<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>10 Misteri Tewasnya Eks Wakapolda Sumut di Malang, Kasusnya Serumit Benang Kusut</title><description>Senin ini (12/3/2018) genap enam belas hari pasca kematian eks Wakapolda Sumatera Utara Kombes Pol (Purn) Agus Samad</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/03/12/519/1871613/10-misteri-tewasnya-eks-wakapolda-sumut-di-malang-kasusnya-serumit-benang-kusut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/03/12/519/1871613/10-misteri-tewasnya-eks-wakapolda-sumut-di-malang-kasusnya-serumit-benang-kusut"/><item><title>10 Misteri Tewasnya Eks Wakapolda Sumut di Malang, Kasusnya Serumit Benang Kusut</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/03/12/519/1871613/10-misteri-tewasnya-eks-wakapolda-sumut-di-malang-kasusnya-serumit-benang-kusut</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/03/12/519/1871613/10-misteri-tewasnya-eks-wakapolda-sumut-di-malang-kasusnya-serumit-benang-kusut</guid><pubDate>Senin 12 Maret 2018 18:01 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/03/12/519/1871613/10-misteri-tewasnya-eks-wakapolda-sumut-di-malang-kasusnya-serumit-benang-kusut-a3JteHnV7v.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/03/12/519/1871613/10-misteri-tewasnya-eks-wakapolda-sumut-di-malang-kasusnya-serumit-benang-kusut-a3JteHnV7v.jpg</image><title></title></images><description>MALANG - Senin ini (12/3/2018) genap enam belas hari pasca kematian eks Wakapolda Sumatera Utara Kombes Pol (Purn) Agus Samad, kepolisian masih kesulitan mengungkap penyebab kematian korban yang ditemukan meninggal dunia dengan bersimpah darah di taman belakang rumahnya.

Dalam rentang waktu tersebut ditemukan fakta menarik yang dapat dicermati, berikut rangkuman faktanya:

1. Korban Meninggal Ditinggal Istri ke Bali di Hari ke-13

Ada mitos bagi sebagian orang angka 13 merupakan angka yang dianggap kurang beruntung. Akibat mitos tersebut beberapa orang menghindari angka berbau 13.



Entah kebetulan atau tidak, meninggalnya Kombes Pol (Purn) Agus Samad di rumahnya terjadi usai sang istri meninggalkan korban di rumah sendiri di hari ke-13. Istri korban Suhartatik pergi ke Bali guna mengurus bisnis rumah makan yang dimiliki keluarganya.

&quot;Ibu (Suhartatik) memang saat itu pergi ke Bali mengurus rumah makan makannya. Meninggalnya hari ke-13 setelah ditinggal,&quot; ungkap Sofyan adik kedelapan Agus Samad.

2. Misteri Tali Rafia di Balkon dan Bercak Darah

Korban Kombes Pol (Purn) Agus Samad ditemukan meninggal oleh Gunaryo, petugas keamanan kompleks perumahan Bukit Dieng Permai dan warga setempat di taman belakang rumah dengan kondisi tubuh penuh sayatan di paha dan tangan.

Menariknya kaki kanan korban terikat tali rafia hitam yang terulur dari balkon lantai 3 rumahnya dengan ukuran lebih panjang dari tinggi bangunan rumah. Bukan hanya itu saja, ada bercak darah dalam jumlah banyak di ruang makan yang berjarak sekitar 10 meter dari ditemukannya korban di taman belakang dan lantai 2 rumahnya.



&quot;Dugaan kami korban sudah kehilangan darah sekitar 1 liter bahkan lebih. Apakah masih kuat seseorang berjalan bahkan naik di lantai atas dengan kondisi seperti itu,&quot; beber Kasat Reskrim AKP Ambuka Yudha.

Tali rafia dan bercak darah inilah yang menyulitkan kepolisian mengidentifikasi kematiannya. Apakah korban dibunuh atau menyayat tubuhnya sendiri di ruang makan mengeluarkan darah cukup banyak ataukah ia meloncat dari atap rumahnya mengingat ditemukan tali rafia yang terikat dari balkon atas.

