<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tahun Duka Bagi Mugabe, Dikudeta Militer Setelah 3 Dekade Kuasai Zimbabwe</title><description>Sebelum dia dilengserkan, Mugabe adalah satu-satunya presiden yang pernah memerintah Mugabe sejak 1980.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/21/18/1834013/tahun-duka-bagi-mugabe-dikudeta-militer-setelah-3-dekade-kuasai-zimbabwe</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/12/21/18/1834013/tahun-duka-bagi-mugabe-dikudeta-militer-setelah-3-dekade-kuasai-zimbabwe"/><item><title>Tahun Duka Bagi Mugabe, Dikudeta Militer Setelah 3 Dekade Kuasai Zimbabwe</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/21/18/1834013/tahun-duka-bagi-mugabe-dikudeta-militer-setelah-3-dekade-kuasai-zimbabwe</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/12/21/18/1834013/tahun-duka-bagi-mugabe-dikudeta-militer-setelah-3-dekade-kuasai-zimbabwe</guid><pubDate>Kamis 21 Desember 2017 16:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/21/18/1834013/tahun-duka-bagi-mugabe-dikudeta-militer-setelah-3-dekade-kuasai-zimbabwe-lr3ckqsYPX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mantan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/21/18/1834013/tahun-duka-bagi-mugabe-dikudeta-militer-setelah-3-dekade-kuasai-zimbabwe-lr3ckqsYPX.jpg</image><title>Mantan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe. (Foto: Reuters)</title></images><description>SETELAH&amp;nbsp;lebih dari 30 tahun, kekuasaan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe berakhir pada 21 November 2017 melalui sebuah kudeta tak berdarah. Di akhir kudeta, Mugabe yang tidak lagi mendapatkan dukungan dari partainya, Zanu-PF akhirnya setuju untuk menyerahkan kedudukan yang telah dipegangnya sejak 1980.

Awal Kekuasaan Mugabe
Robert Mugabe adalah seorang tokoh revolusi dan politikus Zimbabwe yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan Zimbabwe yang dahulu dikenal dengan nama Rhodesia Selatan. Pada 1963, Mugabe mendirikan Zimbabwe Africa National Union, sebuah organisasi perlawanan terhadap penjajahan Inggris.
Setelah Zimbabwe merdeka pada 1980, Mugabe terpilih menjadi perdana menteri di negara baru tersebut dan kemudian menjadi presiden tujuh tahun kemudian. Sejak saat itu, Mugabe memegang kekuasaan mutlak di Zimbabwe dengan dukungan partai berkuasa bentukannya, Zanu- Patriotic Front (ZANU-PF).
Masa awal pemerintahan Mugabe berjalan dengan baik. Berfokus untuk memperbaiki ekonomi Zimbabwe yang hancur, Mugabe membuat kebijakan lima tahun yang mencabut pembatasan harga bagi para petani dan membiarkan mereka menentukan harga jual produknya sendiri.
Di akhir rencana pembangunan lima tahun Mugabe, pada 1994 Zimbabwe menunjukkan pertumbuhan di bidang pertanian, pertambangan dan industri manufaktur. Mugabe juga mulai membangun lebih banyak sekolah dan klinik untuk populasi kulit hitam di negaranya.
Sayangnya, di saat semua kemajuan itu terjadi, istri Mugabe, Sarah meninggal dunia. Meninggalnya Sarah membuat Mugabe bisa menikahi kekasih rahasianya saat itu, Grace Marufu yang kemudian dikenal sebagai Grace Mugabe.

Masa Kepresidenan dan Kebijakan Kontroversial
Dua tahun kemudian pada 1996, kebijakan Mugabe mulai menimbulkan   keresahan di kalangan warga Zimbabwe. Banyak yang tidak menyukai   keputusannya untuk menyita tanah milik warga kulit putih tanpa pemberian   kompensasi kepada pemiliknya.
Mugabe mengatakan penyitaan itu merupakan satu-satunya cara   perekonomian antara warga kulit hitam dan kulit putih berjalan seimbang   yang hak-haknya dirampas selama masa penjajahan Inggris. Selain itu,   rakyat Zimbabwe juga berang dengan penolakan Mugabe untuk memperbaiki   sistem undang-undang satu Partai Zimbabwe.
Inflasi yang tinggi juga menjadi sisi negatif lain dari kebijakan   Mugabe. Hal ini menyebabkan terjadinya pemogokan pegawai negeri yang   menuntut kenaikan gaji. Kenaikan gaji yang diberikan kepada para pejabat   negara justru hanya menambah kebencian rakyat pada Pemerintahan  Mugabe.
