal akibat malnutrisi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/06/18/1809531/astaga-ratusan-ribu-nyawa-balita-di-sudan-selatan-terancam-akibat-malnutrisi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/11/06/18/1809531/astaga-ratusan-ribu-nyawa-balita-di-sudan-selatan-terancam-akibat-malnutrisi"/><item><title>Astaga! Ratusan Ribu Nyawa Balita di Sudan Selatan Terancam Akibat Malnutrisi</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/06/18/1809531/astaga-ratusan-ribu-nyawa-balita-di-sudan-selatan-terancam-akibat-malnutrisi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/11/06/18/1809531/astaga-ratusan-ribu-nyawa-balita-di-sudan-selatan-terancam-akibat-malnutrisi</guid><pubDate>Senin 06 November 2017 23:18 WIB</pubDate><dc:creator>Putri Ainur Islam</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/06/18/1809531/astaga-ratusan-ribu-nyawa-balita-di-sudan-selatan-terancam-akibat-malnutrisi-pVnzeAJFoz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengungsi Sudan Selatan yang berada di Uganda saat mengantre untuk bantuan makanan. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/06/18/1809531/astaga-ratusan-ribu-nyawa-balita-di-sudan-selatan-terancam-akibat-malnutrisi-pVnzeAJFoz.jpg</image><title>Pengungsi Sudan Selatan yang berada di Uganda saat mengantre untuk bantuan makanan. (Foto: Reuters)</title></images><description>JUBA - Musim panen membawa sedikit kelegaan bagi jutaan orang yang kelaparan di Sudan Selatan karena konflik dan hiperinflasi yang mengakibatkan malnutrisi. Hal tersebut disampaikan oleh pakar keamanan pangan.
Lebih dari 1,1 juta anak balita diperkirakan akan kekurangan gizi pada 2018 termasuk hampir 300 ribu anak yang berisiko meninggal akibat malnutrisi.
Angka gizi buruk akut di hampir satu dari lima kabupaten di Sudan Selatan jauh di atas ambang batas darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu sebesar 15%, kata IPC, yang anggotanya termasuk lembaga bantuan dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP).
&quot;Negara itu telah dilanda pertempuran dan menemukan solusi damai untuk tragedi buatan manusia ini harus menjadi prioritas utama atau situasinya akan semakin buruk tahun depan,&quot; ungkap Serge Tissot, perwakilan FAO di Sudan Selatan, mengatakan dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, Senin (6/11/2017).
BACA JUGA: Selamat! Sudan dan Sudan Selatan Sepakat untuk Akhiri Ketegangan
Sudan Selatan terlibat dalam perang saudara pada 2013 setelah Presiden Salva Kiir memecat wakilnya, melepaskan konflik yang telah melahirkan faksi-faksi bersenjata yang sering mengikuti garis etnis.
&quot;Musim ramping&quot; adalah sebutan ketika orang-orang mulai kekurangan makanan sebelum panen berikutnya. Diperkirakan akan dimulai tiga bulan lebih awal dari biasanya, menurut lembaga bantuan.
Harga makanan melonjak, dengan harga karung pokok seperti tepung sorgum, jagung, dan tepung terigu naik 281% dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.
BACA JUGA: Sanksi Ekonomi Dicabut, Pemerintah Sudan Ucapkan Terima Kasih kepada AS
Konflik yang berlarut-larut kemungkinan akan menyebabkan kelelahan akan pemberian bantuan dan tingkat pendanaan kemungkinan akan berkurang, kata Isaiah Chol Aruai, ketua Biro Statistik Nasional Sudan Selatan.
Sekadar diketahui, Presiden Sudan dan Sudan Selatan telah menandatangani sebuah pernyataan bersama yang mencakup percepatan kesepakatan kerjasama, membentuk komisi perbatasan, membentuk komite konsultasi politik, dan mengizinkan bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Sudan Selatan. Secara ekonomi, kedua negara sepakat untuk meluncurkan kembali operasi di ladang minyak yang terkena dampak konflik dan perang, menyelesaikan hutang dan mendukung sektor swasta Sudan Selatan.
(pai)</description><content:encoded>JUBA - Musim panen membawa sedikit kelegaan bagi jutaan orang yang kelaparan di Sudan Selatan karena konflik dan hiperinflasi yang mengakibatkan malnutrisi. Hal tersebut disampaikan oleh pakar keamanan pangan.
Lebih dari 1,1 juta anak balita diperkirakan akan kekurangan gizi pada 2018 termasuk hampir 300 ribu anak yang berisiko meninggal akibat malnutrisi.
Angka gizi buruk akut di hampir satu dari lima kabupaten di Sudan Selatan jauh di atas ambang batas darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu sebesar 15%, kata IPC, yang anggotanya termasuk lembaga bantuan dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP).
&quot;Negara itu telah dilanda pertempuran dan menemukan solusi damai untuk tragedi buatan manusia ini harus menjadi prioritas utama atau situasinya akan semakin buruk tahun depan,&quot; ungkap Serge Tissot, perwakilan FAO di Sudan Selatan, mengatakan dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, Senin (6/11/2017).
BACA JUGA: Selamat! Sudan dan Sudan Selatan Sepakat untuk Akhiri Ketegangan
Sudan Selatan terlibat dalam perang saudara pada 2013 setelah Presiden Salva Kiir memecat wakilnya, melepaskan konflik yang telah melahirkan faksi-faksi bersenjata yang sering mengikuti garis etnis.
&quot;Musim ramping&quot; adalah sebutan ketika orang-orang mulai kekurangan makanan sebelum panen berikutnya. Diperkirakan akan dimulai tiga bulan lebih awal dari biasanya, menurut lembaga bantuan.
Harga makanan melonjak, dengan harga karung pokok seperti tepung sorgum, jagung, dan tepung terigu naik 281% dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.
BACA JUGA: Sanksi Ekonomi Dicabut, Pemerintah Sudan Ucapkan Terima Kasih kepada AS
Konflik yang berlarut-larut kemungkinan akan menyebabkan kelelahan akan pemberian bantuan dan tingkat pendanaan kemungkinan akan berkurang, kata Isaiah Chol Aruai, ketua Biro Statistik Nasional Sudan Selatan.
Sekadar diketahui, Presiden Sudan dan Sudan Selatan telah menandatangani sebuah pernyataan bersama yang mencakup percepatan kesepakatan kerjasama, membentuk komisi perbatasan, membentuk komite konsultasi politik, dan mengizinkan bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Sudan Selatan. Secara ekonomi, kedua negara sepakat untuk meluncurkan kembali operasi di ladang minyak yang terkena dampak konflik dan perang, menyelesaikan hutang dan mendukung sektor swasta Sudan Selatan.
(pai)</content:encoded></item></channel></rss>
