<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dodi Reza Bikin Komik, Alasannya Membuat Haru</title><description>Bupati Musi Banyuasin non aktif sekaligus Cagub Sumsel Dodi Reza Alex Noerdin membuat sebuah komik tentang bencana kebakaran hutan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/19/340/1861781/dodi-reza-bikin-komik-alasannya-membuat-haru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/02/19/340/1861781/dodi-reza-bikin-komik-alasannya-membuat-haru"/><item><title>Dodi Reza Bikin Komik, Alasannya Membuat Haru</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/19/340/1861781/dodi-reza-bikin-komik-alasannya-membuat-haru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/02/19/340/1861781/dodi-reza-bikin-komik-alasannya-membuat-haru</guid><pubDate>Senin 19 Februari 2018 21:46 WIB</pubDate><dc:creator>Mewan Haqulana </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/19/340/1861781/dodi-reza-bikin-komik-alasannya-membuat-haru-3N7XpPnSO3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dodi Reza Alex Noerdin (foto: Mewan/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/19/340/1861781/dodi-reza-bikin-komik-alasannya-membuat-haru-3N7XpPnSO3.jpg</image><title>Dodi Reza Alex Noerdin (foto: Mewan/Okezone)</title></images><description>MUSI BANYUASIN - Bencana kabut asap 2015 lalu di Sumatra Selatan, masih membekas diingatan warga Sumatra Selatan. Bagaimana tidak, kebakaran di mana-mana, asap tebal masuk ke rumah-rumah hingga sejumlah masyarakat harus mengungsi.

Jangankan menjalankan aktifitas kerja atau sekolah, untuk bernafas saja sulit. Korban nyawa berjatuhan, rumah sakit membludak dengan pasien penderita gangguan pernafasan.

Pemerintah terpaksa membuat camp-camp pengungsian. Belum lagi fasilitas listrik, komunikasi, transportasi dan PDAM ikut terganggu, lengkap sudah penderitaan kala itu.
(Baca Juga: Komitmen Kampanye Damai di Pilkada Sumsel, Dodi-Giri: Perang Ide dan Gagasan)
Penderitaan yang lebih perih lagi dialamai oleh kawanan satwa penghuni hutan Sumatra. Mereka dihadapkan dua pilihan pahit, tetap bertahann di dalam hutan dan mati terpanggang, atau berhadapan dengan moncong senapan bila lari ke pemukiman warga.

Belum lekang dalam ingatan, saat tapir, kawanan kambing hutan,  rusa, beruang dan satwa rimba lainnya berlarian masuk kampung. Bahkan Raja Rimba Sumatera juga terpaksa menampakan wujudnya hingga harus tewas ditembus 6  peluru aparat.

Sumsel mencekam, wajahnya berubah kelabu, Ribuan pasukan TNI dikerahkan, anggota DPR RI turun ke lapangan, bahkan Presiden Jokowi sampai pindah kantor ke Musi Banyuasin dan Ogan Ilir Sumatra Selatan.

Tragedi kebakaran hutan dan kabut asap di bumi Sriwijaya bukan hanya menjadi bencana nasional, masyarakat internasional juga ikut prihatin. Kabut asap menyebar hingga ke negara tetangga, masyarakat dunia berteriak, lapisan ozon bumi diserang.

Bala bantuan dari lima negara datang, helikopter Rusia, China, Singapura, Malaysia dan Australia berseliweran menjatuhakan bom air ke lahan gambut Sumsel yang berapi-api.

Tak ketinggalan, pasukan bergajah ikut dikerahkan menghadapi Si Jago Merah yang mengamuk di hutan gambut negri Sriwijaya. Berbagai usaha telah dilakukan, miliaran rupiah hangus untuk pemadman dan recovery.

Hingga  para ulama juga mengerahkan semua warga bersujud simpuh pada yang Maha Pencipta,  mengetuk pintublangit, meminta, memelas, mohon pertolongan agar dilepaskab dari bencana.

