<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>William Adams, Orang Asing Pertama yang Menjadi Samurai di Jepang</title><description>Adams berada di Jepang selama 20 tahun dan memiliki seorang putra dan seorang putri dari pernikahanya dengan perempuan lokal.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/22/18/1862873/william-adams-orang-asing-pertama-yang-menjadi-samurai-di-jepang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/02/22/18/1862873/william-adams-orang-asing-pertama-yang-menjadi-samurai-di-jepang"/><item><title>William Adams, Orang Asing Pertama yang Menjadi Samurai di Jepang</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/02/22/18/1862873/william-adams-orang-asing-pertama-yang-menjadi-samurai-di-jepang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/02/22/18/1862873/william-adams-orang-asing-pertama-yang-menjadi-samurai-di-jepang</guid><pubDate>Kamis 22 Februari 2018 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/02/21/18/1862873/william-adams-orang-asing-pertama-yang-menjadi-samurai-di-jepang-RiQcUlzli2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">William Adams</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/02/21/18/1862873/william-adams-orang-asing-pertama-yang-menjadi-samurai-di-jepang-RiQcUlzli2.jpg</image><title>William Adams</title></images><description>KEINGINAN William Adams untuk keliling dunia dengan menggunakan kapal harus dikubur dalam-dalam. Ia harus mengalami kegagalan dan justru berakhir di Jepang. Namun, seperti halnya cerita dalam sebuah film, kisahnya berakhir dengan bahagia.
William Adams lahir di Gillingham, Kent, Inggris, pada 1564. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih berusia 12 tahun. Demi menyambung hidup, remaja itu magang di perusahaan galangan kapal milik Master Nicholas Diggins. Selama 12 tahun, ia belajar membangun kapal, astronomi, dan navigasi.
Adams kemudian mengabdi di Angkatan Laut Inggris, yang salah satu tugasnya dalah bertarung melawan armada Spanyol pada 1588. Pada dekade 1590, Adams dikirim untuk menjalani misi ke Barbary. Ia mendengar bahwa Belanda berencana mengirim kapal dalam jumlah besar ke Hindia Belanda.
Lima buah kapal sudah siap untuk berlayar tetapi ada satu kekurangan, seorang nahkoda yang memiliki kecakapan tinggi. Sebab, kapal itu harus melalui Samudera Atlantik dan Pasifik dalam waktu bersamaan.
Dinukil dari The Vintage News, Kamis (21/2/2018), Williams direkrut sebagai nakhoda. Pada Juni 1598, di usia 34 tahun, ia meninggalkan istri dan dua orang anaknya demi memimpin kapal ke Timur Jauh. Williams turut mengajak adiknya, Thomas Adams, dalam pelayaran tersebut.
Misi tersebut menjadi bencana. Tidak ada satu pun kapal yang mampu menyelesaikan perjalanan hingga ke Timur Jauh. Hanya segelintir pelaut saja yang berhasil selamat, termasuk William Adams. Alih-alih menjadi kaya, para penyandang dana misi tersebut justru malah bankrut.
Lima kapal itu meninggalkan Rotterdam dengan tujuan mencapai Amerika Selatan. Akan tetapi, angin kencang dan cuaca buruk membawa mereka ke Guinea. Dari sana, kapal berlayar lewat Selat Magellan, tetapi hanya tiga yang mampu sampai ke Samudera Atlantik-Pasifik. Thomas Adams meninggal dunia saat kapalnya bersandar di Ekuador dan diserbu oleh penduduk setempat.
Tersisa dua kapal, Liefde dan Hoop, armada itu melaju dari Ekuador ke Jepang pada November 1599 hanya dengan berbekal peta dalam bentuk sketsa. Mereka sempat singgah, diduga di Hawaii, di mana delapan orang kru melarikan diri. Sekira dua bulan kemudian, Hoop tenggelam akibat badai dan semua krunya meninggal dunia.Liefde berhasil tiba di Jepang pada April 1600 dengan tersisa 23 orang kru kapal. Rasa lapar yang mendera serta penyakit menyebabkan mereka sulit berjalan. Seleksi alam berlaku. Hanya sembilan kru yang berhasil bertahan di tanah Jepang, salah satunya William Adams.
