<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Revolusi Antikorupsi Arab Saudi Jerat Nama-Nama Besar</title><description>Sedikitnya 11 orang pangeran Arab Saudi ditangkap dalam operasi besar-besaran antikorupsi tahap pertama</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/16/18/1831179/revolusi-antikorupsi-arab-saudi-jerat-nama-nama-besar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/12/16/18/1831179/revolusi-antikorupsi-arab-saudi-jerat-nama-nama-besar"/><item><title>Revolusi Antikorupsi Arab Saudi Jerat Nama-Nama Besar</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/16/18/1831179/revolusi-antikorupsi-arab-saudi-jerat-nama-nama-besar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/12/16/18/1831179/revolusi-antikorupsi-arab-saudi-jerat-nama-nama-besar</guid><pubDate>Sabtu 16 Desember 2017 06:42 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/15/18/1831179/revolusi-antikorupsi-arab-saudi-jerat-nama-nama-besar-IKRBupCEhe.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (Foto: Hamad I Mohammed/Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/15/18/1831179/revolusi-antikorupsi-arab-saudi-jerat-nama-nama-besar-IKRBupCEhe.JPG</image><title>Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (Foto: Hamad I Mohammed/Reuters)</title></images><description>POLITIK dalam negeri Arab Saudi sempat mencuri perhatian pada pertengahan 2017 ketika Raja Salman bin Abdulaziz al Saud secara tiba-tiba mengangkat Pangeran Mohammed bin Salman sebagai Putra Mahkota. Pengangkatan tersebut &amp;lsquo;melanggar&amp;rsquo; tradisi yang selama ini berlaku di Kerajaan Arab Saudi.
Biasanya, Putra Mahkota Arab Saudi ditetapkan sebagai sepupu atau saudara laki-laki sang raja. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak menyebabkan guncangan terhadap stabilitas Kerajaan Arab Saudi. Ambil contoh Raja Salman yang menggantikan Raja Abdullah, saudara tirinya, pada 2015.
BACA JUGA: Raja Salman Kukuhkan Anaknya Jadi Putra Mahkota Arab Saudi
Pangeran Mohammed sendiri beberapa kali dianggap sebagai Raja de facto Arab Saudi. Sebab, Raja Salman dikabarkan menyerahkan segala keputusan serta kebijakan strategis negara kepada pangeran berusia 32 tahun itu. Apalagi, sang pangeran memangku sejumlah jabatan penting di pemerintahan.
Putra sulung Raja Salman itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Perdana Menteri Arab Saudi. Nama Pangeran Mohammed sempat booming ketika pria kelahiran 31 Agustus 1985 itu mencanangkan reformasi ekonomi bertajuk &amp;lsquo;Vision 2030&amp;rsquo; untuk mengubah negaranya menjadi lebih moderat dan ramah pada investasi asing.
Pria berinisial MBS itu juga beberapa kali menggantikan ayahnya dalam kunjungan kenegaraan ke luar negeri atau menerima tamu negara di Istana Kerajaan. Perannya yang semakin besar itu memberi jalan bagi sebuah perubahan lain yang menyeret anggota Kerajaan Arab Saudi lain.&amp;nbsp;

Revolusi Antikorupsi 
Pangeran Mohammed membentuk Badan Antikorupsi Arab Saudi pada 4 November 2017. Hanya dalam hitungan jam, puluhan orang penting di Arab Saudi ditangkap oleh badan tersebut. Di antara mereka yang ditangkap, terdapat 11 pangeran kerajaan; empat orang di antaranya saat ini menduduki jabatan sebagai menteri di kabinet.
BACA JUGA: Aduh! 11 Pangeran Arab Saudi Ditangkap Badan Antikorupsi
Penangkapan dilakukan lewat Dekrit Kerajaan Raja Salman bin Abdulaziz al Saud. Jaksa Agung Arab Saudi, Syeikh Saud al Mojeb mengatakan, operasi penangkapan tersebut baru awal dari sebuah operasi besar antikorupsi.
&amp;ldquo;Banyak bukti telah dikumpulkan dan interogasi mendalam sudah dilakukan. Semua tersangka hingga hari ini, akan diberi akses penuh terhadap sumber daya hukum, dan persidangan akan dilaksanakan secara tepat waktu dan terbuka untuk semua pihak berkepentingan,&amp;rdquo; ujar Syeikh Saud al Mojeb.
