<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Emmerson 'Buaya' Mnangagwa, Calon Presiden Zimbabwe yang Kontroversial</title><description>Kini,  setelah Mugabe mengundurkan diri, jalan terbuka bagi Mnangagwa untuk  berkuasa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/22/18/1818482/emmerson-buaya-mnangagwa-calon-presiden-zimbabwe-yang-kontroversial</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/11/22/18/1818482/emmerson-buaya-mnangagwa-calon-presiden-zimbabwe-yang-kontroversial"/><item><title>Emmerson 'Buaya' Mnangagwa, Calon Presiden Zimbabwe yang Kontroversial</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/22/18/1818482/emmerson-buaya-mnangagwa-calon-presiden-zimbabwe-yang-kontroversial</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/11/22/18/1818482/emmerson-buaya-mnangagwa-calon-presiden-zimbabwe-yang-kontroversial</guid><pubDate>Rabu 22 November 2017 14:00 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/22/18/1818482/emmerson-buaya-mnangagwa-calon-presiden-zimbabwe-yang-kontroversial-vvxZ7E8B41.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Emmerson Mnangagwa. (Foto: AFP/Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/22/18/1818482/emmerson-buaya-mnangagwa-calon-presiden-zimbabwe-yang-kontroversial-vvxZ7E8B41.jpg</image><title>Emmerson Mnangagwa. (Foto: AFP/Getty Images)</title></images><description>SUDAH menjadi rahasia umum di  Zimbabwe bahwa selama bertahun-tahun Emmerson Mnangagwa ingin  menggantikan Robert Mugabe sebagai presiden.
Mugabe sendiri tampak  plin-plan. Pada 2014, Mnangagwa diangkat sebagai wakil presiden. Oleh  istri Mugabe, Grace, mantan menteri kehakiman itu disebut sosok yang  &quot;setia dan disiplin&quot;. Pengangkatan tersebut meningkatkan spekulasi bahwa  Mnangagwa adalah 'putra mahkota' yang bakal menjadi presiden.
Namun, awal November ini, Mnangagwa dipecat dari posisinya. Menteri  Informasi Zimbabwe mengatakan sang wakil presiden &quot;menunjukkan perilaku  ketidaksetiaan&quot;. Pemecatan ini membuat pria yang dijuluki 'buaya'  tersebut balik menggigit melalui sokongan sahabatnya, Panglima Militer  Constantino Chiwenga.
Beberapa hari setelah Mnangagwa dipecat, militer Zimbabwe menguasai  Ibu Kota Harare dan menempatkan Mugabe sebagai tahanan rumah.
Kini,  setelah Mugabe mengundurkan diri, jalan terbuka bagi Mnangagwa untuk  berkuasa. Apalagi, ketua partai berkuasa Zanu-PF mengatakan kepada  kantor berita Reuters bahwa Mnangagwa akan diangkat  menjadi presiden &quot;dalam 48 jam&quot; mendatang.
(Baca juga: Mugabe Lengser, Rakyat Zimbabwe Berpesta dan Berdansa di Jalan Ibu Kota)
Meski  demikian, siapapun yang berharap bahwa Mnangagwa akan berbuat banyak  untuk mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia di Zimbabwe, kemungkinan  harus kecewa. Sejumlah kritikus menilai ada darah di tangan pria berusia 71 tahun itu.
Mereka yang terlibat dalam perang kemerdekaan pada 1970-an, seperti Mnangagwa, telah lama memonopoli kekuasaan di Zimbabwe. Didorong kekhawatiran bahwa kekuasaan itu akan lenyap jika Grace Mugabe menggantikan posisi suaminya, mereka pun bertindak.
Tatkala  Jenderal Constantino Chiwenga menyatakan menentang &quot;pemberangusan yang  menargetkan anggota partai yang punya latar belakang perang  kemerdekaan&quot;, dia jelas merujuk pada pemecatan terhadap sahabat  dekatnya, Mnangagwa.
&quot;Bila menyangkut melindungi revolusi kita, militer tidak akan ragu melangkah,&quot; tegas Chiwenga.
Skenario Es Krim
Peluang  Mnangagwa untuk berkuasa di Zimbabwe tampaknya sirna setelah dia dipecat  dari posisi sekretaris administrasi Partai Zanu-PF pada 2005. Padahal,  jabatan itu dapat membuatnya menempatkan para pendukungnya di  posisi-posisi kunci partai.
