<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tragedi Tanjakan Emen, Kisah Kelam Rombongan Bus Anggota Koperasi Asal Tangsel</title><description>Kecelakaan maut yang menewaskan 27 orang di Tanjakan Emen, sulit dilupakan oleh para  keluarga korban anggota Koperasi Asal Tangsel.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/16/338/1860532/tragedi-tanjakan-emen-kisah-kelam-rombongan-bus-anggota-koperasi-asal-tangsel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/02/16/338/1860532/tragedi-tanjakan-emen-kisah-kelam-rombongan-bus-anggota-koperasi-asal-tangsel"/><item><title>Tragedi Tanjakan Emen, Kisah Kelam Rombongan Bus Anggota Koperasi Asal Tangsel</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/16/338/1860532/tragedi-tanjakan-emen-kisah-kelam-rombongan-bus-anggota-koperasi-asal-tangsel</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/02/16/338/1860532/tragedi-tanjakan-emen-kisah-kelam-rombongan-bus-anggota-koperasi-asal-tangsel</guid><pubDate>Jum'at 16 Februari 2018 19:19 WIB</pubDate><dc:creator>Hambali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/16/338/1860532/tragedi-tanjakan-emen-kisah-kelam-rombongan-bus-anggota-koperasi-asal-tangsel-1e2XnuSfbd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Peristiwa Kecelakaan di Tanjakan Emen (foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/16/338/1860532/tragedi-tanjakan-emen-kisah-kelam-rombongan-bus-anggota-koperasi-asal-tangsel-1e2XnuSfbd.jpg</image><title>Peristiwa Kecelakaan di Tanjakan Emen (foto: Antara)</title></images><description>TANGERANG SELATAN - Kecelakaan maut yang menewaskan 27 orang di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, beberapa hari lalu tentu sangat sulit dilupakan oleh para keluarga korban. Kisah kelam itu menambah daftar panjang, banyaknya korban jiwa yang harus dikorbankan akibat sistem keamanan moda transportasi yang buruk.

Tragedi memilukan itu terjadi pada Sabtu 10 Februari 2018 sore. Sebuah bus bernomor F 7959 AA yang merupakan bus pertama dalam iring-iringan 3 bus berisi rombongan keluarga dan anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata Ciputat Timur, terbalik di Tanjakan Emen, Subang.

Akibat kejadian, sebanyak 27 penumpangnya dinyatakan tewas, termasuk seorang pengendara motor yang melintas di lokasi. Sontak, Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Permata yang dikemas juga dengan rekreasi ke lokasi wisata itu berakhir tragis.

Informasi kecelakaan bus pun ramai diberitakan di berbagai media elektronik pada malam kejadian. Kondisi demikian, membuat pihak keluarga dan kerabat yang tinggal di sekitar Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel) menanti cemas atas nasib keluarga yang ikut dalam rombongan bus.
Kecelakaan Bus di Tanjakan Emen (foto: Ist)
Para keluarga korban kecelakaan berduyun-duyun mulai berdatangan ke Kantor Kelurahan Pisangan yang berada di Jalan Tarumanegara, Legoso, Ciputat Timur. Mereka larut dalam haru, dan terus berupaya memastikan siapa saja yang menjadi korban kecelakaan.

Seiring waktu, pegawai kelurahan dan jajaran kepolisian dari Polsek Ciputat terus mengonfirmasi mengenai jumlah korban meninggal dan luka-luka. Sambil menunggu rincian itu, para keluarga kemudian bersama-sama menggelar doa dan tahlil di kantor Kelurahan Pisangan.

&quot;Kita doakan agar prosesnya evakuasi dan perawatan diberi kemudahan dan kelancaran. Juga kita doakan semua korban meninggal diterima disisinya, amien,&quot; tutur Zainal Abidin, Ketua RW 07, Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, saat memulai tahlil.

Jumlah penumpang yang ikut dalam rombongan bus totalnya mencapai sekira 150 orang. Mereka berangkat Sabtu pagi, dengan dibagi kedalam 3 bus yang disediakan.

Sebagian besar adalah anggota KSP Permata yang juga merupakan ibu-ibu PKK di Kelurahan Pisangan, mereka pun ada yang membawa serta keluarganya dalam perjalanan itu.

Untuk memastikan data korban mengenai kecelakaan, Kelurahan Pisangan lantas membuka posko informasi. Papan mading informasi itu berisi data seluruh korban, baik yang meninggal dunia, luka ringan, luka berat dan korban selamat.