Penolakan terhadap kebijakan politik Mugabe terus menghambat   kesuksesannya dalam menjalankan pemerintahan. Pada 1998, Mugabe meminta   negara-negara lain menyumbangkan dana untuk distribusi tanah di   Zimbabwe. Negara yang dimintai dana meminta Mugabe terlebih dahulu   membuat sebuah rencana untuk menyejahterakan daerah pedesaan. Namun,   Mugabe menolak dan sumbangan itu akhirnya tidak pernah diberikan.Dua tahun kemudian, Mugabe mengesahkan amandemen yang menuntut  Inggris untuk membayar biaya reparasi atas tanah yang mereka sita dari  penduduk kulit hitam semasa penjajahan. Dia mengancam akan menyita  tanah-tanah warga Inggris jika mereka menolak membayar. Langkah ini  semakin membuat hubungan luar negeri Zimbabwe dengan negara lain  memburuk.
Semua kebijakan yang tidak populer itu ternyata tidak menghalangi  Mugabe untuk memenangi&amp;nbsp;pemilihan presiden pada 2002. Uni Eropa yang  menuduh Mugabe telah melakukan kecurangan dengan memanipulasi kotak  suara, menetapkan embargo terhadap negara di selatan Afrika itu.  Perekonomian Zimbabwe yang kala itu telah berada di ambang kehancuran  semakin mengalami kesulitan.
BACA JUGA: Mengenal Mugabe, Tokoh yang Berkuasa Lebih Lama dari Soeharto
Mugabe terus melakukan cara-cara licik dan curang untuk  mempertahankan kekuasannya pada pemilihan umum (pemilu) 2005 dan 2008.  Bahkan, saat kalah dalam pemilihan dari Morgan Tsvangirai, Mugabe  menolak menyerahkan kekuasaannya dan menuntut penghitungan ulang  digelar.
Menjelang digelarnya pemilihan ulang pada Juni 2008, para pendukung  Tsvangirai mengalami kekerasan bahkan dibunuh oleh para pendukung  Mugabe. Penolakan Mugabe untuk menyerahkan kekuasaan kembali menimbulkan  tindak kekerasan yang berujung pada tewasnya 85 orang dan ribuan lain  yang mengalami luka-luka.
Meski pada akhirnya Mugabe dan Tsvangirai setuju untuk melakukan    pembagian kekuasaan, pada 2010, pahlawan kemerdekaan Zimbabwe itu    akhirnya mengambil langkah untuk mengambil alih kekuasaan sepenuhnya    dengan memilih pemerintah provinsi tanpa persetujuan Tsvangirai yang    semakin memperkuat dominasinya di pemerintahan.
Pemilu yang digelar pada 2013 kembali menghadapkan Mugabe dengan    Tsvangirai dengan hasil yang tidak jauh berbeda. Setelah menolak adanya    pengawasan pemilu dari pihak Barat, Mugabe yang saat itu berusia 89    tahun dituduh telah membuang suara yang mendukung saingannya dan    melakukan intimidasi dan kekerasan pada pihak oposisi. Pada penghitungan    akhir, Mugabe dinyatakan memperoleh 61 suara sementara Tsvangirai   hanya  34 persen suara.
&amp;ldquo;Pemilu ini tidak mencerminkan kehendak rakyat. Saya tidak  berpikir   bahwa bahkan di Afrika ada yang melakukan tindakan manipulasi  suara   dengan terang-terangan dan cara yang kurang ajar, &quot; kata  Tsvangirai yang   berang saat itu.Kejatuhan Setelah Tiga Dekade Berkuasa
Kejatuhan Mugabe bermula pada&amp;nbsp;medio&amp;nbsp;2017, seiring dengan usianya yang   semakin uzur dan pembicaraan mengenai calon penggantinya mulai   bermunculan. Perekonomian Zimbabwe yang semakin memburuk juga turut   memunculkan semakin banyak kritik terhadap pemerintahannya.
Pada paruh akhir 2017, banyak yang berspekulasi bahwa Mugabe akan   menunjuk istrinya Grace sebagai penggantinya kelak. Sang Ibu Negara   adalah sosok yang tidak populer, baik di mata rakyat maupun di mata   orang-orang di pemerintahan.
