<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Surat Terbuka Dokter di Asmat untuk Zaadit Taqwa: Jangan ke Papua, Kau Tak Akan Kuat...</title><description>Surat ditulis oleh dr. Yafet Yanri Sirupang melalui akun Facebooknya  tertanggal 4 Februari 2018 sekitar pukul 17.31 WIT.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/06/337/1855606/surat-terbuka-dokter-di-asmat-untuk-zaadit-taqwa-jangan-ke-papua-kau-tak-akan-kuat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/02/06/337/1855606/surat-terbuka-dokter-di-asmat-untuk-zaadit-taqwa-jangan-ke-papua-kau-tak-akan-kuat"/><item><title>Surat Terbuka Dokter di Asmat untuk Zaadit Taqwa: Jangan ke Papua, Kau Tak Akan Kuat...</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/06/337/1855606/surat-terbuka-dokter-di-asmat-untuk-zaadit-taqwa-jangan-ke-papua-kau-tak-akan-kuat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/02/06/337/1855606/surat-terbuka-dokter-di-asmat-untuk-zaadit-taqwa-jangan-ke-papua-kau-tak-akan-kuat</guid><pubDate>Selasa 06 Februari 2018 18:03 WIB</pubDate><dc:creator>Edy Siswanto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/06/337/1855606/surat-terbuka-dokter-di-asmat-untuk-zaadit-taqwa-jangan-ke-papua-kau-tak-akan-kuat-Z3QWqVRs9j.jpg" expression="full" type="image/jpeg">dr. Yafet Yanri saat berada di Papua (Foto: Facebook)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/06/337/1855606/surat-terbuka-dokter-di-asmat-untuk-zaadit-taqwa-jangan-ke-papua-kau-tak-akan-kuat-Z3QWqVRs9j.jpg</image><title>dr. Yafet Yanri saat berada di Papua (Foto: Facebook)</title></images><description>JAYAPURA - Setelah viral peluit bak wasit sepakbola dibarengi unjuk kartu kuning yang dilakukan olah Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa kepada Presiden Joko Widodo saat menghadiri Diesnatalis kampus UI beberapa waktu lalu, kini viral surat oleh seorang dokter yang sementara melakukan tugas kemanusiaan di wilayah Kabupaten Asmat menangani KLB Campak dan gizi buruk di wilayah itu.
Surat ditulis oleh dr. Yafet Yanri Sirupang melalui akun Facebooknya tertanggal 4 Februari 2018 sekitar pukul 17.31 WIT itu langsung beredar luas di medsos.
Surat bertajuk (bukan) surat cinta untuk Zaadit Taqwa itu ditulis sekitar 11 paragraf. Dan berisi potret pelayanan kesehatan di pedalaman Papua yang dialami langsung oleh sang dokter. Isi surat tersebut juga diperuntukkan langsung kepada sang ketua BEM UI Zaadit Taqwa yang dinilai berkoar hingga berani memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi tanpa turun langsung ke Papua.
(Baca Juga: Netizen Ributkan Kejanggalan Jaket Mahasiswa Pemberi Kartu Kuning ke Jokowi)
Surat yang kini telah dihapus dari wall FB sang dokter tersebut menuai banyak pujian. Berikut bunyi surat tersebut.
(BUKAN) SURAT CINTA UNTUK ZAADIT TAQWA.
 
&amp;nbsp;
 
Yang saya kasihi Ketua BEM UI Zaadit Taqwa, gimana kabarnya Dit, sehat?
 
&amp;nbsp;
 
Cieee Katanya mau dikirim ke Asmat sama Pak Jokowi, makin sehat lah ya..
 
&amp;nbsp;
 
Gini Dit...
 
&amp;nbsp;
 
Melihat aksi dan tingkah anda meng &amp;rsquo;kartu kuning&amp;rsquo; orang nomor satu di Republik ini selama beberapa hari di berbagai media sosial dan elektronik membuat banyak orang geram dan terusik, saya salah satunya (yang tertawa). Namun secara pribadi saya bersyukur. Hal ini membuat saya ingin memberikan gambaran kepada anda mengenai kondisi sesungguhnya di pedalaman Papua itu seperti apa. Hal yang sebenarnya malas untuk saya lakukan, tapi demi lo dit...
 