Di antara 11 pangeran dan puluhan orang lainnya yang ditangkap dan ditahan, ada setidaknya enam tokoh yang tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di komunitas internasional. Salah satunya adalah Pangeran Alwaleed bin Talal, pria berusia 62 tahun yang masuk dalam daftar orang paling kaya di dunia.
Tokoh lainnya adalah Pangeran Miteb bin Abdullah. Kepala Garda Nasional itu pernah digadang-gadang sebagai calon Putra Mahkota Arab Saudi menggantikan ayahnya, Raja Abdullah bin Abdulaziz al Saud. Namun, posisi itu diberikan kepada (saat itu) Pangeran Salman bin Abdulaziz al Saud. Saudaranya, Pangeran Turki bin Abdullah, juga harus merasakan dinginnya jeruji besi.
Nama lain yang ditangkap adalah Waleed Ibrahim al Ibrahim. Adik ipar mendiang Raja Fahd ini adalah pemilik Middle East Broadcasting Company (MBC), yang dikenal sebagai salah satu jejaring satelit paling berpengaruh di dunia Arab.Penjara Mewah
Muncul pertanyaan, apakah para pangeran serta mantan menteri itu dijebloskan ke penjara atau kantor polisi sebagaimana tahanan lainnya? Jawabannya tidak. Alih-alih merasakan dinginnya tembok penjara, para pembesar itu justru ditempatkan di sebuah hotel mewah di Riyadh.
Sebelas pangeran dan 38 orang lainnya itu ditahan di Hotel Ritz-Carlton, Riyadh. Hotel bintang lima itu adalah salah satu dari beberapa hotel mewah yang digunakan untuk menahan beberapa tersangka yang telah diciduk dari tempatnya masing-masing.

(Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, Arab Saudi. Foto: AFP)
Para tersangka itu dianggap merugikan negara hingga USD100 miliar atau lebih dari Rp1.350 triliun. Syeikh Saud al Mojeb mengatakan, jumlah tersebut merupakan perkiraan kerugian dari hasil penyelidikan selama tiga tahun terakhir.
BACA JUGA: Begini Suasana 'Penjara Mewah' Pangeran dan Pejabat Tinggi Arab Saudi 
&amp;ldquo;Berdasarkan penyelidikan kami selama tiga tahun terakhir, kami memperkirakan bahwa setidaknya USD100 miliar telah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan sistematis selama beberapa dekade,&amp;rdquo; tukasnya.

Uang Kesepakatan Bebas 
Penangkapan besar-besaran tersebut merupakan angin segar bagi Arab Saudi. Banyak yang menganggap operasi tersebut menjadi pembaruan di negara kaya minyak itu. Namun, tidak sedikit pula nada miring yang menganggap bahwa operasi bersih-bersih hanya untuk menancapkan pengaruh Pangeran Mohammed bin Salman.
Nada miring itu setidaknya dibuktikan dengan fakta bahwa adanya uang kesepakatan agar para tahanan bisa bebas. Sebelumnya, para tahanan, termasuk pangeran kerajaan, diminta untuk menyerahkan seluruh asetnya agar disita negara.
BACA JUGA: Bayar 'Kesepakatan' Rp13,5 Triliun, Pangeran Senior Arab Saudi Dibebaskan 
Cela dalam revolusi antikorupsi itu terkuak ketika Pangeran Miteb bin Abdullah, akhirnya dibebaskan. Pria berusia 65 tahun itu diyakini membayar uang kesepakatan senilai USD1 miliar (setara Rp13,5 triliun) agar bisa menghirup udara bebas sekaligus mengakui telah melakukan tindak pidana korupsi.
&amp;ldquo;Nilai dari kesepakatan itu tidak diungkapkan tetapi diyakini lebih dari USD1 miliar. Harap dicatat bahwa kesepakatan tersebut termasuk pengakuan melakukan tindak pidana korupsi dalam sejumlah kasus,&amp;rdquo; ujar seorang pejabat yang namanya dirahasiakan.