&quot;Kita buka posko informasi di depan kantor Kelurahan. Kita belum mengetahui detail siapa saja korbannya. Sudah ada tim dari sini yang berangkat kesana (Subang) untuk membantu pendataan,&quot; terang Mulyadi, Staf Kesekretariatan Kelurahan Pisangan.

Nengsih (25) deru nafasnya terlihat tersengau saat tiba di Kelurahan Pisangan. Ia yang mengenakan jaket tebal nampak terlihat cemas menanti kabar terbaru sang kakak yang ikut dalam rombongan bis maut di Subang, Jawa Barat, itu.

&quot;Saya cemas, masih nunggu informasi,&quot; ujar Nengsih di lokasi dengan wajah resahnya.

Dijelaskan Nengsih, kakaknya yang ikut dalam rombongan merupakan anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata. Rombongan itu berangkat Sabtu tadi mengenakan 3 bus.

&quot;Saya bingung, tadi juga sudah nanya - nanya, tapi memang masih belum ada yang tahu. Handphone-nya sulit dihubungi, saya telefon berkali-kali juga enggak diangkat,&quot; ucap Nengsih dengan mata berkaca-kaca.Sementara dihubungi terpisah, Lurah Pisangan, Idrus Asenih, yang juga  berada dalam rombongan bus berbeda mengaku, masih menunggu kabar lebih  lanjut dari rumah sakit di Subang mengenai data lengkap siapa saja yang  menjadi korban.

&quot;Laporan rincinya masih belum dapat, karena korban yang meninggal  masih belum semua teridentifikasi,&quot; ungkap Idrus saat dihubungi melalui  smabubgan telefon beberapa jam usai kejadian.

Berbeda hal dengan keluarga korban lainnya saat menanti kabar  terbaru, tiba-tiba seorang perempuan langsung terjatuh pingsan saat staf  kelurahan mengumumkan nama-nama korban meninggal. Rupanya, salah satu  yang disebutkan meninggal itu terdapat nama ayahnya, Sujono.

&quot;Itu anaknya Pak Sujono, tapi saya kurang tahu namanya siapa.  Bapaknya (Sujono) tadi disebut meninggal di RSUD Subang,&quot; terang  Khodijah, anggota PKK Kelurahan Pisangan di lokasi.
(Baca Juga: Tangis Keluarga Pecah saat Jenazah Korban Kecelakaan Tanjakan Emen Tiba di RSUD Tangsel)
Hingga Minggu 11 Februari 2018, dinihari. Barulah dapat kepastian  lengkap mengenai korban meninggal, luka fan selamat. Total seluruh  korban meninggal mencapai 27 orang, 8 orang luka berat, dan 10 luka  ringan.

Daftar korban meninggal :

1. Minah Rahayu (46),
2. Julaeha (58),
3. Sopiah (63),
4. Aminah (44),
5. Sri Widodo (63),
6. Masiah bin Nur Badeng (56),
7. Munih (57),
8. Sri Rochayati (49),
9. Sugiati (55),
10. Oktikah,
11. Siti Mulyamah,
12. Hasanah (46),
13. Mimin Mintarsih (44),
14. Juminten (60),
15. Liliana (48),
16. Tety Sumiati (48),
17. Sri Sulastri (60),
18. Elida (64),
19. Sujono (Laki/56),
20. Hj Paikem (64),
21. Atifah Siameti (10),
22. Rusminah (50),
23. Siti Payung Alam (39),
24. Ari Lestari (Laki/42),
25. Yanuati (60),
26. Sri Martiningsih (35),
27. Agung Waluyo (Pemotor/42).
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/02/11/47245/241751_medium.jpg&quot; alt=&quot;Isak Tangis Keluarga Korban Kecelakaan Bus di Tanjakan Emen Menggema di RSUD Tangsel&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Luka ringan 10 orang:

1. Amiruddin (Sopir bis),
2. Dedi Kusnaedi (Kenek),
3. Sawiyah,
4. Juna Enah,
5. Dahlia,
6. Euis Indrawati,
7. Dewo,
8. Saanih,
9. Naman,
10. Yeti Munjiawati.

