<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daerah Konflik di Tahun Politik dan 'Pekerjaan Rumah' Panglima TNI Hadi Tjahjanto</title><description>Presiden Jokowi melantik Hadi Tjahjanto jadi Panglima  TNI. Lalu apa saja yang harus dilakukan Panglima TNI baru menghadapi tahun politik?</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/01/09/337/1842340/daerah-konflik-di-tahun-politik-dan-pekerjaan-rumah-panglima-tni-hadi-tjahjanto</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/01/09/337/1842340/daerah-konflik-di-tahun-politik-dan-pekerjaan-rumah-panglima-tni-hadi-tjahjanto"/><item><title>Daerah Konflik di Tahun Politik dan 'Pekerjaan Rumah' Panglima TNI Hadi Tjahjanto</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/01/09/337/1842340/daerah-konflik-di-tahun-politik-dan-pekerjaan-rumah-panglima-tni-hadi-tjahjanto</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/01/09/337/1842340/daerah-konflik-di-tahun-politik-dan-pekerjaan-rumah-panglima-tni-hadi-tjahjanto</guid><pubDate>Selasa 09 Januari 2018 15:05 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/09/337/1842340/daerah-konflik-di-tahun-politik-dan-pekerjaa-rumah-panglima-tni-hadi-tjahjanto-khpdn6jYL4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto Mencoba Alutsista TNI (foto: Raisan Al Farisi/Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/09/337/1842340/daerah-konflik-di-tahun-politik-dan-pekerjaa-rumah-panglima-tni-hadi-tjahjanto-khpdn6jYL4.jpg</image><title>Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto Mencoba Alutsista TNI (foto: Raisan Al Farisi/Antara)</title></images><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya melantik Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo menjelang tahun politik.
Sebagai manusia biasa, tentu ada kebanggaan dari bekas Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) itu mengemban tugas negara yang dipercayakan rakyat Indonesia kepadanya yang terlihat dari tak ada gejolak saat pelantikan alumni Akademi Angkatan Udara pada 1986 dan Sekolah Penerbang TNI-Angkatan Udara pada 1987 itu. Ada tanggung jawab yang besar dan sangat tidak mudah dipikulnya.
Menjadi panglima untuk suatu tugas pengamanan di Tanah Air, tentu tidak ringan. Apalagi Indonesia memiliki karakter kebhinekaan yang sangat khas dengan ciri yang berbeda dengan negara lainnya. Kebhinekaan suku, agama, ras dan antargolongan yang seyogyanya dijadikan sebagai sebuah potensi membangun bangsa ini, tak jarang dijadikan alat pemicu kekacauan antarpenduduk yang mengganggu stabilitas keamanan negara.
 Pelantikan Hadi Tjahjanto Menjadi Panglima TNI (foto: Antara)
Kondisi itu saban terjadi di berbagai belahan negeri yang berazaskan Pancasila ini, meskipun di beberapa tempat lainnya masih tetap terjaga kondisi (damai) itu. Sebut saja di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan Indonesia mini karena hidup berbagai golongan suku dan agama serta golongan dari seantero nusantara ini.
(Baca Juga: Marsekal Hadi Tjahjanto, Kumis Tebal dan Jabatan Panglima TNI)
Negeri yang juga berkarakter kepulauan dan berada di lintasan perbatasan negara itu hingga saat ini belum pernah mencatat sejarah kacau karena sulutan SARA. Selain isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), negeri tercinta ini juga sering dirundung nestapa akibat gesekan politik.
Pemilihan kepala daerah di berbagai wilayah baik di level kabupaten dan kota, provinsi serta pemilihan presiden, sering dijadikan sebagai menu yang didesain oleh sekelompok orang untuk mengacaukan negeri ini. Perbedaan pilihan dalam politik pilkada lalu digesek lebih jauh ke SARA agar muatan alasan konflik kian menjadi-jadi.
