<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pesan Natal, Paus Fransiskus Ajak Dunia Rangkul Pengungsi</title><description>Sejak dipilih pada 2013, Paus Fransiskus giat berbicara tentang para pengungsi. Isu itu pula yang menjadi fokus pesan Natalnya tahun ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/25/18/1835569/pesan-natal-paus-fransiskus-ajak-dunia-rangkul-pengungsi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/12/25/18/1835569/pesan-natal-paus-fransiskus-ajak-dunia-rangkul-pengungsi"/><item><title>Pesan Natal, Paus Fransiskus Ajak Dunia Rangkul Pengungsi</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/25/18/1835569/pesan-natal-paus-fransiskus-ajak-dunia-rangkul-pengungsi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/12/25/18/1835569/pesan-natal-paus-fransiskus-ajak-dunia-rangkul-pengungsi</guid><pubDate>Senin 25 Desember 2017 13:20 WIB</pubDate><dc:creator>Rifa Nadia Nurfuadah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/25/18/1835569/pesan-natal-paus-fransiskus-ajak-dunia-rangkul-pengungsi-hs4VJnLaA4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Roma. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/25/18/1835569/pesan-natal-paus-fransiskus-ajak-dunia-rangkul-pengungsi-hs4VJnLaA4.jpg</image><title>Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Roma. (Foto: Reuters)</title></images><description>VATICAN CITY - Paus Fransiskus menjadikan Misa Malam Natal untuk menggaungkan pesannya agar segenap umat Katolik di dunia memerhatikan para pengungsi dan migran. Paus mengilustrasikan perjuangan yang dihadapi keluarga suci menjelang kelahiran bayi Yesus serupa dengan kesulitan para pengungsi dan migran tersebut.

Di hadapan sekira 10 ribu orang di Basilika Santo Petrus di Vatikan, serta puluhan ribu lainnya di alun-alun luar, Sri Paus mengingatkan, Bunda Maria melahirkan bayi Yesus di sebuah palungan karena tidak ada tempat untuk mereka di penginapan. Ia menggarisbawahi kisah di Alkitab itu dengan beragam peristiwa kekinian di dunia, seperti larangan memasuki Amerika Serikat bagi warga dari berbagai negara Islam, pembersihan etnis yang dilakukan Militer Myanmar terhadap minoritas Rohingya, serta perang, perdagangan manusia dan perbedaan kesejahteraan antarnegara yang telah menyebabkan jutaan orang terpaksa mendekam di kamp pengungsi kumuh.

Pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma di dunia itu menggunakan contoh keluarga suci untuk menekankan &quot;risiko bahaya bagi mereka yang harus meninggalkan rumah&quot;. Paus Fransiskus menyebut bahwa di Betlehem, Yusuf dan Bunda Maria menemukan &quot;kota yang tidak memiliki kamar atau tempat bagi orang asing dari tanah jauh&quot; serta &quot;tidak memedulikan orang lain&quot;. Sebaliknya, Yesus justru &quot;datang untuk memberikan dokumen kewarganegaan ke semua orang.&quot;

 
BACA JUGA: Sampaikan Pesan Natal, Ratu Elizabeth II Puji Suaminya

Sejak dipilih pada 2013, Paus Fransiskus telah giat berbicara tentang para pengungsi. Saat mengunjungi  Bangladesh beberapa pekan lalu, Paus Fransiskus berbicara soal aksi kekerasan Myanmar terhadap minoritas Rohingya.

&quot;Kehadiran Tuhan hari ini juga disebut Rohingya,&quot; ujar Paus kala itu.

Pada Misa Malam Natal yang dihelat Minggu 24 Desember malam di Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus meningkatkan perhatian kepada para pengungsi bahwa langkah mereka ibarat payahnya perjalanan Yusuf dan Bunda Maria ke palungan demi melahirkan bayi Yesus.

&quot;Kita telah melihat jejak jutaan orang yang tidak memilih untuk pergi, tetapi dipaksa pergi dari tanah mereka, meninggalkan semua yang mereka cintai. Ketika sebagian orang mencari kehidupan yang lebih baik, bagi kebanyakan dari mereka, kepergian itu hanya memiliki satu nama: bertahan hidup,&quot; papar Paus Fransiskus, seperti dikutip dari New York Times, Senin (25/12/2017).

Pria yang baru berulang tahun ke-81 itu sedang menjalani tahun kelima masa kepausan yang disebut &quot;revolusioner&quot; oleh para pendukung dan kritikus.  Dalam misa tadi malam, Paus Fransiskus menegaskan bahwa para pengungsi dunia adalah fokus utama dan terdepan dalam misinya.

