<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HARI PAHLAWAN: Bukan Nama Orang, Si Pitung adalah Organisasi Perlawanan Rakyat Jakarta</title><description>Pitung didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus ilmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajar</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/10/337/1811493/hari-pahlawan-bukan-nama-orang-si-pitung-adalah-organisasi-perlawanan-rakyat-jakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/11/10/337/1811493/hari-pahlawan-bukan-nama-orang-si-pitung-adalah-organisasi-perlawanan-rakyat-jakarta"/><item><title>HARI PAHLAWAN: Bukan Nama Orang, Si Pitung adalah Organisasi Perlawanan Rakyat Jakarta</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/10/337/1811493/hari-pahlawan-bukan-nama-orang-si-pitung-adalah-organisasi-perlawanan-rakyat-jakarta</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/11/10/337/1811493/hari-pahlawan-bukan-nama-orang-si-pitung-adalah-organisasi-perlawanan-rakyat-jakarta</guid><pubDate>Jum'at 10 November 2017 05:01 WIB</pubDate><dc:creator>Ahmad Sahroji</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/09/337/1811493/hari-pahlawan-bukan-nama-orang-si-pitung-adalah-organisasi-perlawanan-rakyat-jakarta-B8JOFMY5HX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dicky Zulkarnaen memerankan film Si Pitung pada 1970 (Foto:IST)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/09/337/1811493/hari-pahlawan-bukan-nama-orang-si-pitung-adalah-organisasi-perlawanan-rakyat-jakarta-B8JOFMY5HX.jpg</image><title>Dicky Zulkarnaen memerankan film Si Pitung pada 1970 (Foto:IST)</title></images><description>JAKARTA - Jika mendengar nama Si Pitung, pasti terbayang dibenak kita tentang sosok pemuda asal Betawi yang berani dan pandai bela diri, terutama dalam melawan penjajahan. Ya, entah siapa yang memulai, cerita itu terus-menerus diwariskan dan menjadi budaya tutur masyarakat Jakarta.

Bahkan, aksi heroik Si Pitung hingga diangkat menjadi film nasional. Sejak tahun 1970-1989, terilis lima film nasional tentangnya yang diperankan artis legendaris Dicky Zulkarnaen. Ketokohannya begitu dijunjung hingga acap disebut &amp;ldquo;Robin Hood&amp;rdquo; Betawi dari Rawa Belong.

Akan tetapi penulis buku Pitung, Iwan Mahmoed Al Fattah, punya pandangan berbeda tentang sosok jawara asal Betawi satu ini. Menurutnya, pitung bukanlah nama orang seperti halnya Si Jampang atau Sabeni, tapi merupakan singkatan dari Pituan Pitulung (baca: Pitung) yang merupakan salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta yang dibentuk pada tahun 1880 oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat pada saat itu.

Kyai Haji Naipin adalah seorang yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.

Pitung didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus ilmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajari, ujian ilmu tarekat serta diakhiri dengan khataman Al Quran yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin. Setelah dinyatakan lulus maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.

Semua anggota Pitung diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, Tassawuf, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya.

Nama Pitung yang berarti 7 Pendekar Penolong, mengambil dari inspirasi Surat Al Fatihah dalam Al Quran yang terdiri dari 7 ayat. Oleh karena itu, ke 7 Pendekar ini selalu ditekankan untuk terus menghayati dan mengamalkan kandungan Surat Al Fatehah dalam setiap perjuangan mereka.

Di antara ke 7 Pendekar itu maka kemudian dipilihlah yang paling terbaik untuk menjadi pemimpin, jatuhlah pilihan itu kepada salah satu murid yang paling dicintai KH Naipin yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma.

KH Naipin memang sangat sayang pada sosok ini, karena sejak kecil Radin Muhammad Ali adalah seorang Yatim dan beliau juga tahu bagaimana kisah terbunuhnya ayah Muhammad Ali. Sedangkan ibunya telah menikah lagi dengan salah seorang duda yang mempunyai anak yang berada di daerah Kemanggisan. Kasih sayang ulama sufi ini juga sangat wajar karena dia adalah paman Radin Muhammad Ali.

Beliau Radin Muhammad Ali Nitikusuma adalah sosok yang alim dan soleh, pewaris silat Kyai Haji Naipin dan silat-silat warisan pejuang Jayakarta. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pantang kompromi dengan penjajah kafir. Beliau yatim sejak umur dua tahun. Di mata penjajah sosok ini lebih dikenal sebagai perampok daripada pejuang.

Orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji'ih Nitikusuma. Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Ji'ih.

Sosoknya alim dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir. Dia tidak seperti yang digambarkan dalam beberapa film. Dia justru sangat cerdas dan penuh perhitungan. 5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya adalah Abdul Qodir, Abdus Shomad, Saman, Rais, Jebul (Ki Dulo/Abdulloh).

Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul dengan hanya berapa gebrakan jurus babak belur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang. Sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai.

Hinne juga pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya yang terkenal sadis lari terbirit-birit ketika berhadapan dengan Pitung. Anggota Pitung kesal karena Hinne ini memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung.

Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok. Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko, dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose.

Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid yakni Dji'ih tertembak tahun 1899, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik-detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir. Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander (pribumi) yang menjadi saudaranya sendiri.

Jasad Muhammad Ali yang tidak sempurna kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.

Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, yang ditulis ulang dari tulisan lama ke dalam bahasa Arab melayu oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i, atas perintah Guru Mansur, Sawah Lio, sekira tahun 1910 di Jakarta.