Luka berat 8 orang:

1. M Abdul Fatih (9 tahun),
2. Supriono,
3. Darsinah,
4. Nasiah,
5. Samirah,
6. Satiah,
7. Kanah,
8. Elmira.

&quot;Korban yang meninggal asal Kota Tangsel mencapai 26 orang, 1 di  antaranya beridentitas Depok, tapi tinggalnya di Tangsel. Satu korban  lagi adalah pengendara sepeda motor&quot; ujar Syaifuddin, Kasie Pemerintahan  Kelurahan Pisangan, di Posko Informasi.

Mendapati banyak warganya menjadi korban kecelakaan, Pemkot Tangsel  langsung bergegas mengutus Sekda Kota Tangsel, Muhammad, untuk berangkat  ke Subang, bersama sekira 20 unit mobil ambulan dari berbagai Puskesmas  di wilayah Tangsel, serta ditambah beberapa unit dari pihak lain.

Pada Minggu pagi, iring-iringan ambulan berisi jenazah korban  kecelakaan tiba di RSUD Tangsel, Jalan Pajajaran, Pamulang Barat,  Pamulang. Jerit tangis keluarga yang telah lama menunggu di ruang  Pemulasaraan Jenazah pun pecah.

&quot;Mamah, mamah,&quot; ucap seorang gadis belia histeris melihat mobil  ambulans pengangkut jenazah ibunya tiba di Ruang Pemulasaraan Jenazah  RSUD Tangsel.

Hal yang sama terjadi saat beberapa jenazah lain tiba di ruang  pemulasaraan. Pihak keluarga tidak bisa membendung rasa haru. Bahkan,  ada juga yang sempat terkulai lemas dan pingsan menyaksikan tubuh  saudaranya dikeluarkan dari dalam mobil ambulans dengan posisi berada di  keranda.

Seluruh jenazah akan dimandikan dan dibersihkan terlebih dahulu  sebelum dikafani. Setelah itu, barulah jenazah disalati di masjid yang  lokasinya bersebelahan dengan Ruang Pemulasaraan RSUD Tangsel.

&quot;Nanti kita mandikan, bersihkan. Jika sudah selesai, kita salatkan di  masjid di sini,&quot; terang (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel  Suhara Manulang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMi8xMS8yMi8xMDg5MzUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany menyambangi RSUD yang menjadi   lokasi disemayamkannya puluhan jenazah korban kecelakaan. Ia pun tampak   tak kuasa membendung haru saat memeluk satu-persatu keluarga korban   kecelakaan.

Mengenakan pakaian serba hitam, Airin seolah menunjukkan rasa   empatinya kepada seluruh keluarga korban. Tanpa banyak berkata-kata, dia   lantas merangkul perempuan paruh baya di hadapannya yang tak lain   adalah orangtua dari salah satu korban meninggal dunia.

&quot;Yang sabar ya bu, ikhlas. Kami juga merasakan apa yang telah menimpa   keluarga ibu. Semoga semua amal almarhumah diterima di sisi-Nya,&quot;   ucapnya terbata-bata dengan mata memerah.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/02/12/47264/241816_medium.jpg&quot; alt=&quot;18 Korban Selamat Kecelakaan Tanjakan Emen Dirawat di RSUD Tangerang Selatan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Banyak kisah duka yang diceritakan pihak keluarga, baik itu firasat   sebelum kejadian kecelakaan, maupun saat-saat mencari bagian tubuh   terputus dari keluarganya yang menjadi korban.

Sebagaimana terjadi pada korban Martiningsih (35) yang tewas dalam   kecelakaan itu. Nahas, tangannya ikut terputus akibat benturan keras   serta himpitan di dalam bus. Pihak keluarga sempat kesulitan mencari   bagian tangannya, beruntung ada cincin perkawinan yang membuat mudah   dikenali.

Kisah itu diceritakan oleh sahabat dekat almarhum bernama Citra. Dia   mengatakan, suami Martiningsih berupaya mencari keberadaan tangan   istrinya di lokasi kecelakaan. Namun banyaknya potongan tubuh serupa,   menambah sulit pencariannya.

&quot;Sempet cari-cari tangan istrinya, awalnya ketemu. Tapi suaminya   bilang bukan, ini bukan tangan istri saya. Saya kenal betul cincin yang   ia kenakan,&quot; tutur Citra menirukan ucapan suami sahabatnya itu, di RSUD   Pamulang.

