<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bullying Siswa SMP di Tangsel, Korban Dipukul Pakai Batu</title><description>Siswa SMP di Tangsel di-bully oleh temannya sendiri.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/03/07/338/1869092/bullying-siswa-smp-di-tangsel-korban-dipukul-pakai-batu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/03/07/338/1869092/bullying-siswa-smp-di-tangsel-korban-dipukul-pakai-batu"/><item><title>Bullying Siswa SMP di Tangsel, Korban Dipukul Pakai Batu</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/03/07/338/1869092/bullying-siswa-smp-di-tangsel-korban-dipukul-pakai-batu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/03/07/338/1869092/bullying-siswa-smp-di-tangsel-korban-dipukul-pakai-batu</guid><pubDate>Rabu 07 Maret 2018 13:31 WIB</pubDate><dc:creator>Hambali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/07/338/1869092/bullying-siswa-smp-di-tangsel-korban-dipukul-pakai-batu-2RrDzT04RR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Siswa SMP di Tangsel yang jadi korban bullying. (Foto: Hambali/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/07/338/1869092/bullying-siswa-smp-di-tangsel-korban-dipukul-pakai-batu-2RrDzT04RR.jpg</image><title>Siswa SMP di Tangsel yang jadi korban bullying. (Foto: Hambali/Okezone)</title></images><description>TANGSEL - Nasib memilukan dialami seorang siswa SMPN 18 berinisial MS (14) karena jadi korban perundungan atau bullying oleh sekelompok siswa dari kelas berbeda hingga menderita luka parah di sekujur tubuhnya.
Akibat  luka tersebut, MS yang duduk di bangku kelas IX itu terpaksa tak bisa  mengikuti kegiatan di sekolah. Padahal Ujian Tengah Semester (UTS)  sedang berlangsung bagi para siswa SMPN 18.
Bullying sendiri terjadi di SMPN 18, Jalan Benda Raya,  Pondok Benda, Pamulang, Senin 5 Maret 2018, sekira pukul 09.30 WIB. Saat  jam istirahat, para pelaku yang berjumlah 3 orang dari kelas berbeda  mendatangi MS dan memaksanya agar ikut mendaftar pertandingan futsal.
&quot;Mereka kelas 3 (SMP) juga, cuma beda kelas. Terus datang ke  kelas dan maksa saya ikut daftar futsal, biasanya yang main harus bayar  Rp5 ribu per orang. Saya enggak mau ikut, karena kan lagi fokus buat UTS,&quot;  kata MS kepada Okezone saat menjalani visum di RSUD Tangsel, Rabu  (7/3/2018).
Karena menolak untuk mendaftar futsal, ketiga siswa itupun lantas  terlibat cekcok dengan MS di dalam kelas. Selanjutnya, MS dikeroyok dan  dianiaya di luar kelas menggunakan batu. Mirisnya lagi, kejadian yang berlangsung di dalam lingkup sekolah  negeri itu seolah berjalan tanpa ada rasa takut para pelaku. Mereka  melakukan aksi kekerasan terang-terangan di luar kelas dan disaksikan  oleh siswa lainnya.
(Baca juga: Marak Bullying, Sekolah Gagal Dalam Pengawasan &amp;amp; Pendidikan Agama)
&quot;Persis di luar kelas mereka mengeroyok saya, ada yang pakai batu juga,&quot; imbuh MS.
Akibat kekerasan oleh teman sekolahnya itu, MS mengalami luka sobek  di bagian kepala, luka lebam di bagian wajah dan mata. Bahkan sampai saat  ini, MS sesekali masih mengeluarkan darah dari bagian mulut, diduga ada  luka dalam yang dialaminya usai penganiayaan.

&quot;Kadang masih keluar darah dari mulutnya. Kalau waktu hari kejadian,  baju sekolahnya penuh darah, ibunya sampai nangis-nangis lihat kondisi  dia, enggak tega dia kan anak yatim, bapaknya sudah meninggal. Bagian  kepalanya ada yang sobek. Sampai sekarang belum bisa sekolah, karena dia  masih sering mual dan pusing,&quot; ungkap Aloysiah (59), nenek angkat dari  MS ditemui di lokasi yang sama.
