<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Kapten Kapal Penyapu Ranjau Swiss Selama Ekspedisi Keliling Dunia</title><description>Kapten kapal asal Spanyol itu mengaku cukup beruntung dapat ikut berlayar dalam ekspedisi Fleur de Passion keliling dunia.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/04/18/1882004/cerita-kapten-kapal-penyapu-ranjau-swiss-selama-ekspedisi-keliling-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/04/18/1882004/cerita-kapten-kapal-penyapu-ranjau-swiss-selama-ekspedisi-keliling-dunia"/><item><title>Cerita Kapten Kapal Penyapu Ranjau Swiss Selama Ekspedisi Keliling Dunia</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/04/18/1882004/cerita-kapten-kapal-penyapu-ranjau-swiss-selama-ekspedisi-keliling-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/04/18/1882004/cerita-kapten-kapal-penyapu-ranjau-swiss-selama-ekspedisi-keliling-dunia</guid><pubDate>Rabu 04 April 2018 14:18 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/04/18/1882004/cerita-kapten-kapal-penyapu-ranjau-swiss-selama-ekspedisi-keliling-dunia-pSbSH9AmXe.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kapten kapal Fleur de Passion, Pere Valerta Taltavull, mengaku cukup sulit mengorganisasi para kru selama di lautan (Foto: Wikanto Arungbudoyo/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/04/18/1882004/cerita-kapten-kapal-penyapu-ranjau-swiss-selama-ekspedisi-keliling-dunia-pSbSH9AmXe.jpeg</image><title>Kapten kapal Fleur de Passion, Pere Valerta Taltavull, mengaku cukup sulit mengorganisasi para kru selama di lautan (Foto: Wikanto Arungbudoyo/Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Punya pengalaman berlayar di hampir sepanjang hidupnya, membuat Pere Valera Taltavull, tidak ragu untuk ambil bagian dalam misi pelayaran Fleur de Passion keliling dunia. Pria asal Minorca, Spanyol, itu mengaku cukup beruntung sebagai pelaut dapat ambil bagian dalam napak tilas 500 tahun ekspedisi Ferdinand Magellan.
&amp;ldquo;Hidup di atas kapal tentu berbeda dengan daratan. Kami harus mempersiapkan semuanya, makanan, air, satelit komunikasi, laptop, dan semacamnya. Kami beruntung kapal ini dilengkapi teknologi cukup canggih, tetapi kami memilih berlayar secara tradisional,&amp;rdquo; ujar Pere di atas Kapal Fleur de Passion yang singgah di Jakarta, Rabu (4/4/2018).
&amp;ldquo;Cukup sulit untuk mengatur hidup di atas kapal. Ini tugas berat, tidak hanya buat kapten tetapi juga kru yang lain,&amp;rdquo; imbuh pria berusia 50 tahun itu.
BACA JUGA: Keliling Dunia, Kapal Penyapu Ranjau Swiss Singgah di Jakarta
Pere Valera mengakui bahwa semuanya sudah cukup mudah sekarang. Tetapi, kru kapal memilih untuk melakukan pelayaran secara tradisional, seperti navigasi dengan membaca bintang.
Fleur de Passion berlayar atas prakarsa Yayasan Pacifique Foundation. Wakil Presiden Pacifique Foundation, Samuel Gardaz menuturkan, pendanaan dilakukan oleh pihak-pihak swasta lewat mekanisme program edukasi. Meski demikian, pemerintah Swiss pun turut membantu lewat program yang sama. Kru Fleur de Passion juga membuka kesempatan bagi penumpang reguler.
&amp;ldquo;Kita juga membawa penumpang. Siapa saja yang mau ikut silakan, tetapi harus bayar. Kita bisa saja mempersilakan mereka ikut dengan gratis, tetapi kita butuh biaya. Tentu harganya cukup terjangkau,&amp;rdquo; ucap Samuel Gardaz.
&amp;ldquo;Mereka semua tidak ada yang menimbulkan masalah. Bahkan sebenarnya mereka sangat membantu. Apalagi, anak saya ikut di kapal ini. Dia juga membantu seperti memasak dan mengangkat layar,&amp;rdquo; imbuh pria asal Prancis tersebut.
Menurut Pere Valera, hanya ada satu hal yang membuat seseorang ingin ikut misi penjelajahan tersebut, yakni gairah atau passion. Sebab, tanpa gairah tentu sulit untuk berbagi kehidupan dengan belasan orang di area hanya seluas 33 meter (m) selama beberapa tahun di atas lautan.