&quot;Di kaki korban terdapat bekas ikatan tali rafia hitam yang terikat dari lantai 3 rumah korban. Saat dievakuasi juga masih keluar darah segar dari tangannya,&quot; ujar Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri.

Pihak kepolisian masih kesulitan mengaitkan antara jejak bercak darah di ruang makan, tali rafia yang terpasang di kaki korban, dan bercak darah di lantai atas.

Bahkan untuk mengecek bercak darah di ruang makan dan melakukan olah TKP, polisi mendatangkan dokter forensik guna menjelaskan keadaan fisik korban sebelum meninggal.

&quot;Dokter dikerahkan guna menjelaskan bagaimana kondisi fisik korban satu kejadian. Dokter yang lebih ahli dalam pengetahuan tubuh manusia,&quot; tambah Ambuka.

3. Telefon Misterius di Jum'at Malam

Meski meninggalkan rumah sang istri Suhartatik selalu berkomunikasi  melalui telefon. Dari telefon itulah istri korban mengetahui kondisi  sang suami yang mempunyai riwayat penyakit diabetes, asam urat, dan  jantung ini.

Sebelum ditemukan meninggal dunia pada Sabtu pagi 24 Februari 2018,  istrinya terakhir kali berkomunikasi dengan sang suami pada Jum'at sore  melalui telefon. Ia juga sering meminta tolong teman, tetangga, dan  petugas keamanan untuk mengecek kondisi suaminya melalui telepon.

Namun pada Jum'at malam teman sang istri yang bernama Rahma yang  tinggal di Perumahan Bukit Dieng Permai Blok B 16 mengaku ke pihak  kepolisian sempat menelefon Agus Samad tapi diduga yang menerima telefon  orang lain, tapi tak diketahui itu siapa.



Di Sabtu pagi sang istri yang sempat menelefon suaminya tak mendapat  respons, sehingga menimbulkan kecurigaan sang istri yang akhirnya  meminta tolong melihat kondisi suaminya kepada temannya, Ketua RT  setempat bernama Budi Wijaya, dan petugas keamanan setempat.

&quot;Bu Suhartatik (Istri korban) telefon tapi tidak tak ada jawaban dari  sang suami sehingga merasa curiga dan meminta kami dan warga untuk  membuka pintu,&quot; tutur Gunaryo, seorang penjaga keamanan setempat.

Dan benar saja usai didobrak karena pintu depan rumah terkunci dan  menyisir seisi rumah, korban Agus Samad ditemukan tak bernyawa di taman  belakang rumahnya.  Pihak kepolisian sendiri telah meminta transkrip  percakapan telepon rumah korban selama dua minggu ke pihak telkom guna  proses penyelidikan.

&quot;Kita sudah minta Telkom untuk print transkrip percakapan telepon di  rumah korban dua minggu sebelum korban meninggal dunia,&quot; ungkap Kasat  Reskrim AKP Ambuka Yudha.

4. Misteri Silet Berlumuran Darah

Purnawirawan eks Wakapolda Sumatera Utara ini ditemukan meninggal   dunia dengan luka sayatan di paha dan tangannya yang diduga berasal dari   sayatan benda tajam.

Hal ini diperkuat dengan temuan sebuah isi silet di atas galon air di   ruang makan korban. Awalnya polisi menduga silet tersebut merupakan   alat pelaku menghabisi nyawa korban.



Namun saat diperiksa sidik jari yang ada di silet tersebut justru   terdeteksi sidik jari korban dan tak ada sidik jari orang lain.

&quot;Silet yang kami temukan di atas galon itu ternyata sidik jari korban, tak ada sidik jari orang lain,&quot; ujar AKP Ambuka Yudha.

5. Misteri Mobil Minibus Hitam di Rekaman CCTV

Sehari sebelum kematian korban sebuah mobil minibus hitam misterius    sempat melintas pukul 22.40 WIB dan berhenti di sekitar rumah korban.

