<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ali Abdullah Saleh, Presiden Pemersatu Yaman yang Berakhir Tragis</title><description>Selama tiga dekade berkuasa, Saleh terungkap mengumpulkan kekayaan sebesar USD32 miliar sampai USD60 miliar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/05/18/1825416/ali-abdullah-saleh-presiden-pemersatu-yaman-yang-berakhir-tragis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/12/05/18/1825416/ali-abdullah-saleh-presiden-pemersatu-yaman-yang-berakhir-tragis"/><item><title>Ali Abdullah Saleh, Presiden Pemersatu Yaman yang Berakhir Tragis</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/05/18/1825416/ali-abdullah-saleh-presiden-pemersatu-yaman-yang-berakhir-tragis</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/12/05/18/1825416/ali-abdullah-saleh-presiden-pemersatu-yaman-yang-berakhir-tragis</guid><pubDate>Selasa 05 Desember 2017 14:15 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/05/18/1825416/ali-abdullah-saleh-presiden-pemersatu-yaman-yang-berakhir-tragis-x38dORenM7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/05/18/1825416/ali-abdullah-saleh-presiden-pemersatu-yaman-yang-berakhir-tragis-x38dORenM7.jpg</image><title>Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. (Foto: Reuters)</title></images><description>MANTAN Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengambil alih Yaman Utara pada 1978 dan menjadi presiden Republik Yaman setelah unifikasi dua bagian negara pada 1990. Saleh adalah satu-satunya orang yang menjabat sebagai presiden Yaman bersatu dan terbukti merupakan seorang politikus ulung yang mampu memanipulasi sistem kesukuan di Yaman dan menangkal pemberontakan baik dari wilayah utara maupun selatan.
BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Dibunuh Karena Berkhianat
Al Jazeera melansir, Saleh sering memperlihatkan dirinya sebagai satu-satunya sosok yang dapat menyatukan Yaman. Selama lebih dari 33 tahun berkuasa, Saleh seringkali menuding lawan politiknya sebagai bagian dari konspirasi untuk menghancurkan negara.
Namun, kekuasaannya harus berakhir menyusul pemberontakan yang dipicu oleh Arab Spring pada 2011. Di tahun berikutnya, Saleh terpaksa mundur dan menandatangani kesepakatan yang ditengahi oleh Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pimpinan Arab Saudi.
Mundurnya Saleh dari perpolitikan Yaman tidak berlangsung lama karena pada 2015 dia kembali muncul dan membangun persekutuan dengan kelompok Houthi di tengah kancah perang sipil yang berkobar.
Persekutuan Saleh dengan Houthi berakhir pada Desember 2017 setelah pria berusia 75 tahun itu secara resmi memutuskan hubungan dan menyampaikan keterbukaannya untuk melakukan pembicaraan dengan Arab Saudi yang tengah berperang dengan Houthi. Langkah itu terbukti fatal bagi Saleh karena beberapa hari kemudian dia tewas dibunuh dalam sebuah serangan di pinggiran Kota Sanaa.
Ali Abdullah Saleh lahir pada Maret 1942 di Kota Bayt al Ahmar, di Distrik Sanhan, Kerajaan Yaman. Tanpa memiliki pendidikan yang tinggi, Saleh bergabung dengan militer dan menghabiskan awal kariernya di sana. Dia turut bertempur di pihak pemerintah republik menghadapi sisa-sisa kerajaan yang didukung Arab Saudi pada Perang Sipil Yaman Utara dari 1962 sampai 1970.
Setelah kemenangan pihak republik, Saleh tetap berada di dalam ketentaraan sampai 1978. Di masa itu, Yaman Utara memiliki&amp;nbsp; tiga presiden yang berganti dalam waktu yang sangat singkat dari 1974 sampai 1978. Dua presiden tewas dibunuh sementara yang ketiga melarikan diri setelah kurang dari sebulan menjabat.Setelah terbunuhnya Presiden Al Ghasmi, Saleh ditunjuk sebagai  anggota dewan kepresidenan sementara sebelum ditunjuk oleh parlemen  untuk menjadi Presiden Yaman dan komandan angkatan bersenjata pada Juli  1978.