&amp;ldquo;Anda harus menangani segala sesuatu dengan baik. Mereka sangat bergairah untuk misi ini. Di sini Anda dapat mengenal diri sendiri dan mencoba memahami orang lain dengan lebih baik,&amp;rdquo; kata lelaki yang mengaku sudah menyeberangi Samudera Atlantik sebanyak delapan kali itu.
Pele Valera mengatakan, selama berlayar selalu ada hal-hal yang tidak dapat diprediksi. Akan tetapi, hal-hal tidak terprediksi itu sebaiknya tidak perlu dipikirkan.
&amp;ldquo;Ada hal yang tidak bisa Anda prediksi. Jangan pikirkan itu. Yang penting organisasi. Bersiap untuk semua yang bisa Anda kontrol. Sisanya adalah keberuntungan,&amp;rdquo; ujar Pele Valera Taltavull dengan mantap.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Punya pengalaman berlayar di hampir sepanjang hidupnya, membuat Pere Valera Taltavull, tidak ragu untuk ambil bagian dalam misi pelayaran Fleur de Passion keliling dunia. Pria asal Minorca, Spanyol, itu mengaku cukup beruntung sebagai pelaut dapat ambil bagian dalam napak tilas 500 tahun ekspedisi Ferdinand Magellan.
&amp;ldquo;Hidup di atas kapal tentu berbeda dengan daratan. Kami harus mempersiapkan semuanya, makanan, air, satelit komunikasi, laptop, dan semacamnya. Kami beruntung kapal ini dilengkapi teknologi cukup canggih, tetapi kami memilih berlayar secara tradisional,&amp;rdquo; ujar Pere di atas Kapal Fleur de Passion yang singgah di Jakarta, Rabu (4/4/2018).
&amp;ldquo;Cukup sulit untuk mengatur hidup di atas kapal. Ini tugas berat, tidak hanya buat kapten tetapi juga kru yang lain,&amp;rdquo; imbuh pria berusia 50 tahun itu.
BACA JUGA: Keliling Dunia, Kapal Penyapu Ranjau Swiss Singgah di Jakarta
Pere Valera mengakui bahwa semuanya sudah cukup mudah sekarang. Tetapi, kru kapal memilih untuk melakukan pelayaran secara tradisional, seperti navigasi dengan membaca bintang.
Fleur de Passion berlayar atas prakarsa Yayasan Pacifique Foundation. Wakil Presiden Pacifique Foundation, Samuel Gardaz menuturkan, pendanaan dilakukan oleh pihak-pihak swasta lewat mekanisme program edukasi. Meski demikian, pemerintah Swiss pun turut membantu lewat program yang sama. Kru Fleur de Passion juga membuka kesempatan bagi penumpang reguler.
&amp;ldquo;Kita juga membawa penumpang. Siapa saja yang mau ikut silakan, tetapi harus bayar. Kita bisa saja mempersilakan mereka ikut dengan gratis, tetapi kita butuh biaya. Tentu harganya cukup terjangkau,&amp;rdquo; ucap Samuel Gardaz.
&amp;ldquo;Mereka semua tidak ada yang menimbulkan masalah. Bahkan sebenarnya mereka sangat membantu. Apalagi, anak saya ikut di kapal ini. Dia juga membantu seperti memasak dan mengangkat layar,&amp;rdquo; imbuh pria asal Prancis tersebut.
Menurut Pere Valera, hanya ada satu hal yang membuat seseorang ingin ikut misi penjelajahan tersebut, yakni gairah atau passion. Sebab, tanpa gairah tentu sulit untuk berbagi kehidupan dengan belasan orang di area hanya seluas 33 meter (m) selama beberapa tahun di atas lautan.
&amp;ldquo;Anda harus menangani segala sesuatu dengan baik. Mereka sangat bergairah untuk misi ini. Di sini Anda dapat mengenal diri sendiri dan mencoba memahami orang lain dengan lebih baik,&amp;rdquo; kata lelaki yang mengaku sudah menyeberangi Samudera Atlantik sebanyak delapan kali itu.
Pele Valera mengatakan, selama berlayar selalu ada hal-hal yang tidak dapat diprediksi. Akan tetapi, hal-hal tidak terprediksi itu sebaiknya tidak perlu dipikirkan.
&amp;ldquo;Ada hal yang tidak bisa Anda prediksi. Jangan pikirkan itu. Yang penting organisasi. Bersiap untuk semua yang bisa Anda kontrol. Sisanya adalah keberuntungan,&amp;rdquo; ujar Pele Valera Taltavull dengan mantap.</content:encoded></item></channel></rss>