Grace yang dijuluki &amp;ldquo;Gucci Grace&amp;rdquo; oleh rakyat karena kegemarannya   berbelanja barang mewah juga berperan dalam pemecatan beberapa mantan   pejabat dan sekutu Mugabe dari pemerintahan. Perempuan berusia 52 tahun   itu seringkali menghina dan menuntut pejabat pemerintah, bahkan dari   partainya sendiri, ZANU-PF di depan publik.
BACA JUGA: Aniaya Model, Ibu Negara Zimbabwe Justru Diberi Kekebalan Diplomatik
Dia juga diduga berperan   dalam menyingkirkan saingan-saingannya untuk menjadi penerus Mugabe.   Pada 2014 Grace memelopori pemecatan mantan Wakil Presiden Zimbabwe yang   juga sekutu dekat Mugabe, Joice Mujuru yang dituduhnya korup,  pembohong  dan tidak setia.
Berselang tiga tahun   kemudian, pada 2017, Grace juga disebut-sebut berada di balik pendepakan   pengganti Mujuru, Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa. Seperti juga   Mujuru, wapres Mnangagwa juga dituduh telah tidak setia kepada Mugabe   dan merencanakan kudeta.
Pemecatan Mnangagwa   terbukti menjadi sebuah kesalahan dari Mugabe dan &amp;nbsp;menjadi memicu   serangkaian peristiwa yang berujung pada kejatuhannya.
Pada 14 November 2017,   beberapa hari setelah pemecatan Mnangagwa, keadaan di Zimbawe tegang.   Tank-tank dan kendaraan militer terlihat lalu lalang di Ibu Kota Harare   dan militer mengambil alih stasiun penyiaran Zimbabwe.
Ledakan dilaporkan terdengar di beberapa wilayah di ibu kota, membuat warga bertanya-tanya apakah telah terjadi kudeta.
Keesokan harinya, juru   bicara angkatan bersenjata Zimbabwe menyatakan bahwa militer tengah   melakukan pembersihan terhadap pihak-pihak dan pelaku kriminal yang   dianggap telah menyebabkan penderitaan ekonomi dan sosial di Zimbabwe.   Dia menepis dugaan telah terjadi kudeta militer dan menyatakan Presiden   Mugabe dan keluarganya dalam keadaan selamat dan aman.
&quot;Kami hanya menargetkan   penjahat di sekitar presiden yang melakukan kejahatan sehingga   menyebabkan penderitaan sosial dan ekonomi di negara ini untuk membawa   mereka ke pengadilan,&quot; demikian pernyataan dari militer Zimbabwe yang   disiarkan media.
&amp;ldquo;Segera setelah kami menyelesaikan misi kami, kami berharap situasinya akan kembali normal.&quot;
Setelah pengambilalihan   kekuasaan itu, militer Zimbabwe meminta Mugabe untuk mundur dari   jabatannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh presiden berusia 93 tahun   tersebut. Dia bahkan sempat muncul dalam sebuah upacara wisuda   universitas yang digelar dua hari setelah kudeta.
Tak ingin situasi    berlarut-larut, pada 20 November 2017, partai berkuasa ZANU-PF menggelar    rapat akbar dan memutuskan untuk memecat Mugabe dengan harapan    membuatnya setuju untuk lengser. Sang presiden pun diberi waktu 24 jam    untuk mengundurkan diri dan disarankan untuk meninggalkan Zimbabwe.
Akhirnya, pada 21    November 2017, setelah berkuasa selama 37 tahun, presiden bernama    lengkap Robert Gabriel Mugabe itu menyatakan pengunduran dirinya melalui    sebuah surat yang ditujukan kepada parlemen.
BACA JUGA: Delapan Hari Penuh Drama, Presiden Zimbabwe Akhirnya Resmi Mengundurkan Diri
&quot;Saya telah mengundurkan    diri untuk memungkinkan kelancaran transfer kekuasaan. Tolong  sampaikan   pemberitahuan keputusan saya kepada publik sesegera  mungkin,&quot; tulis   Mugabe.
Keputusan Mugabe itu    segera disambut dengan tepukan tangan dan apresiasi dari anggota    parlemen. Di jalan-jalan, rakyat Zimbabwe berpesta dan bergembira    setelah mendengar kabar lengsernya Mugabe.
Posisi pria berusia 93    tahun itu sementara akan digantikan oleh mantan Wakil Presidennya,    Emmerson Mnangagwa sampai akhir masa jabatan pada September 2018.    Setelah itu, Zimbabwe akan menggelar pemilu untuk menentukan presiden    baru mereka.
