<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Keharmonisan Beragama Kental ketika Perayaan Natal di Pontianak</title><description>Keharmonisan beragama kental terasa di Pontianak. Di sana ada Masjid dan Natal berdampingan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/25/340/1835679/keharmonisan-beragama-kental-ketika-perayaan-natal-di-pontianak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/12/25/340/1835679/keharmonisan-beragama-kental-ketika-perayaan-natal-di-pontianak"/><item><title>Keharmonisan Beragama Kental ketika Perayaan Natal di Pontianak</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/12/25/340/1835679/keharmonisan-beragama-kental-ketika-perayaan-natal-di-pontianak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/12/25/340/1835679/keharmonisan-beragama-kental-ketika-perayaan-natal-di-pontianak</guid><pubDate>Senin 25 Desember 2017 19:15 WIB</pubDate><dc:creator>Ade Putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/25/340/1835679/keharmonisan-beragama-kental-ketika-perayaan-natal-di-pontianak-046ujC8CId.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gereja HKBP Jeruju dan Masjid Nurbaitillah (foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/25/340/1835679/keharmonisan-beragama-kental-ketika-perayaan-natal-di-pontianak-046ujC8CId.jpg</image><title>Gereja HKBP Jeruju dan Masjid Nurbaitillah (foto: Ist)</title></images><description>RUAS jalan selebar lebih kurang 2 meter menjadi saksi kehidupan yang indah dan penuh toleransi serta mengedepankan keberagaman. Di pemukiman padat itu, terdapat 2 rumah ibadah yang berdampingan. Hanya terpisah pagar setinggi 1 meter lebih.

Masjid Nurbaitillah dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jeruju nama kedua tempat ibadah ini. Letaknya di Jalan Padat Karya, Kelurahan Sungai Beliung, Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
(Baca Juga: Hari Natal, Menengok Kemesraan Gereja dan Masjid di Solo)
Saat ini, usia Gereja HKBP sudah memasuki 35 tahun. Keberagaman dan toleransi antarumat ini sudah terjalin sejak puluhan lalu. Bahkan, pada perayaan Natal 2 tahun lalu, keberagaman dan toleransi di sana sangat terasa. Okezone menjadi saksi keharmonisan ini.
(foto: Istimewa)
Kala itu, perayaan Natal pada 25 Desember 2015, tepat pada hari Jumat. Di mana, umat Muslim juga melaksanakan Jumatan. Menjelang Jumatan, di Gereja HKBP juga tengah berlangsung Misa Natal. Banyak jamaatnya yang terlihat berasal dari luar lingkungan Jalan Padat Karya. Namun, kenyamanan beribadah satu dengan lainnya tak terganggu.

Saat umat Muslim melintasi jalan di depan gereja menuju Masjid, antarumat beragama ini saling sapa. Sejak dimulainya khotbah hingga Salat Jumat berlangsung, aktivitas di Gereja pun sunyi. Hanya suara sayup yang terdengar dari sana. Misa Natal ditunda sampai umat Muslim selesai Jumatan.

Kala itu, usai memimpin ibadah misa, Pendeta S. Simanungkalit mengatakan, demi menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam hidup bersama sesama manusia, sudah lama toleransi dan komunikasi antarumat tercipta di sana.

&quot;Kami saling mengerti dan saling membantu. Seperti tadi, kami komunikasi. Jika ada acara di Masjid, kami berhenti dulu,&quot; kata Pimpinan Gereja HKBP Jeruju.

Gereja HKBP berdiri pada 1982. Lalu, 18 tahun kemudian, Masjid Nurbaitillah berdiri di sebelahnya. Sampai saat ini, antarumat tidak pernah mengalami masalah. Mereka menjalani kewajiban dengan aman dan damai berdampingan.

&quot;Ini yang saya minta kepada umat saya bagaimana bisa hidup berdampingan sesama umat Allah,&quot; ucapnya tempo itu.

Keharmonisan yang terjaga dengan baik itu terlihat saat ada acara di  masing-masing rumah ibadah tersebut. Contohnya, saat umat Muslim  mempunyai acara, pengurus Gereja menyediakan lahan parkir di lingkungan  Gereja untuk umat Muslim yang melaksanakan kegiatan di Masjid.

Bahkan, umat Gereja HKBP pernah menyumbang hewan kurban untuk umat  Muslim saat perayaan Idul Adha. Usai Jumatan, Pengurus Masjid  Nurbaitillah, Sofian Ahmadi mengatakan, toleransi selalu di kedepankan.  Antarumat saling bekerja sama saat kegiatan keagamaan masing-masing.
(Baca Juga: Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah)
(foto: Istimewa)
Contoh kecil, menyediakan lahan parkir. Tidak hanya itu, dua pengurus  tempat ibadah ini pun saling bergotong-royong menjaga kebersihan  lingkungan masjid dan gereja. Intinya saling menjaga dan membantu. Soal  waktu ibadah yang jamnya bersamaan pun, selalu ada koordinasi antarumat.