Hal ini tertangkap kamera CCTV di sekitar rumah korban, namun pihak    kepolisian juga belum bisa mengidentifikasi mobil siapa. &quot;Rekaman    CCTV-nya agak jauh jadi plat Nopol-nya tidak terindenfitkasi kamera    dengan jelas,&quot; tutur Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri.

Pihak petugas keamanan setempat juga memastikan jalan di sekitar    rumah korban itu memang buntu, jadi jika ada yang melintasi komplek    perumahan tersebut bisa jadi memang penghuni setempat atau orang lain    yang mencari alamat rumah penghuni dari kompleks perumahan.

&quot;Kalau orang mau mencari jalan lewat perumahan sini tidak mungkin.    Biasanya yang ke sini itu kalau tidak penghuni rumah sini atau orang    yang mencari alamat yang dituju di perumahan ini entah bertamu atau    mengantarkan sesuatu,&quot; tukas Gunaryo, petugas keamanan perumahan.

6. Tulang Rusuk Patah Diduga Jadi Penyebab Kematian

Kematian Kombes Pol (Purn) Agus Samad diduga kuat oleh pihak     kepolisian karena 6 tulang rusuk kirinya yang patah hingga menembus     jantung. Hal ini diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes     Pol Frans Barung Mangera usai hasil autopsi yang dikeluarkan tim  dokter.

Namun patahnya karena apa pihak kepolisian masih belum berani     memastikan penyebabnya. Dari hasil pemeriksaan medis, patahnya tulang     rusuk tersebut dari hantaman benda tumpul.

&quot;Tapi Menghantam, terhantam, atau dihantam kami tidak bisa     menyimpulkan. Yang jelas itu benturan dengan benda tajam sebagaimana     hasil pemeriksaan dokter,&quot; ujar Kasat Reskrim Polres Malang Kota saat     olah TKP Senin 26 Februari 2018.

7. Temuan Cairan Serangga di Mulut Korban

Temuan dua cairan pembasmi serangga dan cairan anti-rayap di ruang makan rumah korban juga menjadi bahan penyelidikan polisi.

&quot;Ada cairan baygon dan cairan antirayap di TKP ruang makan,&quot; jelas Kasat Reskrim AKP Ambuka Yudha.



Temuan lain cairan serangga juga terdapat di bekas muntahan yang diduga milik korban di dedaunan sekitar taman dan mulut korban.

Namun dari hasil pemeriksaan medis, cairan serangga yang terkandung     di mulut korban ternyata tak terdapat di dalam lambung, sehingga  polisi    menduga bukan menjadi penyebab kematian.

&quot;Cairan serangga itu ditemukan di mulut korban. Tidak menjadi     penyebab kematian karena di lambung dari hasil autopsi tidak ditemukan     itu (cairan serangga),&quot; ujar Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol     Frans Barung Mangera saat dihubungi okezone, Minggu 4 Maret 2018.

8. 'TKP Yang Sempurna' atau TKP Yang Rusak?

Kejanggalan demi kejanggalan membuat pihak kepolisian masih      berhati-hati dalam menyimpulkan penyebab kematian eks Wakapolda Sumut      ini. Salah satunya yakni tak ditemukan sidik jari lain selain sidik      korban dn istrinya Suhartatik di lokasi kejadian usai olah TKP.

Bahkan jika memang meninggal dunia karena dibunuh, polisi belum bisa      menemukan jalan masuk dan keluar pelaku. Bagian belakang rumah  korban     terbentang dinding batu bata setinggi 7 meter dengan besi  lancip di     ujungnya.

Sementara dari pintu depan semua pintu dan jendela rumah dalan      kondisi terkunci dari dalam. Bahkan warga terpaksa mendobrak pintu ruang      tamu untuk mengecek kondisi pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera     Barat  71 tahun lalu ini.



Bahkan salah seorang perwira kepolisian yang mengikuti olah TKP menyebut bila memang dibunuh ini merupakan 'TKP yang sempurna' karena pelaku tak meninggalkan jejak, namun bila      dikatakan bunuh diri, membutuhkan upaya pembuktian yang cukup kuat      mengingat kejanggalan - kejanggalan yang ditemukan.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri bahkan menyebutkan sulitnya polisi      mengungkap kematian korban, karena TKP yang 'rusak'. Mengingat saat      kejadian banyak orang dari relawan yang masuk dan meninggalkan jejak      kaki.