Tak lama berselang, bala bantuna tuhan datang, pasukan hujan turun ke bumi. Kobaran api berhenti, asap berangsur pergi dan wajah Sumsel kembali berseri bersih.

&quot;Cukuplah hal itu menjadi pelajaran bagi kita semua, bencana seperti ini tidak boleh terjadi lagi,&quot; tegas Bupati Musi Banyuasin non aktif Dodi Reza Alex Noerdin.

Tidak ada yang salah dengan alam, mungkin cara kita dalam memperlakukannya kurang tepat. Stop  pembakaran hutan dan lahan, perlakukan hutan dan lahan sebagai shabat terbaik kita.

&quot;Budaya membuka laham dengan cara membakar harus dihilangkan, sejak usia dini,&quot; katanya.

Karena itulah, selain sejumlah program pencegahan Karhutlah, Dodi Reza Alex menyempatkan diri menulis trilogi tentang kebakaran hutan. Pertama berjudul Indahnya Hutan Musi Banyuasin kemudian Jika Hutanku Ternakar dan terakhir Setelah Api Padam.

Karangan Calon Gubernur Sumsel tersebut dibukukan dalam cerita berganbar atau komik. Buka pertama menjelaskan tentang ekosistem hutan di Banyuasin serta founa di dalamnya. Manfaat bila hutan terjaga dengan baik dan motifasi bersahabat dengan hutan.

Kemudian buku kedua menggambarkan dampak akibat kebakaran hutan dan apa yang haris dilakukan menyikapinya. Sedangkan trilogi yang terakhir terkait recoveri pasca Karhutlah.
(Baca Juga: GP Ansor Nyatakan Siap Dukung Dodi-Giri di Pilgub Sumsel)
&quot;Sasaran kita memang anak-anak dan pelajar. Nantinya mereka yang akan mengajarkan pada orang tua masing-masing akan pentingnya menjaga hutan dan kedepannya anak-anak ini akan melahirkan generasi penerus pecinta hutan,&quot; jelas Dodi.

Presiden SFC ini melanjutkan, komik trilogi ini telah dilaunching oleh menteri pendidikan bersana menteri kordinator bidang Pembangunan Manusia dan kebudayaan. &quot;Komiknya telah dibawa oleh mereka, rencananya akab didistribusikan ke berbagai provinsi yang memiliki kemiripan demografinya dengan Musi Banyuasin,&quot; urainya.

Dia berharap, melalui trilogi ini akan membenahi mental generasi Indonesia hingga lebih arif dalam menjaga hutan.</description><content:encoded>MUSI BANYUASIN - Bencana kabut asap 2015 lalu di Sumatra Selatan, masih membekas diingatan warga Sumatra Selatan. Bagaimana tidak, kebakaran di mana-mana, asap tebal masuk ke rumah-rumah hingga sejumlah masyarakat harus mengungsi.

Jangankan menjalankan aktifitas kerja atau sekolah, untuk bernafas saja sulit. Korban nyawa berjatuhan, rumah sakit membludak dengan pasien penderita gangguan pernafasan.

Pemerintah terpaksa membuat camp-camp pengungsian. Belum lagi fasilitas listrik, komunikasi, transportasi dan PDAM ikut terganggu, lengkap sudah penderitaan kala itu.
(Baca Juga: Komitmen Kampanye Damai di Pilkada Sumsel, Dodi-Giri: Perang Ide dan Gagasan)
Penderitaan yang lebih perih lagi dialamai oleh kawanan satwa penghuni hutan Sumatra. Mereka dihadapkan dua pilihan pahit, tetap bertahann di dalam hutan dan mati terpanggang, atau berhadapan dengan moncong senapan bila lari ke pemukiman warga.

Belum lekang dalam ingatan, saat tapir, kawanan kambing hutan,  rusa, beruang dan satwa rimba lainnya berlarian masuk kampung. Bahkan Raja Rimba Sumatera juga terpaksa menampakan wujudnya hingga harus tewas ditembus 6  peluru aparat.

