<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sepanjang 2017, Rentetan Bencana di Indonesia Buat 3,2 Juta Warga Mengungsi &amp; Menderita</title><description>Sepanjang 2017, sejumlah provinsi di Indonesia banyak dilanda bencana  alam. Mulai dari bencana banjir, longsor hingga puting beliung.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/11/340/1828784/sepanjang-2017-rentetan-bencana-di-indonesia-buat-3-2-juta-warga-mengungsi-menderita</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/12/11/340/1828784/sepanjang-2017-rentetan-bencana-di-indonesia-buat-3-2-juta-warga-mengungsi-menderita"/><item><title>Sepanjang 2017, Rentetan Bencana di Indonesia Buat 3,2 Juta Warga Mengungsi &amp; Menderita</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/11/340/1828784/sepanjang-2017-rentetan-bencana-di-indonesia-buat-3-2-juta-warga-mengungsi-menderita</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/12/11/340/1828784/sepanjang-2017-rentetan-bencana-di-indonesia-buat-3-2-juta-warga-mengungsi-menderita</guid><pubDate>Senin 11 Desember 2017 21:50 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/11/340/1828784/sepanjang-2017-rentetan-bencana-di-indonesia-buat-3-2-juta-warga-mengungsi-menderita-MeKPVBSk8A.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Antara</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/11/340/1828784/sepanjang-2017-rentetan-bencana-di-indonesia-buat-3-2-juta-warga-mengungsi-menderita-MeKPVBSk8A.JPG</image><title>Foto: Antara</title></images><description>JAKARTA - Sepanjang 2017, sejumlah provinsi di Indonesia banyak dilanda bencana alam. Mulai dari bencana banjir, longsor hingga puting beliung. Begitu juga dengan bencana geologi, seperti gempa bumi dan erupsi gunung api.

Dari data yang terhimpun Okezone, di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kejadian bencana selama 2017 terhitung sejak, Minggu 1 Januari 2017 hingga Senin 20 November 2017, terdapat 2.057 bencana. Dampak bencana tersebut, memakan korban jiwa 282 orang meninggal, 864 orang luka-luka dan 3.209.513 orang mengungsi dan menderita.

Tidak hanya itu, dampak lainnya juga adanya kerusakan bangunan. Tercatat 24.282 unit rumah rusak. Rinciannya, 4.594 rusak berat, 4.164 rusak sedang dan 15.524 rusak ringan.

(Baca Juga: Selama 2017, Sebanyak 2.057 Bencana Sebabkan 282 Jiwa Meninggal dan 3,2 Juta Jiwa Mengungsi)

Sementara, 313.901 unit rumah terendam. Sebanyak 1.611 unit fasilitas publik meliputi 974 unit fasilitas pendidikan, 546 unit fasilitas peribadatan dan 91 fasilitas kesehatan.

Sepanjang tahun ini, sejumlah provinsi dilanda bencana alam. Berikut daerah-daerah yang dilanda bencana dari Januari 2017 hingga 7 Desember 2017.

1. Gempa

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/08/15/41201/220421_medium.jpg&quot; alt=&quot;400 Siswa Sekolah Dasar Ikuti Simulasi Gempa Bumi dan Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Banyak gempa bumi yang melanda Indonesia sepanjang 2017, dari sekian banyak gempa tersebut ribuan hingga puluhan orang terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahkan sebagian di antara mereka harus kehilangan tempat tinggal

-Gempa Deli Serdang

Gempa bumi terjadi di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara, pada Senin 16 Januari 2017, sekira pukul 19.42 WIB.

Gempa dengan kekuatan 5,6 SR itu berpusat 28 kilometer (KM) barat daya Kabupaten Deli Serdang. Sumber gempa berasal dari sesar di darat dengan kedalaman 10 km.

(Baca Juga: Gempa di Deliserdang Berlangsung Dua Kali)
 

Posko BNPB mengkonfirmasi dampak gempa. Gempa dirasakan keras di Deli Serdang, Binjai dan Karo sekitar 5-8 detik. Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah.

Gempa juga dirasakan dengan intensitas sedang di Kota Medan. Masyarakat Kota Medan berhamburan keluar rumah.

&quot;Dilaporkan beberapa rumah mengalami kerusakan,&quot; kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Senin 16 Januari 2017.

Hampir setiap hari wilayah Indonesia diguncang gempa bumi. Gempa berkekuatan 5,3 SR, dengan pusat gempa di laut, pada kedalaman 15 km di 52 km barat laut Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara. Goyang gempa itu terjadi pada Selasa 21 November 2017, sekira pukul 06.41 WIB.

(Baca Juga: Deliserdang Diguncang 29 Kali Gempa)

Dampak gempa merusak bangunan di 5 desa yaitu Desa Posi-Posi, Desa Leo-Leo Rao, Desa Aru Burung, Deaa Lou Madoro, Desa Saminya Mao dan Desa Waya Bula di Kecamatan Morotai Selatan Barat Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara.

Satu orang meninggal dunia dan 294 bangunan rusak akibat gempa bumi. Total kerusakan akibat gempa bumi, 160 rumah rusak berat, 11 rumah rusak sedang, 108 rumah rusak ringan, 1 pustu rusak berat, 12 gereja dan satu sekolah dasar rusak ringan.

- Gempa Bengkulu

Bergeser ke Bengkulu. Gempa tektonik juga mengguncang Kabupaten  Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Jumat 20 oktober 2017. Guncangan gempa di  daerah ini terjadi sebanyak dua kali, yang hanya berselang satu menit.

Untuk gempa pertama terjadi pada sekira pukul 07.36 WIB, dan gempa  kedua terjadi sekira pukul 07.37 WIB. Akibat gempa tersebut, pemukiman  penduduk di sekitar wilayah Kelurahan Pasar Ujung Kecamatan Kepahiang  Kabupaten Kepahiang, mengalami kerusakan ringan. Kerusakan itu berupa  retakan pada dinding dan pagar di beberapa rumah.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/08/15/41201/220423_medium.jpg&quot; alt=&quot;400 Siswa Sekolah Dasar Ikuti Simulasi Gempa Bumi dan Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Kepala Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Litman mengatakan,  berdasarkan hasil analisis BMKG gempa pertama berkekuatan 3,0 Skala  Richter (SR), terletak pada episenter dengan koordinat 3.66 Lintang  Selatan (LS) dan 102.58 Bujur Timur (BT), pada jarak 2 km Barat,  Kabupaten Kepahiang.

Kemudian, terang Litman, gempa kedua berkekuatan 2,8 SR, yang  terletak pada episenter dengan koordinat 3.60 LS dan 102.65 BT, tepatnya  pada jarak 8 kilometer (KM) Timut Laut, Kepahiang.

(Baca Juga: Diguncang Gempa Beruntun, Dinding Rumah Warga Kapahiang Retak-Retak)

&quot;Kedua gempa bumi tersebut terjadi pada kedalaman 1 km,&quot; kata Litman, saat dihubungi Okezone, Jumat 20 Oktober 2017.

