<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspada! Purwakarta Punya Riwayat KLB Difteri&amp;#8206;</title><description>Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pernah memiliki riwayat penyebaran penyakit Difteri.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/06/525/1826097/waspada-purwakarta-punya-riwayat-klb-difteri-8206</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/12/06/525/1826097/waspada-purwakarta-punya-riwayat-klb-difteri-8206"/><item><title>Waspada! Purwakarta Punya Riwayat KLB Difteri&amp;#8206;</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/06/525/1826097/waspada-purwakarta-punya-riwayat-klb-difteri-8206</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/12/06/525/1826097/waspada-purwakarta-punya-riwayat-klb-difteri-8206</guid><pubDate>Rabu 06 Desember 2017 15:05 WIB</pubDate><dc:creator>Mulyana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/06/525/1826097/waspada-purwakarta-punya-riwayat-klb-difteri-8206-K7RBogank2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Taman Air Mancur Sri Baduga, Purwakarta (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/06/525/1826097/waspada-purwakarta-punya-riwayat-klb-difteri-8206-K7RBogank2.jpg</image><title>Taman Air Mancur Sri Baduga, Purwakarta (foto: Okezone)</title></images><description>PURWAKARTA - Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pernah memiliki riwayat penyebaran penyakit Difteri. Kasus ini, kali pertama ditemukan di wilayah Kecamatan Maniis. &amp;lrm;Kejadian itu, tepatnya pada 2007 lalu.&amp;lrm;
Data dari Dinas Kesehatan setempat mencatat, penyakit difteri pertama kali ini menyerang 22 warga Kampung Cijambu, Desa Pasir Jambu, Kecamatan Maniis yang secara teritorial merupakan wilayah perbatasan antara Purwakarta-Cianjur.
Bahkan, saat itu ada seorang anak lima tahun di wilayah itu meninggal dunia akibat terjangkit penyakit mematikan tersebut. S&amp;lrm;ejak saat itu, Purwakarta dinyatakan berstatus waspada Difteri.
Khususnya di wilayah perbatasan Maniis dengan wilayah yang masuk Cianjur. Meski demikian, Kecamatan Maniis bukan merupakan wilayah endemis difteri. S&amp;lrm;tatus waspada ini, hanya karena disebabkan penyakit tersebut baru ditemukan di wilayah tersebut.
Di 2016 lalu, &amp;lrm;kejadian tersebut terulang. Saat itu, ada sekitar 32 pasien yang terpapar difteri. Bahkan, seorang anak warga Desa Cisalada, Kecamatan Jatiluhur, meninggal dunia akibat penyakit ini. Dengan adanya kasus itu, maka difteri di Purwakarta menjadi kejadian luar biasa (KLB).&amp;lrm;
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMi8wNC8xLzEwNjE0Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
K&amp;lrm;epala Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Anne Hediana Koesoemah mengatakan, kasus ini kembali terkuak, ketika ada salah seorang pasien yang masih anak-anak, dibawa ke RSUD. Ternyata, anak tersebut terinfeksi difteri. Karena itu, sejak 2016 lalu warga di Desa Cisalada mendapatkan perhatian ekstra. Bahkan, yang terpapar harus diisolasi terlebih dulu. Sampai pengobatannya selesai.
&quot;&amp;lrm;Kasus ini, muncul pada September 2016 sampai pertengahan 2017. Tetapi, setelah itu  sudah tidak ada kasus baru lagi,&quot; ujar Anne, Rabu (6/12/2017).
Menurutnya, kasus difteri itu muncul karena ada sejumlah penyebab. Salah satunya, masyarakat di salah satu kampung di Desa Cisalada itu, dulu sempat menolak untuk membawa anaknya divaksinasi. Dengan alasan, pemahaman agama bahwa vaksin tersebut haram.