&quot;Ada jejak kaki lain di TKP. Itu karena sudah banyak orang keluar masuk TKP,&quot; beber Asfuri.

9. Polisi Periksa 20 Saksi Terkait Kematian Korban

Guna mendalami penyebab kematian eks Wakapolda Sumut, selain       melakukan olah TKP dan pemeriksaan laboratorium, pihak kepolisian juga       telah memeriksa setidaknya 20 orang saksi.

&quot;Saksi yang diperiksa sudah 20 orang, termasuk pihak eksternal       keluarga,&quot; tukas Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung       Mangera.

Namun pihak kepolisian tak menjelaskan secara detail siapa saja saksi       dari pihak eksternal yang diperiksa kepolisian. Pihak kepolisian     hanya   menyebutkan anggota keluarga korban yang diperiksa yakni sang     istri   Suhartatik, kedua anak korban Timur Dikman Sasmita, dan anak     kedua   Radiasa Agung Wicaksana.



Meski demikian berdasarkan informasi yang dihimpun Okezone, saksi       eksternal yang diperiksa kepolisian antara lain Gunaryo selaku petugas       keamanan setempat, Rahma dan Prapto yang merupakan teman istri   korban,     Ketua RT 9 tempat korban berdomisili Budi Wijaya, adik   korban  Sofyan,    seorang tukang las di belakang rumah korban, Arif   Widaryanto.

Bahkan pihak internal keluarga beberapa kali diperiksa polisi guna       mendalami keseharian korban seperti apa. &quot;Hari ini (Jum'at 2 Maret    2018)    kita mengambil keterangan dari istri korban terkait keseharian    korban    seperti apa. Tidak ada yang lain, hanya mempelajari   keseharian   korban,&quot;   jelas Kasat Reskrim AKP Ambuka Yudha.

10. Mengundang Perhatian Kapolda dan Mabes Polri

Kematian salah satu purnawirawan anggotanya tak hanya mengundang        Polres Malang Kota saja, bahkan tim Polda Jawa Timur melalui  Direktorat       Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum), dan Tim  Labfor Mabes  Polri      Jakarta sampai harus turun tangan menangani  kasus kematian  yang      tergolong rumit ini.

Tak hanya itu dari rangkaian kiriman bunga sebagai ucapan duka,        terselip karangan bunga dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

&quot;Kasus Malang ini perlu menjadi perhatian kita semua, terutama Polda        Jatim,&quot; jelas Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung      Mangera.



Bahkan pada Kamis 1 Maret 2018, tim gabungan dari Inafis (Indonesia        Automatic Fingerprints Identification System) Polres Malang Kota,   Tim      Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim, dan Labfor Mabes   Polri      melakukan olah TKP bersama selama kurang lebih 6 jam di rumah    korban.

Pihak Polda Jatim pun harus menunggu analisis temuan di TKP oleh tim        Labfor Mabes Polri. &quot;Masih proses. Ini kita tunggu satu analisis    lagi     dari Mabes Polri,&quot; jelas Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes    Pol  Frans    Barung Mangera.

Di sisi lain, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Waseso        berharap penyebab kematian purnawirawan eks Wakapolda Sumatera   Utara      bisa segera terungkap. &quot;Dalam waktu dekat semoga bisa segera      terungkap,&quot;   ungkapnya kepada media saat ditemui di Depok.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin pun berjanji akan        membeberkan temuan terkait kematian eks Wakapolda Sumut secara lengkap        ke publik usai proses penyelidikan semua selesai dilakukan.

&quot;Nanti ada waktu yang tepat untuk dirilis dengan baik. Tunggu setelah        semuanya final,&quot; tegas Kapolda di sela - sela kunjungannya ke    Ponpes     Darul Hadist, Sabtu 10 Maret 2018 lalu.