Pada awal Desember tepatnya, pada Rabu 6 Desember 2017. Gempa  tektonik berkekuatan 5,0 SR juga mengguncang Kabupaten Lebong Provinsi  Bengkulu, sekira pukul 03.46 WIB.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempabumi berkekuatan M=5,0 terjadi  dengan koordinat episenter pada 3,18 Lintang Selatan (LS) dan 102,11  Bujur Timur (BT).

Tepatnya, berlokasi didarat pada jarak 12 kilometer (KM) arah barat daya Kota Muara Aman Kabupaten Lebong, pada kedalaman 10 km.

Dampak gempabumi pada peta tingkat guncangan (shakemap)BMKG  menunjukkan, dampak gempabumi berupa guncangan dirasakan di daerah  Lebong II SIG-BMKG (III-IV MMI).

Lalu, Kota Lubuk Linggau Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu Utara  II SIG-BMKG (III MMI), Kota Bengkulu II SIG-BMKG (II-III MMI). Hal ini  sesuai dengan informasi yang dirasakan dari masyarakat.

Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebong  Provinsi Bengkulu menghitung, tidak kurang dari 41 kepala keluarga (KK)  di Kecamatan Lebong Atas dan Kecamatan Pelabai, mengungsi.

Puluhan KK itu mengungsi, lantaran rumah mereka mengalami rusak berat paska digoyang gempa.

&quot;36 unit rumah di Lebong Atas rumah berat dan 5 unit rumah di  Kecamatan Pelabai juga mengalami rusak berat. Sehingga mereka mengungsi  ke tempat yang lebih aman,&quot; kata Plt Kepala BPBD Kabupaten Lebong,  Fakrurozi, saat dikonfirmasi via telefon, Kamis 7 Desember 2017.

Gempa itu juga membuat rumah warga mengalami rusak. Seperti, di  Kecamatan Lebong Atas, sebanyak 36 unit rumah mengalami rusak berat.  Kemudian, 77 unit rumah mengalami rusak sedang dan 105 rumah mengalami  ringan.

Kemudian, di Kecamatan Pelabai, rumah yang mengalami rusak berat  sebanyak 5 unit, rusak sedang 2 unit dan ringan 22 unit. Sehingga total  kerusakan di Kecamatan Pelabai sebanyak 29 unit.

&quot;Total kerusakan dari berat, sedang dan ringan didua kecamatan  mencapai 247 unit. Itu termasuk sarana pendidikan dan sarana ibadah,&quot;  kata Fakrurozi.

- Gempa Poso

Gempa bumi juga kembali melanda Palu Provinsi Sulawesi Tengah, pada   Senin 29 Mei 2017, sekira pukul 21.35 WIB. Di mana pusat gempa di darat   pada kedalaman 10 km.

Gempa berkekuatan 6,6 SR itu berpusat gempa di 38 kilometer (KM)   Barat Laut Poso, 58 km Timur Laut Sigi atau 75 km di Tenggara Palu   Provinsi Sulawesi Tengah.

Gempa susulan terjadi, pada Senin 29 Mei 2017, sekira pukul 21.53   WIB. Gempa itu berkekuatan 5 SR berpusat di 51 km Timur Laut Sigi   Provinsi Sulawesi Tengah, pada kedalaman 10 km.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/06/01/37980/212111_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gempa Berkekuatan 6,6 SR di Poso Robohkan Bangunan Sekolah&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)   Sulawesi Tengah, rumah warga di wilayah Kabupaten Poso mengalami   retak-retak atau rusak ringan. Dampak kerusakan akibat gempa kembali   bertambah. Di mana korban gempa tercatat sebanyak 4 orang luka berat dan   21 orang luka ringan.

Tidak ada korban jiwa meninggal dunia. Sementara 348 bangunan   mengalami kerusakan yang meliputi antara lain 168 rumah rusak berat, 143   rumah rusak ringan, 1 gereja rusak berat, 5 gereja rusak ringan.

(Baca Juga: Dahsyat, BMKG: 12 Gempa Bumi Susulan Guncang Poso)

Kemudian, 11 sekolah rusak berat, 2 sekolah rusak ringan, 2 masjid   rusak ringan, dan 6 perkantoran mengalami kerusakan. Sebanyak 328 Kepala   Keluarga (KK) mengungsi karena bangunan rumah rusak dan takut adanya   gempa susulan.

2. Gunung Meletus

Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Dari ratusan gunungapi itu, 2    gunung api berstatus awas level 4 dan 17 gunung api berstatus waspada    level 2 sepanjang 2017. Sementara, gunung api lainnya berstatus  normal.

Dua gunung status Awas tersebut, gunung Agung di Kabupaten Karangasem    Provinsi Bali yang naik status Awas sejak Jumat 22 September 2017 dan    Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara status Awas    sejak Selasa 2 Juni 2015.

Kedua gunung tersebut tidak dapat diprediksi kapan akan meletus. Di    mana Gunung Sinabung tidak dapat diprediksikan kapan akan berhenti    meletus.

&quot;13 persen populasi gunungapi aktif di dunia terdapat di Indonesia    dengan segala berkah dan musibah yang menyertai setiap letusannya,&quot;    sampai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho,    Rabu 4 Oktober 2017, dalam keterangan yang diterima Okezone.

- Erupsi Gunung Agung

Geliat Gunung Agung kembali mengalami erupsi, pada Sabtu 25 November    2017, sekira pukul 17.30 WITA. Kolom abu teramati berwarna    kelabu-kehitaman bertekanan sedang setinggi 1.500 m di atas puncak    Gunung Agung.

Erupsi secara visual teramati dari daerah Culik dan Batulompeh ke arah Barat- Barat daya, asap kelabu-kehitaman tekanan sedang.

Erupsi Gunung Agung pertama terjadi, pada Selasa 21 November 2017,    sekira pukul 17.05 WITA, dengan tinggi asap kelabu tebal dengan tekanan    sedang maksimum 700 meter.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/12/08/45358/234671_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gunung Agung Semburkan Asap Bercampur Abu Vulkanik&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Dua hari kemudian, Senin 27 November 2017, PVMBG menaikkan status    Gunung Agung dari Siaga level 3 menjadi Awas level 4, terhitung pukul    06.00 WITA.

Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops)    BPBD Provinsi Bali, jumlah pengungsi per Rabu 29 November 2017,  sebanyak   43.358 jiwa yang tersebar di 229 titik pengungsian.

Terakhir, Gunung Agung kembali meletus pada pukul 07.59 WITA, pada    Jumat 8 Desember 2017. Secara visual Gunung Agung nampak ada asap    berwarna kelabu tebal bertekanan sedang dan ketinggi 2.100 meter di atas    puncak condong ke arah barat.

&quot;Ya Gunung Agung kembali erupsi,&quot; kata Kepala Bidang Mitigasi Pusat    Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, I Gede Suantika, Jumat 8 Desember    2017.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMi8wNC8xLzEwNjEyMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Bencana tersebut juga berdampak pada ekonomi. Seperti, dampak    kerugian ekonomi peningkatan status Awas Gunung Agung di Bali mencapai    lebih dari Rp2 triliun. Jumlah total kerugian dan kerusakan ekonomi    akibat bencana belum dilakukan perhitungan.