&amp;nbsp;
 
Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa hal ini bukan karena unsur politik dan lain sebagainya, tetapi atas dasar apa yang saya rasakan (dan saya yakin sebagian besar masyarakat di Papua rasakan) atas kinerja yang telah dan yang sementara dikerjakan pak presiden di bumi cendrawasih (walapun sebagai manusia tentu masih ada kekurangan). Karena terus terang dit, saya bahkan tidak mencoblos beliau saat pilpres 2014 kemarin, hal yang kemudian saya sesali dan menjadi aib seumur hidup hehe.
 
&amp;nbsp;
 
Ngomong-ngomong salah satu poin aksi yang disampaikan saat Dies Natalis UI adalah menuntut persoalan gizi buruk di Asmat. Namun tahu gak dit, secara umum bagaimana bisa kasus gizi buruk bisa terjadi?
 
&amp;nbsp;
 Menurut UNICEF secara langsung keadaan gizi dipengaruhi oleh  ketidak cukupan asupan makanan dan penyakit infeksi. Sedangkan penyebab  tidak langsung karena kurangnya ketersediaan pangan pada tingkat rumah  tangga, pola asuh yang tidak memadai serta masih rendahnya akses pada  kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih lanjut  masalah gizi disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah dan minimnya  kesempatan kerja.
 
&amp;nbsp;
 
Di sini bisa dilihat bahwa munculnya kasus gizi buruk ini  merupakan tanggung jawab dari multi/lintas sektor. Namun sialnya yang  selalu menjadi kambing hitam adalah sektor kesehatan dengan mengabaikan  peran sektor lain. Memang benar bahwa tenaga kesehatan di Papua  sangatlah kurang, namun bukan hanya itu, tenaga-tenaga ahli lainnya  seperti insinyur, guru, dll juga masih sangat kurang. Itu kendala yang  pertama.
 
&amp;nbsp;
 
Kendala terbesar lain yang ditemui di papua adalah kondisi  medan dan geografisnya. Lokasi untuk menjangkau masyarakat di  kampung-kampung dan dusun sangat sulit sekali, di mana harus melewati  gunung-lembah, melintasi laut, sungai bahkan rawa-rawa. Makanya kasus  gizi buruk sendiri di Papua sebenarnya sudah dari dulu terjadi, bukan  hanya pada saat era Pak Jokowi. Hal yang tentunya secara tidak langsung  coba diatasi saat ini dengan pembangunan infrastruktur guna membuka  akses daerah sulit, bandara-bandara dan pelabuhan yang terus dibangun  dan diperbesar, harga BBM satu harga (asal mafia diberantas), tol laut,  proyek indonesia terang (tempat tugas saya puskesmas Kota 1 Kabupaten  Mappi tahun 2017 akhirnya dialiri listrik setelah 72 tahun Republik ini  merdeka), 10% saham Freeport ke pemerintah propinsi dll. Fyi, akses  internet di Merauke sekarang ga kalah kenceng sama Depok Dit...
 
&amp;nbsp;
 
Sebagai mahasiswa sebaiknya jangan berkoar-koar yang  berlebihan  apalagi tanpa mengetahui realita di lapangan. Sementara  faktanya bahkan  di Depok dan Jakarta saat ini juga masih ditemukan  kasus gizi buruk,  apalagi Papua? Lantas salah siapa? Mungkin lebih elok  kalau mas kuliah  dulu yang benar jadilah orang yang ahli dan  berkompeten di bidangnya,  nanti klo sudah lulus ajak teman-teman yang  lain ramai-ramai datang ke  papua dan tunjukkan secara nyata kontribusi  kalian sesuai kompetensi  yang dimiliki. Bukan hanya Raja Ampat doang  taunya.
 