Namun, peluang berikutnya muncul pada  2008 setelah Mugabe mengalami kekalahan pada putaran pertama pemilihan  presiden dari pesaingnya Morgan Tsvangirai. Mnangagwa kemudian  menunjukkan kelihaiannya sebagai dalang kampanye politik Zanu-PF dengan  menjalin koneksi militer dan intelijen.
Akibatnya, militer dan  organisasi keamanan negara melakukan aksi kekerasan terhadap pendukung  oposisi sehingga ratusan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya  mengungsi dari rumah mereka. Tsvangirai kemudian menarik diri dari putaran kedua dan Mugabe terpilih kembali sebagai presiden.
Mnangagwa tidak pernah berkomentar mengenai tuduhan bahwa dia terlibat merencanakan aksi kekerasan. Kendati  demikian, seorang sumber di dalam divisi keamanan Partai Zanu-PF  mengamini Mnangagwa merupakan tokoh penghubung militer, intelijen, dan  partai
(Baca juga: Delapan Hari Penuh Drama, Presiden Zimbabwe Akhirnya Resmi Mengundurkan Diri)
&quot;Dia mengurusi pendanaan partai, mengatur kampanye yang  ada keterkaitannya dengan keamanan dan partai. Mugabe mendengar  omongannya untuk segala hal,&quot; kata sumber tersebut.
Namun, belakangan itu semua berubah. Persaingannya dengan istri presiden, Grace Mugabe, berujung pada  sebuah peristiwa Agustus lalu. Saat itu, Mnangagwa jatuh sakit dalam  pawai politik dan harus diangkut ke Afrika Selatan untuk mendapat  perawatan.
Para pendukungnya menuduh kelompok pesaing di tubuh  Partai Zanu-PF telah meracuninya dengan es krim buatan peternakan milik  Grace Mugabe.
Di detik-detik terakhir, toh Mnangagwa dan  jaringannya terlalu kuat. Mugabe sepakat mengundurkan diri, dan berakhir  pula persaingan Mnangagwa dan Ibu Negara.
Jalinan Kongo
Mnangagwa  dilahirkan di kawasan Zvishavane dari kelompok sub-etnik Karanga, yang  merupakan bagian terbesar dari komunitas Shona.
Sebagian dari  kelompok Karanga berpendapat inilah saatnya mereka berkuasa setelah  didominasi selama 37 tahun oleh Mugabe yang berasal dari kelompok etnik  Zezuru.
Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2001,  Mnangagwa dipandang sebagai &quot;perancang aktivitas komersial dari  Zanu-PF&quot;. Aktivitas yang dimaksud sebagian besar terkait dengan proyek militer Zimbabwe di Republik Demokratik Kongo.
Dalam  konflik Republik Demokratik Kongo, pasukan Zimbabwe mengintervensi dan  memihak kubu pemerintah. Selama periode itu, militer Zimbabwe dituduh  memanfaatkan konflik untuk menjarah sumber daya alam, termasuk berlian,  emas, dan bahan mineral lainnya.
Meski perannya besar dalam kegiatan pengumpulan dana, Mnangagwa tidak begitu disukai oleh para kader Partai Zanu-PF. Salah  seorang veteran perang kemerdekaan Zimbabwe yang pernah bekerja sama  dengan Mnangagwa selama bertahun-tahun, mengatakan:  &quot;Dia adalah pria  yang sangat keji, sangat keji.&quot;
Seorang pejabat Partai Zanu-PF melontarkan pertanyaan retorika ketika ditanya soal prospek Mnangagwa memimpin Zimbabwe. &quot;Anda pikir Mugabe buruk, namun pernahkah Anda berpikir bahwa siapapun yang menggantikannya bisa jadi lebih buruk?&quot;
Blessing Chebundo, kandidat dari kubu oposisi yang mengalahkan  Mnangagwa dalam pemilihan umum legislatif 2000, sepakat bahwa pesaingnya  bukanlah sosok penjunjung perdamaian. Chebundo hampir tewas  ketika barisan pemuda Partai Zanu-PF menculiknya dan menyiramnya dengan  bensin. Dia luput dari kematian karena para pemuda itu gagal menyalakan  korek api.
