<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketika Dedi Mulyadi Diarak Naik Kereta Kencana Paksi Naga Liman</title><description>Dedi Mulyadi berkesempatan menaiki kereta kencana Paksi Naga Liman.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/02/525/1880857/ketika-dedi-mulyadi-diarak-naik-kereta-kencana-paksi-naga-liman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/02/525/1880857/ketika-dedi-mulyadi-diarak-naik-kereta-kencana-paksi-naga-liman"/><item><title>Ketika Dedi Mulyadi Diarak Naik Kereta Kencana Paksi Naga Liman</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/02/525/1880857/ketika-dedi-mulyadi-diarak-naik-kereta-kencana-paksi-naga-liman</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/02/525/1880857/ketika-dedi-mulyadi-diarak-naik-kereta-kencana-paksi-naga-liman</guid><pubDate>Senin 02 April 2018 11:11 WIB</pubDate><dc:creator>Dwi Ayu Artantiani </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/02/525/1880857/ketika-dedi-mulyadi-diarak-naik-kereta-kencana-paksi-naga-liman-KFxP0QTyNE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dedi Mulyadi saat diarak dengan kereta kencana Paksi Naga Liman. (Foto: Dwi Ayu/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/02/525/1880857/ketika-dedi-mulyadi-diarak-naik-kereta-kencana-paksi-naga-liman-KFxP0QTyNE.jpg</image><title>Dedi Mulyadi saat diarak dengan kereta kencana Paksi Naga Liman. (Foto: Dwi Ayu/Okezone)</title></images><description>CIREBON - Kedatangan Calon Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi di Pondok Pesantren Raja&amp;rsquo;ul &amp;lsquo;Ulum Hidayah al Isma&amp;rsquo;iliyah, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sangat ditunggu-tunggu. Bahkan dalam acara Isra&amp;rsquo; Mi&amp;rsquo;raj tersebut, Dedi diminta para kiai pesantren Kabupaten Cirebon untuk naik Kereta Paksi Naga Liman.
Kereta kencana tersebut sarat dengan nilai sejarah, memiliki bentuk berupa gabungan tiga hewan yakni paksi (burung garuda), naga (ular naga) dan liman (gajah). Pada bagian liman, terdapat trisula yang melilit dengan gaya siap menyerang. Trisula tersebut merupakan lambang 'Iman, Islam dan Ihsan' dalam Agama Islam. Syaikh Datuk Kahfi dan Sunan Gunung Jati berada di garda terdepan penyebaran Islam di daerah tersebut.
Dedi mengatakan, kereta ini hanya replika dan memiliki sejarah panjang bagi Cirebon, aslinya sudah uzur dimakan usia dan diletakkan di keraton.
Kehadirannya sebagai salah satu kader terbaik Nahdlatul Ulama rupanya sudah direncanakan jauh hari oleh keluarga pesantren. Jalinan silaturahmi yang sudah lama tersambung menjadikan Dedi akrab dengan putera bungsu Kiai Muhammad, Gus Zydni. Bocah berusia 6 tahun tersebut ternyata hanya mau dikhitan jika Dedi hadir mendampinginya dalam arak-arakan. Beberapa minggu lalu, Dedi berjanji hadir untuk memenuhi permintaan tersebut.
(Baca juga: Dedi Mulyadi Canangkan Program Pasar Rakyat Gratis)
&amp;ldquo;Ya, hadir di sini atas permintaan anak bungsu Pak Kiai, mau disunat kalau saya temani arak-arakan katanya,&amp;rdquo;ujarnya, Senin (2/4/2018).
Dedi memiliki pandangan strategis atas peristiwa kultural yang baru saja ia alami. Baginya, arak-arakan pengantin sunat maupun Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di Cirebon dapat menjadi wisata budaya andalan.
Berbagai langkah diakuinya sudah disiapkan untuk hal tersebut, di antaranya dengan cara merawat berbagai produk budaya agar tetap lestari. Selain itu, manajemen kekinian harus disiapkan agar wisata budaya mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar.
&amp;ldquo;Ini salah satu produk kebudayaan yang harus lestari. Ke depan, Kereta Paksi Naga Liman harus ada replika baru, agar kereta asli tetap terjaga. Momentum seperti ini harus terkelola sebagai wisata budaya agar masyarakat sekitar mendapatkan manfaat,&amp;rdquo; ungkapnya.
(Baca juga: Tekad Dedi Mulyadi Jadikan Garut Lokasi Wisata Unggulan)
Pengasuh pondok pesantren, Kiai Asep menuturkan, kereta milik Sunan Gunung Jati tersebut dikeluarkan saat Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Selain itu, peringatan khusus yang digelar oleh Keraton Cirebon juga mengharuskan arak-arakan yang diikuti kereta tersebut.
