<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siswi SD Kecanduan Seks, Diketahui Pernah Tinggal di Dolly Surabaya</title><description>Pemerintah Kota Surabaya menemukan seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang masih duduk di bang SD mengalami kecanduan seks.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/01/18/519/1846936/siswi-sd-kecanduan-seks-diketahui-pernah-tinggal-di-dolly-surabaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/01/18/519/1846936/siswi-sd-kecanduan-seks-diketahui-pernah-tinggal-di-dolly-surabaya"/><item><title>Siswi SD Kecanduan Seks, Diketahui Pernah Tinggal di Dolly Surabaya</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/01/18/519/1846936/siswi-sd-kecanduan-seks-diketahui-pernah-tinggal-di-dolly-surabaya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/01/18/519/1846936/siswi-sd-kecanduan-seks-diketahui-pernah-tinggal-di-dolly-surabaya</guid><pubDate>Kamis 18 Januari 2018 16:04 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/18/519/1846936/siswi-sd-kecanduan-seks-diketahui-pernah-tinggal-di-dolly-surabaya-hr1iOqKQov.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Kekerasan Seksual kepada Anak (foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/18/519/1846936/siswi-sd-kecanduan-seks-diketahui-pernah-tinggal-di-dolly-surabaya-hr1iOqKQov.jpg</image><title>Ilustrasi Kekerasan Seksual kepada Anak (foto: Shutterstock)</title></images><description>SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya menemukan seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang mengalami kecanduan seks (sexual addiction). Salah satu penyebab anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) memiliki penyimpangan seks, karena pernah tinggal di lokalisasi Dolly.
&quot;Saat ini sudah dilakukan pendampingan oleh psikolog,&quot; kata Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya Nanis Chairani di Surabaya, Kamis.
(Baca Juga: Orangtua Gadis Difabel Korban Pelecehan Curiga Baju Anaknya Acak-acakan)
Nanis mengatakan, kasus ini ditemukan saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memerintahkan kepada jajarannya di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk mencari warganya yang mengalami kondisi buruk.
Dalam pencarian itu ditemukan keluarga yang anggotanya menderita sakit TBC. Setelah dilakukan pendekatan kepada keluarga tersebut, akhirnya sang ibu bercerita bahwa salah satu anaknya mengalami perilaku seks yang menyimpang.
&quot;Artinya, anak tersebut belum waktunya sudah berperilaku seperti orang dewasa,&quot; tegas Nanis.
Dia menambahkan, saat ini pihaknya melakukan pendekatan dan melakukan koordinasi bersama puskesmas untuk memberikan pengobatan kepada anak tersebut.
Menurutnya, perilaku seks yang menyimpang dari anak tersebut didapatkan saat sebelumnya tinggal bersama neneknya di kawasan eks lokalisasi Dolly. Saat itu, usianya masih 2 tahun, faktor lingkungan diduga kuat membuat anak tersebut mengalami perilaku seks menyimpang.
Perilaku anak tersebut diketahui saat ia tinggal bersama ibunya. Anak itu mempraktikkan perilakunya kepada adik-adiknya.
&quot;Dari pengakuan anak tersebut, ia diajari oleh orang dewasa, pada saat ia tinggal bersama dengan neneknya,&quot; ujarnya.
Menurut Nanis, keberadaan lokalisasi memang sangat membahayakan utamanya berpengaruh merusak otak maupun perilaku anak. Diketahuinya kasus seperti itu, lanjutnya, harus segera digali lebih dalam untuk mengetahui kemungkinan adanya anak-anak lain dengan kondisi yang sama.
&quot;Tujuan utamanya bagaimana supaya anak-anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan bisa berprestasi, bisa mempunyai masa depan yang cerah,&quot; urainya.
(Baca Juga: 5 Peristiwa Kekerasan Seksual pada Anak, Semuanya Bikin Geleng-Geleng Kepala)
Ia mengatakan DP5A mempunyai lembaga yang khusus menangani permasalahan anak dan perempuan, lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPTP2A) di lingkup kota, dan Pusat Krisis Berbasis Masyarakat (PKBM) di lingkup kecamatan.
&quot;Warga Surabaya bisa datang langsung ke tempat tersebut untuk mendapatkan informasi terkait permasalahan anak dan perempuan,&quot; tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita menyampaikan, untuk memulihkan kondisi anak tersebut, saat ini pihaknya telah melakukan pendampingan, baik dari segi pengobatan maupun pendampingan dari segi psikiater dan psikolog.
&quot;Untuk menangani pasien seperti ini, tidak hanya pasiennya saja, keluarganya pun kami ajak, jadi keluarga itu kita gali juga dari psikolog,&quot; kata Febria.