&quot;Pemda dan masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana,&quot; kata Sutopo, Senin 20 November 2017.

Lain halnya dengan Gunung Sinabung, sejak status Awas hingga saat ini    hampir setiap hari meletus. Letusan disertai dengan lava pijar, gempa    guguran, awan panas dan hujan abu. Hingga Agustus 2017, BNPB mencatat    7.214 jiwa atau 2.038 KK berada di 8 pos pengungsian. Namun, hanya  2.863   jiwa yang tinggal di pos pengungsian.

&quot;Volume kubah lava berdasar hasil pengukuran 19 Juli 2017 sudah mencapai 2,3 juta meter kubik,&quot; ujar Sutopo.

Kamis 12 Oktober 2017, Gunung Sinabung kembali meletus. Selain    melontarkan abu vulkanik, letusan juga disertai dengan gempa guguran,    lava pijar dan luncuran awan panas.

Pos Pengamatan Gunung Sinabung PVMBG melaporkan letusan dengan tinggi    kolom abu vulkanik 2.000 meter yang diikuti awan panas guguran,  dengan   jarak luncur 1.500 meter ke arah Selatan dan 2.000 meter ke  arah Timur  -  Tenggara.

&quot;Tidak ada korban jiwa dan penambahan jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung,&quot; kata Sutopo, Kamis 12 Oktober 2017.

- Erupsi Kawah Sileri

Pada Minggu 2 Juli 2017, sekira pukul 12.00 WIB, kawah Sileri Dieng     meletus freatik setinggi sekira 50 Meter. Kawah yang terdapat di     Kompleks Gunung Dieng Desa Kepakisan Kecamatan Batur Kabupaten     Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, itu tiba-tiba meletus.

Saat itu, letusan disertai dengan material lahar dingin, lumpur dan     asap hingga mencapai 50 meter, sehingga mengenai wisatawan yang berada     di sekitar Kawah Sileri.

Tipe letusan freatik merupakan letusan gas atau embusan asap dan material, yang dipicu tekanan gas dibawah permukaan.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8wNy8wMy8xLzk5MDAwLzAv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Berdasarkan laporan BPBD Banjarnegara sebanyak 17 orang pengunjung     atau wisatawan berada di lokasi mengalami luka-luka. Empat orang     menderita luka-luka dan dirawat di Puskesmas I Batur. Beruntung, saat     kejadian tidak ada korban jiwa meninggal dunia.

&quot;Kawah Sileri merupakan kawah yang paling aktif dan pernah meletus     beberapa kali. Sempat tercatat tahun 1939, 1944, 1964, 1984, 2003,  2009.    Hingga saat ini status Gunung Dieng masih normal aktif,&quot; ujar  Kepala    Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho,  Minggu 2  Juli   2017.

Pada bulan ini, dari 67 gunungapi aktif yang dipantau PVMBG sebanyak     49 gunungapi berstatus Normal level I, 17 gunungapi berstatus Waspada     level II dan satu gunung berstatus Awas level IV, Gunung Sinabung.


3. Banjir

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyabutkan      bahwa terdapat 386 kabupaten/kota berada di zona bahaya sedang hingga      tinggi gempa bumi, 233 kabupaten dan kota berada di daerah rawan   tsunami    di Indonesia.

Selain itu, 75 kabupaten dan kota terancam erupsi gunung api.      Kemudian, 315 berada di daerah bahaya sedang-tinggi banjir dan 274 di      daerah bahaya sedang-tinggi bencana longsor.

- Banjir Tebing Tinggi

Ribuan rumah terendam banjir dan ribuan jiwa terdampak di Kota Tebing      Tinggi, Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labura Provinsi Sumatera    Utara,   pada Sabtu 16 September 2017.

Meluapnya Sungai Padang dan Sungai Bahilang akibat hujan lebat      menyebabkan banjir melanda 5 kecamatan di Kota Tebing Tinggi. Sehingga      1.958 rumah terendam banjir dan 7.768 jiwa terdampak banjir, sejak    Sabtu   16 September 2017, sekira pukul 02.00 WIB.

- Banjir Limapuluh Kota

Bencana banjir dan longsor juga menerjang Kabupaten Limapuluh Kota      Provinsi Sumatera Barat, pada Jumat 3 Maret 2017. Hujan lebat secara      terus menerus menyebabkan Sungai Sumpur meluap dan longsor di tebing   dan    perbukitan.

Sebanyak 8 kecamatan dan 13 nagari terdampak langsung dari banjir dan      longsor yang meliputi Kecamatan Pangkalan, Kapur IX, Mungka, Harau,      Payakumbuh, Lareh Sago Halaban, Sulikik, dan Empat Barisan.

Hingga Sabtu 4 Maret 2017, korban jiwa akibat longsor di Kabupaten      Limapuluh Kota sebanyak 5 orang meninggal dunia. Dampak lainnya,   ratusan    rumah terendam banjir seperti di 150 rumah di Jorong Ranah   Pasar, 50    unit rumah di Jorong Ranah Baru, 50 unit rumah di Jorong   Abai.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/03/04/34232/200500_medium.jpg&quot; alt=&quot;Longsor di Kabupaten Limapuluh Kota, 3 Orang Meninggal&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Tidak hanya itu, jalan nasional penghubung Sumatera Barat - Riau      putus. Di kelok 17 terdapat 4 titik longsor. Delapan mobil tertimpa      longsor di Km 17 Koto Alam.

Jumlah korban pun bertambah. Hingga Minggu 5 Maret 2017, sekira pukul      21.30 WIB. Posko Tanggap Darurat Banjir dan Longsor di Kabupaten      Limapuluh Kota melaporkan 2 orang meninggal dunia dan 2 luka berat      akibat banjir dan longsor.

Banjir dan longsor terjadi pada 25 titik. Rinciannya, 13 titik      longsor dan 12 titik banjir. Longsor tersebar pada 9 titik di Kecamatan      Pangkalan.

Sedangkan banjir tersebar pada 7 kecamatan dengan titik banjir      tertinggi mencapai 1,5 meter di Kecamatan Pangkalan yang disebabkan oleh      meluapnya Sungai Batang Maek di Kecamatan Pangkalan, sungai Batang      Kapur di Kecamatan Kapur IX, sungai Batang Sinamar di Lareh Sago   Halaban    dan sungai Batang Harau di Kecamatan Harau.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/03/04/34232/200501_medium.jpg&quot; alt=&quot;Longsor di Kabupaten Limapuluh Kota, 3 Orang Meninggal&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Longsor menyebabkan beberapa instalasi milik PLN rusak. Akibatnya 117      gardu listrik terpaksa dipadamkan dan 14.657 pelanggan PLN tak     teraliri  listrik.