Hal ini tentu telah memberi dampak bagi pelaksanaan pembangunan pemerintah ke depan yang bertujuan untuk kepentingan kemakmuran masyarakatnya. Dalam konteks politik itulah, Presiden Joko Widodo telah memilih Hadi Tjahjanto sebagai panglima yang akan mengawal stabilitas keamanan terutama di tahun politik pada 2018 hingga 2019 mendatang.
Pria kelahiran Malang 8 November 1963 itu dinilai Presiden Jokowi mampu menjadi komandan yang tetap netral mengawal pelaksanaan pemilihan di tahun politik 2018 agar tetap damai dan tetap bersatu. Namun begitu, Panglima TNI harus punya sejumlah langkah taktis dan strategis demi tetap kondusifnya keamanan negeri ini.Penguatan alutsista
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan,  sebagai negeri berkepulauan dan diharap akan menjadi Poros Maritim Dunia  sesuai visi Presiden Jokowi maka diperlukan penguatan pertahanan  maritim dengan fokus kepada peningkataan kemampuan TNI khususnya matra  AL dan AU.
Dalam konteks itu, sesuai dengan tahapan pembangunan kekuatan  maritim, sudah selayaknya alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI  AU mendapat prioritas pertama. Kekuatan udara dibangun agar mampu  beroperasi 24 jam hingga ruang udara di atas zona ekonomi exklusif (ZEE)  dan landas kontinen yang ada.
Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan TNI untuk menjamin keunggulan di  udara dan di laut. Artinya, kekuatan udara tersebut ditujukan untuk  memberikan perlindungan udara atas semua operasi militer di laut.
(Baca Juga: Sensasi Ngopi &quot;Baringga&quot; Bersama Panglima TNI di Ketinggian 15.500 Kaki)
TNI AU, lanjutnya selayaknya akan memberikan jaminan 'air supremacy'  dan 'air superiority' agar TNI AL mampu melaksanakan semua operasi di  laut menjaga stabilitas keamanan maritim. Dalam konteks itulah, sangat  layak Panglima TNI dijabat unsur TNI AU untuk mewujudkan kepentingan  nasional atas pertahanan maritim tersebut.
Hal penting lain, TNI AU memiliki cara pandang bahwa ruang udara  memiliki nilai yang sangat penting dalam mendukung program pembangunan  yang sedang dijalankan pemerintah dengan fokus pada nilai ekonomis.  Dengan demikian, prioritas pola gelar TNI AU mengutamakan daerah depan  dan perbatasan wilayah seperti Natuna, Tarakan, Morotai, Biak, Metauke  dan Kupang (Nusa Tenggara Timur) menjadi tepat.
 Panglima TNI Hadi Tjahjanto Bersama Pasukan Denjaka (foto: Antara)
Pembenahan alutsista TNI, dikatakan Nuning sapaan Susaningtyas  terbagi ke dalam dua program yaitu, alutsista yang dimiliki sebelum  'Minimum Essential Force' (MEF) ditetapkan pemerintah dan setelah MEF  berjalan.
Alutsista sebelum MEF dibenahi untuk mempertahankan 'life cycle' agar  tetap dapat digunakan sesuai pasokan rantai logistik dan keahlian  prajurit TNI yang mengawaki alutsista itu. Dari analisa 'Operation  Reaearch' biasanya pembenahan alutsista tersebut dituntut mencapai level  yang maximin yaitu yang maksimal dan semua kondisi minimal.
Sedangkan alutsista yang pengadaanya setelah MEF berlaku, maka  pembenahannya diutamakan untuk 'interoperability' dan 'communability'.  Pembenahan yang bersifat 'interoperability' agar seluruh alutsista  ketiga matra dapat digunakan secara terintegrasi.
Contohnya meskipun jenis alat komunikasi yang diadakan oleh  masing-masing angkatan berbeda tetapi tetap terintegral ke dalam sistem  komunikasi ketika operasi gabungan digelar. Pembenahan yang bersifat  'communability' agar suku cadang dan/atau logistik alutsista yang  diadakan oleh suatu angkatan dapat memenuhi kebutuhan angkatan lainnya.