Sebelumnya, warga Perumahan Bukit Dieng Permai dikejutkan penemuan        jasad purnawirawan mantan Wakapolda Sumatera Utara yang tewas    bersimpah     darah dengan kondisi kali terikat tali rafia hitam di    taman belakang     rumahnya di Perumahan Bukit Dieng Permai MB 9, pada    Sabtu pagi 24     Februari 2018.

Diduga korban yang berusia 71 tahun ini menjadi korban pembunuhan        karena ditemukan sejumlah bercak darah di ruang makan yang berjarak  10       meter dari penemuan jasad korban.

Polisi hingga kini sudah memeriksa sejumlah saksi dari istri, anak,        saudara, dan kerabat korban. Pihak kepolisian juga telah memeriksa        petugas keamanan, tetangga, dan saksi mata saat pertama kali   menemukan      korban tewas.
</description><content:encoded>MALANG - Senin ini (12/3/2018) genap enam belas hari pasca kematian eks Wakapolda Sumatera Utara Kombes Pol (Purn) Agus Samad, kepolisian masih kesulitan mengungkap penyebab kematian korban yang ditemukan meninggal dunia dengan bersimpah darah di taman belakang rumahnya.

Dalam rentang waktu tersebut ditemukan fakta menarik yang dapat dicermati, berikut rangkuman faktanya:

1. Korban Meninggal Ditinggal Istri ke Bali di Hari ke-13

Ada mitos bagi sebagian orang angka 13 merupakan angka yang dianggap kurang beruntung. Akibat mitos tersebut beberapa orang menghindari angka berbau 13.



Entah kebetulan atau tidak, meninggalnya Kombes Pol (Purn) Agus Samad di rumahnya terjadi usai sang istri meninggalkan korban di rumah sendiri di hari ke-13. Istri korban Suhartatik pergi ke Bali guna mengurus bisnis rumah makan yang dimiliki keluarganya.

&quot;Ibu (Suhartatik) memang saat itu pergi ke Bali mengurus rumah makan makannya. Meninggalnya hari ke-13 setelah ditinggal,&quot; ungkap Sofyan adik kedelapan Agus Samad.

2. Misteri Tali Rafia di Balkon dan Bercak Darah

Korban Kombes Pol (Purn) Agus Samad ditemukan meninggal oleh Gunaryo, petugas keamanan kompleks perumahan Bukit Dieng Permai dan warga setempat di taman belakang rumah dengan kondisi tubuh penuh sayatan di paha dan tangan.

Menariknya kaki kanan korban terikat tali rafia hitam yang terulur dari balkon lantai 3 rumahnya dengan ukuran lebih panjang dari tinggi bangunan rumah. Bukan hanya itu saja, ada bercak darah dalam jumlah banyak di ruang makan yang berjarak sekitar 10 meter dari ditemukannya korban di taman belakang dan lantai 2 rumahnya.



&quot;Dugaan kami korban sudah kehilangan darah sekitar 1 liter bahkan lebih. Apakah masih kuat seseorang berjalan bahkan naik di lantai atas dengan kondisi seperti itu,&quot; beber Kasat Reskrim AKP Ambuka Yudha.

Tali rafia dan bercak darah inilah yang menyulitkan kepolisian mengidentifikasi kematiannya. Apakah korban dibunuh atau menyayat tubuhnya sendiri di ruang makan mengeluarkan darah cukup banyak ataukah ia meloncat dari atap rumahnya mengingat ditemukan tali rafia yang terikat dari balkon atas.

&quot;Di kaki korban terdapat bekas ikatan tali rafia hitam yang terikat dari lantai 3 rumah korban. Saat dievakuasi juga masih keluar darah segar dari tangannya,&quot; ujar Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri.

Pihak kepolisian masih kesulitan mengaitkan antara jejak bercak darah di ruang makan, tali rafia yang terpasang di kaki korban, dan bercak darah di lantai atas.

Bahkan untuk mengecek bercak darah di ruang makan dan melakukan olah TKP, polisi mendatangkan dokter forensik guna menjelaskan keadaan fisik korban sebelum meninggal.

&quot;Dokter dikerahkan guna menjelaskan bagaimana kondisi fisik korban satu kejadian. Dokter yang lebih ahli dalam pengetahuan tubuh manusia,&quot; tambah Ambuka.

