<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Balita Positif Narkoba Usai Makan Permen, Polisi: Kalau Mengandung Alkohol Ada</title><description>Menurut polisi, sejauh ini belum pernah ditemukan permen mengandung narkoba.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/03/337/1881440/balita-positif-narkoba-usai-makan-permen-polisi-kalau-mengandung-alkohol-ada</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/03/337/1881440/balita-positif-narkoba-usai-makan-permen-polisi-kalau-mengandung-alkohol-ada"/><item><title>Balita Positif Narkoba Usai Makan Permen, Polisi: Kalau Mengandung Alkohol Ada</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/03/337/1881440/balita-positif-narkoba-usai-makan-permen-polisi-kalau-mengandung-alkohol-ada</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/03/337/1881440/balita-positif-narkoba-usai-makan-permen-polisi-kalau-mengandung-alkohol-ada</guid><pubDate>Selasa 03 April 2018 13:51 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/03/337/1881440/balita-positif-narkoba-usai-makan-permen-polisi-kalau-mengandung-alkohol-ada-GibZum3b2e.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Direktur Tipid Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Daniyanto. (Foto: M Rizky/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/03/337/1881440/balita-positif-narkoba-usai-makan-permen-polisi-kalau-mengandung-alkohol-ada-GibZum3b2e.jpg</image><title>Direktur Tipid Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Daniyanto. (Foto: M Rizky/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Seorang balita 3,8 tahun di Kabupaten Kepulauan  Meranti, Provinsi Riau diduga positif narkoba usai mengonsumsi permen.  Hasil pemeriksaan di RS. Meranti menyatakan balita tersebut positif  narkoba, namun setelah diperiksa ulang oleh Polres Meranti, hasilnya  negatif.
Menanggapi hal itu, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri,  Brigjen Pol Eko Daniyanto mengungkapkan, selama ini yang Ia tahu hanya  ada permen yang mengandung alkohol, dan di negara lain pun katanya belum  ada laporan mengenai permen yang mengandung narkoba.
&quot;Yang ada permen mengandung alkohol ada, kalau saya habis tugas dari  luar negeri saya singgah ke Singapura saya dikasih permen ada alkohol,  tapi mengandung narkoba saya belum temukan,&quot; kata Eko di Tipid Narkoba,  Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (3/4/2018).
(Baca juga: Ibu dan Balita di Riau Positif Narkoba Usai Makan Permen, Kok Bisa?)
Agar tak membingungkan, Eko mengatakan pihaknya telah memerintahkan untuk kembali mengambil sampel urine dan kembali memeriksa permen tersebut di laboratorium.
&quot;Inikan menjadi confuse (membingungkan), saya tidak mau seperti ini mengambang, saya sudah  perintahkan kepada Dirnarkoba ambil lagi tes urine-nya lagi, kemudian  yang permen Yupi itu dibawa ke laboratorium di sana di kabupaten tidak  ada laboratorium yang ada di provinsi,&quot;
Jadi kata Eko, saat  ini sampel permen yang dikonsumsi oleh ibu dan anak tersebut sudah  dibawa ke laboratorium Balai POM. Karena katanya hanya Balai POM yang  bisa mengurai apa saja bahan yang terkandung dalam permen tersebut.
(Baca juga: Puslabfor Akan Cek Lagi Urine Balita Positif Narkoba di Riau)
&quot;Urinenya nanti dikirim ke Jakarta, bawa ke BNN, jadi nanti kita harapkan ada suatu informasi yang aktual dan update berita yang terkini dan hari ini saya perintahkan hari ini, katanya informasi sudah akan keluar dari Balai POM,&quot; terangnya.
Pun demikian, kata Eko, sampai sejauh ini pihaknya belum bisa  memastikan apakah dalam permen tersebut terkandung narkoba atau tidak.  &quot;Tolong rekan-rekan dibantu, di kita belum bisa memastikan apakah benar  permen itu mengandung methamphetamin atau metavitamin, tapi yang jelas kita akan menyerahkan kepada ahlinya,&quot; tukasnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang balita di Kabupaten Kepulauan  Meranti, Provinsi Riau, positif narkoba diduga usai memakan permen.  Balita berinisial CS positif narkoba yang mengandung methafetamin dan  amphetamin.Informasi yang dihimpun, pihak Satuan Reserse Narkoba Polres Meranti   mendapatkan laporan dari warga berinisial RN (34) Jalan Alah Cikpuan   Gang Mulia Selatpajang yang tidak lain adalah ibu korban, pada 31 Maret   2017. RN mengaku putrinya mengalami ilusi setelah mengonsumsi 3 buah   permen.