&amp;nbsp;
 
Melayani di Papua itu kalau gak pake hati sulit dit,  apalagi  kalau sekedar money oriented. Pasti bakalan dongkol dan  menggerutu  dalam bekerja sehari-hari. Terutama bagi tenaga medis yang  melayani di  pedalaman-pedalaman terpencil Papua, makanya tidak jarang  ditemui  banyak teman-teman yang tidak betah untuk bekerja dan memilih  untuk  secepatnya pulang, namun tidak sedikit juga yang bertahan dan  akhirnya  mencintai Papua.
 
&amp;nbsp;
 
Bukan menakut-nakuti dit, tapi bekerja di pedalaman Papua  itu  risikonya berat bahkan bisa nyawa taruhannya. Apalagi buat lo yang   kulitnya putih dan sedikit berlebih gizinya kalau dilihat di TV.   Pelayanan kesehatan dari kampung ke kampung yang jauh jaraknya   menggunakan speed boat, long boat, atau perahu sampan di tengah teriknya   matahari, derasnya hujan, apalagi ombak. Bahkan kadang berjalan kaki   berjam-jam sambil memikul obat dan perlengkapan medis lainnya. Hidup   dengan ketiadaan akses sinyal, tanpa listrik PLN, transportasi ke kota   yang sulit, BBM seharga kopi setarbak.. Bah lengkap sudah penderitaan,   tapi entah kenapa nikmat dit (untuk dikenang).. Dan satu lagi, akses air   bersih yang sulit terutama Papua Selatan (Asmat, Mappi, Merauke).   Makanya biaya yang digelontorkan baik dari pusat maupun daerah bisa saja   kebanyakan habis hanya untuk transportasi. Jangan kaget klo di  beberapa  pedalaman Papua, mata uang paling kecil itu goceng.
 
&amp;nbsp;
 
Pernah kebayang ga Dit ga mandi air bersih selama  berhari-hari?  Atau pernah dengar gak sebagian masyarakat di Asmat pada  saat kemarau  mandinya air aqua?? Hanya di Asmat dit mineral water yang  biasa lo  minum itu dipake buat ngebilas daki.
 
&amp;nbsp;
 Oya biar gak stres sekali-kali dengarin lagu karya anak  Merauke   &amp;ldquo;Turun Naik&amp;rdquo; (searching di youtube gih) sekalian belajar cara    goyangnya, asik lho.
 
&amp;nbsp;
 
Doain gw dit Maret ini bisa lanjut spesialis di UI, supaya  nanti   kita bisa santai ngobrol-ngobrol di kantin sambil minum ale-ale  atau   jas-jus. Kita bisa sharing pengalaman gw di Papua, sambil liat-liat    foto di laptop, banyak tuh di hardisk. Pengalaman 5 tahun jadi dokter    di pedalaman Papua cukuplah gue rasa buat diceritain. Tapi doain dulu gw    bisa keterima, biar nanti klo dah selesai sekolah gw bisa balik lagi   ke  Papua. Sapa tau lo mau ngikut. Kan dah gak pusing lagi mau tinggal   di  mana, mau makan apa, mau jalan2 kemana secara udah punya temen.
 
&amp;nbsp;
 
Mau ga dit gw ajarin istilah-istilah bahasa di papua? Satu  aja   dulu ya dit nanti lo pakai klo seandainya udah sadar dan berubah    pikiran, trus mau ketemu pak dhe buat sungkeman. Nanti lo bilang aja ke    beliau.... &amp;ldquo;Pak dhe Jokowi, ko tra kosong....&amp;rdquo;
 
&amp;nbsp;
 
Udahan dulu ya dit....
 
&amp;nbsp;
 
&amp;ldquo;SEKARANG KO TIDUR SUDAH. JANGAN TAHAN-TAHAN MATA EE... DAN JANG KO KE PAPUA....
 
KENAPA?? ZAADIT DE TANYA.
 