Martiningsih sendiri meninggalkan suami dan seorang anak laki-laki   berusia 11 tahun yang masih duduk di bangku kelas 6 SD Pamulang Indah.   Ibunya, Sri Widodo, ikut meninggal dalam peristiwa itu.
(Baca Juga: Cerita Pemandi Jenazah Korban Tragedi Tanjakan Emen di RSUD Tangsel)
Sejatinya, Martiningsih duduk di dalam bis nomor 2. Namun dia memilih   berpindah ke bis pertama, agar dapat lebih dekat dengan ibunya yang   berada di bis tersebut.

&quot;Ningsih pindah ke bis 1, biar dekat dengan ibunya, Sri Widodo.   Makanya nama dia enggak ada di list bis 1, karena penumpang pindahan,&quot;   tambah Citra.

Kisah haru menyayat hati juga dirasakan Hafis Isa Asyari (15).   Ibunya, Ari Lestari (42), dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu. Hafis   yang masih duduk di bangku kelas IX SMP Muhammadiyah ini pun harus   merelakan perpisahan selama-lamanya dengan sang ibunda tercinta.

Saat menanti jenazah ibunda tercinta tiba di RSUD Tangsel, Hafis   sempat bercerita tentang pesan yang disampaikan khusus kepadanya. Hafis   tak menyadari, jika ternyata itu adalah waktu terakhir kali dia   berkomunikasi dengan ibunya sebelum mengalami kecelakaan.

&quot;Aku sempat tanya mamah kemarin. 'Mamah berangkat jam berapa tadi?   Terus sudah sampai mana?' Mamah jawab, 'Sudah sampai rest area. Tadi   pagi berangkat jam 6, adek (sebutan Hafis dari sang ibu)',&quot; tutur Hafis   sambil terisak tangis.

Hafis dan kakak kandungnya bernama Hana Khoirunnisa Asyari merupakan   dua bersaudara yang lahir dari pasangan Asep Budiharjo dan Ari Lestari.   Kakaknya sendiri kini tengah menempuh kuliah di STIEAD Ahmad Dahlan.

&quot;Mamah cuma titip pesan, 'Kamu hati-hati ya, adek',&quot; ujar Hafis.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMi8xMS8yMi8xMDg5MzcvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sebelum kecelakaan itu, Hafis sangat gelisah dengan perasaan yang    dialami tak sebagaimana mestinya. Acapkali dia merasa ingin selalu    berada di dekat pelukan sang ibu.

&quot;Dari sebelum kejadian, sudah enggak enak, gelisah terus,&quot; imbuhnya.

Bahkan, awalnya Hafis meminta agar sang ibu turut mengajaknya pergi    ke Subang. Namun takdir berkehendak lain, ibunya berangkat dengan    ditemani neneknya Sri Widodo (63) dan Martiningsih (35), keponakan dari    ibunya. Ketiganya pun dinyatakan tewas akibat kecelakaan.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/02/12/47266/241825_medium.jpg&quot; alt=&quot;Suasana Haru Pemakaman Massal Korban Kecelakaan Tanjakan Emen di TPU Legoso Ciputat&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Usai dimandikan dan disalatk, sebanyak 22 jenazah akhirnya dimakamkan    massal di TPU Legoso, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.    Sedangkan 4 diantaranya dibawa oleh masing-masing keluarga untuk    dimakamkan di Cirebon, Medan, Ciledug (Tangerang), dan Depok.

Saat jenazah tiba di area TPU Legoso, pihak keluarga, kerabat hingga    warga sekitar telah memenuhi sekitar pemakaman. Tangis haru kian tak    terbendung, ketika satu persatu jenazah yang telah terbalut kain kafan    putih diturunkan dari mobil ambulans untuk dimasukkan kedalam liang    kubur.

Pemerintah Kota Tangsel sendiri telah mempersiapkan penggalian lubang    kubur dengan 2 lubang ukuran cukup besar dan 8 lubang ukuran kecil.    Penggalian berlangsung menggunakan unit Eskavator, mengingat ada  puluhan   jenazah yang dimakamkan di lokasi tersebut.

&quot;Kita sudah menyiapkan untuk area pemakamannya, tapi kan kita    menyerahkan lagi kepada keinginan para keluarga korban untuk tempat    pemakamannya,&quot; terang Benyamin Davnie, Wakil Wali Kota Tangsel saat    berada di RSUD Pamulang.
(Baca Juga: Korban Meninggal Tragedi Tanjakan Emen Dimakamkan Massal di Ciputat)
Adapun korban tewas yang dikuburkan secara massal dalam satu lubang    adalah Minah Rahayu, Sopiah, Julaeha, Aminah, Sri widodo, Sugianti,    Asanah, Elida, Jono, Paikem, Rusminah, Sri Martiningsih, Ari lestari,    dan Juminten.