Bencana banjir dan longsor di Kabupaten Limapuluh Kota menyebabkan      kerugian dan kerusakan ekonomi diperkirakan sekira Rp252,9 miliar.      Meliputi, bidang pendidikan, pertanian, pekerjaan umum, perikanan,      kesehatan, dan perdagangan.

Sementara, ribuan rumah terendam banjir, bahkan menimbulkan korban      jiwa di Kabupaten Tolitoli menyebabkan Sungai Tuwelei dan Sungai Lembe      meluap.

- Banjir Toli-Toli

Banjir bandang menerjang empat kecamatan Kabupaten Tolitoli Provinsi       Sulawesi Tengah, pada Sabtu 3 Juni 2017, sekira pukul 13.00 WITA.      Tinggi  banjir di permukiman sekitar 1 hingga 3 meter.

Diperkirakan sekitar 56.000 KK terdampak banjir. Banjir bandang di       Kecamatan Dakopamean menyebabkan 15 rumah hanyut, 1 jembatan putus  dan      perumahan, perkantoran serta sekolah terendam banjir hingga    ketinggian 1    meter.

Jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Tolitoli dan Kota Palu putus total akibat terendam banjir.


4. Longsor

Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor dan puting beliung        masih terus mengancam hingga musim penghujan berakhir.  Diperkirakan       kejadian bencana ini masih akan terus bertambah.

Longsor adalah bencana yang banyak menimbulkan korban jiwa. Selama        tahun 2017 ini, tercatat 438 kejadian bencana longsor di Indonesia.

Dampak longsor menyebabkan 95 orang meninggal dunia, 132 orang        luka-luka, 43.416 orang menderita dan mengungsi, dan lebih dari 1.500        unit rumah rusak.

Puncak musim penghujan diperkirakan pada Januari mendatang sehingga ancaman banjir dan longsor akan makin meningkat.

Longsor adalah bencana yang banyak menimbulkan korban jiwa. Ada 40,9        juta jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan  longsor       sedang hingga tinggi.

- Longsor Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan

Kejadian bencana longsor dan banjir bandang, di Kecamatan Sungai Are         Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan,   pada       Kamis 9 November 2017.

Longsor pertama terjadi di Desa Cukohnau Kecamatan Sungai Are         Kabupaten OKU Selatan, pada kamis 9 November 2017, sekira pukul 17.00         WIB. Longsor menimbun satu rumah yang menyebabkan satu orang    meninggal      dunia.

Kemudian pada pukul 20.00 WIB, terjadi longsor di Desa Sadau Jaya         Kecamatan Sungai Are Kabupaten OKU Selatan. Longsor menimbun satu    rumah      berisi 7 orang. Lima orang meninggal dunia dan dua orang    luka-luka.

Camat Sungai Are, Alkaf Najemi, S. Sos mengatakan bencana alam tanah         longsor menyapu Kecamatan Sungai Are sendiri membuat lima korban      tewas    tertimbun. Korban satu keluarga terdiri dari pasangan suami      istri dan    tiga orang anak korban dari total tujuh jiwa menghuni      pondok  tersebut.

&quot;Ada enam orang korban ditemukan tewas setelah dilaporkan warga dan         keluarga menghilang usai tertimbun longsor. Sedangkan empat lain         sekarang kini dirawat di Puskesmas lantaran menderita luka luka   berat       dan patah tulang,&quot; ucap Alkaf, Kamis 9 November 2017.

- Longsor Ponorogo

Bencana longsor juga menerjang permukiman warga dan menimbulkan          korban jiwa. Hujan yang berlangsung sejak Jumat 31 Maret 2017, memicu          longsor di Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo    Provinsi       Jawa Timur, pada Sabtu 1 April 2017, sekira pukul 06.00    WIB.

Longsor menimbun rumah dan masyarakat yang sedang memanen jahe          dibagian bawah lereng perbukitan. 28 orang ikut tertimbun material          longsor.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/04/20/36213/207337_medium.jpg&quot; alt=&quot;Relawan Bikin Saluran Air di Lokasi Longsor Ponorogo&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Material longsoran memanjang dari bukit sekitar 800 meter, dan tinggi          sekitar 20 meter. 23 rumah terdampak longsor mengalami rusak    berat     dan   sebagian rusak.

- Longsor Kintamani

Bencana longsor juga sempat terjadi di Desa Songan Kecamatan          Kintamani Kabupaten Bangli Provinsi Bali, pada Kamis 9 Februari 2017,          sekira pukul 23.00 WITA. Akibatnya, 12 orang meninggal dunia  akibat         tertimbun longsor di 3 desa.

Sementara itu, longsor menimbun rumah penduduk di Dusun Harapan          Makmur I Desa Maliwowo Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur  Provinsi         Sulawesi Selatan, pada Jumat 12 April 2017, sekira  pukul 05.30   WITA.

Bencana longsor menyebabkan 7 orang meninggal dunia, 7 luka berat,          dan 14 rumah rusak tertimbun longsor. Longsor juga menutup lalu     lintas      jalan Trans Sulawesi &amp;ndash; Tarengge Malili terputus karena     tertimbun      material longsor.

5. Puting Beliung
 

Kejadian puting beliung terus meningkat setiap tahunnya di Indonesia.           Selama tahun 2017 telah terjadi 624 kejadian puting beliung   yang         menyebabkan 30 orang meninggal dunia, 166 orang luka-luka,    13.692    orang     menderita dan mengungsi, 12.607 rumah rusak dan    ratusan    bangunan   publik   rusak.

Daerah rawan bencana puting beliung juga makin meluas. Daerah-daerah perkotaan makin sering terjadi puting beliung.

Adanya perubahan penggunaan lahan dari hutan atau daerah yang banyak           vegetasi berubah menjadi daerah permukiman dan perkotaan      menyebabkan      temperatur permukaan tanah cepat naik.

Efek pulau bahang (heat island effect) yang terjadi di kawasan           perkotaan menyebabkan beda suhu antara permukaan tanah dan atmosfer           cukup tinggi sehingga menimbulkan perbedaan tekanan udara  sehingga          timbul angin kencang atau puting beliung saat cuaca  mendung.

Kemampuan iptek saat ini belum mampu memprediksi puting beliung           secara pasti. Skalanya mikro. Hanya terjadi pada daerah sekitar 10           kilometer persegi dengan waktu kejadian berlangsung antara 5-10    menit.        Kecepatan angin puting beliung berkisar 60-80 km/jam.

- Puting Beliung Yogyakarta

Hujan deras disertai dengan puting beliung menerjang beberapa daerah           di Provinsi Yogyakarta, pada Kamis 5 Januari 2016, sekira pukul       14.00     WIB.

Daerah yang paling terdampak adalah Kabupaten Sleman meliputi           beberapa daerah di Cebongan, Tempel, Margomulyo, Ngemplaksari,   Kecamatan         Seyegan.

Puting beliung menyebabkan banyak pohon tumbang menimpa rumah,           kendaraan di jalan dan tiang listrik. Di Sleman tersebar di 28 titik   di         Kota Yogyakarta dan Bantul.