&amp;ldquo;Hari-hari besar Islam seperti ini pasti Kereta Paksi Naga Liman diarak. Di Cirebon, setiap pesantren yang masih memiliki hubungan darah dengan keraton pasti punya kereta kencana. Seperti di sini dan Pesantren Benda Kerep,&amp;rdquo; katanya.
Seizin kiai pesantren, Dedi Mulyadi bersama Gus Zydni, putera Kiai Muhammad yang baru saja dikhitan menaiki Kereta Paksi Naga Liman. Mereka berdua diarak berkeliling dan mengundang perhatian warga sekitar.</description><content:encoded>CIREBON - Kedatangan Calon Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi di Pondok Pesantren Raja&amp;rsquo;ul &amp;lsquo;Ulum Hidayah al Isma&amp;rsquo;iliyah, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sangat ditunggu-tunggu. Bahkan dalam acara Isra&amp;rsquo; Mi&amp;rsquo;raj tersebut, Dedi diminta para kiai pesantren Kabupaten Cirebon untuk naik Kereta Paksi Naga Liman.
Kereta kencana tersebut sarat dengan nilai sejarah, memiliki bentuk berupa gabungan tiga hewan yakni paksi (burung garuda), naga (ular naga) dan liman (gajah). Pada bagian liman, terdapat trisula yang melilit dengan gaya siap menyerang. Trisula tersebut merupakan lambang 'Iman, Islam dan Ihsan' dalam Agama Islam. Syaikh Datuk Kahfi dan Sunan Gunung Jati berada di garda terdepan penyebaran Islam di daerah tersebut.
Dedi mengatakan, kereta ini hanya replika dan memiliki sejarah panjang bagi Cirebon, aslinya sudah uzur dimakan usia dan diletakkan di keraton.
Kehadirannya sebagai salah satu kader terbaik Nahdlatul Ulama rupanya sudah direncanakan jauh hari oleh keluarga pesantren. Jalinan silaturahmi yang sudah lama tersambung menjadikan Dedi akrab dengan putera bungsu Kiai Muhammad, Gus Zydni. Bocah berusia 6 tahun tersebut ternyata hanya mau dikhitan jika Dedi hadir mendampinginya dalam arak-arakan. Beberapa minggu lalu, Dedi berjanji hadir untuk memenuhi permintaan tersebut.
(Baca juga: Dedi Mulyadi Canangkan Program Pasar Rakyat Gratis)
&amp;ldquo;Ya, hadir di sini atas permintaan anak bungsu Pak Kiai, mau disunat kalau saya temani arak-arakan katanya,&amp;rdquo;ujarnya, Senin (2/4/2018).
Dedi memiliki pandangan strategis atas peristiwa kultural yang baru saja ia alami. Baginya, arak-arakan pengantin sunat maupun Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di Cirebon dapat menjadi wisata budaya andalan.
Berbagai langkah diakuinya sudah disiapkan untuk hal tersebut, di antaranya dengan cara merawat berbagai produk budaya agar tetap lestari. Selain itu, manajemen kekinian harus disiapkan agar wisata budaya mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar.
&amp;ldquo;Ini salah satu produk kebudayaan yang harus lestari. Ke depan, Kereta Paksi Naga Liman harus ada replika baru, agar kereta asli tetap terjaga. Momentum seperti ini harus terkelola sebagai wisata budaya agar masyarakat sekitar mendapatkan manfaat,&amp;rdquo; ungkapnya.
(Baca juga: Tekad Dedi Mulyadi Jadikan Garut Lokasi Wisata Unggulan)
Pengasuh pondok pesantren, Kiai Asep menuturkan, kereta milik Sunan Gunung Jati tersebut dikeluarkan saat Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Selain itu, peringatan khusus yang digelar oleh Keraton Cirebon juga mengharuskan arak-arakan yang diikuti kereta tersebut.
&amp;ldquo;Hari-hari besar Islam seperti ini pasti Kereta Paksi Naga Liman diarak. Di Cirebon, setiap pesantren yang masih memiliki hubungan darah dengan keraton pasti punya kereta kencana. Seperti di sini dan Pesantren Benda Kerep,&amp;rdquo; katanya.
Seizin kiai pesantren, Dedi Mulyadi bersama Gus Zydni, putera Kiai Muhammad yang baru saja dikhitan menaiki Kereta Paksi Naga Liman. Mereka berdua diarak berkeliling dan mengundang perhatian warga sekitar.</content:encoded></item></channel></rss>