Sedang jenazah korban yang dimakamkan secara terpisah atau    sendiri-sendiri yaitu, Masiah, Munih, Oktika Trisnawati, Siti Mulyana,    Lilyana, Teti Sumiati, Sri Sulastri, Yanuati, dan terakhir Agus  Mulyono.

Sementara korban tewas yang dibawa ke kampung halamannya,    masing-masing bernama Sri Rochayati di Cirebon, Atifah Siameti di Depok,    Siti Payung Alam di Medan, dan Mimin Mintarsih di Ciledug.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMi8xMS8yMi8xMDg5MzgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>TANGERANG SELATAN - Kecelakaan maut yang menewaskan 27 orang di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, beberapa hari lalu tentu sangat sulit dilupakan oleh para keluarga korban. Kisah kelam itu menambah daftar panjang, banyaknya korban jiwa yang harus dikorbankan akibat sistem keamanan moda transportasi yang buruk.

Tragedi memilukan itu terjadi pada Sabtu 10 Februari 2018 sore. Sebuah bus bernomor F 7959 AA yang merupakan bus pertama dalam iring-iringan 3 bus berisi rombongan keluarga dan anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata Ciputat Timur, terbalik di Tanjakan Emen, Subang.

Akibat kejadian, sebanyak 27 penumpangnya dinyatakan tewas, termasuk seorang pengendara motor yang melintas di lokasi. Sontak, Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Permata yang dikemas juga dengan rekreasi ke lokasi wisata itu berakhir tragis.

Informasi kecelakaan bus pun ramai diberitakan di berbagai media elektronik pada malam kejadian. Kondisi demikian, membuat pihak keluarga dan kerabat yang tinggal di sekitar Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel) menanti cemas atas nasib keluarga yang ikut dalam rombongan bus.
Kecelakaan Bus di Tanjakan Emen (foto: Ist)
Para keluarga korban kecelakaan berduyun-duyun mulai berdatangan ke Kantor Kelurahan Pisangan yang berada di Jalan Tarumanegara, Legoso, Ciputat Timur. Mereka larut dalam haru, dan terus berupaya memastikan siapa saja yang menjadi korban kecelakaan.

Seiring waktu, pegawai kelurahan dan jajaran kepolisian dari Polsek Ciputat terus mengonfirmasi mengenai jumlah korban meninggal dan luka-luka. Sambil menunggu rincian itu, para keluarga kemudian bersama-sama menggelar doa dan tahlil di kantor Kelurahan Pisangan.

&quot;Kita doakan agar prosesnya evakuasi dan perawatan diberi kemudahan dan kelancaran. Juga kita doakan semua korban meninggal diterima disisinya, amien,&quot; tutur Zainal Abidin, Ketua RW 07, Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, saat memulai tahlil.

Jumlah penumpang yang ikut dalam rombongan bus totalnya mencapai sekira 150 orang. Mereka berangkat Sabtu pagi, dengan dibagi kedalam 3 bus yang disediakan.

Sebagian besar adalah anggota KSP Permata yang juga merupakan ibu-ibu PKK di Kelurahan Pisangan, mereka pun ada yang membawa serta keluarganya dalam perjalanan itu.

Untuk memastikan data korban mengenai kecelakaan, Kelurahan Pisangan lantas membuka posko informasi. Papan mading informasi itu berisi data seluruh korban, baik yang meninggal dunia, luka ringan, luka berat dan korban selamat.

&quot;Kita buka posko informasi di depan kantor Kelurahan. Kita belum mengetahui detail siapa saja korbannya. Sudah ada tim dari sini yang berangkat kesana (Subang) untuk membantu pendataan,&quot; terang Mulyadi, Staf Kesekretariatan Kelurahan Pisangan.

Nengsih (25) deru nafasnya terlihat tersengau saat tiba di Kelurahan Pisangan. Ia yang mengenakan jaket tebal nampak terlihat cemas menanti kabar terbaru sang kakak yang ikut dalam rombongan bis maut di Subang, Jawa Barat, itu.

&quot;Saya cemas, masih nunggu informasi,&quot; ujar Nengsih di lokasi dengan wajah resahnya.