BERAT.... KO TRA AKAN KUAT. BIAR SA SAJA..........&amp;rdquo;
 
Diakhir surat dr. Yafet Yanri Sirupang juga memberikan dukungan moril    kepada rekan sejawatnya yang juga sementara memberikan pelayanan    kesehatan di pedalaman Papua termasuk Asmat.
&quot;Tetap semangat buat rekan yang bertugas di Asmat (dr. Fey Rebriyani,    dr. Desi Irene, dr. Ziona, dkk) semoga KLB campak dan gizi buruk  dapat   segera teratasi,&quot;ucapnya.
&quot;Salam hangat dari Papua. Gbu,&quot; sambungnya.
Tak hanya dr. Yafet Yanri Sirupang, sebuah video yang juga mengkritik    sikap kartu kuning Zaadit Taqwa juga beredar luas dikhlayak. Dalam    video yang berdurasi 7 menit 54 detik itu menyebut namanya Cristianto    Yan Oni yang dibagikan melalui akun oleh Jericho Albeto Yan Oni juga    viral di media sosial. Yan Oni tak hanya menyoroti Zaadit, namun    termasuk anggota DPR RI yang dinilai ikut-ikutan memberikan kartu kuning    kepada Jokowi.</description><content:encoded>JAYAPURA - Setelah viral peluit bak wasit sepakbola dibarengi unjuk kartu kuning yang dilakukan olah Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa kepada Presiden Joko Widodo saat menghadiri Diesnatalis kampus UI beberapa waktu lalu, kini viral surat oleh seorang dokter yang sementara melakukan tugas kemanusiaan di wilayah Kabupaten Asmat menangani KLB Campak dan gizi buruk di wilayah itu.
Surat ditulis oleh dr. Yafet Yanri Sirupang melalui akun Facebooknya tertanggal 4 Februari 2018 sekitar pukul 17.31 WIT itu langsung beredar luas di medsos.
Surat bertajuk (bukan) surat cinta untuk Zaadit Taqwa itu ditulis sekitar 11 paragraf. Dan berisi potret pelayanan kesehatan di pedalaman Papua yang dialami langsung oleh sang dokter. Isi surat tersebut juga diperuntukkan langsung kepada sang ketua BEM UI Zaadit Taqwa yang dinilai berkoar hingga berani memberikan kartu kuning kepada presiden Jokowi tanpa turun langsung ke Papua.
(Baca Juga: Netizen Ributkan Kejanggalan Jaket Mahasiswa Pemberi Kartu Kuning ke Jokowi)
Surat yang kini telah dihapus dari wall FB sang dokter tersebut menuai banyak pujian. Berikut bunyi surat tersebut.
(BUKAN) SURAT CINTA UNTUK ZAADIT TAQWA.
 
&amp;nbsp;
 
Yang saya kasihi Ketua BEM UI Zaadit Taqwa, gimana kabarnya Dit, sehat?
 
&amp;nbsp;
 
Cieee Katanya mau dikirim ke Asmat sama Pak Jokowi, makin sehat lah ya..
 
&amp;nbsp;
 
Gini Dit...
 
&amp;nbsp;
 
Melihat aksi dan tingkah anda meng &amp;rsquo;kartu kuning&amp;rsquo; orang nomor satu di Republik ini selama beberapa hari di berbagai media sosial dan elektronik membuat banyak orang geram dan terusik, saya salah satunya (yang tertawa). Namun secara pribadi saya bersyukur. Hal ini membuat saya ingin memberikan gambaran kepada anda mengenai kondisi sesungguhnya di pedalaman Papua itu seperti apa. Hal yang sebenarnya malas untuk saya lakukan, tapi demi lo dit...
 
&amp;nbsp;
 
Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa hal ini bukan karena unsur politik dan lain sebagainya, tetapi atas dasar apa yang saya rasakan (dan saya yakin sebagian besar masyarakat di Papua rasakan) atas kinerja yang telah dan yang sementara dikerjakan pak presiden di bumi cendrawasih (walapun sebagai manusia tentu masih ada kekurangan). Karena terus terang dit, saya bahkan tidak mencoblos beliau saat pilpres 2014 kemarin, hal yang kemudian saya sesali dan menjadi aib seumur hidup hehe.
 
&amp;nbsp;
 
Ngomong-ngomong salah satu poin aksi yang disampaikan saat Dies Natalis UI adalah menuntut persoalan gizi buruk di Asmat. Namun tahu gak dit, secara umum bagaimana bisa kasus gizi buruk bisa terjadi?
 