J&amp;lrm;adi, warga yang aslinya pendatang dari Cianjur itu, yang kini menetap di kampung tersebut, tidak bersedia membawa anaknya ke posyandu ataupun bidan desa. Tetapi, begitu ada kasus, mereka membawa anak tersebut ke dokter.
Namun, karena kondisinya sudah parah, nyawa anak itu tak bisa diselematkan. Sejak saat itu, ramai-ramailah warga tersebut memeriksakan diri.
Kemudian, petugas juga mendatangi kampung tersebut. Sebenarnya, lanjut Anne, di akhir 2016 ini warga yang diduga terinfeksi difteri ada 32 orang. Setelah diperiksakan di RSUD, 50 persennya positif difteri. Dari yang positif itu, tiga di antaranya merupakan petugas kesehatan.Akan tetapi, lanjut Anne, ada hikmah di balik setiap musibah.  Awalnya, warga di kampung tersebut menutup diri untuk pemberian  vaksinasi, saat ini perlahan-lahan sudah mulai membuka diri. Hal itu,  tentunya karena kerja sama semua pihak lintas sektoral.
&quot;Alhamdulillah, sekarang sedikit demi sedikit pemahaman warga di Desa  Cisalada soal vaksinasi sudah berubah. Warga sudah mau divaksin  meskipun belum 100 persen,&quot; kata dia menambahkan.&amp;lrm;
Untuk pengobatan, pihaknya sudah menyiapkannya. Sesuai prosedur yang  berlaku. Sekedar informasi, lanjut Anne, upaya pencegahan penularan  penyakit ini cukup mudah. Salah satunya, dengan membiasakan pola hidup  bersih. Karena, tubuh dan lingkungan yang kotor bisa jadi sarang  penyakit.
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxMS8xMC8xNi8yMi8xNzk5MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Jika ada tanda-tanda anggota keluarga yang demam tinggi, nyeri di  daerah tenggorokan, ada pembengkakan getah bening, serta lemas,  diwaspadai sebagai Suspect difteri. Makanya, harus segera dibawa berobat  ke bidan ataupun dokter terdekat.
Dia menambahkan, Difteri merupakan penyakit menular dan hanya bisa  disembuhkan dengan imunisasi DPT (difteri, pertusis dan tetanus).&amp;lrm;  Penyakit ini, menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, terutama  anak-anak.
Apalagi, jika mereka belum pernah divaksin. Bakteri dari penyakit  tersebut, akan membuat gangguan di sistem pernafasan dan gangguan otot  jantung. Yang terparah, bisa menyebabkan kematian.&amp;lrm;</description><content:encoded>PURWAKARTA - Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pernah memiliki riwayat penyebaran penyakit Difteri. Kasus ini, kali pertama ditemukan di wilayah Kecamatan Maniis. &amp;lrm;Kejadian itu, tepatnya pada 2007 lalu.&amp;lrm;
Data dari Dinas Kesehatan setempat mencatat, penyakit difteri pertama kali ini menyerang 22 warga Kampung Cijambu, Desa Pasir Jambu, Kecamatan Maniis yang secara teritorial merupakan wilayah perbatasan antara Purwakarta-Cianjur.
Bahkan, saat itu ada seorang anak lima tahun di wilayah itu meninggal dunia akibat terjangkit penyakit mematikan tersebut. S&amp;lrm;ejak saat itu, Purwakarta dinyatakan berstatus waspada Difteri.
Khususnya di wilayah perbatasan Maniis dengan wilayah yang masuk Cianjur. Meski demikian, Kecamatan Maniis bukan merupakan wilayah endemis difteri. S&amp;lrm;tatus waspada ini, hanya karena disebabkan penyakit tersebut baru ditemukan di wilayah tersebut.
