<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Malaria, Momok Menakutkan bagi Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Papua Nugini</title><description>Terserang penyakit malaria adalah momok yang menakutkan bagi sebagian besar prajurit Satgas TNI di perbatasan RI-Papua Nugini</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/22/340/1818636/malaria-momok-menakutkan-bagi-prajurit-tni-penjaga-perbatasan-ri-papua-nugini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/11/22/340/1818636/malaria-momok-menakutkan-bagi-prajurit-tni-penjaga-perbatasan-ri-papua-nugini"/><item><title>Malaria, Momok Menakutkan bagi Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Papua Nugini</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/11/22/340/1818636/malaria-momok-menakutkan-bagi-prajurit-tni-penjaga-perbatasan-ri-papua-nugini</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/11/22/340/1818636/malaria-momok-menakutkan-bagi-prajurit-tni-penjaga-perbatasan-ri-papua-nugini</guid><pubDate>Rabu 22 November 2017 16:54 WIB</pubDate><dc:creator>Edy Siswanto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/22/340/1818636/malaria-momok-menakutkan-bagi-prajurit-tni-penjaga-perbatasan-ri-papua-nugini-aEpnThOnBU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Seorang prajurit TNI terserang penyakit malaria hingga harus diberikan cairan infus (Foto: Edy Siswanto/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/22/340/1818636/malaria-momok-menakutkan-bagi-prajurit-tni-penjaga-perbatasan-ri-papua-nugini-aEpnThOnBU.jpg</image><title>Seorang prajurit TNI terserang penyakit malaria hingga harus diberikan cairan infus (Foto: Edy Siswanto/Okezone)</title></images><description>KEEROM - Terserang penyakit malaria adalah momok yang menakutkan bagi sebagian besar prajurit Satgas TNI dalam menjaga kedaulatan negara di wilayah perbatasan Republik Indonesia (RI)- Papua Nugini (PNG).

Hampir seluruh anggota Satgas di wilayah perbatasan, yakni Satgas 410/Aligoro, Satgas 512/QY, dan Satgas 432/WSJ yang menjaga perbatasan di sektor utara yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini mendapat atensi khusus dari pihak Kesehatan Kodam XVII/Cenderawasih dan Kesehatan Korem 172/PWY, untuk semua prajurit Satgas menjaga stamina, agar terhindar dari Malaria.

Danpos Kompi B Pos Yety Kabupaten Keerom Lettu Inf Aras, melalui Bintara Kesehatan Serka Amrin Amd. Kep, mengatakan, berdasarkan atas atensi pimpinan tersebut,  pihaknya mewanti-wanti kepada seluruh anggota pos untuk menjaga stamina.

&quot;Yang penting jangan tidur pagi, dan selalu olahraga untuk menjaga stamina, karena malaria menyerang saat stamina kita tidak stabil,&quot; kata Amri saat ditemui di Pos Yety, Rabu  (22/11/2017).

Diakuinya, hingga awal penugasan di wilayah perbatasan, sejak awal April 2017 hingga saat ini, anggota yang telah terserang penyakit malaria mencapai 80 persen.

&quot;Hampir seluruh anggota sudah terkena malaria di sini, itu di kompi kami, belum di kompi lain, hampir semua anggota sudah terkena malaria,&quot; ucapnya.

Sementara, untuk jenis parasit malaria yang menjangkit anggota, kata Amrin, adalah jenis Tropika dan Tersiana serta campuran antara spesies keduanya keduanya.

&quot;Yang banyak Tersiana, lebih separuh anggota terserang Tersiana, sementara Tropika ada sebagian, termasuk mix,&quot; ungkapnya.

Untuk penanganan, kata Amrin, awal anggota mengeluh sakit, langsung  dicek menggunakan alat deteksi Malaria RDT, jika kemudian positif akan  diberikan penanganan di pos, dan jika urung stabil maka langsung  dievakuasi ke Rumah Sakit TNI di Marthen Indey di Jayapura.

&quot;Penanganan Malaria harus cepat, terdeteksi positif malaria, langsung  dievakuasi ke RS Marthen Indey, tidak bisa lambat, karena ini  berbahaya, jika lambat penanganan bisa mengakibatkan meninggal dunia,  dan ini sudah terjadi pada anggota satgas lain,&quot; ungkapnya.

Untuk obat-obatan yang digunakan, terang Amrin, pihaknya dibekali  dengan obat OAM (Obat Anti Malaria) dan Primaquin, dari pihak Kesdam  XVII/Cenderawasih, termasuk bantuan obat-obatan dari pihak pemerintah  daerah.

&quot;Stok kami aman untuk obat-obatan, dan lain itu, kami juga dapat obat  kaki gajah dari Puskesmas Ptewi, karena di sini Endemik Kaki Gajah  juga,&quot; ucapnya.

Kopda Rizal, anggota Pos Yety mengaku sudah dua hari terjangkit malaria. Hal itu membuat dirinya harus dipasang cairan infus.