Warga lokal dan juga dua misionaris Serikat Yesuit asal Portugal menemui para pelaut itu. Para pelaut yang beragama Protestan divonis mati oleh kedua misionaris itu. Akan tetapi, pejabat lokal sekaligus calon Shogun Jepang, Tokugawa Ieyasu, membatalkan vonis itu.
Adams dibawa ke Kastil Osaka untuk bertemu dengan Tokugawa Ieyasu. Keduanya mengobrol cukup intens meski melalui bahasa isyarat serta bantuan seorang penerjemah asal Portugal. Tokugawa tertarik pada belahan dunia selain Jepang dan meminta Adam menceritakan perang di negara asalnya, hubungan negara-negara Eropa, serta rute yang ditempuhnya hingga Jepang.
Tokugawa begitu terpikat oleh kecerdasan dan pengalaman si pelaut Inggris. Ia yakin bahwa William Adams akan jauh lebih berguna dalam keadaan hidup dibandingkan jika dieksekusi mati.
Ketika sudah mulai pulih, Tokugawa memerintahkan Adams dan krunya yang masih bertahan untuk membangun kapal pelayaran Jepang pertama yang bergaya Barat. Kapal tersebut digunakan untuk survei wilayah pantai Jepang.
Kecerdasan tersebut berhasil membuat Adams meraih kekaguman serta kepercayaan dari Tokugawa Ieyasu. Ia ditunjuk sebagai penasihat diplomatik dan dagang. Tak lama kemudian, ia dipercaya menjadi penasihat pribadi kepada sang shogun.
Tokugawa melepas kru kapal lain untuk meninggalkan Jepang, tetapi tidak dengan William Adams. Ia memberikan dua buah pedang kepada si orang Inggris yang menyimbolkan tingkat serta kekuasaan. Adams resmi menjadi seorang samurai dari Barat pertama, tidak hanya dari Inggris.
William Adams diberikan nama baru: Miura Anjin, atau pilot Miura. Ia diberikan sebuah rumah di Edo (sekarang dikenal dengan Tokyo). Meski masih berstatus menikah dengan istrinya di Inggris, Adams menikah lagi dengan seorang putri pejabat pengadilan Jepang, Oyuki. Pernikahan itu dikaruniai seorang putra dan seorang putri.
Adams berhasil menjalankan misi menjadi jembatan perdagangan bagi Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia tidak pernah kembali ke Inggris dan meninggal dunia di Jepang pada 1620 di usia 55 tahun. Dalam surat wasiatnya, Adams menyatakan setengah dari hartanya diberikan kepada istri di Jepang, dan setengahnya lagi dipersembahkan untuk istri serta anak-anaknya di Inggris.</description><content:encoded>KEINGINAN William Adams untuk keliling dunia dengan menggunakan kapal harus dikubur dalam-dalam. Ia harus mengalami kegagalan dan justru berakhir di Jepang. Namun, seperti halnya cerita dalam sebuah film, kisahnya berakhir dengan bahagia.
William Adams lahir di Gillingham, Kent, Inggris, pada 1564. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih berusia 12 tahun. Demi menyambung hidup, remaja itu magang di perusahaan galangan kapal milik Master Nicholas Diggins. Selama 12 tahun, ia belajar membangun kapal, astronomi, dan navigasi.
Adams kemudian mengabdi di Angkatan Laut Inggris, yang salah satu tugasnya dalah bertarung melawan armada Spanyol pada 1588. Pada dekade 1590, Adams dikirim untuk menjalani misi ke Barbary. Ia mendengar bahwa Belanda berencana mengirim kapal dalam jumlah besar ke Hindia Belanda.
Lima buah kapal sudah siap untuk berlayar tetapi ada satu kekurangan, seorang nahkoda yang memiliki kecakapan tinggi. Sebab, kapal itu harus melalui Samudera Atlantik dan Pasifik dalam waktu bersamaan.
Dinukil dari The Vintage News, Kamis (21/2/2018), Williams direkrut sebagai nakhoda. Pada Juni 1598, di usia 34 tahun, ia meninggalkan istri dan dua orang anaknya demi memimpin kapal ke Timur Jauh. Williams turut mengajak adiknya, Thomas Adams, dalam pelayaran tersebut.