3. Telefon Misterius di Jum'at Malam

Meski meninggalkan rumah sang istri Suhartatik selalu berkomunikasi  melalui telefon. Dari telefon itulah istri korban mengetahui kondisi  sang suami yang mempunyai riwayat penyakit diabetes, asam urat, dan  jantung ini.

Sebelum ditemukan meninggal dunia pada Sabtu pagi 24 Februari 2018,  istrinya terakhir kali berkomunikasi dengan sang suami pada Jum'at sore  melalui telefon. Ia juga sering meminta tolong teman, tetangga, dan  petugas keamanan untuk mengecek kondisi suaminya melalui telepon.

Namun pada Jum'at malam teman sang istri yang bernama Rahma yang  tinggal di Perumahan Bukit Dieng Permai Blok B 16 mengaku ke pihak  kepolisian sempat menelefon Agus Samad tapi diduga yang menerima telefon  orang lain, tapi tak diketahui itu siapa.



Di Sabtu pagi sang istri yang sempat menelefon suaminya tak mendapat  respons, sehingga menimbulkan kecurigaan sang istri yang akhirnya  meminta tolong melihat kondisi suaminya kepada temannya, Ketua RT  setempat bernama Budi Wijaya, dan petugas keamanan setempat.

&quot;Bu Suhartatik (Istri korban) telefon tapi tidak tak ada jawaban dari  sang suami sehingga merasa curiga dan meminta kami dan warga untuk  membuka pintu,&quot; tutur Gunaryo, seorang penjaga keamanan setempat.

Dan benar saja usai didobrak karena pintu depan rumah terkunci dan  menyisir seisi rumah, korban Agus Samad ditemukan tak bernyawa di taman  belakang rumahnya.  Pihak kepolisian sendiri telah meminta transkrip  percakapan telepon rumah korban selama dua minggu ke pihak telkom guna  proses penyelidikan.

&quot;Kita sudah minta Telkom untuk print transkrip percakapan telepon di  rumah korban dua minggu sebelum korban meninggal dunia,&quot; ungkap Kasat  Reskrim AKP Ambuka Yudha.

4. Misteri Silet Berlumuran Darah

Purnawirawan eks Wakapolda Sumatera Utara ini ditemukan meninggal   dunia dengan luka sayatan di paha dan tangannya yang diduga berasal dari   sayatan benda tajam.

Hal ini diperkuat dengan temuan sebuah isi silet di atas galon air di   ruang makan korban. Awalnya polisi menduga silet tersebut merupakan   alat pelaku menghabisi nyawa korban.



Namun saat diperiksa sidik jari yang ada di silet tersebut justru   terdeteksi sidik jari korban dan tak ada sidik jari orang lain.

&quot;Silet yang kami temukan di atas galon itu ternyata sidik jari korban, tak ada sidik jari orang lain,&quot; ujar AKP Ambuka Yudha.

5. Misteri Mobil Minibus Hitam di Rekaman CCTV

Sehari sebelum kematian korban sebuah mobil minibus hitam misterius    sempat melintas pukul 22.40 WIB dan berhenti di sekitar rumah korban.

Hal ini tertangkap kamera CCTV di sekitar rumah korban, namun pihak    kepolisian juga belum bisa mengidentifikasi mobil siapa. &quot;Rekaman    CCTV-nya agak jauh jadi plat Nopol-nya tidak terindenfitkasi kamera    dengan jelas,&quot; tutur Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri.

Pihak petugas keamanan setempat juga memastikan jalan di sekitar    rumah korban itu memang buntu, jadi jika ada yang melintasi komplek    perumahan tersebut bisa jadi memang penghuni setempat atau orang lain    yang mencari alamat rumah penghuni dari kompleks perumahan.

&quot;Kalau orang mau mencari jalan lewat perumahan sini tidak mungkin.    Biasanya yang ke sini itu kalau tidak penghuni rumah sini atau orang    yang mencari alamat yang dituju di perumahan ini entah bertamu atau    mengantarkan sesuatu,&quot; tukas Gunaryo, petugas keamanan perumahan.