Paus Fransiskus telah berulang kali mengingatkan Negara Barat untuk mengesampingkan dorongan nasionalisme - juga menjauhkan rasa takut terhadap para migran - serta membuka pintu mereka. Pada Malam Natal, Paus Fransiskus mengenang ucapan terkenal dari Yohanes Paulus II kepada penentang komunisme, bahwa mereka seharusnya &quot;tidak perlu takut&quot;, &quot;membuka pintu lebar-lebar&quot; dan meyakini bahwa tujuan mereka akan menang.

Paus Fransiskus menyampaikan kembali pesan itu sebagai seruan untuk memberikan keramahtamahan bagi para pengungsi yang terlupakan dunia.

&quot;Natal adalah masanya untuk mengubah ketakutan menjadi kemurahan hati,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>VATICAN CITY - Paus Fransiskus menjadikan Misa Malam Natal untuk menggaungkan pesannya agar segenap umat Katolik di dunia memerhatikan para pengungsi dan migran. Paus mengilustrasikan perjuangan yang dihadapi keluarga suci menjelang kelahiran bayi Yesus serupa dengan kesulitan para pengungsi dan migran tersebut.

Di hadapan sekira 10 ribu orang di Basilika Santo Petrus di Vatikan, serta puluhan ribu lainnya di alun-alun luar, Sri Paus mengingatkan, Bunda Maria melahirkan bayi Yesus di sebuah palungan karena tidak ada tempat untuk mereka di penginapan. Ia menggarisbawahi kisah di Alkitab itu dengan beragam peristiwa kekinian di dunia, seperti larangan memasuki Amerika Serikat bagi warga dari berbagai negara Islam, pembersihan etnis yang dilakukan Militer Myanmar terhadap minoritas Rohingya, serta perang, perdagangan manusia dan perbedaan kesejahteraan antarnegara yang telah menyebabkan jutaan orang terpaksa mendekam di kamp pengungsi kumuh.

Pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma di dunia itu menggunakan contoh keluarga suci untuk menekankan &quot;risiko bahaya bagi mereka yang harus meninggalkan rumah&quot;. Paus Fransiskus menyebut bahwa di Betlehem, Yusuf dan Bunda Maria menemukan &quot;kota yang tidak memiliki kamar atau tempat bagi orang asing dari tanah jauh&quot; serta &quot;tidak memedulikan orang lain&quot;. Sebaliknya, Yesus justru &quot;datang untuk memberikan dokumen kewarganegaan ke semua orang.&quot;

 
BACA JUGA: Sampaikan Pesan Natal, Ratu Elizabeth II Puji Suaminya

Sejak dipilih pada 2013, Paus Fransiskus telah giat berbicara tentang para pengungsi. Saat mengunjungi  Bangladesh beberapa pekan lalu, Paus Fransiskus berbicara soal aksi kekerasan Myanmar terhadap minoritas Rohingya.

&quot;Kehadiran Tuhan hari ini juga disebut Rohingya,&quot; ujar Paus kala itu.

Pada Misa Malam Natal yang dihelat Minggu 24 Desember malam di Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus meningkatkan perhatian kepada para pengungsi bahwa langkah mereka ibarat payahnya perjalanan Yusuf dan Bunda Maria ke palungan demi melahirkan bayi Yesus.

&quot;Kita telah melihat jejak jutaan orang yang tidak memilih untuk pergi, tetapi dipaksa pergi dari tanah mereka, meninggalkan semua yang mereka cintai. Ketika sebagian orang mencari kehidupan yang lebih baik, bagi kebanyakan dari mereka, kepergian itu hanya memiliki satu nama: bertahan hidup,&quot; papar Paus Fransiskus, seperti dikutip dari New York Times, Senin (25/12/2017).

Pria yang baru berulang tahun ke-81 itu sedang menjalani tahun kelima masa kepausan yang disebut &quot;revolusioner&quot; oleh para pendukung dan kritikus.  Dalam misa tadi malam, Paus Fransiskus menegaskan bahwa para pengungsi dunia adalah fokus utama dan terdepan dalam misinya.

Paus Fransiskus telah berulang kali mengingatkan Negara Barat untuk mengesampingkan dorongan nasionalisme - juga menjauhkan rasa takut terhadap para migran - serta membuka pintu mereka. Pada Malam Natal, Paus Fransiskus mengenang ucapan terkenal dari Yohanes Paulus II kepada penentang komunisme, bahwa mereka seharusnya &quot;tidak perlu takut&quot;, &quot;membuka pintu lebar-lebar&quot; dan meyakini bahwa tujuan mereka akan menang.

Paus Fransiskus menyampaikan kembali pesan itu sebagai seruan untuk memberikan keramahtamahan bagi para pengungsi yang terlupakan dunia.

&quot;Natal adalah masanya untuk mengubah ketakutan menjadi kemurahan hati,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
