<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah The Scream, Lukisan yang Diyakini Terinspirasi dari Letusan Dahsyat Gunung Krakatau</title><description>&quot;The Scream&quot; adalah salah satu dari empat lukisan Der Schrei der Natur karya Edvard Munch. </description><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/07/18/1855788/kisah-the-scream-lukisan-yang-diyakini-terinspirasi-dari-letusan-dahsyat-gunung-krakatau</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/02/07/18/1855788/kisah-the-scream-lukisan-yang-diyakini-terinspirasi-dari-letusan-dahsyat-gunung-krakatau"/><item><title>Kisah The Scream, Lukisan yang Diyakini Terinspirasi dari Letusan Dahsyat Gunung Krakatau</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/07/18/1855788/kisah-the-scream-lukisan-yang-diyakini-terinspirasi-dari-letusan-dahsyat-gunung-krakatau</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/02/07/18/1855788/kisah-the-scream-lukisan-yang-diyakini-terinspirasi-dari-letusan-dahsyat-gunung-krakatau</guid><pubDate>Rabu 07 Februari 2018 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/06/18/1855788/kisah-the-scream-lukisan-yang-diyakini-terinspirasi-dari-letusan-dahsyat-gunung-krakatau-w7YZuCWFqw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">The Scream karya Edvard Munch. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/06/18/1855788/kisah-the-scream-lukisan-yang-diyakini-terinspirasi-dari-letusan-dahsyat-gunung-krakatau-w7YZuCWFqw.jpg</image><title>The Scream karya Edvard Munch. </title></images><description>SELAIN lukisan &quot;Mona Lisa&quot; karya Leonardo da Vinci, lukisan berjudul &quot;The Scream&quot; karya Edvard Munch juga menjadi karya seni lukis yang paling mudah dikenali di dunia. The Scream sering disebut sebagai ikon seni modern serta maha karya dari gaya melukis ekspresionis.
The Scream adalah salah satu dari empat lukisan berseri Munch yang diberi judul Der Schrei der Natur (Teriakan Alam). Edvard Munch menyelesaikan &quot;The Scream&quot; pada 1893, beberapa bulan setelah menggambar sketsa di atas kanvas.
Lukisan &quot;The Scream&quot; menampilkan sesosok manusia yang wajahnya dipenuhi oleh ekspresi ketakutan dan kecemasan berlebihan. Latar belakang lukisan menampilkan langit berwarna jingga dan permukaan air yang berwarna suram.
Banyak ahli beranggapan bahwa Munch ingin menunjukkan ekspresi ketidakstabilan mental dan rasa takut. Namun, nukilan buku harian Edvard Munch mengungkapkan inspirasi di balik lukisan itu: Letusan Gunung Krakatau.
&amp;ldquo;Saya sedang berjalan-jalan bersama dua orang teman dan matahari sedang terbenam. Tiba-tiba langit berubah menjadi merah darah, saya berhenti. Merasa kelelahan dan bersandar di pagar,&amp;rdquo; tulis Edvard Munch dalam buku harian itu, mengutip dari The Vintage News, Rabu (7/2/2018).
&amp;ldquo;Lidah api menyala-nyala di atas kota dan teman saya terus saja berjalan. Saya berdiri gemetaran penuh rasa khawatir. Saya merasakan adanya teriakan mengerikan dari alam,&amp;rdquo; imbuh pria asal Norwegia itu.
Penganut aliran ekspresionis amat jarang melukis berdasarkan kejadian  nyata yang dilihat langsung. Mereka biasanya melukis berdasarkan  penglihatan atau gambaran situasi yang ada di kepala. Namun, Profesor  Astronomi dan Fisika dari Texas State University, Donald Olson  mengatakan, lukisan itu terinspirasi dari langit jingga yang tak biasa  yang dilihat si pelukis pada 1883-1884.
Pada masa itu, abu vulkanik dari Gunung Krakatau di Indonesia sudah  mencapai Benua Eropa. Akibatnya, langit padawaktu terbit dan terbenamnya  matahari di Norwegia, tempat asal Edvard Munch, berubah menjadi merah  darah serta jingga yang lebih pekat.
Erupsi Gunung Krakatau terjadi pada akhir Agustus 1883 dan hingga   kini  disebut-sebut sebagai bencana alam dengan efek penghancuran paling    dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Seluruh Pulau Krakatau    hancur. Letusan menyebabkan tsunami setinggi 30 meter (m). Gabungan dari    letusan dan tsunami itu menyebabkan sekira 37 ribu orang tewas.Letusan Gunung Krakatau memicu ledakan alami yang bisa terdengar   hingga sejauh Kepulauan Rodrigues dekat Mauritius, yang berada 4.828   kilometer (km) dari Kepulauan Krakatau. Ledakan tersebut bahkan lebih   kuat empat kali lipat daripada Tsar Bomba, bom termonuklir yang pernah   diledakkan.