Misal, suku cadang tank milik TNI AD dapat digunakan oleh panser  Korps Marinir. Amunisi meriam kaliber 40 mm TNI AL dapat mendukung  kebutuhan pesawat tempur AU. Dengan menggunakan 'Operation Research'  maka lanjut dia, pembenahan alutsista tersebut dituntut mencapai level  yang minimax, yaitu yang minimal dari semua kondisi maksimal.
Dengan begitu, pada prinsipnya pembenahan alutsista sebelum MEF  ditujukan untuk efisiensi sedangkan pembenahan alutsista setelah MEF  ditujukan untuk optimalisasi (efektif dan efisien).
Pada pembenahan alutsista yang terintegrasi dan pembenahan kompetensi  serta kapasitas tempur prajurit TNI sesuai alutsista baru tersebut akan  berujung pada pembenahan organisasi TNI. Dengan pembenahan organisasi  TNI itu maka akan bisa dipastikan benar-benar berada dalam kondisi  siap-siaga tempur.
Dari perspektif ilmu pertahanan, tuntutan kondisi tersebut harus  dijawab dengan menganalisa sejauhmana efektifitas dan efisiensi  organisasi TNI saat kondisi perang atau saat operasi gabungan  berlangsung. Jadi, organisasi tempur TNI adalah organisasi yang bersifat  permanen dan bukannya organisasi bentukan (ad hoc). Organisasi TNI  tidak berubah baik pada masa damai maupun pada masa perang.
Idealnya organisasi TNI adalah organisasi tempur permanen yang dapat  digunakan secara optimal pada masa damai sekaligus pada masa perang.  Pembenahan organisasi TNI adalah konsekuensi logis dari pembenahan  alutsista TNI.
Ipoleksosbud
Cara pandang idiologi, politik, ekonomi dan sosial budaya   (ipoleksosbud) lanjut Nuning, harus dijadikan landasan analisis bagi   pengentasan persoalan yang terjadi di lapangan. Seorang Panglima harus   benar-benar memiliki cara pandang yang tidak kepada salah satu hal pokok   saja.
Konflik kepentingan, agama, budaya, sosial yang didasari masalah   ekonomi, juga akan menjadi kompleks di tahun politik. Akan sangat   mewarnai masa itu. Karena itu dibutuh cara pandang yang lebih luas,   lebih menujukan nilai kebangsaan dengan cara pandang ipoleksosbud   sebagai sebuah kesatuan berkebangsaan.
 Panglima TNI Hadi Tjahjanto Jadi Warga Kehormatan Kopassus (foto: Antara)
Atensi khusus daerah berpotensi konflik
Sebagai komandan atas seluruh TNI, tentunya panglima memiliki   segudang hak dan kewajibannya untuk bisa melanggengkan fungsi   pengamanannya. Pemetaan daerah berpotensi konflik seperti Papua, Aceh,   Maluku, Poso hingga ke sejumlah titik daerah perbatasan dan daerah   terpencil harus dilakukan.
Dalam konteks itu, Nuning meminta agar ada atensi khusus bagi   daerah-daerah yang berpotensi konflik itu dengan mulai mengkalkulasi   sejumlah pemicu dan embrio potensi konflik masing-masing daerah yang   tentunya akan berbeda sesuai dengan kondisi dan budaya serta kepentingan   daerah setempat. Kerja sama seluruh komponen TNI dan Polri wajib   dilakukan.
(Baca Juga: Amanat Lengkap Marsekal Hadi Tjahjanto saat Menjabat Panglima TNI)
Kewaspadaan terhadap masuknya intervensi asing melalui 'hybrid' atau   'proxy' yang bisa menunggangi politik harus bisa diantisipasi sejak   dini. Hal mana akan dibungkus manis dengan sejumlah kepentingan baik   kepentingan politik itu sendiri maupun ekonomi.