6. Tulang Rusuk Patah Diduga Jadi Penyebab Kematian

Kematian Kombes Pol (Purn) Agus Samad diduga kuat oleh pihak     kepolisian karena 6 tulang rusuk kirinya yang patah hingga menembus     jantung. Hal ini diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes     Pol Frans Barung Mangera usai hasil autopsi yang dikeluarkan tim  dokter.

Namun patahnya karena apa pihak kepolisian masih belum berani     memastikan penyebabnya. Dari hasil pemeriksaan medis, patahnya tulang     rusuk tersebut dari hantaman benda tumpul.

&quot;Tapi Menghantam, terhantam, atau dihantam kami tidak bisa     menyimpulkan. Yang jelas itu benturan dengan benda tajam sebagaimana     hasil pemeriksaan dokter,&quot; ujar Kasat Reskrim Polres Malang Kota saat     olah TKP Senin 26 Februari 2018.

7. Temuan Cairan Serangga di Mulut Korban

Temuan dua cairan pembasmi serangga dan cairan anti-rayap di ruang makan rumah korban juga menjadi bahan penyelidikan polisi.

&quot;Ada cairan baygon dan cairan antirayap di TKP ruang makan,&quot; jelas Kasat Reskrim AKP Ambuka Yudha.



Temuan lain cairan serangga juga terdapat di bekas muntahan yang diduga milik korban di dedaunan sekitar taman dan mulut korban.

Namun dari hasil pemeriksaan medis, cairan serangga yang terkandung     di mulut korban ternyata tak terdapat di dalam lambung, sehingga  polisi    menduga bukan menjadi penyebab kematian.

&quot;Cairan serangga itu ditemukan di mulut korban. Tidak menjadi     penyebab kematian karena di lambung dari hasil autopsi tidak ditemukan     itu (cairan serangga),&quot; ujar Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol     Frans Barung Mangera saat dihubungi okezone, Minggu 4 Maret 2018.

8. 'TKP Yang Sempurna' atau TKP Yang Rusak?

Kejanggalan demi kejanggalan membuat pihak kepolisian masih      berhati-hati dalam menyimpulkan penyebab kematian eks Wakapolda Sumut      ini. Salah satunya yakni tak ditemukan sidik jari lain selain sidik      korban dn istrinya Suhartatik di lokasi kejadian usai olah TKP.

Bahkan jika memang meninggal dunia karena dibunuh, polisi belum bisa      menemukan jalan masuk dan keluar pelaku. Bagian belakang rumah  korban     terbentang dinding batu bata setinggi 7 meter dengan besi  lancip di     ujungnya.

Sementara dari pintu depan semua pintu dan jendela rumah dalan      kondisi terkunci dari dalam. Bahkan warga terpaksa mendobrak pintu ruang      tamu untuk mengecek kondisi pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera     Barat  71 tahun lalu ini.



Bahkan salah seorang perwira kepolisian yang mengikuti olah TKP menyebut bila memang dibunuh ini merupakan 'TKP yang sempurna' karena pelaku tak meninggalkan jejak, namun bila      dikatakan bunuh diri, membutuhkan upaya pembuktian yang cukup kuat      mengingat kejanggalan - kejanggalan yang ditemukan.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri bahkan menyebutkan sulitnya polisi      mengungkap kematian korban, karena TKP yang 'rusak'. Mengingat saat      kejadian banyak orang dari relawan yang masuk dan meninggalkan jejak      kaki.

&quot;Ada jejak kaki lain di TKP. Itu karena sudah banyak orang keluar masuk TKP,&quot; beber Asfuri.

9. Polisi Periksa 20 Saksi Terkait Kematian Korban

Guna mendalami penyebab kematian eks Wakapolda Sumut, selain       melakukan olah TKP dan pemeriksaan laboratorium, pihak kepolisian juga       telah memeriksa setidaknya 20 orang saksi.

&quot;Saksi yang diperiksa sudah 20 orang, termasuk pihak eksternal       keluarga,&quot; tukas Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung       Mangera.