RN mengaku pada 30 Maret 2017, anaknya bermain di rumah kakeknya  di  Jalan Alah Cikpuan. Saat bermain itu, kakeknya membelikan sejumlah   permen di warung milik AR, dekat rumah kakeknya.
Setelah mengonsumsi permen tersebut sekitar 3 jam perilaku korban   langsung berubah. Korban yang masih balita itu bicara tidak karuan.   Bahkan korban tidak bisa tidur. Karena khawatir pihak keluarga   melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.</description><content:encoded>JAKARTA - Seorang balita 3,8 tahun di Kabupaten Kepulauan  Meranti, Provinsi Riau diduga positif narkoba usai mengonsumsi permen.  Hasil pemeriksaan di RS. Meranti menyatakan balita tersebut positif  narkoba, namun setelah diperiksa ulang oleh Polres Meranti, hasilnya  negatif.
Menanggapi hal itu, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri,  Brigjen Pol Eko Daniyanto mengungkapkan, selama ini yang Ia tahu hanya  ada permen yang mengandung alkohol, dan di negara lain pun katanya belum  ada laporan mengenai permen yang mengandung narkoba.
&quot;Yang ada permen mengandung alkohol ada, kalau saya habis tugas dari  luar negeri saya singgah ke Singapura saya dikasih permen ada alkohol,  tapi mengandung narkoba saya belum temukan,&quot; kata Eko di Tipid Narkoba,  Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (3/4/2018).
(Baca juga: Ibu dan Balita di Riau Positif Narkoba Usai Makan Permen, Kok Bisa?)
Agar tak membingungkan, Eko mengatakan pihaknya telah memerintahkan untuk kembali mengambil sampel urine dan kembali memeriksa permen tersebut di laboratorium.
&quot;Inikan menjadi confuse (membingungkan), saya tidak mau seperti ini mengambang, saya sudah  perintahkan kepada Dirnarkoba ambil lagi tes urine-nya lagi, kemudian  yang permen Yupi itu dibawa ke laboratorium di sana di kabupaten tidak  ada laboratorium yang ada di provinsi,&quot;
Jadi kata Eko, saat  ini sampel permen yang dikonsumsi oleh ibu dan anak tersebut sudah  dibawa ke laboratorium Balai POM. Karena katanya hanya Balai POM yang  bisa mengurai apa saja bahan yang terkandung dalam permen tersebut.
(Baca juga: Puslabfor Akan Cek Lagi Urine Balita Positif Narkoba di Riau)
&quot;Urinenya nanti dikirim ke Jakarta, bawa ke BNN, jadi nanti kita harapkan ada suatu informasi yang aktual dan update berita yang terkini dan hari ini saya perintahkan hari ini, katanya informasi sudah akan keluar dari Balai POM,&quot; terangnya.
Pun demikian, kata Eko, sampai sejauh ini pihaknya belum bisa  memastikan apakah dalam permen tersebut terkandung narkoba atau tidak.  &quot;Tolong rekan-rekan dibantu, di kita belum bisa memastikan apakah benar  permen itu mengandung methamphetamin atau metavitamin, tapi yang jelas kita akan menyerahkan kepada ahlinya,&quot; tukasnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang balita di Kabupaten Kepulauan  Meranti, Provinsi Riau, positif narkoba diduga usai memakan permen.  Balita berinisial CS positif narkoba yang mengandung methafetamin dan  amphetamin.Informasi yang dihimpun, pihak Satuan Reserse Narkoba Polres Meranti   mendapatkan laporan dari warga berinisial RN (34) Jalan Alah Cikpuan   Gang Mulia Selatpajang yang tidak lain adalah ibu korban, pada 31 Maret   2017. RN mengaku putrinya mengalami ilusi setelah mengonsumsi 3 buah   permen.
RN mengaku pada 30 Maret 2017, anaknya bermain di rumah kakeknya  di  Jalan Alah Cikpuan. Saat bermain itu, kakeknya membelikan sejumlah   permen di warung milik AR, dekat rumah kakeknya.
Setelah mengonsumsi permen tersebut sekitar 3 jam perilaku korban   langsung berubah. Korban yang masih balita itu bicara tidak karuan.   Bahkan korban tidak bisa tidur. Karena khawatir pihak keluarga   melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.</content:encoded></item></channel></rss>