Sumsel mencekam, wajahnya berubah kelabu, Ribuan pasukan TNI dikerahkan, anggota DPR RI turun ke lapangan, bahkan Presiden Jokowi sampai pindah kantor ke Musi Banyuasin dan Ogan Ilir Sumatra Selatan.

Tragedi kebakaran hutan dan kabut asap di bumi Sriwijaya bukan hanya menjadi bencana nasional, masyarakat internasional juga ikut prihatin. Kabut asap menyebar hingga ke negara tetangga, masyarakat dunia berteriak, lapisan ozon bumi diserang.

Bala bantuan dari lima negara datang, helikopter Rusia, China, Singapura, Malaysia dan Australia berseliweran menjatuhakan bom air ke lahan gambut Sumsel yang berapi-api.

Tak ketinggalan, pasukan bergajah ikut dikerahkan menghadapi Si Jago Merah yang mengamuk di hutan gambut negri Sriwijaya. Berbagai usaha telah dilakukan, miliaran rupiah hangus untuk pemadman dan recovery.

Hingga  para ulama juga mengerahkan semua warga bersujud simpuh pada yang Maha Pencipta,  mengetuk pintublangit, meminta, memelas, mohon pertolongan agar dilepaskab dari bencana.

Tak lama berselang, bala bantuna tuhan datang, pasukan hujan turun ke bumi. Kobaran api berhenti, asap berangsur pergi dan wajah Sumsel kembali berseri bersih.

&quot;Cukuplah hal itu menjadi pelajaran bagi kita semua, bencana seperti ini tidak boleh terjadi lagi,&quot; tegas Bupati Musi Banyuasin non aktif Dodi Reza Alex Noerdin.

Tidak ada yang salah dengan alam, mungkin cara kita dalam memperlakukannya kurang tepat. Stop  pembakaran hutan dan lahan, perlakukan hutan dan lahan sebagai shabat terbaik kita.

&quot;Budaya membuka laham dengan cara membakar harus dihilangkan, sejak usia dini,&quot; katanya.

Karena itulah, selain sejumlah program pencegahan Karhutlah, Dodi Reza Alex menyempatkan diri menulis trilogi tentang kebakaran hutan. Pertama berjudul Indahnya Hutan Musi Banyuasin kemudian Jika Hutanku Ternakar dan terakhir Setelah Api Padam.

Karangan Calon Gubernur Sumsel tersebut dibukukan dalam cerita berganbar atau komik. Buka pertama menjelaskan tentang ekosistem hutan di Banyuasin serta founa di dalamnya. Manfaat bila hutan terjaga dengan baik dan motifasi bersahabat dengan hutan.

Kemudian buku kedua menggambarkan dampak akibat kebakaran hutan dan apa yang haris dilakukan menyikapinya. Sedangkan trilogi yang terakhir terkait recoveri pasca Karhutlah.
(Baca Juga: GP Ansor Nyatakan Siap Dukung Dodi-Giri di Pilgub Sumsel)
&quot;Sasaran kita memang anak-anak dan pelajar. Nantinya mereka yang akan mengajarkan pada orang tua masing-masing akan pentingnya menjaga hutan dan kedepannya anak-anak ini akan melahirkan generasi penerus pecinta hutan,&quot; jelas Dodi.

Presiden SFC ini melanjutkan, komik trilogi ini telah dilaunching oleh menteri pendidikan bersana menteri kordinator bidang Pembangunan Manusia dan kebudayaan. &quot;Komiknya telah dibawa oleh mereka, rencananya akab didistribusikan ke berbagai provinsi yang memiliki kemiripan demografinya dengan Musi Banyuasin,&quot; urainya.

Dia berharap, melalui trilogi ini akan membenahi mental generasi Indonesia hingga lebih arif dalam menjaga hutan.</content:encoded></item></channel></rss>