Tentunya memimpin keamanan di negeri bercorak kepulauan, berbhineka,   beragam suku dan agama dengan jumlah penduduk yang juga berjubel ini   tidak mudah semudah berkata-kata. Perlu koordinasi, kerja sama dan yang   terpenting keikhlasan dalam memimpin.
Ada berjuta asa ratusan juta rakyat Indonesia termandat di pundak   sang panglima. Karena kedamaian akan mampu memberikan dampak bagi   kemajuan dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
Panglima TNI Hadi Tjahjanto tentu sudah siap melaksanakan tugas   pascamenerima tongkat komando dari pendahulunya. Ada banyak pekerjaan   rumah yang masih butuh sentuhan tangan dingin panglima. Damai Indonesia,   jayalah TNI.
</description><content:encoded>Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya melantik Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo menjelang tahun politik.
Sebagai manusia biasa, tentu ada kebanggaan dari bekas Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) itu mengemban tugas negara yang dipercayakan rakyat Indonesia kepadanya yang terlihat dari tak ada gejolak saat pelantikan alumni Akademi Angkatan Udara pada 1986 dan Sekolah Penerbang TNI-Angkatan Udara pada 1987 itu. Ada tanggung jawab yang besar dan sangat tidak mudah dipikulnya.
Menjadi panglima untuk suatu tugas pengamanan di Tanah Air, tentu tidak ringan. Apalagi Indonesia memiliki karakter kebhinekaan yang sangat khas dengan ciri yang berbeda dengan negara lainnya. Kebhinekaan suku, agama, ras dan antargolongan yang seyogyanya dijadikan sebagai sebuah potensi membangun bangsa ini, tak jarang dijadikan alat pemicu kekacauan antarpenduduk yang mengganggu stabilitas keamanan negara.
 Pelantikan Hadi Tjahjanto Menjadi Panglima TNI (foto: Antara)
Kondisi itu saban terjadi di berbagai belahan negeri yang berazaskan Pancasila ini, meskipun di beberapa tempat lainnya masih tetap terjaga kondisi (damai) itu. Sebut saja di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan Indonesia mini karena hidup berbagai golongan suku dan agama serta golongan dari seantero nusantara ini.
(Baca Juga: Marsekal Hadi Tjahjanto, Kumis Tebal dan Jabatan Panglima TNI)
Negeri yang juga berkarakter kepulauan dan berada di lintasan perbatasan negara itu hingga saat ini belum pernah mencatat sejarah kacau karena sulutan SARA. Selain isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), negeri tercinta ini juga sering dirundung nestapa akibat gesekan politik.
Pemilihan kepala daerah di berbagai wilayah baik di level kabupaten dan kota, provinsi serta pemilihan presiden, sering dijadikan sebagai menu yang didesain oleh sekelompok orang untuk mengacaukan negeri ini. Perbedaan pilihan dalam politik pilkada lalu digesek lebih jauh ke SARA agar muatan alasan konflik kian menjadi-jadi.
Hal ini tentu telah memberi dampak bagi pelaksanaan pembangunan pemerintah ke depan yang bertujuan untuk kepentingan kemakmuran masyarakatnya. Dalam konteks politik itulah, Presiden Joko Widodo telah memilih Hadi Tjahjanto sebagai panglima yang akan mengawal stabilitas keamanan terutama di tahun politik pada 2018 hingga 2019 mendatang.
Pria kelahiran Malang 8 November 1963 itu dinilai Presiden Jokowi mampu menjadi komandan yang tetap netral mengawal pelaksanaan pemilihan di tahun politik 2018 agar tetap damai dan tetap bersatu. Namun begitu, Panglima TNI harus punya sejumlah langkah taktis dan strategis demi tetap kondusifnya keamanan negeri ini.Penguatan alutsista
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan,  sebagai negeri berkepulauan dan diharap akan menjadi Poros Maritim Dunia  sesuai visi Presiden Jokowi maka diperlukan penguatan pertahanan  maritim dengan fokus kepada peningkataan kemampuan TNI khususnya matra  AL dan AU.