Misi tersebut menjadi bencana. Tidak ada satu pun kapal yang mampu menyelesaikan perjalanan hingga ke Timur Jauh. Hanya segelintir pelaut saja yang berhasil selamat, termasuk William Adams. Alih-alih menjadi kaya, para penyandang dana misi tersebut justru malah bankrut.
Lima kapal itu meninggalkan Rotterdam dengan tujuan mencapai Amerika Selatan. Akan tetapi, angin kencang dan cuaca buruk membawa mereka ke Guinea. Dari sana, kapal berlayar lewat Selat Magellan, tetapi hanya tiga yang mampu sampai ke Samudera Atlantik-Pasifik. Thomas Adams meninggal dunia saat kapalnya bersandar di Ekuador dan diserbu oleh penduduk setempat.
Tersisa dua kapal, Liefde dan Hoop, armada itu melaju dari Ekuador ke Jepang pada November 1599 hanya dengan berbekal peta dalam bentuk sketsa. Mereka sempat singgah, diduga di Hawaii, di mana delapan orang kru melarikan diri. Sekira dua bulan kemudian, Hoop tenggelam akibat badai dan semua krunya meninggal dunia.Liefde berhasil tiba di Jepang pada April 1600 dengan tersisa 23 orang kru kapal. Rasa lapar yang mendera serta penyakit menyebabkan mereka sulit berjalan. Seleksi alam berlaku. Hanya sembilan kru yang berhasil bertahan di tanah Jepang, salah satunya William Adams.
Warga lokal dan juga dua misionaris Serikat Yesuit asal Portugal menemui para pelaut itu. Para pelaut yang beragama Protestan divonis mati oleh kedua misionaris itu. Akan tetapi, pejabat lokal sekaligus calon Shogun Jepang, Tokugawa Ieyasu, membatalkan vonis itu.
Adams dibawa ke Kastil Osaka untuk bertemu dengan Tokugawa Ieyasu. Keduanya mengobrol cukup intens meski melalui bahasa isyarat serta bantuan seorang penerjemah asal Portugal. Tokugawa tertarik pada belahan dunia selain Jepang dan meminta Adam menceritakan perang di negara asalnya, hubungan negara-negara Eropa, serta rute yang ditempuhnya hingga Jepang.
Tokugawa begitu terpikat oleh kecerdasan dan pengalaman si pelaut Inggris. Ia yakin bahwa William Adams akan jauh lebih berguna dalam keadaan hidup dibandingkan jika dieksekusi mati.
Ketika sudah mulai pulih, Tokugawa memerintahkan Adams dan krunya yang masih bertahan untuk membangun kapal pelayaran Jepang pertama yang bergaya Barat. Kapal tersebut digunakan untuk survei wilayah pantai Jepang.
Kecerdasan tersebut berhasil membuat Adams meraih kekaguman serta kepercayaan dari Tokugawa Ieyasu. Ia ditunjuk sebagai penasihat diplomatik dan dagang. Tak lama kemudian, ia dipercaya menjadi penasihat pribadi kepada sang shogun.
Tokugawa melepas kru kapal lain untuk meninggalkan Jepang, tetapi tidak dengan William Adams. Ia memberikan dua buah pedang kepada si orang Inggris yang menyimbolkan tingkat serta kekuasaan. Adams resmi menjadi seorang samurai dari Barat pertama, tidak hanya dari Inggris.
William Adams diberikan nama baru: Miura Anjin, atau pilot Miura. Ia diberikan sebuah rumah di Edo (sekarang dikenal dengan Tokyo). Meski masih berstatus menikah dengan istrinya di Inggris, Adams menikah lagi dengan seorang putri pejabat pengadilan Jepang, Oyuki. Pernikahan itu dikaruniai seorang putra dan seorang putri.
Adams berhasil menjalankan misi menjadi jembatan perdagangan bagi Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia tidak pernah kembali ke Inggris dan meninggal dunia di Jepang pada 1620 di usia 55 tahun. Dalam surat wasiatnya, Adams menyatakan setengah dari hartanya diberikan kepada istri di Jepang, dan setengahnya lagi dipersembahkan untuk istri serta anak-anaknya di Inggris.</content:encoded></item></channel></rss>