Dijelaskan Nengsih, kakaknya yang ikut dalam rombongan merupakan anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata. Rombongan itu berangkat Sabtu tadi mengenakan 3 bus.

&quot;Saya bingung, tadi juga sudah nanya - nanya, tapi memang masih belum ada yang tahu. Handphone-nya sulit dihubungi, saya telefon berkali-kali juga enggak diangkat,&quot; ucap Nengsih dengan mata berkaca-kaca.Sementara dihubungi terpisah, Lurah Pisangan, Idrus Asenih, yang juga  berada dalam rombongan bus berbeda mengaku, masih menunggu kabar lebih  lanjut dari rumah sakit di Subang mengenai data lengkap siapa saja yang  menjadi korban.

&quot;Laporan rincinya masih belum dapat, karena korban yang meninggal  masih belum semua teridentifikasi,&quot; ungkap Idrus saat dihubungi melalui  smabubgan telefon beberapa jam usai kejadian.

Berbeda hal dengan keluarga korban lainnya saat menanti kabar  terbaru, tiba-tiba seorang perempuan langsung terjatuh pingsan saat staf  kelurahan mengumumkan nama-nama korban meninggal. Rupanya, salah satu  yang disebutkan meninggal itu terdapat nama ayahnya, Sujono.

&quot;Itu anaknya Pak Sujono, tapi saya kurang tahu namanya siapa.  Bapaknya (Sujono) tadi disebut meninggal di RSUD Subang,&quot; terang  Khodijah, anggota PKK Kelurahan Pisangan di lokasi.
(Baca Juga: Tangis Keluarga Pecah saat Jenazah Korban Kecelakaan Tanjakan Emen Tiba di RSUD Tangsel)
Hingga Minggu 11 Februari 2018, dinihari. Barulah dapat kepastian  lengkap mengenai korban meninggal, luka fan selamat. Total seluruh  korban meninggal mencapai 27 orang, 8 orang luka berat, dan 10 luka  ringan.

Daftar korban meninggal :

1. Minah Rahayu (46),
2. Julaeha (58),
3. Sopiah (63),
4. Aminah (44),
5. Sri Widodo (63),
6. Masiah bin Nur Badeng (56),
7. Munih (57),
8. Sri Rochayati (49),
9. Sugiati (55),
10. Oktikah,
11. Siti Mulyamah,
12. Hasanah (46),
13. Mimin Mintarsih (44),
14. Juminten (60),
15. Liliana (48),
16. Tety Sumiati (48),
17. Sri Sulastri (60),
18. Elida (64),
19. Sujono (Laki/56),
20. Hj Paikem (64),
21. Atifah Siameti (10),
22. Rusminah (50),
23. Siti Payung Alam (39),
24. Ari Lestari (Laki/42),
25. Yanuati (60),
26. Sri Martiningsih (35),
27. Agung Waluyo (Pemotor/42).
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/02/11/47245/241751_medium.jpg&quot; alt=&quot;Isak Tangis Keluarga Korban Kecelakaan Bus di Tanjakan Emen Menggema di RSUD Tangsel&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Luka ringan 10 orang:

1. Amiruddin (Sopir bis),
2. Dedi Kusnaedi (Kenek),
3. Sawiyah,
4. Juna Enah,
5. Dahlia,
6. Euis Indrawati,
7. Dewo,
8. Saanih,
9. Naman,
10. Yeti Munjiawati.

Luka berat 8 orang:

1. M Abdul Fatih (9 tahun),
2. Supriono,
3. Darsinah,
4. Nasiah,
5. Samirah,
6. Satiah,
7. Kanah,
8. Elmira.

&quot;Korban yang meninggal asal Kota Tangsel mencapai 26 orang, 1 di  antaranya beridentitas Depok, tapi tinggalnya di Tangsel. Satu korban  lagi adalah pengendara sepeda motor&quot; ujar Syaifuddin, Kasie Pemerintahan  Kelurahan Pisangan, di Posko Informasi.

Mendapati banyak warganya menjadi korban kecelakaan, Pemkot Tangsel  langsung bergegas mengutus Sekda Kota Tangsel, Muhammad, untuk berangkat  ke Subang, bersama sekira 20 unit mobil ambulan dari berbagai Puskesmas  di wilayah Tangsel, serta ditambah beberapa unit dari pihak lain.