&quot;Sudah dua hari saya diinfus, dan sudah habiskan 4 cairan Ringe  Laktat (RL), ya sudah lebih baik,&quot; katanya sembari memegang cairan  infus.

Diketahui, wilayah perbatasan Papua dan Papua Nugini adalah wilayah  Endemik Malaria yang ditularkan melalui nyamuk Malaria. Bagi warga Papua  terserang Malaria menjadi hal yang lumrah, bahkan telah memiliki  imunitas atas parasit tersebut, namun berbeda bagi orang yang baru  pertama kali di Papua, terlebih jika masuk di wilayah pedalaman atau  pinggiran Papua, maka parasit ini akan sangat berbahaya jika lambat  penanganan.
</description><content:encoded>KEEROM - Terserang penyakit malaria adalah momok yang menakutkan bagi sebagian besar prajurit Satgas TNI dalam menjaga kedaulatan negara di wilayah perbatasan Republik Indonesia (RI)- Papua Nugini (PNG).

Hampir seluruh anggota Satgas di wilayah perbatasan, yakni Satgas 410/Aligoro, Satgas 512/QY, dan Satgas 432/WSJ yang menjaga perbatasan di sektor utara yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini mendapat atensi khusus dari pihak Kesehatan Kodam XVII/Cenderawasih dan Kesehatan Korem 172/PWY, untuk semua prajurit Satgas menjaga stamina, agar terhindar dari Malaria.

Danpos Kompi B Pos Yety Kabupaten Keerom Lettu Inf Aras, melalui Bintara Kesehatan Serka Amrin Amd. Kep, mengatakan, berdasarkan atas atensi pimpinan tersebut,  pihaknya mewanti-wanti kepada seluruh anggota pos untuk menjaga stamina.

&quot;Yang penting jangan tidur pagi, dan selalu olahraga untuk menjaga stamina, karena malaria menyerang saat stamina kita tidak stabil,&quot; kata Amri saat ditemui di Pos Yety, Rabu  (22/11/2017).

Diakuinya, hingga awal penugasan di wilayah perbatasan, sejak awal April 2017 hingga saat ini, anggota yang telah terserang penyakit malaria mencapai 80 persen.

&quot;Hampir seluruh anggota sudah terkena malaria di sini, itu di kompi kami, belum di kompi lain, hampir semua anggota sudah terkena malaria,&quot; ucapnya.

Sementara, untuk jenis parasit malaria yang menjangkit anggota, kata Amrin, adalah jenis Tropika dan Tersiana serta campuran antara spesies keduanya keduanya.

&quot;Yang banyak Tersiana, lebih separuh anggota terserang Tersiana, sementara Tropika ada sebagian, termasuk mix,&quot; ungkapnya.

Untuk penanganan, kata Amrin, awal anggota mengeluh sakit, langsung  dicek menggunakan alat deteksi Malaria RDT, jika kemudian positif akan  diberikan penanganan di pos, dan jika urung stabil maka langsung  dievakuasi ke Rumah Sakit TNI di Marthen Indey di Jayapura.

&quot;Penanganan Malaria harus cepat, terdeteksi positif malaria, langsung  dievakuasi ke RS Marthen Indey, tidak bisa lambat, karena ini  berbahaya, jika lambat penanganan bisa mengakibatkan meninggal dunia,  dan ini sudah terjadi pada anggota satgas lain,&quot; ungkapnya.

Untuk obat-obatan yang digunakan, terang Amrin, pihaknya dibekali  dengan obat OAM (Obat Anti Malaria) dan Primaquin, dari pihak Kesdam  XVII/Cenderawasih, termasuk bantuan obat-obatan dari pihak pemerintah  daerah.

&quot;Stok kami aman untuk obat-obatan, dan lain itu, kami juga dapat obat  kaki gajah dari Puskesmas Ptewi, karena di sini Endemik Kaki Gajah  juga,&quot; ucapnya.

Kopda Rizal, anggota Pos Yety mengaku sudah dua hari terjangkit malaria. Hal itu membuat dirinya harus dipasang cairan infus.

&quot;Sudah dua hari saya diinfus, dan sudah habiskan 4 cairan Ringe  Laktat (RL), ya sudah lebih baik,&quot; katanya sembari memegang cairan  infus.

Diketahui, wilayah perbatasan Papua dan Papua Nugini adalah wilayah  Endemik Malaria yang ditularkan melalui nyamuk Malaria. Bagi warga Papua  terserang Malaria menjadi hal yang lumrah, bahkan telah memiliki  imunitas atas parasit tersebut, namun berbeda bagi orang yang baru  pertama kali di Papua, terlebih jika masuk di wilayah pedalaman atau  pinggiran Papua, maka parasit ini akan sangat berbahaya jika lambat  penanganan.
</content:encoded></item></channel></rss>