Penjajah pada masa itu dengan politik devide et imperanya bahkan berusaha untuk menciptakan Pitung-Pitung palsu untuk memancing Pitung Pitung asli keluar dari persembunyian. Bahkan saat wafatnya Radin Muhammad Ali, salah satu pihak yang menjebaknya mengaku sebagai Pitung asli.

Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai azzimat seperti yang disebarkan beritanya oleh Belanda kalau Pitung sakti mandraguna. Isu peluru emas pun dibuat-buat dan disebarkan kepada masyarakat agar Radin Muhammad Ali dianggap sosok sakti, namun ternyata Belanda lebih hebat.

Jasadnya sengaja dimutilasi agar masyarakat kehilangan jejak sejarahnya dan juga tidak bisa lagi menziarahi makamnya. Namun sekalipun jasadnya terpencar kisah kepahlawanan pejuang tangguh ini tidak akan pernah hilang dari tanah Jakarta.

(ydp)</description><content:encoded>JAKARTA - Jika mendengar nama Si Pitung, pasti terbayang dibenak kita tentang sosok pemuda asal Betawi yang berani dan pandai bela diri, terutama dalam melawan penjajahan. Ya, entah siapa yang memulai, cerita itu terus-menerus diwariskan dan menjadi budaya tutur masyarakat Jakarta.

Bahkan, aksi heroik Si Pitung hingga diangkat menjadi film nasional. Sejak tahun 1970-1989, terilis lima film nasional tentangnya yang diperankan artis legendaris Dicky Zulkarnaen. Ketokohannya begitu dijunjung hingga acap disebut &amp;ldquo;Robin Hood&amp;rdquo; Betawi dari Rawa Belong.

Akan tetapi penulis buku Pitung, Iwan Mahmoed Al Fattah, punya pandangan berbeda tentang sosok jawara asal Betawi satu ini. Menurutnya, pitung bukanlah nama orang seperti halnya Si Jampang atau Sabeni, tapi merupakan singkatan dari Pituan Pitulung (baca: Pitung) yang merupakan salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta yang dibentuk pada tahun 1880 oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat pada saat itu.

Kyai Haji Naipin adalah seorang yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.

Pitung didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus ilmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajari, ujian ilmu tarekat serta diakhiri dengan khataman Al Quran yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin. Setelah dinyatakan lulus maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.

Semua anggota Pitung diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, Tassawuf, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya.

Nama Pitung yang berarti 7 Pendekar Penolong, mengambil dari inspirasi Surat Al Fatihah dalam Al Quran yang terdiri dari 7 ayat. Oleh karena itu, ke 7 Pendekar ini selalu ditekankan untuk terus menghayati dan mengamalkan kandungan Surat Al Fatehah dalam setiap perjuangan mereka.

Di antara ke 7 Pendekar itu maka kemudian dipilihlah yang paling terbaik untuk menjadi pemimpin, jatuhlah pilihan itu kepada salah satu murid yang paling dicintai KH Naipin yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma.

KH Naipin memang sangat sayang pada sosok ini, karena sejak kecil Radin Muhammad Ali adalah seorang Yatim dan beliau juga tahu bagaimana kisah terbunuhnya ayah Muhammad Ali. Sedangkan ibunya telah menikah lagi dengan salah seorang duda yang mempunyai anak yang berada di daerah Kemanggisan. Kasih sayang ulama sufi ini juga sangat wajar karena dia adalah paman Radin Muhammad Ali.

Beliau Radin Muhammad Ali Nitikusuma adalah sosok yang alim dan soleh, pewaris silat Kyai Haji Naipin dan silat-silat warisan pejuang Jayakarta. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pantang kompromi dengan penjajah kafir. Beliau yatim sejak umur dua tahun. Di mata penjajah sosok ini lebih dikenal sebagai perampok daripada pejuang.

Orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji'ih Nitikusuma. Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Ji'ih.

Sosoknya alim dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir. Dia tidak seperti yang digambarkan dalam beberapa film. Dia justru sangat cerdas dan penuh perhitungan. 5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya adalah Abdul Qodir, Abdus Shomad, Saman, Rais, Jebul (Ki Dulo/Abdulloh).

Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul dengan hanya berapa gebrakan jurus babak belur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang. Sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai.

Hinne juga pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya yang terkenal sadis lari terbirit-birit ketika berhadapan dengan Pitung. Anggota Pitung kesal karena Hinne ini memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung.

Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok. Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko, dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose.

Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid yakni Dji'ih tertembak tahun 1899, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik-detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir. Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander (pribumi) yang menjadi saudaranya sendiri.

Jasad Muhammad Ali yang tidak sempurna kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.

Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, yang ditulis ulang dari tulisan lama ke dalam bahasa Arab melayu oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i, atas perintah Guru Mansur, Sawah Lio, sekira tahun 1910 di Jakarta.

Penjajah pada masa itu dengan politik devide et imperanya bahkan berusaha untuk menciptakan Pitung-Pitung palsu untuk memancing Pitung Pitung asli keluar dari persembunyian. Bahkan saat wafatnya Radin Muhammad Ali, salah satu pihak yang menjebaknya mengaku sebagai Pitung asli.

Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai azzimat seperti yang disebarkan beritanya oleh Belanda kalau Pitung sakti mandraguna. Isu peluru emas pun dibuat-buat dan disebarkan kepada masyarakat agar Radin Muhammad Ali dianggap sosok sakti, namun ternyata Belanda lebih hebat.

Jasadnya sengaja dimutilasi agar masyarakat kehilangan jejak sejarahnya dan juga tidak bisa lagi menziarahi makamnya. Namun sekalipun jasadnya terpencar kisah kepahlawanan pejuang tangguh ini tidak akan pernah hilang dari tanah Jakarta.

(ydp)</content:encoded></item></channel></rss>
