<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Riuh di Medsos Belum Tentu Berdampak di Bilik Suara</title><description>Partisipasi aktif warganet belum tentu berbanding lurus dengan kemauan untuk menjatuhkan pilihan di TPS.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/01/23/337/1848804/riuh-di-medsos-belum-tentu-berdampak-di-bilik-suara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/01/23/337/1848804/riuh-di-medsos-belum-tentu-berdampak-di-bilik-suara"/><item><title>Riuh di Medsos Belum Tentu Berdampak di Bilik Suara</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/01/23/337/1848804/riuh-di-medsos-belum-tentu-berdampak-di-bilik-suara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/01/23/337/1848804/riuh-di-medsos-belum-tentu-berdampak-di-bilik-suara</guid><pubDate>Selasa 23 Januari 2018 06:05 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyudi Aulia Siregar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/23/337/1848804/riuh-di-medsos-belum-tentu-berdampak-di-bilik-suara-igYWDRRz4I.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/23/337/1848804/riuh-di-medsos-belum-tentu-berdampak-di-bilik-suara-igYWDRRz4I.jpeg</image><title>Ilustrasi.</title></images><description>MEDAN - &amp;lrm;Isu-isu terkait pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kerap menjadi viral akibat tingginya partisipasi warganet. Mereka saling berbagi informasi hingga berdebat terkait dukung-mendukung atau pelaksanaan pilkada itu sendiri di media sosial.
Namun menurut Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Arifin Saleh Siregar, riuh warganet di media sosial itu tak selalu berbanding lurus dengan partisipasi mereka saat menyalurkan aspirasi politik di bilik suara.
Partisipasi aktif warganet itu juga tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap potensi kemenangan pasangan bakal calon tertentu. Sebab komentar dan perdebatan tersebut hanya berada pada level masyarakat menengah.
&quot;Sementara masyarakat di akar rumput itu tidak akan termakan oleh perdebatan di media sosial. Metode pendekatan kepada mereka masih tetap sama yakni pendekatan secara personal,&quot;ujar Arifin, Senin 22 Januari 2018.
(Baca juga: Menakar Peluang Calon dari Militer di Pilkada Serentak 2018)
Arifin menyebutkan, warganet merupakan golongan masyarakat kategori menengah ke atas yang paham teknologi. Dari sisi jumlah, mereka masih kalah jauh dibandingkan dengan kalangan masyarakat akar rumput yang dikategorikan kalangan menengah ke bawah. &amp;lrm;
Ironisnya, kalangan melek teknologi itu juga cenderung lebih apatis dan resisten terhadap partisipasi politik.
&quot;Kepedulian untuk memberikan suara pada pilgubsu masih didominasi oleh kalangan masyarakat menengah bawah, sedangkan kalangan menengah atas cenderung malas memberikan suara di Pilkada, karena mereka terlalu banyak pertimbangan sebelum memberikan suara,&quot; tutupnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMS8xOC8yMi8xMDgwMjMvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>MEDAN - &amp;lrm;Isu-isu terkait pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kerap menjadi viral akibat tingginya partisipasi warganet. Mereka saling berbagi informasi hingga berdebat terkait dukung-mendukung atau pelaksanaan pilkada itu sendiri di media sosial.
Namun menurut Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Arifin Saleh Siregar, riuh warganet di media sosial itu tak selalu berbanding lurus dengan partisipasi mereka saat menyalurkan aspirasi politik di bilik suara.
Partisipasi aktif warganet itu juga tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap potensi kemenangan pasangan bakal calon tertentu. Sebab komentar dan perdebatan tersebut hanya berada pada level masyarakat menengah.
&quot;Sementara masyarakat di akar rumput itu tidak akan termakan oleh perdebatan di media sosial. Metode pendekatan kepada mereka masih tetap sama yakni pendekatan secara personal,&quot;ujar Arifin, Senin 22 Januari 2018.
(Baca juga: Menakar Peluang Calon dari Militer di Pilkada Serentak 2018)
Arifin menyebutkan, warganet merupakan golongan masyarakat kategori menengah ke atas yang paham teknologi. Dari sisi jumlah, mereka masih kalah jauh dibandingkan dengan kalangan masyarakat akar rumput yang dikategorikan kalangan menengah ke bawah. &amp;lrm;
Ironisnya, kalangan melek teknologi itu juga cenderung lebih apatis dan resisten terhadap partisipasi politik.
&quot;Kepedulian untuk memberikan suara pada pilgubsu masih didominasi oleh kalangan masyarakat menengah bawah, sedangkan kalangan menengah atas cenderung malas memberikan suara di Pilkada, karena mereka terlalu banyak pertimbangan sebelum memberikan suara,&quot; tutupnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMS8xOC8yMi8xMDgwMjMvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
