<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ibu Muda Bunuh Anak Kandung karena Sering Ngompol, Ini Kata Psikolog</title><description>Seorang ibu muda bernama Novi Wanti (25) tega  menganiaya anak kandungnya, Greinal Wijaya (5), hingga tewas.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/13/338/1813057/ibu-muda-bunuh-anak-kandung-karena-sering-ngompol-ini-kata-psikolog</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/11/13/338/1813057/ibu-muda-bunuh-anak-kandung-karena-sering-ngompol-ini-kata-psikolog"/><item><title>Ibu Muda Bunuh Anak Kandung karena Sering Ngompol, Ini Kata Psikolog</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/13/338/1813057/ibu-muda-bunuh-anak-kandung-karena-sering-ngompol-ini-kata-psikolog</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/11/13/338/1813057/ibu-muda-bunuh-anak-kandung-karena-sering-ngompol-ini-kata-psikolog</guid><pubDate>Senin 13 November 2017 12:01 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/13/338/1813057/ibu-muda-bunuh-anak-kandung-karena-sering-ngompol-ini-kata-psikolog-0Jcv1evyc5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/13/338/1813057/ibu-muda-bunuh-anak-kandung-karena-sering-ngompol-ini-kata-psikolog-0Jcv1evyc5.jpg</image><title>Ilustrasi.</title></images><description>JAKARTA - Seorang ibu muda bernama Novi Wanti (25) tega  menganiaya anak kandungnya, Greinal Wijaya (5), hingga tewas. Pemicunya  hanya gara-gara si anak kerap mengompol. Berdasarkan pandangan psikolog,  kejadian ini tak lepas dari adanya masalah pada diri pelaku.Psikolog  sosial dari Universitas Airlangga M G Bagus Ani Putra mengatakan,  kekerasan dalam rumah tangga disebabkan banyak faktor, salah satunya  adalah faktor ekonomi yang berujung pada frustasi. Bagus mencontohkan  teori Agresi Frustrasi dari Dollard dan Miller. Menurut mereka,  frustrasi menyebabkan agresi. Melihat dari teori itu, saat ini banyak  agresi yang disebabkan frustrasi akibat kesenjangan antara harapan dan  kenyataan. Ia melihat, tindakan Novi Wanti bisa jadi akibat frustrasi  dengan kondisi hidup.
(Baca juga: Gara-Gara Sering Ngompol, Ini Alasan Ibu Muda di Kedoya Siksa Anak Kandungnya Hingga Tewas)&quot;Bisa karena faktor ekonomi, rumah tangga atau beban hidup lainnya,&quot; tutur Bagus kepada KORAN SINDO, Senin (13/11 2017).Melihat  kejadian ini, ia menyarankan agar keluarga tetap sebagai filter utama  agresi. Agar agresi tidak meningkat, perlu memperbanyak komunikasi  terlebih ketika ada anggota keluarga yang berkonflik. &quot;Saran saya untuk  personal, jika emosi meningkat dan cenderung untuk agresif,&quot; tuturnya.Selain  itu, ia menyarankan untuk keluar sebentar dari objek emosi dan  melakukan pelampiasan yang sifatnya positif. Misalnya liburan,  beribadah, melakukan hobi atau sekadar menjalankan hal-hal ringan yang  disukai. &amp;ldquo;Jika telah fresh kita dapat berpikir logis,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Seorang ibu muda bernama Novi Wanti (25) tega  menganiaya anak kandungnya, Greinal Wijaya (5), hingga tewas. Pemicunya  hanya gara-gara si anak kerap mengompol. Berdasarkan pandangan psikolog,  kejadian ini tak lepas dari adanya masalah pada diri pelaku.Psikolog  sosial dari Universitas Airlangga M G Bagus Ani Putra mengatakan,  kekerasan dalam rumah tangga disebabkan banyak faktor, salah satunya  adalah faktor ekonomi yang berujung pada frustasi. Bagus mencontohkan  teori Agresi Frustrasi dari Dollard dan Miller. Menurut mereka,  frustrasi menyebabkan agresi. Melihat dari teori itu, saat ini banyak  agresi yang disebabkan frustrasi akibat kesenjangan antara harapan dan  kenyataan. Ia melihat, tindakan Novi Wanti bisa jadi akibat frustrasi  dengan kondisi hidup.
(Baca juga: Gara-Gara Sering Ngompol, Ini Alasan Ibu Muda di Kedoya Siksa Anak Kandungnya Hingga Tewas)&quot;Bisa karena faktor ekonomi, rumah tangga atau beban hidup lainnya,&quot; tutur Bagus kepada KORAN SINDO, Senin (13/11 2017).Melihat  kejadian ini, ia menyarankan agar keluarga tetap sebagai filter utama  agresi. Agar agresi tidak meningkat, perlu memperbanyak komunikasi  terlebih ketika ada anggota keluarga yang berkonflik. &quot;Saran saya untuk  personal, jika emosi meningkat dan cenderung untuk agresif,&quot; tuturnya.Selain  itu, ia menyarankan untuk keluar sebentar dari objek emosi dan  melakukan pelampiasan yang sifatnya positif. Misalnya liburan,  beribadah, melakukan hobi atau sekadar menjalankan hal-hal ringan yang  disukai. &amp;ldquo;Jika telah fresh kita dapat berpikir logis,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