Reputasi menyeramkan Mnangagwa tercipta pada masa  perang sipil yang meletup gara-gara pertikaian antara kubu Partai Zanu  pimpinan Mugabe dan Partai Zapu pimpinan Joshua Nkomo. Sebagai  Menteri Keamanan Nasional, Mnangagwa mengepalai Organisasi Pusat  Intelijen (CIO) yang bekerja sama dengan militer untuk menekan Zapu.
Ribuan  warga sipil, sebagian besar kelompok etnik Ndebele yang dipandang  sebagai pendukung Zapu, tewas dibunuh. Ada pula cerita tentang penduduk  desa yang ditodong, dipaksa berjoget, dan meneriakkan yel-yel pro-Mugabe  di samping kuburan basah keluarga mereka.
Konflik itu berakhir melalui Kesepakatan Persatuan 1987 dan kedua partai berkoalisi dengan nama Zanu-PF.
Bagaimanapun  luka perang sipil masih menyakitkan bagi sebagian masyarakat dan  pejabat partai. Penduduk di kawasan Matabeleland, misalnya, enggan  mendukung Mnangagwa sebagai presiden.
Dilatih di China
Mnangagwa punya  banyak teman di kalangan veteran perang yang pada tahun 2000 lalu  memimpin aksi kekerasan terhadap petani kulit putih dan oposisi. Kalangan  tersebut memandang Mnangagwa sebagai salah satu tokoh pemimpin perang  kemerdekaan pada 1970-an. Predikat itu tambah mentereng mengingat  Mnangagwa pernah mendapat pelatihan militer di China. Dia dididik di  Sekolah Ideologi Beijing yang dikelola Partai Komunis China.
Pada  masa itu, China memang menjadi sekutu penting Mugabe. Bahkan, China juga  yang menyediakan senjata dan pelatihan untuk gerilyawan Zimbabwe.
Catatan biografi resmi Mnangagwa menyebut dia merupakan korban  kekerasan negara setelah ditahan pemerintah Rhodesia yang terdiri dari  kelompok minoritas kulit putih pada 1965. Penahanan itu dilakukan  lantaran 'gerombolan buaya' pimpinannya meledakkan kereta dekat Fort  Victoria (kini Masvingo).
&quot;Dia disiksa yang mengakibatkan kehilangan pendengaran di salah satu telinga,&quot; sebut biografi itu.
&quot;Teknik  penyiksaan yang dilakukan antara lain menggantung kakinya di  langit-langit dengan posisi kepala di bawah. Kerasnya penyiksaan ini  membuat dia tidak sadar selama berhari-hari.&quot;
Karena dia berusia di bawah 21 tahun ketika itu, dia tidak dieksekusi mati tapi dihukum penjara selama 10 tahun.
&quot;Dia  punya luka akibat masa itu. Dia muda dan berani. Mungkin itu yang  menyebabkan dia tidak peduli. Hal-hal keji terjadi padanya ketika dia  masih muda,&quot; ujar seorang teman dekat Mnangagwa, yang menolak namanya  disebutkan.</description><content:encoded>SUDAH menjadi rahasia umum di  Zimbabwe bahwa selama bertahun-tahun Emmerson Mnangagwa ingin  menggantikan Robert Mugabe sebagai presiden.
Mugabe sendiri tampak  plin-plan. Pada 2014, Mnangagwa diangkat sebagai wakil presiden. Oleh  istri Mugabe, Grace, mantan menteri kehakiman itu disebut sosok yang  &quot;setia dan disiplin&quot;. Pengangkatan tersebut meningkatkan spekulasi bahwa  Mnangagwa adalah 'putra mahkota' yang bakal menjadi presiden.
Namun, awal November ini, Mnangagwa dipecat dari posisinya. Menteri  Informasi Zimbabwe mengatakan sang wakil presiden &quot;menunjukkan perilaku  ketidaksetiaan&quot;. Pemecatan ini membuat pria yang dijuluki 'buaya'  tersebut balik menggigit melalui sokongan sahabatnya, Panglima Militer  Constantino Chiwenga.
Beberapa hari setelah Mnangagwa dipecat, militer Zimbabwe menguasai  Ibu Kota Harare dan menempatkan Mugabe sebagai tahanan rumah.
Kini,  setelah Mugabe mengundurkan diri, jalan terbuka bagi Mnangagwa untuk  berkuasa. Apalagi, ketua partai berkuasa Zanu-PF mengatakan kepada  kantor berita Reuters bahwa Mnangagwa akan diangkat  menjadi presiden &quot;dalam 48 jam&quot; mendatang.