Meski diprediksi tidak akan lama memerintah, Saleh ternyata dapat   bertahan dan mengonsolidasi kekuatannya di dalam partai berkuasa Kongres   Rakyat Umum (GPC) dan membeli dukungan dari suku-suku yang terpecah di   Yaman. Dengan dukungan tersebut, Saleh kembali terpilih pada 1982 dan   1988.

Screengrab video yang memperlihatkan jasad Ali Abdullah Saleh. (Foto: Middleeasteye)
Pada 1990 Saleh meraih pencapaian terbesar dalam kepresidenannya saat  kesepakatan penyatuan dengan Republik Demokratik Rakyat Yaman atau yang  dikenal dengan nama Yaman Selatan. Bagian selatan Yaman yang berhaluan  komunis itu memilih untuk bersatu setelah runtuhnya Uni Soviet dan  berakhirnya Perang Dingin.
Penyatuan itu tidak bertahan terlalu lama, terutama dikarenakan  ketimpangan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintahan yang didominasi  pejabat Yaman Utara. Sekira empat tahun setelah unifikasi, pada 1994,  perang sipil kembali pecah di Yaman dan Yaman Selatan kembali memisahkan  diri.
Tetapi, Saleh tidak membuang waktu dan segera mengerahkan tentaranya  untuk menghancurkan &amp;nbsp;militer Yaman selatan dan mengembalikannya ke dalam  Yaman yang bersatu. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Pemerintahan Saleh yang dipenuhi korupsi berakhir pada 2012 menyusul  Arab Spring yang melanda wilayah Timur Tengah dan Afrika utara setahun  sebelumnya.
Kegagalan Saleh sebagai presiden memicu protes selama berbulan-bulan  sejak Januari 2011 di Ibu Kota Sanaa. Tindakan brutal yang diambil Saleh  untuk menghentikan protes justru membuat para jenderalnya membelot dan  berbalik melindungi para demonstran.
Setelah berbagai upaya dilakukan Saleh untuk mempertahankan  kekuasaannya gagal, dia memutuskan untuk mengundurkan diri melalui  kesepakatan yang diperantarai Arab Saudi. Dia menyerahkan kekuasaan pada  wakilnya Abd Raboo Mansour Hadi sebagai ganti kekebalan atas tuntutan.Dia meninggalkan pemerintahan yang serba kekurangan tanpa kemampuan   menghadapi sejumlah tantangan termasuk persediaan air dan minyak yang   menipis serta populasi pemuda tanpa pekerjaan yang semakin meningkat.
Di akhir pemerintahannya, Dewan Keamanan PBB menemukan Saleh telah   mengumpulkan kekayaan antara USD32 miliar sampai USD60 miliar yang   disimpan di sedikitnya 20 negara selama lebih dari 3 dekade dia   berkuasa. Pemerintahannya bahkan dinilai sebagai salah satu rezim   terkorup di dunia. &amp;nbsp;
Pada 2015 setelah kelompok Houthi berhasil menyingkirkan Pemerintah   Yaman dari Ibu Kota Sanaa, Saleh kembali muncul dan menjalin persekutuan   dengan kelompok Syiah yang didukung Iran tersebut. Saleh bergabung   dengan Houthi setelah rumahnya di Sanaa menjadi sasaran serangan udara   koalisi pimpinan Arab Saudi yang turut terjun membantu pasukan   Pemerintah Yaman menghadapi Houthi.
Tetapi pada Desember 2017, Saleh muncul dan berbicara dalam pidato   yang disiarkan di televisi mengumumkan bahwa dirinya secara resmi   memutuskan hubungan dengan Houthi dan membuka peluang perundingan dengan   koalisi pimpinan Arab Saudi. Langkah ini tampaknya telah direncanakan   Saleh setelah dia dan pasukannya berusaha mengambil alih kendali Sanaa   dari sekutu Houthinya.
BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Tewas Diberondong 35 Peluru
Sayangnya, kali ini rencana Saleh justru membawanya kepada akhir yang   brutal di tangan militan Houthi. Keterangan dari beberapa sumber   menyebutkan, tidak kurang dari 35 peluru bersarang di tubuh dan   kepalanya setelah rombongannya dicegat dan diserang di pinggiran Kota   Sanaa.
Ali Abdullah Saleh tewas pada 4 Desember 2017 di usia 75 tahun.</description><content:encoded>MANTAN Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengambil alih Yaman Utara pada 1978 dan menjadi presiden Republik Yaman setelah unifikasi dua bagian negara pada 1990. Saleh adalah satu-satunya orang yang menjabat sebagai presiden Yaman bersatu dan terbukti merupakan seorang politikus ulung yang mampu memanipulasi sistem kesukuan di Yaman dan menangkal pemberontakan baik dari wilayah utara maupun selatan.
BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Dibunuh Karena Berkhianat
Al Jazeera melansir, Saleh sering memperlihatkan dirinya sebagai satu-satunya sosok yang dapat menyatukan Yaman. Selama lebih dari 33 tahun berkuasa, Saleh seringkali menuding lawan politiknya sebagai bagian dari konspirasi untuk menghancurkan negara.
Namun, kekuasaannya harus berakhir menyusul pemberontakan yang dipicu oleh Arab Spring pada 2011. Di tahun berikutnya, Saleh terpaksa mundur dan menandatangani kesepakatan yang ditengahi oleh Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pimpinan Arab Saudi.
Mundurnya Saleh dari perpolitikan Yaman tidak berlangsung lama karena pada 2015 dia kembali muncul dan membangun persekutuan dengan kelompok Houthi di tengah kancah perang sipil yang berkobar.
Persekutuan Saleh dengan Houthi berakhir pada Desember 2017 setelah pria berusia 75 tahun itu secara resmi memutuskan hubungan dan menyampaikan keterbukaannya untuk melakukan pembicaraan dengan Arab Saudi yang tengah berperang dengan Houthi. Langkah itu terbukti fatal bagi Saleh karena beberapa hari kemudian dia tewas dibunuh dalam sebuah serangan di pinggiran Kota Sanaa.
Ali Abdullah Saleh lahir pada Maret 1942 di Kota Bayt al Ahmar, di Distrik Sanhan, Kerajaan Yaman. Tanpa memiliki pendidikan yang tinggi, Saleh bergabung dengan militer dan menghabiskan awal kariernya di sana. Dia turut bertempur di pihak pemerintah republik menghadapi sisa-sisa kerajaan yang didukung Arab Saudi pada Perang Sipil Yaman Utara dari 1962 sampai 1970.
Setelah kemenangan pihak republik, Saleh tetap berada di dalam ketentaraan sampai 1978. Di masa itu, Yaman Utara memiliki&amp;nbsp; tiga presiden yang berganti dalam waktu yang sangat singkat dari 1974 sampai 1978. Dua presiden tewas dibunuh sementara yang ketiga melarikan diri setelah kurang dari sebulan menjabat.Setelah terbunuhnya Presiden Al Ghasmi, Saleh ditunjuk sebagai  anggota dewan kepresidenan sementara sebelum ditunjuk oleh parlemen  untuk menjadi Presiden Yaman dan komandan angkatan bersenjata pada Juli  1978.
Meski diprediksi tidak akan lama memerintah, Saleh ternyata dapat   bertahan dan mengonsolidasi kekuatannya di dalam partai berkuasa Kongres   Rakyat Umum (GPC) dan membeli dukungan dari suku-suku yang terpecah di   Yaman. Dengan dukungan tersebut, Saleh kembali terpilih pada 1982 dan   1988.