Dalam konteks itu, sesuai dengan tahapan pembangunan kekuatan  maritim, sudah selayaknya alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI  AU mendapat prioritas pertama. Kekuatan udara dibangun agar mampu  beroperasi 24 jam hingga ruang udara di atas zona ekonomi exklusif (ZEE)  dan landas kontinen yang ada.
Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan TNI untuk menjamin keunggulan di  udara dan di laut. Artinya, kekuatan udara tersebut ditujukan untuk  memberikan perlindungan udara atas semua operasi militer di laut.
(Baca Juga: Sensasi Ngopi &quot;Baringga&quot; Bersama Panglima TNI di Ketinggian 15.500 Kaki)
TNI AU, lanjutnya selayaknya akan memberikan jaminan 'air supremacy'  dan 'air superiority' agar TNI AL mampu melaksanakan semua operasi di  laut menjaga stabilitas keamanan maritim. Dalam konteks itulah, sangat  layak Panglima TNI dijabat unsur TNI AU untuk mewujudkan kepentingan  nasional atas pertahanan maritim tersebut.
Hal penting lain, TNI AU memiliki cara pandang bahwa ruang udara  memiliki nilai yang sangat penting dalam mendukung program pembangunan  yang sedang dijalankan pemerintah dengan fokus pada nilai ekonomis.  Dengan demikian, prioritas pola gelar TNI AU mengutamakan daerah depan  dan perbatasan wilayah seperti Natuna, Tarakan, Morotai, Biak, Metauke  dan Kupang (Nusa Tenggara Timur) menjadi tepat.
 Panglima TNI Hadi Tjahjanto Bersama Pasukan Denjaka (foto: Antara)
Pembenahan alutsista TNI, dikatakan Nuning sapaan Susaningtyas  terbagi ke dalam dua program yaitu, alutsista yang dimiliki sebelum  'Minimum Essential Force' (MEF) ditetapkan pemerintah dan setelah MEF  berjalan.
Alutsista sebelum MEF dibenahi untuk mempertahankan 'life cycle' agar  tetap dapat digunakan sesuai pasokan rantai logistik dan keahlian  prajurit TNI yang mengawaki alutsista itu. Dari analisa 'Operation  Reaearch' biasanya pembenahan alutsista tersebut dituntut mencapai level  yang maximin yaitu yang maksimal dan semua kondisi minimal.
Sedangkan alutsista yang pengadaanya setelah MEF berlaku, maka  pembenahannya diutamakan untuk 'interoperability' dan 'communability'.  Pembenahan yang bersifat 'interoperability' agar seluruh alutsista  ketiga matra dapat digunakan secara terintegrasi.
Contohnya meskipun jenis alat komunikasi yang diadakan oleh  masing-masing angkatan berbeda tetapi tetap terintegral ke dalam sistem  komunikasi ketika operasi gabungan digelar. Pembenahan yang bersifat  'communability' agar suku cadang dan/atau logistik alutsista yang  diadakan oleh suatu angkatan dapat memenuhi kebutuhan angkatan lainnya.
Misal, suku cadang tank milik TNI AD dapat digunakan oleh panser  Korps Marinir. Amunisi meriam kaliber 40 mm TNI AL dapat mendukung  kebutuhan pesawat tempur AU. Dengan menggunakan 'Operation Research'  maka lanjut dia, pembenahan alutsista tersebut dituntut mencapai level  yang minimax, yaitu yang minimal dari semua kondisi maksimal.
Dengan begitu, pada prinsipnya pembenahan alutsista sebelum MEF  ditujukan untuk efisiensi sedangkan pembenahan alutsista setelah MEF  ditujukan untuk optimalisasi (efektif dan efisien).