&amp;nbsp;
 Menurut UNICEF secara langsung keadaan gizi dipengaruhi oleh  ketidak cukupan asupan makanan dan penyakit infeksi. Sedangkan penyebab  tidak langsung karena kurangnya ketersediaan pangan pada tingkat rumah  tangga, pola asuh yang tidak memadai serta masih rendahnya akses pada  kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih lanjut  masalah gizi disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah dan minimnya  kesempatan kerja.
 
&amp;nbsp;
 
Di sini bisa dilihat bahwa munculnya kasus gizi buruk ini  merupakan tanggung jawab dari multi/lintas sektor. Namun sialnya yang  selalu menjadi kambing hitam adalah sektor kesehatan dengan mengabaikan  peran sektor lain. Memang benar bahwa tenaga kesehatan di Papua  sangatlah kurang, namun bukan hanya itu, tenaga-tenaga ahli lainnya  seperti insinyur, guru, dll juga masih sangat kurang. Itu kendala yang  pertama.
 
&amp;nbsp;
 
Kendala terbesar lain yang ditemui di papua adalah kondisi  medan dan geografisnya. Lokasi untuk menjangkau masyarakat di  kampung-kampung dan dusun sangat sulit sekali, di mana harus melewati  gunung-lembah, melintasi laut, sungai bahkan rawa-rawa. Makanya kasus  gizi buruk sendiri di Papua sebenarnya sudah dari dulu terjadi, bukan  hanya pada saat era Pak Jokowi. Hal yang tentunya secara tidak langsung  coba diatasi saat ini dengan pembangunan infrastruktur guna membuka  akses daerah sulit, bandara-bandara dan pelabuhan yang terus dibangun  dan diperbesar, harga BBM satu harga (asal mafia diberantas), tol laut,  proyek indonesia terang (tempat tugas saya puskesmas Kota 1 Kabupaten  Mappi tahun 2017 akhirnya dialiri listrik setelah 72 tahun Republik ini  merdeka), 10% saham Freeport ke pemerintah propinsi dll. Fyi, akses  internet di Merauke sekarang ga kalah kenceng sama Depok Dit...
 
&amp;nbsp;
 
Sebagai mahasiswa sebaiknya jangan berkoar-koar yang  berlebihan  apalagi tanpa mengetahui realita di lapangan. Sementara  faktanya bahkan  di Depok dan Jakarta saat ini juga masih ditemukan  kasus gizi buruk,  apalagi Papua? Lantas salah siapa? Mungkin lebih elok  kalau mas kuliah  dulu yang benar jadilah orang yang ahli dan  berkompeten di bidangnya,  nanti klo sudah lulus ajak teman-teman yang  lain ramai-ramai datang ke  papua dan tunjukkan secara nyata kontribusi  kalian sesuai kompetensi  yang dimiliki. Bukan hanya Raja Ampat doang  taunya.
 
&amp;nbsp;
 
Melayani di Papua itu kalau gak pake hati sulit dit,  apalagi  kalau sekedar money oriented. Pasti bakalan dongkol dan  menggerutu  dalam bekerja sehari-hari. Terutama bagi tenaga medis yang  melayani di  pedalaman-pedalaman terpencil Papua, makanya tidak jarang  ditemui  banyak teman-teman yang tidak betah untuk bekerja dan memilih  untuk  secepatnya pulang, namun tidak sedikit juga yang bertahan dan  akhirnya  mencintai Papua.
 