Dampak yang ditimbulkan 1 orang meninggal dunia, 25 rumah rusak, 37           pohon tumbang, 2 titik jaringan listrik tergangu, 3 fasilitas   umum         rusak, 9 akses ruas jalan terganggu dan 3 mobil dan 1   sepeda  motor        rusak.

- Puting Beliung Jambi
 

Puting beliung juga melanda Kecamatan Pakusari dan Sumbersari di           Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, pada Kamis 5 Januari 2017,     sekira       pukul 14.00 WIB.

Puting beliung menyebabkan banyak pohon tumbang dan ratusan rumah           rusak. Berdasarkan laporan BPBD Jember hari itu, terdapat 1 orang           meninggal dunia, 10 orang luka-luka, dan 267 rumah rusak.

</description><content:encoded>JAKARTA - Sepanjang 2017, sejumlah provinsi di Indonesia banyak dilanda bencana alam. Mulai dari bencana banjir, longsor hingga puting beliung. Begitu juga dengan bencana geologi, seperti gempa bumi dan erupsi gunung api.

Dari data yang terhimpun Okezone, di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kejadian bencana selama 2017 terhitung sejak, Minggu 1 Januari 2017 hingga Senin 20 November 2017, terdapat 2.057 bencana. Dampak bencana tersebut, memakan korban jiwa 282 orang meninggal, 864 orang luka-luka dan 3.209.513 orang mengungsi dan menderita.

Tidak hanya itu, dampak lainnya juga adanya kerusakan bangunan. Tercatat 24.282 unit rumah rusak. Rinciannya, 4.594 rusak berat, 4.164 rusak sedang dan 15.524 rusak ringan.

(Baca Juga: Selama 2017, Sebanyak 2.057 Bencana Sebabkan 282 Jiwa Meninggal dan 3,2 Juta Jiwa Mengungsi)

Sementara, 313.901 unit rumah terendam. Sebanyak 1.611 unit fasilitas publik meliputi 974 unit fasilitas pendidikan, 546 unit fasilitas peribadatan dan 91 fasilitas kesehatan.

Sepanjang tahun ini, sejumlah provinsi dilanda bencana alam. Berikut daerah-daerah yang dilanda bencana dari Januari 2017 hingga 7 Desember 2017.

1. Gempa

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/08/15/41201/220421_medium.jpg&quot; alt=&quot;400 Siswa Sekolah Dasar Ikuti Simulasi Gempa Bumi dan Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Banyak gempa bumi yang melanda Indonesia sepanjang 2017, dari sekian banyak gempa tersebut ribuan hingga puluhan orang terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahkan sebagian di antara mereka harus kehilangan tempat tinggal

-Gempa Deli Serdang

Gempa bumi terjadi di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara, pada Senin 16 Januari 2017, sekira pukul 19.42 WIB.

Gempa dengan kekuatan 5,6 SR itu berpusat 28 kilometer (KM) barat daya Kabupaten Deli Serdang. Sumber gempa berasal dari sesar di darat dengan kedalaman 10 km.

(Baca Juga: Gempa di Deliserdang Berlangsung Dua Kali)
 

Posko BNPB mengkonfirmasi dampak gempa. Gempa dirasakan keras di Deli Serdang, Binjai dan Karo sekitar 5-8 detik. Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah.

Gempa juga dirasakan dengan intensitas sedang di Kota Medan. Masyarakat Kota Medan berhamburan keluar rumah.

&quot;Dilaporkan beberapa rumah mengalami kerusakan,&quot; kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Senin 16 Januari 2017.

Hampir setiap hari wilayah Indonesia diguncang gempa bumi. Gempa berkekuatan 5,3 SR, dengan pusat gempa di laut, pada kedalaman 15 km di 52 km barat laut Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara. Goyang gempa itu terjadi pada Selasa 21 November 2017, sekira pukul 06.41 WIB.

(Baca Juga: Deliserdang Diguncang 29 Kali Gempa)

Dampak gempa merusak bangunan di 5 desa yaitu Desa Posi-Posi, Desa Leo-Leo Rao, Desa Aru Burung, Deaa Lou Madoro, Desa Saminya Mao dan Desa Waya Bula di Kecamatan Morotai Selatan Barat Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara.

Satu orang meninggal dunia dan 294 bangunan rusak akibat gempa bumi. Total kerusakan akibat gempa bumi, 160 rumah rusak berat, 11 rumah rusak sedang, 108 rumah rusak ringan, 1 pustu rusak berat, 12 gereja dan satu sekolah dasar rusak ringan.

- Gempa Bengkulu

Bergeser ke Bengkulu. Gempa tektonik juga mengguncang Kabupaten  Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Jumat 20 oktober 2017. Guncangan gempa di  daerah ini terjadi sebanyak dua kali, yang hanya berselang satu menit.

Untuk gempa pertama terjadi pada sekira pukul 07.36 WIB, dan gempa  kedua terjadi sekira pukul 07.37 WIB. Akibat gempa tersebut, pemukiman  penduduk di sekitar wilayah Kelurahan Pasar Ujung Kecamatan Kepahiang  Kabupaten Kepahiang, mengalami kerusakan ringan. Kerusakan itu berupa  retakan pada dinding dan pagar di beberapa rumah.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/08/15/41201/220423_medium.jpg&quot; alt=&quot;400 Siswa Sekolah Dasar Ikuti Simulasi Gempa Bumi dan Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Kepala Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Litman mengatakan,  berdasarkan hasil analisis BMKG gempa pertama berkekuatan 3,0 Skala  Richter (SR), terletak pada episenter dengan koordinat 3.66 Lintang  Selatan (LS) dan 102.58 Bujur Timur (BT), pada jarak 2 km Barat,  Kabupaten Kepahiang.

Kemudian, terang Litman, gempa kedua berkekuatan 2,8 SR, yang  terletak pada episenter dengan koordinat 3.60 LS dan 102.65 BT, tepatnya  pada jarak 8 kilometer (KM) Timut Laut, Kepahiang.

(Baca Juga: Diguncang Gempa Beruntun, Dinding Rumah Warga Kapahiang Retak-Retak)

&quot;Kedua gempa bumi tersebut terjadi pada kedalaman 1 km,&quot; kata Litman, saat dihubungi Okezone, Jumat 20 Oktober 2017.

Pada awal Desember tepatnya, pada Rabu 6 Desember 2017. Gempa  tektonik berkekuatan 5,0 SR juga mengguncang Kabupaten Lebong Provinsi  Bengkulu, sekira pukul 03.46 WIB.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempabumi berkekuatan M=5,0 terjadi  dengan koordinat episenter pada 3,18 Lintang Selatan (LS) dan 102,11  Bujur Timur (BT).

Tepatnya, berlokasi didarat pada jarak 12 kilometer (KM) arah barat daya Kota Muara Aman Kabupaten Lebong, pada kedalaman 10 km.

Dampak gempabumi pada peta tingkat guncangan (shakemap)BMKG  menunjukkan, dampak gempabumi berupa guncangan dirasakan di daerah  Lebong II SIG-BMKG (III-IV MMI).