Pembebasan Pangeran Miteb bin Abdullah itu menguak fakta bahwa Otoritas Arab Saudi berupaya mencapai sebuah kesepakatan terhadap beberapa orang yang ditahan tersebut. Para tahanan diminta untuk menyerahkan aset dan uang tunai yang mereka miliki dengan imbalan berupa pembebasan.Lukisan Mahal Pemicu Kritik
Kisah belum selesai sampai di sana. Pangeran Mohammed bin Salman ternyata menghabiskan uang senilai USD450 juta (setara Rp5,9 triliun) untuk membeli sebuah lukisan Leonardo da Vinci. Lukisan Yesus Kristus itu dibeli lewat saudara jauhnya, Pangeran Bader bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan al Saud.
Menurut informasi komunitas intelijen Amerika Serikat (AS), Pangeran Mohammed memerintahkan Pangeran Bader untuk mengambil alih transaksi tersebut. Lukisan itu akan dipajang di Louvre Abu Dhabi, sebuah musim seni di Uni Emirat Arab (UEA).

(Lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci. Foto: Twitter)
Pembelian lukisan berjudul &amp;lsquo;Salvator Mundi&amp;rsquo; itu tak pelak menuai kritik dari sejumlah aktivis dan akademisi. Harga jual yang mencapai tiga kali lipat dari penawaran awal itu dianggap berlawanan dengan gencarnya operasi antikorupsi yang ironisnya dipimpin oleh Pangeran Mohammed bin Salman. Beberapa laporan menuding sang pangeran memanfaatkan operasi untuk pencucian uang.
&amp;ldquo;Berapa banyak uang yang dia miliki untuk membayar lukisan dengan harga seperti ini dan dari mana dia mendapatkannya? Apa aturan Islam mengenai jual beli semacam ini menurut ulama dari dua masjid suci?&amp;rdquo; kata aktivis hak asasi manusia dari Aljazair, Mohamed Larbi Zitout.
Selain tuduhan tersebut, muncul kritik lain terkait lukisan tersebut. Sebab, lukisan Salvador Mundi itu menggambarkan sosok seorang nabi yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Kecurigaan muncul karena Pangeran Bader tidak memiliki sumber dana yang diketahui publik sehingga tidak ada yang tahu bagaimana dia memperoleh uang untuk membeli lukisan. Apalagi, Pangeran Bader tidak pernah memiliki catatan sebagai seorang kolektor karya seni.
Berdasarkan pernyataan dari Kedubes Arab Saudi, Pangeran Bader adalah seorang pendukung dari Museum Louvre Abu Dhabi. Pada pembukaan museum 8 November lalu, sang pangeran diminta oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata UEA untuk menjadi perantara pembelian lukisan tersebut.</description><content:encoded>POLITIK dalam negeri Arab Saudi sempat mencuri perhatian pada pertengahan 2017 ketika Raja Salman bin Abdulaziz al Saud secara tiba-tiba mengangkat Pangeran Mohammed bin Salman sebagai Putra Mahkota. Pengangkatan tersebut &amp;lsquo;melanggar&amp;rsquo; tradisi yang selama ini berlaku di Kerajaan Arab Saudi.
Biasanya, Putra Mahkota Arab Saudi ditetapkan sebagai sepupu atau saudara laki-laki sang raja. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak menyebabkan guncangan terhadap stabilitas Kerajaan Arab Saudi. Ambil contoh Raja Salman yang menggantikan Raja Abdullah, saudara tirinya, pada 2015.
BACA JUGA: Raja Salman Kukuhkan Anaknya Jadi Putra Mahkota Arab Saudi
Pangeran Mohammed sendiri beberapa kali dianggap sebagai Raja de facto Arab Saudi. Sebab, Raja Salman dikabarkan menyerahkan segala keputusan serta kebijakan strategis negara kepada pangeran berusia 32 tahun itu. Apalagi, sang pangeran memangku sejumlah jabatan penting di pemerintahan.
Putra sulung Raja Salman itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Perdana Menteri Arab Saudi. Nama Pangeran Mohammed sempat booming ketika pria kelahiran 31 Agustus 1985 itu mencanangkan reformasi ekonomi bertajuk &amp;lsquo;Vision 2030&amp;rsquo; untuk mengubah negaranya menjadi lebih moderat dan ramah pada investasi asing.