Pada penghujung 1883 hingga awal 1884, media-media Norwegia   melaporkan bahwa ada kondisi atmosfer yang tidak biasa di atas langit di   negara tersebut. Kondisi tersebut memunculkan warna yang tidak biasa   dan sangat jelas di langit. Munch sudah pasti melihat warna darah di   langit itu.
Sepanjang dekade 1890, karya-karya Edvard Munch lebih banyak   terinspirasi dari kejadian serta pengalaman pribadi. Tema lain yang   menjadi inspirasinya meliputi kematian sang ibu yang terjadi pada 1868   dan kematian saudarinya pada 1877 yang membuat Munch depresi.</description><content:encoded>SELAIN lukisan &quot;Mona Lisa&quot; karya Leonardo da Vinci, lukisan berjudul &quot;The Scream&quot; karya Edvard Munch juga menjadi karya seni lukis yang paling mudah dikenali di dunia. The Scream sering disebut sebagai ikon seni modern serta maha karya dari gaya melukis ekspresionis.
The Scream adalah salah satu dari empat lukisan berseri Munch yang diberi judul Der Schrei der Natur (Teriakan Alam). Edvard Munch menyelesaikan &quot;The Scream&quot; pada 1893, beberapa bulan setelah menggambar sketsa di atas kanvas.
Lukisan &quot;The Scream&quot; menampilkan sesosok manusia yang wajahnya dipenuhi oleh ekspresi ketakutan dan kecemasan berlebihan. Latar belakang lukisan menampilkan langit berwarna jingga dan permukaan air yang berwarna suram.
Banyak ahli beranggapan bahwa Munch ingin menunjukkan ekspresi ketidakstabilan mental dan rasa takut. Namun, nukilan buku harian Edvard Munch mengungkapkan inspirasi di balik lukisan itu: Letusan Gunung Krakatau.
&amp;ldquo;Saya sedang berjalan-jalan bersama dua orang teman dan matahari sedang terbenam. Tiba-tiba langit berubah menjadi merah darah, saya berhenti. Merasa kelelahan dan bersandar di pagar,&amp;rdquo; tulis Edvard Munch dalam buku harian itu, mengutip dari The Vintage News, Rabu (7/2/2018).
&amp;ldquo;Lidah api menyala-nyala di atas kota dan teman saya terus saja berjalan. Saya berdiri gemetaran penuh rasa khawatir. Saya merasakan adanya teriakan mengerikan dari alam,&amp;rdquo; imbuh pria asal Norwegia itu.
Penganut aliran ekspresionis amat jarang melukis berdasarkan kejadian  nyata yang dilihat langsung. Mereka biasanya melukis berdasarkan  penglihatan atau gambaran situasi yang ada di kepala. Namun, Profesor  Astronomi dan Fisika dari Texas State University, Donald Olson  mengatakan, lukisan itu terinspirasi dari langit jingga yang tak biasa  yang dilihat si pelukis pada 1883-1884.
Pada masa itu, abu vulkanik dari Gunung Krakatau di Indonesia sudah  mencapai Benua Eropa. Akibatnya, langit padawaktu terbit dan terbenamnya  matahari di Norwegia, tempat asal Edvard Munch, berubah menjadi merah  darah serta jingga yang lebih pekat.
Erupsi Gunung Krakatau terjadi pada akhir Agustus 1883 dan hingga   kini  disebut-sebut sebagai bencana alam dengan efek penghancuran paling    dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Seluruh Pulau Krakatau    hancur. Letusan menyebabkan tsunami setinggi 30 meter (m). Gabungan dari    letusan dan tsunami itu menyebabkan sekira 37 ribu orang tewas.Letusan Gunung Krakatau memicu ledakan alami yang bisa terdengar   hingga sejauh Kepulauan Rodrigues dekat Mauritius, yang berada 4.828   kilometer (km) dari Kepulauan Krakatau. Ledakan tersebut bahkan lebih   kuat empat kali lipat daripada Tsar Bomba, bom termonuklir yang pernah   diledakkan.
Pada penghujung 1883 hingga awal 1884, media-media Norwegia   melaporkan bahwa ada kondisi atmosfer yang tidak biasa di atas langit di   negara tersebut. Kondisi tersebut memunculkan warna yang tidak biasa   dan sangat jelas di langit. Munch sudah pasti melihat warna darah di   langit itu.
Sepanjang dekade 1890, karya-karya Edvard Munch lebih banyak   terinspirasi dari kejadian serta pengalaman pribadi. Tema lain yang   menjadi inspirasinya meliputi kematian sang ibu yang terjadi pada 1868   dan kematian saudarinya pada 1877 yang membuat Munch depresi.</content:encoded></item></channel></rss>