BACA JUGA: Usai Kudeta, Ultah Mantan Presiden Mugabe Dijadikan Hari Libur Nasional Zimbabwe
Meski dilengserkan,    Mugabe ternyata tidak benar-benar menderita. Sebelum setuju untuk    mundur, Mugabe ternyata sempat membuat kesepakatan dengan pemerintah    Zimbabwe agar dia dan keluarganya mendapat jaminan kekebalan hukum dan    terhindar dari persekusi. Tidak hanya itu, Mugabe juga akan mendapatkan    pembayaran dengan nilai yang tidak kurang dari USD10 juta dan masih   akan  mendapatkan gajinya sebagai mantan presiden seumur hidupnya.</description><content:encoded>SETELAH&amp;nbsp;lebih dari 30 tahun, kekuasaan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe berakhir pada 21 November 2017 melalui sebuah kudeta tak berdarah. Di akhir kudeta, Mugabe yang tidak lagi mendapatkan dukungan dari partainya, Zanu-PF akhirnya setuju untuk menyerahkan kedudukan yang telah dipegangnya sejak 1980.

Awal Kekuasaan Mugabe
Robert Mugabe adalah seorang tokoh revolusi dan politikus Zimbabwe yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan Zimbabwe yang dahulu dikenal dengan nama Rhodesia Selatan. Pada 1963, Mugabe mendirikan Zimbabwe Africa National Union, sebuah organisasi perlawanan terhadap penjajahan Inggris.
Setelah Zimbabwe merdeka pada 1980, Mugabe terpilih menjadi perdana menteri di negara baru tersebut dan kemudian menjadi presiden tujuh tahun kemudian. Sejak saat itu, Mugabe memegang kekuasaan mutlak di Zimbabwe dengan dukungan partai berkuasa bentukannya, Zanu- Patriotic Front (ZANU-PF).
Masa awal pemerintahan Mugabe berjalan dengan baik. Berfokus untuk memperbaiki ekonomi Zimbabwe yang hancur, Mugabe membuat kebijakan lima tahun yang mencabut pembatasan harga bagi para petani dan membiarkan mereka menentukan harga jual produknya sendiri.
Di akhir rencana pembangunan lima tahun Mugabe, pada 1994 Zimbabwe menunjukkan pertumbuhan di bidang pertanian, pertambangan dan industri manufaktur. Mugabe juga mulai membangun lebih banyak sekolah dan klinik untuk populasi kulit hitam di negaranya.
Sayangnya, di saat semua kemajuan itu terjadi, istri Mugabe, Sarah meninggal dunia. Meninggalnya Sarah membuat Mugabe bisa menikahi kekasih rahasianya saat itu, Grace Marufu yang kemudian dikenal sebagai Grace Mugabe.

Masa Kepresidenan dan Kebijakan Kontroversial
Dua tahun kemudian pada 1996, kebijakan Mugabe mulai menimbulkan   keresahan di kalangan warga Zimbabwe. Banyak yang tidak menyukai   keputusannya untuk menyita tanah milik warga kulit putih tanpa pemberian   kompensasi kepada pemiliknya.
Mugabe mengatakan penyitaan itu merupakan satu-satunya cara   perekonomian antara warga kulit hitam dan kulit putih berjalan seimbang   yang hak-haknya dirampas selama masa penjajahan Inggris. Selain itu,   rakyat Zimbabwe juga berang dengan penolakan Mugabe untuk memperbaiki   sistem undang-undang satu Partai Zimbabwe.
Inflasi yang tinggi juga menjadi sisi negatif lain dari kebijakan   Mugabe. Hal ini menyebabkan terjadinya pemogokan pegawai negeri yang   menuntut kenaikan gaji. Kenaikan gaji yang diberikan kepada para pejabat   negara justru hanya menambah kebencian rakyat pada Pemerintahan  Mugabe.
Penolakan terhadap kebijakan politik Mugabe terus menghambat   kesuksesannya dalam menjalankan pemerintahan. Pada 1998, Mugabe meminta   negara-negara lain menyumbangkan dana untuk distribusi tanah di   Zimbabwe. Negara yang dimintai dana meminta Mugabe terlebih dahulu   membuat sebuah rencana untuk menyejahterakan daerah pedesaan. Namun,   Mugabe menolak dan sumbangan itu akhirnya tidak pernah diberikan.Dua tahun kemudian, Mugabe mengesahkan amandemen yang menuntut  Inggris untuk membayar biaya reparasi atas tanah yang mereka sita dari  penduduk kulit hitam semasa penjajahan. Dia mengancam akan menyita  tanah-tanah warga Inggris jika mereka menolak membayar. Langkah ini  semakin membuat hubungan luar negeri Zimbabwe dengan negara lain  memburuk.