Dia menerangkan, pihaknya terus melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan terhadap permasalahan anak. &quot;Dengan melakukan pengawasan terhadap anak, diharapkan tidak terjadi lagi kasus yang tadi,&quot; sambungnya.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Surabaya Muhammad Fikser menambahkan, jika masyarakat menemukan kasus serupa maka diminta menyampaikan informasi tersebut kepada pihak kelurahan ataupun kecamatan.
&quot;Bisa juga langsung melalui DP5A, telepon Command Center 112, dan Puspaga (Pusat Pengaduan Seputar Masalah Keluarga), banyak hal konseling untuk menyelesaikan masalah-masalah anak ini,&quot; pungkas Fikser.
</description><content:encoded>SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya menemukan seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang mengalami kecanduan seks (sexual addiction). Salah satu penyebab anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) memiliki penyimpangan seks, karena pernah tinggal di lokalisasi Dolly.
&quot;Saat ini sudah dilakukan pendampingan oleh psikolog,&quot; kata Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya Nanis Chairani di Surabaya, Kamis.
(Baca Juga: Orangtua Gadis Difabel Korban Pelecehan Curiga Baju Anaknya Acak-acakan)
Nanis mengatakan, kasus ini ditemukan saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memerintahkan kepada jajarannya di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk mencari warganya yang mengalami kondisi buruk.
Dalam pencarian itu ditemukan keluarga yang anggotanya menderita sakit TBC. Setelah dilakukan pendekatan kepada keluarga tersebut, akhirnya sang ibu bercerita bahwa salah satu anaknya mengalami perilaku seks yang menyimpang.
&quot;Artinya, anak tersebut belum waktunya sudah berperilaku seperti orang dewasa,&quot; tegas Nanis.
Dia menambahkan, saat ini pihaknya melakukan pendekatan dan melakukan koordinasi bersama puskesmas untuk memberikan pengobatan kepada anak tersebut.
Menurutnya, perilaku seks yang menyimpang dari anak tersebut didapatkan saat sebelumnya tinggal bersama neneknya di kawasan eks lokalisasi Dolly. Saat itu, usianya masih 2 tahun, faktor lingkungan diduga kuat membuat anak tersebut mengalami perilaku seks menyimpang.
Perilaku anak tersebut diketahui saat ia tinggal bersama ibunya. Anak itu mempraktikkan perilakunya kepada adik-adiknya.
&quot;Dari pengakuan anak tersebut, ia diajari oleh orang dewasa, pada saat ia tinggal bersama dengan neneknya,&quot; ujarnya.
Menurut Nanis, keberadaan lokalisasi memang sangat membahayakan utamanya berpengaruh merusak otak maupun perilaku anak. Diketahuinya kasus seperti itu, lanjutnya, harus segera digali lebih dalam untuk mengetahui kemungkinan adanya anak-anak lain dengan kondisi yang sama.
&quot;Tujuan utamanya bagaimana supaya anak-anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan bisa berprestasi, bisa mempunyai masa depan yang cerah,&quot; urainya.
(Baca Juga: 5 Peristiwa Kekerasan Seksual pada Anak, Semuanya Bikin Geleng-Geleng Kepala)
Ia mengatakan DP5A mempunyai lembaga yang khusus menangani permasalahan anak dan perempuan, lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPTP2A) di lingkup kota, dan Pusat Krisis Berbasis Masyarakat (PKBM) di lingkup kecamatan.
&quot;Warga Surabaya bisa datang langsung ke tempat tersebut untuk mendapatkan informasi terkait permasalahan anak dan perempuan,&quot; tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita menyampaikan, untuk memulihkan kondisi anak tersebut, saat ini pihaknya telah melakukan pendampingan, baik dari segi pengobatan maupun pendampingan dari segi psikiater dan psikolog.
&quot;Untuk menangani pasien seperti ini, tidak hanya pasiennya saja, keluarganya pun kami ajak, jadi keluarga itu kita gali juga dari psikolog,&quot; kata Febria.
Dia menerangkan, pihaknya terus melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan terhadap permasalahan anak. &quot;Dengan melakukan pengawasan terhadap anak, diharapkan tidak terjadi lagi kasus yang tadi,&quot; sambungnya.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Surabaya Muhammad Fikser menambahkan, jika masyarakat menemukan kasus serupa maka diminta menyampaikan informasi tersebut kepada pihak kelurahan ataupun kecamatan.
&quot;Bisa juga langsung melalui DP5A, telepon Command Center 112, dan Puspaga (Pusat Pengaduan Seputar Masalah Keluarga), banyak hal konseling untuk menyelesaikan masalah-masalah anak ini,&quot; pungkas Fikser.
</content:encoded></item></channel></rss>