Pada Minggu pagi, iring-iringan ambulan berisi jenazah korban  kecelakaan tiba di RSUD Tangsel, Jalan Pajajaran, Pamulang Barat,  Pamulang. Jerit tangis keluarga yang telah lama menunggu di ruang  Pemulasaraan Jenazah pun pecah.

&quot;Mamah, mamah,&quot; ucap seorang gadis belia histeris melihat mobil  ambulans pengangkut jenazah ibunya tiba di Ruang Pemulasaraan Jenazah  RSUD Tangsel.

Hal yang sama terjadi saat beberapa jenazah lain tiba di ruang  pemulasaraan. Pihak keluarga tidak bisa membendung rasa haru. Bahkan,  ada juga yang sempat terkulai lemas dan pingsan menyaksikan tubuh  saudaranya dikeluarkan dari dalam mobil ambulans dengan posisi berada di  keranda.

Seluruh jenazah akan dimandikan dan dibersihkan terlebih dahulu  sebelum dikafani. Setelah itu, barulah jenazah disalati di masjid yang  lokasinya bersebelahan dengan Ruang Pemulasaraan RSUD Tangsel.

&quot;Nanti kita mandikan, bersihkan. Jika sudah selesai, kita salatkan di  masjid di sini,&quot; terang (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel  Suhara Manulang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMi8xMS8yMi8xMDg5MzUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany menyambangi RSUD yang menjadi   lokasi disemayamkannya puluhan jenazah korban kecelakaan. Ia pun tampak   tak kuasa membendung haru saat memeluk satu-persatu keluarga korban   kecelakaan.

Mengenakan pakaian serba hitam, Airin seolah menunjukkan rasa   empatinya kepada seluruh keluarga korban. Tanpa banyak berkata-kata, dia   lantas merangkul perempuan paruh baya di hadapannya yang tak lain   adalah orangtua dari salah satu korban meninggal dunia.

&quot;Yang sabar ya bu, ikhlas. Kami juga merasakan apa yang telah menimpa   keluarga ibu. Semoga semua amal almarhumah diterima di sisi-Nya,&quot;   ucapnya terbata-bata dengan mata memerah.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/02/12/47264/241816_medium.jpg&quot; alt=&quot;18 Korban Selamat Kecelakaan Tanjakan Emen Dirawat di RSUD Tangerang Selatan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Banyak kisah duka yang diceritakan pihak keluarga, baik itu firasat   sebelum kejadian kecelakaan, maupun saat-saat mencari bagian tubuh   terputus dari keluarganya yang menjadi korban.

Sebagaimana terjadi pada korban Martiningsih (35) yang tewas dalam   kecelakaan itu. Nahas, tangannya ikut terputus akibat benturan keras   serta himpitan di dalam bus. Pihak keluarga sempat kesulitan mencari   bagian tangannya, beruntung ada cincin perkawinan yang membuat mudah   dikenali.

Kisah itu diceritakan oleh sahabat dekat almarhum bernama Citra. Dia   mengatakan, suami Martiningsih berupaya mencari keberadaan tangan   istrinya di lokasi kecelakaan. Namun banyaknya potongan tubuh serupa,   menambah sulit pencariannya.

&quot;Sempet cari-cari tangan istrinya, awalnya ketemu. Tapi suaminya   bilang bukan, ini bukan tangan istri saya. Saya kenal betul cincin yang   ia kenakan,&quot; tutur Citra menirukan ucapan suami sahabatnya itu, di RSUD   Pamulang.

Martiningsih sendiri meninggalkan suami dan seorang anak laki-laki   berusia 11 tahun yang masih duduk di bangku kelas 6 SD Pamulang Indah.   Ibunya, Sri Widodo, ikut meninggal dalam peristiwa itu.
(Baca Juga: Cerita Pemandi Jenazah Korban Tragedi Tanjakan Emen di RSUD Tangsel)
Sejatinya, Martiningsih duduk di dalam bis nomor 2. Namun dia memilih   berpindah ke bis pertama, agar dapat lebih dekat dengan ibunya yang   berada di bis tersebut.

&quot;Ningsih pindah ke bis 1, biar dekat dengan ibunya, Sri Widodo.   Makanya nama dia enggak ada di list bis 1, karena penumpang pindahan,&quot;   tambah Citra.

Kisah haru menyayat hati juga dirasakan Hafis Isa Asyari (15).   Ibunya, Ari Lestari (42), dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu. Hafis   yang masih duduk di bangku kelas IX SMP Muhammadiyah ini pun harus   merelakan perpisahan selama-lamanya dengan sang ibunda tercinta.