Lalu, Kota Lubuk Linggau Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu Utara  II SIG-BMKG (III MMI), Kota Bengkulu II SIG-BMKG (II-III MMI). Hal ini  sesuai dengan informasi yang dirasakan dari masyarakat.

Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebong  Provinsi Bengkulu menghitung, tidak kurang dari 41 kepala keluarga (KK)  di Kecamatan Lebong Atas dan Kecamatan Pelabai, mengungsi.

Puluhan KK itu mengungsi, lantaran rumah mereka mengalami rusak berat paska digoyang gempa.

&quot;36 unit rumah di Lebong Atas rumah berat dan 5 unit rumah di  Kecamatan Pelabai juga mengalami rusak berat. Sehingga mereka mengungsi  ke tempat yang lebih aman,&quot; kata Plt Kepala BPBD Kabupaten Lebong,  Fakrurozi, saat dikonfirmasi via telefon, Kamis 7 Desember 2017.

Gempa itu juga membuat rumah warga mengalami rusak. Seperti, di  Kecamatan Lebong Atas, sebanyak 36 unit rumah mengalami rusak berat.  Kemudian, 77 unit rumah mengalami rusak sedang dan 105 rumah mengalami  ringan.

Kemudian, di Kecamatan Pelabai, rumah yang mengalami rusak berat  sebanyak 5 unit, rusak sedang 2 unit dan ringan 22 unit. Sehingga total  kerusakan di Kecamatan Pelabai sebanyak 29 unit.

&quot;Total kerusakan dari berat, sedang dan ringan didua kecamatan  mencapai 247 unit. Itu termasuk sarana pendidikan dan sarana ibadah,&quot;  kata Fakrurozi.

- Gempa Poso

Gempa bumi juga kembali melanda Palu Provinsi Sulawesi Tengah, pada   Senin 29 Mei 2017, sekira pukul 21.35 WIB. Di mana pusat gempa di darat   pada kedalaman 10 km.

Gempa berkekuatan 6,6 SR itu berpusat gempa di 38 kilometer (KM)   Barat Laut Poso, 58 km Timur Laut Sigi atau 75 km di Tenggara Palu   Provinsi Sulawesi Tengah.

Gempa susulan terjadi, pada Senin 29 Mei 2017, sekira pukul 21.53   WIB. Gempa itu berkekuatan 5 SR berpusat di 51 km Timur Laut Sigi   Provinsi Sulawesi Tengah, pada kedalaman 10 km.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/06/01/37980/212111_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gempa Berkekuatan 6,6 SR di Poso Robohkan Bangunan Sekolah&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)   Sulawesi Tengah, rumah warga di wilayah Kabupaten Poso mengalami   retak-retak atau rusak ringan. Dampak kerusakan akibat gempa kembali   bertambah. Di mana korban gempa tercatat sebanyak 4 orang luka berat dan   21 orang luka ringan.

Tidak ada korban jiwa meninggal dunia. Sementara 348 bangunan   mengalami kerusakan yang meliputi antara lain 168 rumah rusak berat, 143   rumah rusak ringan, 1 gereja rusak berat, 5 gereja rusak ringan.

(Baca Juga: Dahsyat, BMKG: 12 Gempa Bumi Susulan Guncang Poso)

Kemudian, 11 sekolah rusak berat, 2 sekolah rusak ringan, 2 masjid   rusak ringan, dan 6 perkantoran mengalami kerusakan. Sebanyak 328 Kepala   Keluarga (KK) mengungsi karena bangunan rumah rusak dan takut adanya   gempa susulan.

2. Gunung Meletus

Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Dari ratusan gunungapi itu, 2    gunung api berstatus awas level 4 dan 17 gunung api berstatus waspada    level 2 sepanjang 2017. Sementara, gunung api lainnya berstatus  normal.

Dua gunung status Awas tersebut, gunung Agung di Kabupaten Karangasem    Provinsi Bali yang naik status Awas sejak Jumat 22 September 2017 dan    Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara status Awas    sejak Selasa 2 Juni 2015.

Kedua gunung tersebut tidak dapat diprediksi kapan akan meletus. Di    mana Gunung Sinabung tidak dapat diprediksikan kapan akan berhenti    meletus.

&quot;13 persen populasi gunungapi aktif di dunia terdapat di Indonesia    dengan segala berkah dan musibah yang menyertai setiap letusannya,&quot;    sampai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho,    Rabu 4 Oktober 2017, dalam keterangan yang diterima Okezone.

- Erupsi Gunung Agung

Geliat Gunung Agung kembali mengalami erupsi, pada Sabtu 25 November    2017, sekira pukul 17.30 WITA. Kolom abu teramati berwarna    kelabu-kehitaman bertekanan sedang setinggi 1.500 m di atas puncak    Gunung Agung.

Erupsi secara visual teramati dari daerah Culik dan Batulompeh ke arah Barat- Barat daya, asap kelabu-kehitaman tekanan sedang.

Erupsi Gunung Agung pertama terjadi, pada Selasa 21 November 2017,    sekira pukul 17.05 WITA, dengan tinggi asap kelabu tebal dengan tekanan    sedang maksimum 700 meter.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/12/08/45358/234671_medium.jpg&quot; alt=&quot;Gunung Agung Semburkan Asap Bercampur Abu Vulkanik&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Dua hari kemudian, Senin 27 November 2017, PVMBG menaikkan status    Gunung Agung dari Siaga level 3 menjadi Awas level 4, terhitung pukul    06.00 WITA.

Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops)    BPBD Provinsi Bali, jumlah pengungsi per Rabu 29 November 2017,  sebanyak   43.358 jiwa yang tersebar di 229 titik pengungsian.

Terakhir, Gunung Agung kembali meletus pada pukul 07.59 WITA, pada    Jumat 8 Desember 2017. Secara visual Gunung Agung nampak ada asap    berwarna kelabu tebal bertekanan sedang dan ketinggi 2.100 meter di atas    puncak condong ke arah barat.

&quot;Ya Gunung Agung kembali erupsi,&quot; kata Kepala Bidang Mitigasi Pusat    Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, I Gede Suantika, Jumat 8 Desember    2017.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMi8wNC8xLzEwNjEyMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Bencana tersebut juga berdampak pada ekonomi. Seperti, dampak    kerugian ekonomi peningkatan status Awas Gunung Agung di Bali mencapai    lebih dari Rp2 triliun. Jumlah total kerugian dan kerusakan ekonomi    akibat bencana belum dilakukan perhitungan.

&quot;Pemda dan masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana,&quot; kata Sutopo, Senin 20 November 2017.

Lain halnya dengan Gunung Sinabung, sejak status Awas hingga saat ini    hampir setiap hari meletus. Letusan disertai dengan lava pijar, gempa    guguran, awan panas dan hujan abu. Hingga Agustus 2017, BNPB mencatat    7.214 jiwa atau 2.038 KK berada di 8 pos pengungsian. Namun, hanya  2.863   jiwa yang tinggal di pos pengungsian.