Untuk diketahui, Masjid Nurbaitillah berdiri di atas tanah yang  dulunya milik Gereja HKBP. Pada tahun 2000, pihak pengurus Masjid  membeli bidang tanah tersebut seharga Rp31 juta. Masjid ini kemudian  dibangun dan diresmikan pada tahun 2004.

Pagar panjang di antara dua rumah ibadah itu seolah bukan pembatas  yang berarti ketika ditembus kesepahaman mereka akan indahnya  keberagaman. Kerukunan hidup beragama, saling menghargai, bertoleransi,  telah berlangsung puluhan tahun di pemukiman padat ini menjadi simbol  harmonisnya Kalimantan Barat, Indonesia yang sebenarnya.</description><content:encoded>RUAS jalan selebar lebih kurang 2 meter menjadi saksi kehidupan yang indah dan penuh toleransi serta mengedepankan keberagaman. Di pemukiman padat itu, terdapat 2 rumah ibadah yang berdampingan. Hanya terpisah pagar setinggi 1 meter lebih.

Masjid Nurbaitillah dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jeruju nama kedua tempat ibadah ini. Letaknya di Jalan Padat Karya, Kelurahan Sungai Beliung, Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
(Baca Juga: Hari Natal, Menengok Kemesraan Gereja dan Masjid di Solo)
Saat ini, usia Gereja HKBP sudah memasuki 35 tahun. Keberagaman dan toleransi antarumat ini sudah terjalin sejak puluhan lalu. Bahkan, pada perayaan Natal 2 tahun lalu, keberagaman dan toleransi di sana sangat terasa. Okezone menjadi saksi keharmonisan ini.
(foto: Istimewa)
Kala itu, perayaan Natal pada 25 Desember 2015, tepat pada hari Jumat. Di mana, umat Muslim juga melaksanakan Jumatan. Menjelang Jumatan, di Gereja HKBP juga tengah berlangsung Misa Natal. Banyak jamaatnya yang terlihat berasal dari luar lingkungan Jalan Padat Karya. Namun, kenyamanan beribadah satu dengan lainnya tak terganggu.

Saat umat Muslim melintasi jalan di depan gereja menuju Masjid, antarumat beragama ini saling sapa. Sejak dimulainya khotbah hingga Salat Jumat berlangsung, aktivitas di Gereja pun sunyi. Hanya suara sayup yang terdengar dari sana. Misa Natal ditunda sampai umat Muslim selesai Jumatan.

Kala itu, usai memimpin ibadah misa, Pendeta S. Simanungkalit mengatakan, demi menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam hidup bersama sesama manusia, sudah lama toleransi dan komunikasi antarumat tercipta di sana.

&quot;Kami saling mengerti dan saling membantu. Seperti tadi, kami komunikasi. Jika ada acara di Masjid, kami berhenti dulu,&quot; kata Pimpinan Gereja HKBP Jeruju.

Gereja HKBP berdiri pada 1982. Lalu, 18 tahun kemudian, Masjid Nurbaitillah berdiri di sebelahnya. Sampai saat ini, antarumat tidak pernah mengalami masalah. Mereka menjalani kewajiban dengan aman dan damai berdampingan.

&quot;Ini yang saya minta kepada umat saya bagaimana bisa hidup berdampingan sesama umat Allah,&quot; ucapnya tempo itu.

Keharmonisan yang terjaga dengan baik itu terlihat saat ada acara di  masing-masing rumah ibadah tersebut. Contohnya, saat umat Muslim  mempunyai acara, pengurus Gereja menyediakan lahan parkir di lingkungan  Gereja untuk umat Muslim yang melaksanakan kegiatan di Masjid.

Bahkan, umat Gereja HKBP pernah menyumbang hewan kurban untuk umat  Muslim saat perayaan Idul Adha. Usai Jumatan, Pengurus Masjid  Nurbaitillah, Sofian Ahmadi mengatakan, toleransi selalu di kedepankan.  Antarumat saling bekerja sama saat kegiatan keagamaan masing-masing.
(Baca Juga: Potret Perayaan Natal di Bumi Serambi Mekkah)
(foto: Istimewa)
Contoh kecil, menyediakan lahan parkir. Tidak hanya itu, dua pengurus  tempat ibadah ini pun saling bergotong-royong menjaga kebersihan  lingkungan masjid dan gereja. Intinya saling menjaga dan membantu. Soal  waktu ibadah yang jamnya bersamaan pun, selalu ada koordinasi antarumat.

Untuk diketahui, Masjid Nurbaitillah berdiri di atas tanah yang  dulunya milik Gereja HKBP. Pada tahun 2000, pihak pengurus Masjid  membeli bidang tanah tersebut seharga Rp31 juta. Masjid ini kemudian  dibangun dan diresmikan pada tahun 2004.

Pagar panjang di antara dua rumah ibadah itu seolah bukan pembatas  yang berarti ketika ditembus kesepahaman mereka akan indahnya  keberagaman. Kerukunan hidup beragama, saling menghargai, bertoleransi,  telah berlangsung puluhan tahun di pemukiman padat ini menjadi simbol  harmonisnya Kalimantan Barat, Indonesia yang sebenarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