Saat menanti jenazah ibunda tercinta tiba di RSUD Tangsel, Hafis   sempat bercerita tentang pesan yang disampaikan khusus kepadanya. Hafis   tak menyadari, jika ternyata itu adalah waktu terakhir kali dia   berkomunikasi dengan ibunya sebelum mengalami kecelakaan.

&quot;Aku sempat tanya mamah kemarin. 'Mamah berangkat jam berapa tadi?   Terus sudah sampai mana?' Mamah jawab, 'Sudah sampai rest area. Tadi   pagi berangkat jam 6, adek (sebutan Hafis dari sang ibu)',&quot; tutur Hafis   sambil terisak tangis.

Hafis dan kakak kandungnya bernama Hana Khoirunnisa Asyari merupakan   dua bersaudara yang lahir dari pasangan Asep Budiharjo dan Ari Lestari.   Kakaknya sendiri kini tengah menempuh kuliah di STIEAD Ahmad Dahlan.

&quot;Mamah cuma titip pesan, 'Kamu hati-hati ya, adek',&quot; ujar Hafis.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMi8xMS8yMi8xMDg5MzcvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sebelum kecelakaan itu, Hafis sangat gelisah dengan perasaan yang    dialami tak sebagaimana mestinya. Acapkali dia merasa ingin selalu    berada di dekat pelukan sang ibu.

&quot;Dari sebelum kejadian, sudah enggak enak, gelisah terus,&quot; imbuhnya.

Bahkan, awalnya Hafis meminta agar sang ibu turut mengajaknya pergi    ke Subang. Namun takdir berkehendak lain, ibunya berangkat dengan    ditemani neneknya Sri Widodo (63) dan Martiningsih (35), keponakan dari    ibunya. Ketiganya pun dinyatakan tewas akibat kecelakaan.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2018/02/12/47266/241825_medium.jpg&quot; alt=&quot;Suasana Haru Pemakaman Massal Korban Kecelakaan Tanjakan Emen di TPU Legoso Ciputat&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Usai dimandikan dan disalatk, sebanyak 22 jenazah akhirnya dimakamkan    massal di TPU Legoso, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.    Sedangkan 4 diantaranya dibawa oleh masing-masing keluarga untuk    dimakamkan di Cirebon, Medan, Ciledug (Tangerang), dan Depok.

Saat jenazah tiba di area TPU Legoso, pihak keluarga, kerabat hingga    warga sekitar telah memenuhi sekitar pemakaman. Tangis haru kian tak    terbendung, ketika satu persatu jenazah yang telah terbalut kain kafan    putih diturunkan dari mobil ambulans untuk dimasukkan kedalam liang    kubur.

Pemerintah Kota Tangsel sendiri telah mempersiapkan penggalian lubang    kubur dengan 2 lubang ukuran cukup besar dan 8 lubang ukuran kecil.    Penggalian berlangsung menggunakan unit Eskavator, mengingat ada  puluhan   jenazah yang dimakamkan di lokasi tersebut.

&quot;Kita sudah menyiapkan untuk area pemakamannya, tapi kan kita    menyerahkan lagi kepada keinginan para keluarga korban untuk tempat    pemakamannya,&quot; terang Benyamin Davnie, Wakil Wali Kota Tangsel saat    berada di RSUD Pamulang.
(Baca Juga: Korban Meninggal Tragedi Tanjakan Emen Dimakamkan Massal di Ciputat)
Adapun korban tewas yang dikuburkan secara massal dalam satu lubang    adalah Minah Rahayu, Sopiah, Julaeha, Aminah, Sri widodo, Sugianti,    Asanah, Elida, Jono, Paikem, Rusminah, Sri Martiningsih, Ari lestari,    dan Juminten.

Sedang jenazah korban yang dimakamkan secara terpisah atau    sendiri-sendiri yaitu, Masiah, Munih, Oktika Trisnawati, Siti Mulyana,    Lilyana, Teti Sumiati, Sri Sulastri, Yanuati, dan terakhir Agus  Mulyono.

Sementara korban tewas yang dibawa ke kampung halamannya,    masing-masing bernama Sri Rochayati di Cirebon, Atifah Siameti di Depok,    Siti Payung Alam di Medan, dan Mimin Mintarsih di Ciledug.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMi8xMS8yMi8xMDg5MzgvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