Pria berinisial MBS itu juga beberapa kali menggantikan ayahnya dalam kunjungan kenegaraan ke luar negeri atau menerima tamu negara di Istana Kerajaan. Perannya yang semakin besar itu memberi jalan bagi sebuah perubahan lain yang menyeret anggota Kerajaan Arab Saudi lain.&amp;nbsp;

Revolusi Antikorupsi 
Pangeran Mohammed membentuk Badan Antikorupsi Arab Saudi pada 4 November 2017. Hanya dalam hitungan jam, puluhan orang penting di Arab Saudi ditangkap oleh badan tersebut. Di antara mereka yang ditangkap, terdapat 11 pangeran kerajaan; empat orang di antaranya saat ini menduduki jabatan sebagai menteri di kabinet.
BACA JUGA: Aduh! 11 Pangeran Arab Saudi Ditangkap Badan Antikorupsi
Penangkapan dilakukan lewat Dekrit Kerajaan Raja Salman bin Abdulaziz al Saud. Jaksa Agung Arab Saudi, Syeikh Saud al Mojeb mengatakan, operasi penangkapan tersebut baru awal dari sebuah operasi besar antikorupsi.
&amp;ldquo;Banyak bukti telah dikumpulkan dan interogasi mendalam sudah dilakukan. Semua tersangka hingga hari ini, akan diberi akses penuh terhadap sumber daya hukum, dan persidangan akan dilaksanakan secara tepat waktu dan terbuka untuk semua pihak berkepentingan,&amp;rdquo; ujar Syeikh Saud al Mojeb.
Di antara 11 pangeran dan puluhan orang lainnya yang ditangkap dan ditahan, ada setidaknya enam tokoh yang tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di komunitas internasional. Salah satunya adalah Pangeran Alwaleed bin Talal, pria berusia 62 tahun yang masuk dalam daftar orang paling kaya di dunia.
Tokoh lainnya adalah Pangeran Miteb bin Abdullah. Kepala Garda Nasional itu pernah digadang-gadang sebagai calon Putra Mahkota Arab Saudi menggantikan ayahnya, Raja Abdullah bin Abdulaziz al Saud. Namun, posisi itu diberikan kepada (saat itu) Pangeran Salman bin Abdulaziz al Saud. Saudaranya, Pangeran Turki bin Abdullah, juga harus merasakan dinginnya jeruji besi.
Nama lain yang ditangkap adalah Waleed Ibrahim al Ibrahim. Adik ipar mendiang Raja Fahd ini adalah pemilik Middle East Broadcasting Company (MBC), yang dikenal sebagai salah satu jejaring satelit paling berpengaruh di dunia Arab.Penjara Mewah
Muncul pertanyaan, apakah para pangeran serta mantan menteri itu dijebloskan ke penjara atau kantor polisi sebagaimana tahanan lainnya? Jawabannya tidak. Alih-alih merasakan dinginnya tembok penjara, para pembesar itu justru ditempatkan di sebuah hotel mewah di Riyadh.
Sebelas pangeran dan 38 orang lainnya itu ditahan di Hotel Ritz-Carlton, Riyadh. Hotel bintang lima itu adalah salah satu dari beberapa hotel mewah yang digunakan untuk menahan beberapa tersangka yang telah diciduk dari tempatnya masing-masing.

(Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, Arab Saudi. Foto: AFP)
Para tersangka itu dianggap merugikan negara hingga USD100 miliar atau lebih dari Rp1.350 triliun. Syeikh Saud al Mojeb mengatakan, jumlah tersebut merupakan perkiraan kerugian dari hasil penyelidikan selama tiga tahun terakhir.
BACA JUGA: Begini Suasana 'Penjara Mewah' Pangeran dan Pejabat Tinggi Arab Saudi 
&amp;ldquo;Berdasarkan penyelidikan kami selama tiga tahun terakhir, kami memperkirakan bahwa setidaknya USD100 miliar telah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan sistematis selama beberapa dekade,&amp;rdquo; tukasnya.