&amp;nbsp;
 
Bukan menakut-nakuti dit, tapi bekerja di pedalaman Papua  itu  risikonya berat bahkan bisa nyawa taruhannya. Apalagi buat lo yang   kulitnya putih dan sedikit berlebih gizinya kalau dilihat di TV.   Pelayanan kesehatan dari kampung ke kampung yang jauh jaraknya   menggunakan speed boat, long boat, atau perahu sampan di tengah teriknya   matahari, derasnya hujan, apalagi ombak. Bahkan kadang berjalan kaki   berjam-jam sambil memikul obat dan perlengkapan medis lainnya. Hidup   dengan ketiadaan akses sinyal, tanpa listrik PLN, transportasi ke kota   yang sulit, BBM seharga kopi setarbak.. Bah lengkap sudah penderitaan,   tapi entah kenapa nikmat dit (untuk dikenang).. Dan satu lagi, akses air   bersih yang sulit terutama Papua Selatan (Asmat, Mappi, Merauke).   Makanya biaya yang digelontorkan baik dari pusat maupun daerah bisa saja   kebanyakan habis hanya untuk transportasi. Jangan kaget klo di  beberapa  pedalaman Papua, mata uang paling kecil itu goceng.
 
&amp;nbsp;
 
Pernah kebayang ga Dit ga mandi air bersih selama  berhari-hari?  Atau pernah dengar gak sebagian masyarakat di Asmat pada  saat kemarau  mandinya air aqua?? Hanya di Asmat dit mineral water yang  biasa lo  minum itu dipake buat ngebilas daki.
 
&amp;nbsp;
 Oya biar gak stres sekali-kali dengarin lagu karya anak  Merauke   &amp;ldquo;Turun Naik&amp;rdquo; (searching di youtube gih) sekalian belajar cara    goyangnya, asik lho.
 
&amp;nbsp;
 
Doain gw dit Maret ini bisa lanjut spesialis di UI, supaya  nanti   kita bisa santai ngobrol-ngobrol di kantin sambil minum ale-ale  atau   jas-jus. Kita bisa sharing pengalaman gw di Papua, sambil liat-liat    foto di laptop, banyak tuh di hardisk. Pengalaman 5 tahun jadi dokter    di pedalaman Papua cukuplah gue rasa buat diceritain. Tapi doain dulu gw    bisa keterima, biar nanti klo dah selesai sekolah gw bisa balik lagi   ke  Papua. Sapa tau lo mau ngikut. Kan dah gak pusing lagi mau tinggal   di  mana, mau makan apa, mau jalan2 kemana secara udah punya temen.
 
&amp;nbsp;
 
Mau ga dit gw ajarin istilah-istilah bahasa di papua? Satu  aja   dulu ya dit nanti lo pakai klo seandainya udah sadar dan berubah    pikiran, trus mau ketemu pak dhe buat sungkeman. Nanti lo bilang aja ke    beliau.... &amp;ldquo;Pak dhe Jokowi, ko tra kosong....&amp;rdquo;
 
&amp;nbsp;
 
Udahan dulu ya dit....
 
&amp;nbsp;
 
&amp;ldquo;SEKARANG KO TIDUR SUDAH. JANGAN TAHAN-TAHAN MATA EE... DAN JANG KO KE PAPUA....
 
KENAPA?? ZAADIT DE TANYA.
 
BERAT.... KO TRA AKAN KUAT. BIAR SA SAJA..........&amp;rdquo;
 
Diakhir surat dr. Yafet Yanri Sirupang juga memberikan dukungan moril    kepada rekan sejawatnya yang juga sementara memberikan pelayanan    kesehatan di pedalaman Papua termasuk Asmat.
&quot;Tetap semangat buat rekan yang bertugas di Asmat (dr. Fey Rebriyani,    dr. Desi Irene, dr. Ziona, dkk) semoga KLB campak dan gizi buruk  dapat   segera teratasi,&quot;ucapnya.
&quot;Salam hangat dari Papua. Gbu,&quot; sambungnya.
Tak hanya dr. Yafet Yanri Sirupang, sebuah video yang juga mengkritik    sikap kartu kuning Zaadit Taqwa juga beredar luas dikhlayak. Dalam    video yang berdurasi 7 menit 54 detik itu menyebut namanya Cristianto    Yan Oni yang dibagikan melalui akun oleh Jericho Albeto Yan Oni juga    viral di media sosial. Yan Oni tak hanya menyoroti Zaadit, namun    termasuk anggota DPR RI yang dinilai ikut-ikutan memberikan kartu kuning    kepada Jokowi.</content:encoded></item></channel></rss>