Semua kebijakan yang tidak populer itu ternyata tidak menghalangi  Mugabe untuk memenangi&amp;nbsp;pemilihan presiden pada 2002. Uni Eropa yang  menuduh Mugabe telah melakukan kecurangan dengan memanipulasi kotak  suara, menetapkan embargo terhadap negara di selatan Afrika itu.  Perekonomian Zimbabwe yang kala itu telah berada di ambang kehancuran  semakin mengalami kesulitan.
BACA JUGA: Mengenal Mugabe, Tokoh yang Berkuasa Lebih Lama dari Soeharto
Mugabe terus melakukan cara-cara licik dan curang untuk  mempertahankan kekuasannya pada pemilihan umum (pemilu) 2005 dan 2008.  Bahkan, saat kalah dalam pemilihan dari Morgan Tsvangirai, Mugabe  menolak menyerahkan kekuasaannya dan menuntut penghitungan ulang  digelar.
Menjelang digelarnya pemilihan ulang pada Juni 2008, para pendukung  Tsvangirai mengalami kekerasan bahkan dibunuh oleh para pendukung  Mugabe. Penolakan Mugabe untuk menyerahkan kekuasaan kembali menimbulkan  tindak kekerasan yang berujung pada tewasnya 85 orang dan ribuan lain  yang mengalami luka-luka.
Meski pada akhirnya Mugabe dan Tsvangirai setuju untuk melakukan    pembagian kekuasaan, pada 2010, pahlawan kemerdekaan Zimbabwe itu    akhirnya mengambil langkah untuk mengambil alih kekuasaan sepenuhnya    dengan memilih pemerintah provinsi tanpa persetujuan Tsvangirai yang    semakin memperkuat dominasinya di pemerintahan.
Pemilu yang digelar pada 2013 kembali menghadapkan Mugabe dengan    Tsvangirai dengan hasil yang tidak jauh berbeda. Setelah menolak adanya    pengawasan pemilu dari pihak Barat, Mugabe yang saat itu berusia 89    tahun dituduh telah membuang suara yang mendukung saingannya dan    melakukan intimidasi dan kekerasan pada pihak oposisi. Pada penghitungan    akhir, Mugabe dinyatakan memperoleh 61 suara sementara Tsvangirai   hanya  34 persen suara.
&amp;ldquo;Pemilu ini tidak mencerminkan kehendak rakyat. Saya tidak  berpikir   bahwa bahkan di Afrika ada yang melakukan tindakan manipulasi  suara   dengan terang-terangan dan cara yang kurang ajar, &quot; kata  Tsvangirai yang   berang saat itu.Kejatuhan Setelah Tiga Dekade Berkuasa
Kejatuhan Mugabe bermula pada&amp;nbsp;medio&amp;nbsp;2017, seiring dengan usianya yang   semakin uzur dan pembicaraan mengenai calon penggantinya mulai   bermunculan. Perekonomian Zimbabwe yang semakin memburuk juga turut   memunculkan semakin banyak kritik terhadap pemerintahannya.
Pada paruh akhir 2017, banyak yang berspekulasi bahwa Mugabe akan   menunjuk istrinya Grace sebagai penggantinya kelak. Sang Ibu Negara   adalah sosok yang tidak populer, baik di mata rakyat maupun di mata   orang-orang di pemerintahan.
Grace yang dijuluki &amp;ldquo;Gucci Grace&amp;rdquo; oleh rakyat karena kegemarannya   berbelanja barang mewah juga berperan dalam pemecatan beberapa mantan   pejabat dan sekutu Mugabe dari pemerintahan. Perempuan berusia 52 tahun   itu seringkali menghina dan menuntut pejabat pemerintah, bahkan dari   partainya sendiri, ZANU-PF di depan publik.
BACA JUGA: Aniaya Model, Ibu Negara Zimbabwe Justru Diberi Kekebalan Diplomatik
Dia juga diduga berperan   dalam menyingkirkan saingan-saingannya untuk menjadi penerus Mugabe.   Pada 2014 Grace memelopori pemecatan mantan Wakil Presiden Zimbabwe yang   juga sekutu dekat Mugabe, Joice Mujuru yang dituduhnya korup,  pembohong  dan tidak setia.