Di 2016 lalu, &amp;lrm;kejadian tersebut terulang. Saat itu, ada sekitar 32 pasien yang terpapar difteri. Bahkan, seorang anak warga Desa Cisalada, Kecamatan Jatiluhur, meninggal dunia akibat penyakit ini. Dengan adanya kasus itu, maka difteri di Purwakarta menjadi kejadian luar biasa (KLB).&amp;lrm;
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMi8wNC8xLzEwNjE0Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
K&amp;lrm;epala Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Anne Hediana Koesoemah mengatakan, kasus ini kembali terkuak, ketika ada salah seorang pasien yang masih anak-anak, dibawa ke RSUD. Ternyata, anak tersebut terinfeksi difteri. Karena itu, sejak 2016 lalu warga di Desa Cisalada mendapatkan perhatian ekstra. Bahkan, yang terpapar harus diisolasi terlebih dulu. Sampai pengobatannya selesai.
&quot;&amp;lrm;Kasus ini, muncul pada September 2016 sampai pertengahan 2017. Tetapi, setelah itu  sudah tidak ada kasus baru lagi,&quot; ujar Anne, Rabu (6/12/2017).
Menurutnya, kasus difteri itu muncul karena ada sejumlah penyebab. Salah satunya, masyarakat di salah satu kampung di Desa Cisalada itu, dulu sempat menolak untuk membawa anaknya divaksinasi. Dengan alasan, pemahaman agama bahwa vaksin tersebut haram.
J&amp;lrm;adi, warga yang aslinya pendatang dari Cianjur itu, yang kini menetap di kampung tersebut, tidak bersedia membawa anaknya ke posyandu ataupun bidan desa. Tetapi, begitu ada kasus, mereka membawa anak tersebut ke dokter.
Namun, karena kondisinya sudah parah, nyawa anak itu tak bisa diselematkan. Sejak saat itu, ramai-ramailah warga tersebut memeriksakan diri.
Kemudian, petugas juga mendatangi kampung tersebut. Sebenarnya, lanjut Anne, di akhir 2016 ini warga yang diduga terinfeksi difteri ada 32 orang. Setelah diperiksakan di RSUD, 50 persennya positif difteri. Dari yang positif itu, tiga di antaranya merupakan petugas kesehatan.Akan tetapi, lanjut Anne, ada hikmah di balik setiap musibah.  Awalnya, warga di kampung tersebut menutup diri untuk pemberian  vaksinasi, saat ini perlahan-lahan sudah mulai membuka diri. Hal itu,  tentunya karena kerja sama semua pihak lintas sektoral.
&quot;Alhamdulillah, sekarang sedikit demi sedikit pemahaman warga di Desa  Cisalada soal vaksinasi sudah berubah. Warga sudah mau divaksin  meskipun belum 100 persen,&quot; kata dia menambahkan.&amp;lrm;
Untuk pengobatan, pihaknya sudah menyiapkannya. Sesuai prosedur yang  berlaku. Sekedar informasi, lanjut Anne, upaya pencegahan penularan  penyakit ini cukup mudah. Salah satunya, dengan membiasakan pola hidup  bersih. Karena, tubuh dan lingkungan yang kotor bisa jadi sarang  penyakit.
&amp;lt;div&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxMS8xMC8xNi8yMi8xNzk5MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Jika ada tanda-tanda anggota keluarga yang demam tinggi, nyeri di  daerah tenggorokan, ada pembengkakan getah bening, serta lemas,  diwaspadai sebagai Suspect difteri. Makanya, harus segera dibawa berobat  ke bidan ataupun dokter terdekat.
Dia menambahkan, Difteri merupakan penyakit menular dan hanya bisa  disembuhkan dengan imunisasi DPT (difteri, pertusis dan tetanus).&amp;lrm;  Penyakit ini, menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, terutama  anak-anak.
Apalagi, jika mereka belum pernah divaksin. Bakteri dari penyakit  tersebut, akan membuat gangguan di sistem pernafasan dan gangguan otot  jantung. Yang terparah, bisa menyebabkan kematian.&amp;lrm;</content:encoded></item></channel></rss>