&quot;Volume kubah lava berdasar hasil pengukuran 19 Juli 2017 sudah mencapai 2,3 juta meter kubik,&quot; ujar Sutopo.

Kamis 12 Oktober 2017, Gunung Sinabung kembali meletus. Selain    melontarkan abu vulkanik, letusan juga disertai dengan gempa guguran,    lava pijar dan luncuran awan panas.

Pos Pengamatan Gunung Sinabung PVMBG melaporkan letusan dengan tinggi    kolom abu vulkanik 2.000 meter yang diikuti awan panas guguran,  dengan   jarak luncur 1.500 meter ke arah Selatan dan 2.000 meter ke  arah Timur  -  Tenggara.

&quot;Tidak ada korban jiwa dan penambahan jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung,&quot; kata Sutopo, Kamis 12 Oktober 2017.

- Erupsi Kawah Sileri

Pada Minggu 2 Juli 2017, sekira pukul 12.00 WIB, kawah Sileri Dieng     meletus freatik setinggi sekira 50 Meter. Kawah yang terdapat di     Kompleks Gunung Dieng Desa Kepakisan Kecamatan Batur Kabupaten     Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, itu tiba-tiba meletus.

Saat itu, letusan disertai dengan material lahar dingin, lumpur dan     asap hingga mencapai 50 meter, sehingga mengenai wisatawan yang berada     di sekitar Kawah Sileri.

Tipe letusan freatik merupakan letusan gas atau embusan asap dan material, yang dipicu tekanan gas dibawah permukaan.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8wNy8wMy8xLzk5MDAwLzAv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Berdasarkan laporan BPBD Banjarnegara sebanyak 17 orang pengunjung     atau wisatawan berada di lokasi mengalami luka-luka. Empat orang     menderita luka-luka dan dirawat di Puskesmas I Batur. Beruntung, saat     kejadian tidak ada korban jiwa meninggal dunia.

&quot;Kawah Sileri merupakan kawah yang paling aktif dan pernah meletus     beberapa kali. Sempat tercatat tahun 1939, 1944, 1964, 1984, 2003,  2009.    Hingga saat ini status Gunung Dieng masih normal aktif,&quot; ujar  Kepala    Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho,  Minggu 2  Juli   2017.

Pada bulan ini, dari 67 gunungapi aktif yang dipantau PVMBG sebanyak     49 gunungapi berstatus Normal level I, 17 gunungapi berstatus Waspada     level II dan satu gunung berstatus Awas level IV, Gunung Sinabung.


3. Banjir

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyabutkan      bahwa terdapat 386 kabupaten/kota berada di zona bahaya sedang hingga      tinggi gempa bumi, 233 kabupaten dan kota berada di daerah rawan   tsunami    di Indonesia.

Selain itu, 75 kabupaten dan kota terancam erupsi gunung api.      Kemudian, 315 berada di daerah bahaya sedang-tinggi banjir dan 274 di      daerah bahaya sedang-tinggi bencana longsor.

- Banjir Tebing Tinggi

Ribuan rumah terendam banjir dan ribuan jiwa terdampak di Kota Tebing      Tinggi, Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labura Provinsi Sumatera    Utara,   pada Sabtu 16 September 2017.

Meluapnya Sungai Padang dan Sungai Bahilang akibat hujan lebat      menyebabkan banjir melanda 5 kecamatan di Kota Tebing Tinggi. Sehingga      1.958 rumah terendam banjir dan 7.768 jiwa terdampak banjir, sejak    Sabtu   16 September 2017, sekira pukul 02.00 WIB.

- Banjir Limapuluh Kota

Bencana banjir dan longsor juga menerjang Kabupaten Limapuluh Kota      Provinsi Sumatera Barat, pada Jumat 3 Maret 2017. Hujan lebat secara      terus menerus menyebabkan Sungai Sumpur meluap dan longsor di tebing   dan    perbukitan.

Sebanyak 8 kecamatan dan 13 nagari terdampak langsung dari banjir dan      longsor yang meliputi Kecamatan Pangkalan, Kapur IX, Mungka, Harau,      Payakumbuh, Lareh Sago Halaban, Sulikik, dan Empat Barisan.

Hingga Sabtu 4 Maret 2017, korban jiwa akibat longsor di Kabupaten      Limapuluh Kota sebanyak 5 orang meninggal dunia. Dampak lainnya,   ratusan    rumah terendam banjir seperti di 150 rumah di Jorong Ranah   Pasar, 50    unit rumah di Jorong Ranah Baru, 50 unit rumah di Jorong   Abai.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/03/04/34232/200500_medium.jpg&quot; alt=&quot;Longsor di Kabupaten Limapuluh Kota, 3 Orang Meninggal&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Tidak hanya itu, jalan nasional penghubung Sumatera Barat - Riau      putus. Di kelok 17 terdapat 4 titik longsor. Delapan mobil tertimpa      longsor di Km 17 Koto Alam.

Jumlah korban pun bertambah. Hingga Minggu 5 Maret 2017, sekira pukul      21.30 WIB. Posko Tanggap Darurat Banjir dan Longsor di Kabupaten      Limapuluh Kota melaporkan 2 orang meninggal dunia dan 2 luka berat      akibat banjir dan longsor.

Banjir dan longsor terjadi pada 25 titik. Rinciannya, 13 titik      longsor dan 12 titik banjir. Longsor tersebar pada 9 titik di Kecamatan      Pangkalan.

Sedangkan banjir tersebar pada 7 kecamatan dengan titik banjir      tertinggi mencapai 1,5 meter di Kecamatan Pangkalan yang disebabkan oleh      meluapnya Sungai Batang Maek di Kecamatan Pangkalan, sungai Batang      Kapur di Kecamatan Kapur IX, sungai Batang Sinamar di Lareh Sago   Halaban    dan sungai Batang Harau di Kecamatan Harau.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/03/04/34232/200501_medium.jpg&quot; alt=&quot;Longsor di Kabupaten Limapuluh Kota, 3 Orang Meninggal&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Longsor menyebabkan beberapa instalasi milik PLN rusak. Akibatnya 117      gardu listrik terpaksa dipadamkan dan 14.657 pelanggan PLN tak     teraliri  listrik.

Bencana banjir dan longsor di Kabupaten Limapuluh Kota menyebabkan      kerugian dan kerusakan ekonomi diperkirakan sekira Rp252,9 miliar.      Meliputi, bidang pendidikan, pertanian, pekerjaan umum, perikanan,      kesehatan, dan perdagangan.

Sementara, ribuan rumah terendam banjir, bahkan menimbulkan korban      jiwa di Kabupaten Tolitoli menyebabkan Sungai Tuwelei dan Sungai Lembe      meluap.

- Banjir Toli-Toli

Banjir bandang menerjang empat kecamatan Kabupaten Tolitoli Provinsi       Sulawesi Tengah, pada Sabtu 3 Juni 2017, sekira pukul 13.00 WITA.      Tinggi  banjir di permukiman sekitar 1 hingga 3 meter.