Uang Kesepakatan Bebas 
Penangkapan besar-besaran tersebut merupakan angin segar bagi Arab Saudi. Banyak yang menganggap operasi tersebut menjadi pembaruan di negara kaya minyak itu. Namun, tidak sedikit pula nada miring yang menganggap bahwa operasi bersih-bersih hanya untuk menancapkan pengaruh Pangeran Mohammed bin Salman.
Nada miring itu setidaknya dibuktikan dengan fakta bahwa adanya uang kesepakatan agar para tahanan bisa bebas. Sebelumnya, para tahanan, termasuk pangeran kerajaan, diminta untuk menyerahkan seluruh asetnya agar disita negara.
BACA JUGA: Bayar 'Kesepakatan' Rp13,5 Triliun, Pangeran Senior Arab Saudi Dibebaskan 
Cela dalam revolusi antikorupsi itu terkuak ketika Pangeran Miteb bin Abdullah, akhirnya dibebaskan. Pria berusia 65 tahun itu diyakini membayar uang kesepakatan senilai USD1 miliar (setara Rp13,5 triliun) agar bisa menghirup udara bebas sekaligus mengakui telah melakukan tindak pidana korupsi.
&amp;ldquo;Nilai dari kesepakatan itu tidak diungkapkan tetapi diyakini lebih dari USD1 miliar. Harap dicatat bahwa kesepakatan tersebut termasuk pengakuan melakukan tindak pidana korupsi dalam sejumlah kasus,&amp;rdquo; ujar seorang pejabat yang namanya dirahasiakan.
Pembebasan Pangeran Miteb bin Abdullah itu menguak fakta bahwa Otoritas Arab Saudi berupaya mencapai sebuah kesepakatan terhadap beberapa orang yang ditahan tersebut. Para tahanan diminta untuk menyerahkan aset dan uang tunai yang mereka miliki dengan imbalan berupa pembebasan.Lukisan Mahal Pemicu Kritik
Kisah belum selesai sampai di sana. Pangeran Mohammed bin Salman ternyata menghabiskan uang senilai USD450 juta (setara Rp5,9 triliun) untuk membeli sebuah lukisan Leonardo da Vinci. Lukisan Yesus Kristus itu dibeli lewat saudara jauhnya, Pangeran Bader bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan al Saud.
Menurut informasi komunitas intelijen Amerika Serikat (AS), Pangeran Mohammed memerintahkan Pangeran Bader untuk mengambil alih transaksi tersebut. Lukisan itu akan dipajang di Louvre Abu Dhabi, sebuah musim seni di Uni Emirat Arab (UEA).

(Lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci. Foto: Twitter)
Pembelian lukisan berjudul &amp;lsquo;Salvator Mundi&amp;rsquo; itu tak pelak menuai kritik dari sejumlah aktivis dan akademisi. Harga jual yang mencapai tiga kali lipat dari penawaran awal itu dianggap berlawanan dengan gencarnya operasi antikorupsi yang ironisnya dipimpin oleh Pangeran Mohammed bin Salman. Beberapa laporan menuding sang pangeran memanfaatkan operasi untuk pencucian uang.
&amp;ldquo;Berapa banyak uang yang dia miliki untuk membayar lukisan dengan harga seperti ini dan dari mana dia mendapatkannya? Apa aturan Islam mengenai jual beli semacam ini menurut ulama dari dua masjid suci?&amp;rdquo; kata aktivis hak asasi manusia dari Aljazair, Mohamed Larbi Zitout.
Selain tuduhan tersebut, muncul kritik lain terkait lukisan tersebut. Sebab, lukisan Salvador Mundi itu menggambarkan sosok seorang nabi yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Kecurigaan muncul karena Pangeran Bader tidak memiliki sumber dana yang diketahui publik sehingga tidak ada yang tahu bagaimana dia memperoleh uang untuk membeli lukisan. Apalagi, Pangeran Bader tidak pernah memiliki catatan sebagai seorang kolektor karya seni.
Berdasarkan pernyataan dari Kedubes Arab Saudi, Pangeran Bader adalah seorang pendukung dari Museum Louvre Abu Dhabi. Pada pembukaan museum 8 November lalu, sang pangeran diminta oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata UEA untuk menjadi perantara pembelian lukisan tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