Sementara, Merzayadi, kuasa hukum MS mengaku akan melanjutkan proses kasus ini ke ranah hukum. Menurut dia, meski para pelaku masih  tergolong berusia di bawah umur, namun upaya pembinaan hukum semestinya  tetap berjalan.
&quot;Kami sudah membuat laporan ke Polsek Pamulang, karena wilayah hukum  kejadiannya ada di sana. Harus tetap bisa diproses, jelas ini diancam  Pasal 351 dan 170 KUHP, soal penerapannya dengan anak di bawah umur itu  kan nanti menyesuaikan,&quot; tegas Merzayadi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMi8xNy8xLzEwNjY4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>TANGSEL - Nasib memilukan dialami seorang siswa SMPN 18 berinisial MS (14) karena jadi korban perundungan atau bullying oleh sekelompok siswa dari kelas berbeda hingga menderita luka parah di sekujur tubuhnya.
Akibat  luka tersebut, MS yang duduk di bangku kelas IX itu terpaksa tak bisa  mengikuti kegiatan di sekolah. Padahal Ujian Tengah Semester (UTS)  sedang berlangsung bagi para siswa SMPN 18.
Bullying sendiri terjadi di SMPN 18, Jalan Benda Raya,  Pondok Benda, Pamulang, Senin 5 Maret 2018, sekira pukul 09.30 WIB. Saat  jam istirahat, para pelaku yang berjumlah 3 orang dari kelas berbeda  mendatangi MS dan memaksanya agar ikut mendaftar pertandingan futsal.
&quot;Mereka kelas 3 (SMP) juga, cuma beda kelas. Terus datang ke  kelas dan maksa saya ikut daftar futsal, biasanya yang main harus bayar  Rp5 ribu per orang. Saya enggak mau ikut, karena kan lagi fokus buat UTS,&quot;  kata MS kepada Okezone saat menjalani visum di RSUD Tangsel, Rabu  (7/3/2018).
Karena menolak untuk mendaftar futsal, ketiga siswa itupun lantas  terlibat cekcok dengan MS di dalam kelas. Selanjutnya, MS dikeroyok dan  dianiaya di luar kelas menggunakan batu. Mirisnya lagi, kejadian yang berlangsung di dalam lingkup sekolah  negeri itu seolah berjalan tanpa ada rasa takut para pelaku. Mereka  melakukan aksi kekerasan terang-terangan di luar kelas dan disaksikan  oleh siswa lainnya.
(Baca juga: Marak Bullying, Sekolah Gagal Dalam Pengawasan &amp;amp; Pendidikan Agama)
&quot;Persis di luar kelas mereka mengeroyok saya, ada yang pakai batu juga,&quot; imbuh MS.
Akibat kekerasan oleh teman sekolahnya itu, MS mengalami luka sobek  di bagian kepala, luka lebam di bagian wajah dan mata. Bahkan sampai saat  ini, MS sesekali masih mengeluarkan darah dari bagian mulut, diduga ada  luka dalam yang dialaminya usai penganiayaan.

&quot;Kadang masih keluar darah dari mulutnya. Kalau waktu hari kejadian,  baju sekolahnya penuh darah, ibunya sampai nangis-nangis lihat kondisi  dia, enggak tega dia kan anak yatim, bapaknya sudah meninggal. Bagian  kepalanya ada yang sobek. Sampai sekarang belum bisa sekolah, karena dia  masih sering mual dan pusing,&quot; ungkap Aloysiah (59), nenek angkat dari  MS ditemui di lokasi yang sama.
Sementara, Merzayadi, kuasa hukum MS mengaku akan melanjutkan proses kasus ini ke ranah hukum. Menurut dia, meski para pelaku masih  tergolong berusia di bawah umur, namun upaya pembinaan hukum semestinya  tetap berjalan.
&quot;Kami sudah membuat laporan ke Polsek Pamulang, karena wilayah hukum  kejadiannya ada di sana. Harus tetap bisa diproses, jelas ini diancam  Pasal 351 dan 170 KUHP, soal penerapannya dengan anak di bawah umur itu  kan nanti menyesuaikan,&quot; tegas Merzayadi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMi8xNy8xLzEwNjY4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