Berselang tiga tahun   kemudian, pada 2017, Grace juga disebut-sebut berada di balik pendepakan   pengganti Mujuru, Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa. Seperti juga   Mujuru, wapres Mnangagwa juga dituduh telah tidak setia kepada Mugabe   dan merencanakan kudeta.
Pemecatan Mnangagwa   terbukti menjadi sebuah kesalahan dari Mugabe dan &amp;nbsp;menjadi memicu   serangkaian peristiwa yang berujung pada kejatuhannya.
Pada 14 November 2017,   beberapa hari setelah pemecatan Mnangagwa, keadaan di Zimbawe tegang.   Tank-tank dan kendaraan militer terlihat lalu lalang di Ibu Kota Harare   dan militer mengambil alih stasiun penyiaran Zimbabwe.
Ledakan dilaporkan terdengar di beberapa wilayah di ibu kota, membuat warga bertanya-tanya apakah telah terjadi kudeta.
Keesokan harinya, juru   bicara angkatan bersenjata Zimbabwe menyatakan bahwa militer tengah   melakukan pembersihan terhadap pihak-pihak dan pelaku kriminal yang   dianggap telah menyebabkan penderitaan ekonomi dan sosial di Zimbabwe.   Dia menepis dugaan telah terjadi kudeta militer dan menyatakan Presiden   Mugabe dan keluarganya dalam keadaan selamat dan aman.
&quot;Kami hanya menargetkan   penjahat di sekitar presiden yang melakukan kejahatan sehingga   menyebabkan penderitaan sosial dan ekonomi di negara ini untuk membawa   mereka ke pengadilan,&quot; demikian pernyataan dari militer Zimbabwe yang   disiarkan media.
&amp;ldquo;Segera setelah kami menyelesaikan misi kami, kami berharap situasinya akan kembali normal.&quot;
Setelah pengambilalihan   kekuasaan itu, militer Zimbabwe meminta Mugabe untuk mundur dari   jabatannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh presiden berusia 93 tahun   tersebut. Dia bahkan sempat muncul dalam sebuah upacara wisuda   universitas yang digelar dua hari setelah kudeta.
Tak ingin situasi    berlarut-larut, pada 20 November 2017, partai berkuasa ZANU-PF menggelar    rapat akbar dan memutuskan untuk memecat Mugabe dengan harapan    membuatnya setuju untuk lengser. Sang presiden pun diberi waktu 24 jam    untuk mengundurkan diri dan disarankan untuk meninggalkan Zimbabwe.
Akhirnya, pada 21    November 2017, setelah berkuasa selama 37 tahun, presiden bernama    lengkap Robert Gabriel Mugabe itu menyatakan pengunduran dirinya melalui    sebuah surat yang ditujukan kepada parlemen.
BACA JUGA: Delapan Hari Penuh Drama, Presiden Zimbabwe Akhirnya Resmi Mengundurkan Diri
&quot;Saya telah mengundurkan    diri untuk memungkinkan kelancaran transfer kekuasaan. Tolong  sampaikan   pemberitahuan keputusan saya kepada publik sesegera  mungkin,&quot; tulis   Mugabe.
Keputusan Mugabe itu    segera disambut dengan tepukan tangan dan apresiasi dari anggota    parlemen. Di jalan-jalan, rakyat Zimbabwe berpesta dan bergembira    setelah mendengar kabar lengsernya Mugabe.
Posisi pria berusia 93    tahun itu sementara akan digantikan oleh mantan Wakil Presidennya,    Emmerson Mnangagwa sampai akhir masa jabatan pada September 2018.    Setelah itu, Zimbabwe akan menggelar pemilu untuk menentukan presiden    baru mereka.
BACA JUGA: Usai Kudeta, Ultah Mantan Presiden Mugabe Dijadikan Hari Libur Nasional Zimbabwe
Meski dilengserkan,    Mugabe ternyata tidak benar-benar menderita. Sebelum setuju untuk    mundur, Mugabe ternyata sempat membuat kesepakatan dengan pemerintah    Zimbabwe agar dia dan keluarganya mendapat jaminan kekebalan hukum dan    terhindar dari persekusi. Tidak hanya itu, Mugabe juga akan mendapatkan    pembayaran dengan nilai yang tidak kurang dari USD10 juta dan masih   akan  mendapatkan gajinya sebagai mantan presiden seumur hidupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