Diperkirakan sekitar 56.000 KK terdampak banjir. Banjir bandang di       Kecamatan Dakopamean menyebabkan 15 rumah hanyut, 1 jembatan putus  dan      perumahan, perkantoran serta sekolah terendam banjir hingga    ketinggian 1    meter.

Jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Tolitoli dan Kota Palu putus total akibat terendam banjir.


4. Longsor

Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor dan puting beliung        masih terus mengancam hingga musim penghujan berakhir.  Diperkirakan       kejadian bencana ini masih akan terus bertambah.

Longsor adalah bencana yang banyak menimbulkan korban jiwa. Selama        tahun 2017 ini, tercatat 438 kejadian bencana longsor di Indonesia.

Dampak longsor menyebabkan 95 orang meninggal dunia, 132 orang        luka-luka, 43.416 orang menderita dan mengungsi, dan lebih dari 1.500        unit rumah rusak.

Puncak musim penghujan diperkirakan pada Januari mendatang sehingga ancaman banjir dan longsor akan makin meningkat.

Longsor adalah bencana yang banyak menimbulkan korban jiwa. Ada 40,9        juta jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan  longsor       sedang hingga tinggi.

- Longsor Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan

Kejadian bencana longsor dan banjir bandang, di Kecamatan Sungai Are         Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan,   pada       Kamis 9 November 2017.

Longsor pertama terjadi di Desa Cukohnau Kecamatan Sungai Are         Kabupaten OKU Selatan, pada kamis 9 November 2017, sekira pukul 17.00         WIB. Longsor menimbun satu rumah yang menyebabkan satu orang    meninggal      dunia.

Kemudian pada pukul 20.00 WIB, terjadi longsor di Desa Sadau Jaya         Kecamatan Sungai Are Kabupaten OKU Selatan. Longsor menimbun satu    rumah      berisi 7 orang. Lima orang meninggal dunia dan dua orang    luka-luka.

Camat Sungai Are, Alkaf Najemi, S. Sos mengatakan bencana alam tanah         longsor menyapu Kecamatan Sungai Are sendiri membuat lima korban      tewas    tertimbun. Korban satu keluarga terdiri dari pasangan suami      istri dan    tiga orang anak korban dari total tujuh jiwa menghuni      pondok  tersebut.

&quot;Ada enam orang korban ditemukan tewas setelah dilaporkan warga dan         keluarga menghilang usai tertimbun longsor. Sedangkan empat lain         sekarang kini dirawat di Puskesmas lantaran menderita luka luka   berat       dan patah tulang,&quot; ucap Alkaf, Kamis 9 November 2017.

- Longsor Ponorogo

Bencana longsor juga menerjang permukiman warga dan menimbulkan          korban jiwa. Hujan yang berlangsung sejak Jumat 31 Maret 2017, memicu          longsor di Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo    Provinsi       Jawa Timur, pada Sabtu 1 April 2017, sekira pukul 06.00    WIB.

Longsor menimbun rumah dan masyarakat yang sedang memanen jahe          dibagian bawah lereng perbukitan. 28 orang ikut tertimbun material          longsor.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2017/04/20/36213/207337_medium.jpg&quot; alt=&quot;Relawan Bikin Saluran Air di Lokasi Longsor Ponorogo&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Material longsoran memanjang dari bukit sekitar 800 meter, dan tinggi          sekitar 20 meter. 23 rumah terdampak longsor mengalami rusak    berat     dan   sebagian rusak.

- Longsor Kintamani

Bencana longsor juga sempat terjadi di Desa Songan Kecamatan          Kintamani Kabupaten Bangli Provinsi Bali, pada Kamis 9 Februari 2017,          sekira pukul 23.00 WITA. Akibatnya, 12 orang meninggal dunia  akibat         tertimbun longsor di 3 desa.

Sementara itu, longsor menimbun rumah penduduk di Dusun Harapan          Makmur I Desa Maliwowo Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur  Provinsi         Sulawesi Selatan, pada Jumat 12 April 2017, sekira  pukul 05.30   WITA.

Bencana longsor menyebabkan 7 orang meninggal dunia, 7 luka berat,          dan 14 rumah rusak tertimbun longsor. Longsor juga menutup lalu     lintas      jalan Trans Sulawesi &amp;ndash; Tarengge Malili terputus karena     tertimbun      material longsor.

5. Puting Beliung
 

Kejadian puting beliung terus meningkat setiap tahunnya di Indonesia.           Selama tahun 2017 telah terjadi 624 kejadian puting beliung   yang         menyebabkan 30 orang meninggal dunia, 166 orang luka-luka,    13.692    orang     menderita dan mengungsi, 12.607 rumah rusak dan    ratusan    bangunan   publik   rusak.

Daerah rawan bencana puting beliung juga makin meluas. Daerah-daerah perkotaan makin sering terjadi puting beliung.

Adanya perubahan penggunaan lahan dari hutan atau daerah yang banyak           vegetasi berubah menjadi daerah permukiman dan perkotaan      menyebabkan      temperatur permukaan tanah cepat naik.

Efek pulau bahang (heat island effect) yang terjadi di kawasan           perkotaan menyebabkan beda suhu antara permukaan tanah dan atmosfer           cukup tinggi sehingga menimbulkan perbedaan tekanan udara  sehingga          timbul angin kencang atau puting beliung saat cuaca  mendung.

Kemampuan iptek saat ini belum mampu memprediksi puting beliung           secara pasti. Skalanya mikro. Hanya terjadi pada daerah sekitar 10           kilometer persegi dengan waktu kejadian berlangsung antara 5-10    menit.        Kecepatan angin puting beliung berkisar 60-80 km/jam.

- Puting Beliung Yogyakarta

Hujan deras disertai dengan puting beliung menerjang beberapa daerah           di Provinsi Yogyakarta, pada Kamis 5 Januari 2016, sekira pukul       14.00     WIB.

Daerah yang paling terdampak adalah Kabupaten Sleman meliputi           beberapa daerah di Cebongan, Tempel, Margomulyo, Ngemplaksari,   Kecamatan         Seyegan.

Puting beliung menyebabkan banyak pohon tumbang menimpa rumah,           kendaraan di jalan dan tiang listrik. Di Sleman tersebar di 28 titik   di         Kota Yogyakarta dan Bantul.

Dampak yang ditimbulkan 1 orang meninggal dunia, 25 rumah rusak, 37           pohon tumbang, 2 titik jaringan listrik tergangu, 3 fasilitas   umum         rusak, 9 akses ruas jalan terganggu dan 3 mobil dan 1   sepeda  motor        rusak.

- Puting Beliung Jambi
 

Puting beliung juga melanda Kecamatan Pakusari dan Sumbersari di           Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, pada Kamis 5 Januari 2017,     sekira       pukul 14.00 WIB.

Puting beliung menyebabkan banyak pohon tumbang dan ratusan rumah           rusak. Berdasarkan laporan BPBD Jember hari itu, terdapat 1 orang           meninggal dunia, 10 orang luka-luka, dan 267 rumah rusak.

</content:encoded></item></channel></rss>