Pada pembenahan alutsista yang terintegrasi dan pembenahan kompetensi  serta kapasitas tempur prajurit TNI sesuai alutsista baru tersebut akan  berujung pada pembenahan organisasi TNI. Dengan pembenahan organisasi  TNI itu maka akan bisa dipastikan benar-benar berada dalam kondisi  siap-siaga tempur.
Dari perspektif ilmu pertahanan, tuntutan kondisi tersebut harus  dijawab dengan menganalisa sejauhmana efektifitas dan efisiensi  organisasi TNI saat kondisi perang atau saat operasi gabungan  berlangsung. Jadi, organisasi tempur TNI adalah organisasi yang bersifat  permanen dan bukannya organisasi bentukan (ad hoc). Organisasi TNI  tidak berubah baik pada masa damai maupun pada masa perang.
Idealnya organisasi TNI adalah organisasi tempur permanen yang dapat  digunakan secara optimal pada masa damai sekaligus pada masa perang.  Pembenahan organisasi TNI adalah konsekuensi logis dari pembenahan  alutsista TNI.
Ipoleksosbud
Cara pandang idiologi, politik, ekonomi dan sosial budaya   (ipoleksosbud) lanjut Nuning, harus dijadikan landasan analisis bagi   pengentasan persoalan yang terjadi di lapangan. Seorang Panglima harus   benar-benar memiliki cara pandang yang tidak kepada salah satu hal pokok   saja.
Konflik kepentingan, agama, budaya, sosial yang didasari masalah   ekonomi, juga akan menjadi kompleks di tahun politik. Akan sangat   mewarnai masa itu. Karena itu dibutuh cara pandang yang lebih luas,   lebih menujukan nilai kebangsaan dengan cara pandang ipoleksosbud   sebagai sebuah kesatuan berkebangsaan.
 Panglima TNI Hadi Tjahjanto Jadi Warga Kehormatan Kopassus (foto: Antara)
Atensi khusus daerah berpotensi konflik
Sebagai komandan atas seluruh TNI, tentunya panglima memiliki   segudang hak dan kewajibannya untuk bisa melanggengkan fungsi   pengamanannya. Pemetaan daerah berpotensi konflik seperti Papua, Aceh,   Maluku, Poso hingga ke sejumlah titik daerah perbatasan dan daerah   terpencil harus dilakukan.
Dalam konteks itu, Nuning meminta agar ada atensi khusus bagi   daerah-daerah yang berpotensi konflik itu dengan mulai mengkalkulasi   sejumlah pemicu dan embrio potensi konflik masing-masing daerah yang   tentunya akan berbeda sesuai dengan kondisi dan budaya serta kepentingan   daerah setempat. Kerja sama seluruh komponen TNI dan Polri wajib   dilakukan.
(Baca Juga: Amanat Lengkap Marsekal Hadi Tjahjanto saat Menjabat Panglima TNI)
Kewaspadaan terhadap masuknya intervensi asing melalui 'hybrid' atau   'proxy' yang bisa menunggangi politik harus bisa diantisipasi sejak   dini. Hal mana akan dibungkus manis dengan sejumlah kepentingan baik   kepentingan politik itu sendiri maupun ekonomi.
Tentunya memimpin keamanan di negeri bercorak kepulauan, berbhineka,   beragam suku dan agama dengan jumlah penduduk yang juga berjubel ini   tidak mudah semudah berkata-kata. Perlu koordinasi, kerja sama dan yang   terpenting keikhlasan dalam memimpin.
Ada berjuta asa ratusan juta rakyat Indonesia termandat di pundak   sang panglima. Karena kedamaian akan mampu memberikan dampak bagi   kemajuan dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
Panglima TNI Hadi Tjahjanto tentu sudah siap melaksanakan tugas   pascamenerima tongkat komando dari pendahulunya. Ada banyak pekerjaan   rumah yang masih butuh sentuhan tangan dingin panglima. Damai Indonesia,   jayalah TNI.
</content:encoded></item></channel></rss>