Namun pihak kepolisian tak menjelaskan secara detail siapa saja saksi       dari pihak eksternal yang diperiksa kepolisian. Pihak kepolisian     hanya   menyebutkan anggota keluarga korban yang diperiksa yakni sang     istri   Suhartatik, kedua anak korban Timur Dikman Sasmita, dan anak     kedua   Radiasa Agung Wicaksana.



Meski demikian berdasarkan informasi yang dihimpun Okezone, saksi       eksternal yang diperiksa kepolisian antara lain Gunaryo selaku petugas       keamanan setempat, Rahma dan Prapto yang merupakan teman istri   korban,     Ketua RT 9 tempat korban berdomisili Budi Wijaya, adik   korban  Sofyan,    seorang tukang las di belakang rumah korban, Arif   Widaryanto.

Bahkan pihak internal keluarga beberapa kali diperiksa polisi guna       mendalami keseharian korban seperti apa. &quot;Hari ini (Jum'at 2 Maret    2018)    kita mengambil keterangan dari istri korban terkait keseharian    korban    seperti apa. Tidak ada yang lain, hanya mempelajari   keseharian   korban,&quot;   jelas Kasat Reskrim AKP Ambuka Yudha.

10. Mengundang Perhatian Kapolda dan Mabes Polri

Kematian salah satu purnawirawan anggotanya tak hanya mengundang        Polres Malang Kota saja, bahkan tim Polda Jawa Timur melalui  Direktorat       Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum), dan Tim  Labfor Mabes  Polri      Jakarta sampai harus turun tangan menangani  kasus kematian  yang      tergolong rumit ini.

Tak hanya itu dari rangkaian kiriman bunga sebagai ucapan duka,        terselip karangan bunga dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

&quot;Kasus Malang ini perlu menjadi perhatian kita semua, terutama Polda        Jatim,&quot; jelas Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung      Mangera.



Bahkan pada Kamis 1 Maret 2018, tim gabungan dari Inafis (Indonesia        Automatic Fingerprints Identification System) Polres Malang Kota,   Tim      Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim, dan Labfor Mabes   Polri      melakukan olah TKP bersama selama kurang lebih 6 jam di rumah    korban.

Pihak Polda Jatim pun harus menunggu analisis temuan di TKP oleh tim        Labfor Mabes Polri. &quot;Masih proses. Ini kita tunggu satu analisis    lagi     dari Mabes Polri,&quot; jelas Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes    Pol  Frans    Barung Mangera.

Di sisi lain, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Waseso        berharap penyebab kematian purnawirawan eks Wakapolda Sumatera   Utara      bisa segera terungkap. &quot;Dalam waktu dekat semoga bisa segera      terungkap,&quot;   ungkapnya kepada media saat ditemui di Depok.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin pun berjanji akan        membeberkan temuan terkait kematian eks Wakapolda Sumut secara lengkap        ke publik usai proses penyelidikan semua selesai dilakukan.

&quot;Nanti ada waktu yang tepat untuk dirilis dengan baik. Tunggu setelah        semuanya final,&quot; tegas Kapolda di sela - sela kunjungannya ke    Ponpes     Darul Hadist, Sabtu 10 Maret 2018 lalu.



Sebelumnya, warga Perumahan Bukit Dieng Permai dikejutkan penemuan        jasad purnawirawan mantan Wakapolda Sumatera Utara yang tewas    bersimpah     darah dengan kondisi kali terikat tali rafia hitam di    taman belakang     rumahnya di Perumahan Bukit Dieng Permai MB 9, pada    Sabtu pagi 24     Februari 2018.

Diduga korban yang berusia 71 tahun ini menjadi korban pembunuhan        karena ditemukan sejumlah bercak darah di ruang makan yang berjarak  10       meter dari penemuan jasad korban.

Polisi hingga kini sudah memeriksa sejumlah saksi dari istri, anak,        saudara, dan kerabat korban. Pihak kepolisian juga telah memeriksa        petugas keamanan, tetangga, dan saksi mata saat pertama kali   menemukan      korban tewas.
</content:encoded></item></channel></rss>