(Baca juga: Mugabe Lengser, Rakyat Zimbabwe Berpesta dan Berdansa di Jalan Ibu Kota)
Meski  demikian, siapapun yang berharap bahwa Mnangagwa akan berbuat banyak  untuk mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia di Zimbabwe, kemungkinan  harus kecewa. Sejumlah kritikus menilai ada darah di tangan pria berusia 71 tahun itu.
Mereka yang terlibat dalam perang kemerdekaan pada 1970-an, seperti Mnangagwa, telah lama memonopoli kekuasaan di Zimbabwe. Didorong kekhawatiran bahwa kekuasaan itu akan lenyap jika Grace Mugabe menggantikan posisi suaminya, mereka pun bertindak.
Tatkala  Jenderal Constantino Chiwenga menyatakan menentang &quot;pemberangusan yang  menargetkan anggota partai yang punya latar belakang perang  kemerdekaan&quot;, dia jelas merujuk pada pemecatan terhadap sahabat  dekatnya, Mnangagwa.
&quot;Bila menyangkut melindungi revolusi kita, militer tidak akan ragu melangkah,&quot; tegas Chiwenga.
Skenario Es Krim
Peluang  Mnangagwa untuk berkuasa di Zimbabwe tampaknya sirna setelah dia dipecat  dari posisi sekretaris administrasi Partai Zanu-PF pada 2005. Padahal,  jabatan itu dapat membuatnya menempatkan para pendukungnya di  posisi-posisi kunci partai.
Namun, peluang berikutnya muncul pada  2008 setelah Mugabe mengalami kekalahan pada putaran pertama pemilihan  presiden dari pesaingnya Morgan Tsvangirai. Mnangagwa kemudian  menunjukkan kelihaiannya sebagai dalang kampanye politik Zanu-PF dengan  menjalin koneksi militer dan intelijen.
Akibatnya, militer dan  organisasi keamanan negara melakukan aksi kekerasan terhadap pendukung  oposisi sehingga ratusan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya  mengungsi dari rumah mereka. Tsvangirai kemudian menarik diri dari putaran kedua dan Mugabe terpilih kembali sebagai presiden.
Mnangagwa tidak pernah berkomentar mengenai tuduhan bahwa dia terlibat merencanakan aksi kekerasan. Kendati  demikian, seorang sumber di dalam divisi keamanan Partai Zanu-PF  mengamini Mnangagwa merupakan tokoh penghubung militer, intelijen, dan  partai
(Baca juga: Delapan Hari Penuh Drama, Presiden Zimbabwe Akhirnya Resmi Mengundurkan Diri)
&quot;Dia mengurusi pendanaan partai, mengatur kampanye yang  ada keterkaitannya dengan keamanan dan partai. Mugabe mendengar  omongannya untuk segala hal,&quot; kata sumber tersebut.
Namun, belakangan itu semua berubah. Persaingannya dengan istri presiden, Grace Mugabe, berujung pada  sebuah peristiwa Agustus lalu. Saat itu, Mnangagwa jatuh sakit dalam  pawai politik dan harus diangkut ke Afrika Selatan untuk mendapat  perawatan.
Para pendukungnya menuduh kelompok pesaing di tubuh  Partai Zanu-PF telah meracuninya dengan es krim buatan peternakan milik  Grace Mugabe.
Di detik-detik terakhir, toh Mnangagwa dan  jaringannya terlalu kuat. Mugabe sepakat mengundurkan diri, dan berakhir  pula persaingan Mnangagwa dan Ibu Negara.
Jalinan Kongo
Mnangagwa  dilahirkan di kawasan Zvishavane dari kelompok sub-etnik Karanga, yang  merupakan bagian terbesar dari komunitas Shona.
Sebagian dari  kelompok Karanga berpendapat inilah saatnya mereka berkuasa setelah  didominasi selama 37 tahun oleh Mugabe yang berasal dari kelompok etnik  Zezuru.
Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2001,  Mnangagwa dipandang sebagai &quot;perancang aktivitas komersial dari  Zanu-PF&quot;. Aktivitas yang dimaksud sebagian besar terkait dengan proyek militer Zimbabwe di Republik Demokratik Kongo.
Dalam  konflik Republik Demokratik Kongo, pasukan Zimbabwe mengintervensi dan  memihak kubu pemerintah. Selama periode itu, militer Zimbabwe dituduh  memanfaatkan konflik untuk menjarah sumber daya alam, termasuk berlian,  emas, dan bahan mineral lainnya.