Screengrab video yang memperlihatkan jasad Ali Abdullah Saleh. (Foto: Middleeasteye)
Pada 1990 Saleh meraih pencapaian terbesar dalam kepresidenannya saat  kesepakatan penyatuan dengan Republik Demokratik Rakyat Yaman atau yang  dikenal dengan nama Yaman Selatan. Bagian selatan Yaman yang berhaluan  komunis itu memilih untuk bersatu setelah runtuhnya Uni Soviet dan  berakhirnya Perang Dingin.
Penyatuan itu tidak bertahan terlalu lama, terutama dikarenakan  ketimpangan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintahan yang didominasi  pejabat Yaman Utara. Sekira empat tahun setelah unifikasi, pada 1994,  perang sipil kembali pecah di Yaman dan Yaman Selatan kembali memisahkan  diri.
Tetapi, Saleh tidak membuang waktu dan segera mengerahkan tentaranya  untuk menghancurkan &amp;nbsp;militer Yaman selatan dan mengembalikannya ke dalam  Yaman yang bersatu. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Pemerintahan Saleh yang dipenuhi korupsi berakhir pada 2012 menyusul  Arab Spring yang melanda wilayah Timur Tengah dan Afrika utara setahun  sebelumnya.
Kegagalan Saleh sebagai presiden memicu protes selama berbulan-bulan  sejak Januari 2011 di Ibu Kota Sanaa. Tindakan brutal yang diambil Saleh  untuk menghentikan protes justru membuat para jenderalnya membelot dan  berbalik melindungi para demonstran.
Setelah berbagai upaya dilakukan Saleh untuk mempertahankan  kekuasaannya gagal, dia memutuskan untuk mengundurkan diri melalui  kesepakatan yang diperantarai Arab Saudi. Dia menyerahkan kekuasaan pada  wakilnya Abd Raboo Mansour Hadi sebagai ganti kekebalan atas tuntutan.Dia meninggalkan pemerintahan yang serba kekurangan tanpa kemampuan   menghadapi sejumlah tantangan termasuk persediaan air dan minyak yang   menipis serta populasi pemuda tanpa pekerjaan yang semakin meningkat.
Di akhir pemerintahannya, Dewan Keamanan PBB menemukan Saleh telah   mengumpulkan kekayaan antara USD32 miliar sampai USD60 miliar yang   disimpan di sedikitnya 20 negara selama lebih dari 3 dekade dia   berkuasa. Pemerintahannya bahkan dinilai sebagai salah satu rezim   terkorup di dunia. &amp;nbsp;
Pada 2015 setelah kelompok Houthi berhasil menyingkirkan Pemerintah   Yaman dari Ibu Kota Sanaa, Saleh kembali muncul dan menjalin persekutuan   dengan kelompok Syiah yang didukung Iran tersebut. Saleh bergabung   dengan Houthi setelah rumahnya di Sanaa menjadi sasaran serangan udara   koalisi pimpinan Arab Saudi yang turut terjun membantu pasukan   Pemerintah Yaman menghadapi Houthi.
Tetapi pada Desember 2017, Saleh muncul dan berbicara dalam pidato   yang disiarkan di televisi mengumumkan bahwa dirinya secara resmi   memutuskan hubungan dengan Houthi dan membuka peluang perundingan dengan   koalisi pimpinan Arab Saudi. Langkah ini tampaknya telah direncanakan   Saleh setelah dia dan pasukannya berusaha mengambil alih kendali Sanaa   dari sekutu Houthinya.
BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Tewas Diberondong 35 Peluru
Sayangnya, kali ini rencana Saleh justru membawanya kepada akhir yang   brutal di tangan militan Houthi. Keterangan dari beberapa sumber   menyebutkan, tidak kurang dari 35 peluru bersarang di tubuh dan   kepalanya setelah rombongannya dicegat dan diserang di pinggiran Kota   Sanaa.
Ali Abdullah Saleh tewas pada 4 Desember 2017 di usia 75 tahun.</content:encoded></item></channel></rss>