Meski perannya besar dalam kegiatan pengumpulan dana, Mnangagwa tidak begitu disukai oleh para kader Partai Zanu-PF. Salah  seorang veteran perang kemerdekaan Zimbabwe yang pernah bekerja sama  dengan Mnangagwa selama bertahun-tahun, mengatakan:  &quot;Dia adalah pria  yang sangat keji, sangat keji.&quot;
Seorang pejabat Partai Zanu-PF melontarkan pertanyaan retorika ketika ditanya soal prospek Mnangagwa memimpin Zimbabwe. &quot;Anda pikir Mugabe buruk, namun pernahkah Anda berpikir bahwa siapapun yang menggantikannya bisa jadi lebih buruk?&quot;
Blessing Chebundo, kandidat dari kubu oposisi yang mengalahkan  Mnangagwa dalam pemilihan umum legislatif 2000, sepakat bahwa pesaingnya  bukanlah sosok penjunjung perdamaian. Chebundo hampir tewas  ketika barisan pemuda Partai Zanu-PF menculiknya dan menyiramnya dengan  bensin. Dia luput dari kematian karena para pemuda itu gagal menyalakan  korek api.
Reputasi menyeramkan Mnangagwa tercipta pada masa  perang sipil yang meletup gara-gara pertikaian antara kubu Partai Zanu  pimpinan Mugabe dan Partai Zapu pimpinan Joshua Nkomo. Sebagai  Menteri Keamanan Nasional, Mnangagwa mengepalai Organisasi Pusat  Intelijen (CIO) yang bekerja sama dengan militer untuk menekan Zapu.
Ribuan  warga sipil, sebagian besar kelompok etnik Ndebele yang dipandang  sebagai pendukung Zapu, tewas dibunuh. Ada pula cerita tentang penduduk  desa yang ditodong, dipaksa berjoget, dan meneriakkan yel-yel pro-Mugabe  di samping kuburan basah keluarga mereka.
Konflik itu berakhir melalui Kesepakatan Persatuan 1987 dan kedua partai berkoalisi dengan nama Zanu-PF.
Bagaimanapun  luka perang sipil masih menyakitkan bagi sebagian masyarakat dan  pejabat partai. Penduduk di kawasan Matabeleland, misalnya, enggan  mendukung Mnangagwa sebagai presiden.
Dilatih di China
Mnangagwa punya  banyak teman di kalangan veteran perang yang pada tahun 2000 lalu  memimpin aksi kekerasan terhadap petani kulit putih dan oposisi. Kalangan  tersebut memandang Mnangagwa sebagai salah satu tokoh pemimpin perang  kemerdekaan pada 1970-an. Predikat itu tambah mentereng mengingat  Mnangagwa pernah mendapat pelatihan militer di China. Dia dididik di  Sekolah Ideologi Beijing yang dikelola Partai Komunis China.
Pada  masa itu, China memang menjadi sekutu penting Mugabe. Bahkan, China juga  yang menyediakan senjata dan pelatihan untuk gerilyawan Zimbabwe.
Catatan biografi resmi Mnangagwa menyebut dia merupakan korban  kekerasan negara setelah ditahan pemerintah Rhodesia yang terdiri dari  kelompok minoritas kulit putih pada 1965. Penahanan itu dilakukan  lantaran 'gerombolan buaya' pimpinannya meledakkan kereta dekat Fort  Victoria (kini Masvingo).
&quot;Dia disiksa yang mengakibatkan kehilangan pendengaran di salah satu telinga,&quot; sebut biografi itu.
&quot;Teknik  penyiksaan yang dilakukan antara lain menggantung kakinya di  langit-langit dengan posisi kepala di bawah. Kerasnya penyiksaan ini  membuat dia tidak sadar selama berhari-hari.&quot;
Karena dia berusia di bawah 21 tahun ketika itu, dia tidak dieksekusi mati tapi dihukum penjara selama 10 tahun.
&quot;Dia  punya luka akibat masa itu. Dia muda dan berani. Mungkin itu yang  menyebabkan dia tidak peduli. Hal-hal keji terjadi padanya ketika dia  masih muda,&quot; ujar seorang teman dekat Mnangagwa, yang menolak namanya  disebutkan.</content:encoded></item></channel></rss>
