<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BNN Masih Tunggu Hasil Labfor Terkait Balita Positif Narkoba di Riau</title><description>Heru mengimbau orangtua lebih memperhatikan anak-anaknya agar kasus ini tidak terulang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/04/337/1881856/bnn-masih-tunggu-hasil-labfor-terkait-balita-positif-narkoba-di-riau</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2018/04/04/337/1881856/bnn-masih-tunggu-hasil-labfor-terkait-balita-positif-narkoba-di-riau"/><item><title>BNN Masih Tunggu Hasil Labfor Terkait Balita Positif Narkoba di Riau</title><link>https://news.okezone.com/read/2018/04/04/337/1881856/bnn-masih-tunggu-hasil-labfor-terkait-balita-positif-narkoba-di-riau</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2018/04/04/337/1881856/bnn-masih-tunggu-hasil-labfor-terkait-balita-positif-narkoba-di-riau</guid><pubDate>Rabu 04 April 2018 10:17 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/04/04/337/1881856/bnn-masih-tunggu-hasil-labfor-terkait-balita-positif-narkoba-di-riau-EdpWi6uY1h.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala BNN Komjen Heru Winarko (Foto: Fakhrizal Fakhri/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/04/04/337/1881856/bnn-masih-tunggu-hasil-labfor-terkait-balita-positif-narkoba-di-riau-EdpWi6uY1h.jpg</image><title>Kepala BNN Komjen Heru Winarko (Foto: Fakhrizal Fakhri/Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Heru Winarko mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu hasil laboratorium forensik dari balita CS berusia 3 tahun 8 bulan tahun di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, diduga positif narkoba usai mengonsumsi permen.

&amp;ldquo;Kemarin udah dicek di Kepulauan Meranti. Hasilnya sedang kita cek di lab belum keluar itu hasilnya nantilah,&amp;rdquo; kata Heru di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (4/4/2018).

Haru menambahkan, adanya kasus balita CS yang diduga positif narkoba tersebut diharapkan bisa menjadi contoh agar para orang tua lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi anaknya.

&amp;ldquo;Inilah contoh semua masyarakat harus perhatian masalah narkoba. Jadi, para ibu, anak-anak yang jajan tolong diperhatikan apa yang dikonsumsi anak,&amp;rdquo; tutur Heru.

Selain itu, Heru mengatakan, pihak BNN akan bekerjasama dengan Balai Pom untuk mengetahui apakah ini merupakan modus baru peredaran narkoba baru dalam bentuk permen ataupun makanan.

&amp;ldquo;Bisa jadi. Kita akan kerjasama dengan Balai Pom,&amp;rdquo; paparnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang balita di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, positif narkoba diduga usai memakan permen. Balita berinisial CS positif narkoba yang mengandung methafetamin dan amphetamin.

(Baca Juga: Puslabfor Akan Cek Lagi Urine Balita Positif Narkoba di Riau)

Informasi yang dihimpun, pihak Satuan Reserse Narkoba Polres Meranti mendapatkan laporan dari warga berinisial RN (34) Jalan Alah Cikpuan Gang Mulia Selatpajang yang tidak lain adalah ibu korban, pada 31 Maret 2017. RN mengaku putrinya mengalami ilusi setelah mengonsumsi 3 buah permen.

RN mengaku pada 30 Maret 2017, anaknya bermain di rumah kakeknya di Jalan Alah Cikpuan. Saat bermain itu, kakeknya membelikan sejumlah permen di warung milik AR, dekat rumah kakeknya.

(Baca Juga: Balita Positif Narkoba Usai Makan Permen, Polisi: Kalau Mengandung Alkohol Ada)

Setelah mengonsumsi permen tersebut sekitar 3 jam perilaku korban langsung berubah. Korban yang masih balita itu bicara tidak karuan. Bahkan korban tidak bisa tidur. Karena khawatir pihak keluarga melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Heru Winarko mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu hasil laboratorium forensik dari balita CS berusia 3 tahun 8 bulan tahun di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, diduga positif narkoba usai mengonsumsi permen.

&amp;ldquo;Kemarin udah dicek di Kepulauan Meranti. Hasilnya sedang kita cek di lab belum keluar itu hasilnya nantilah,&amp;rdquo; kata Heru di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (4/4/2018).

Haru menambahkan, adanya kasus balita CS yang diduga positif narkoba tersebut diharapkan bisa menjadi contoh agar para orang tua lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi anaknya.

&amp;ldquo;Inilah contoh semua masyarakat harus perhatian masalah narkoba. Jadi, para ibu, anak-anak yang jajan tolong diperhatikan apa yang dikonsumsi anak,&amp;rdquo; tutur Heru.

Selain itu, Heru mengatakan, pihak BNN akan bekerjasama dengan Balai Pom untuk mengetahui apakah ini merupakan modus baru peredaran narkoba baru dalam bentuk permen ataupun makanan.

&amp;ldquo;Bisa jadi. Kita akan kerjasama dengan Balai Pom,&amp;rdquo; paparnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang balita di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, positif narkoba diduga usai memakan permen. Balita berinisial CS positif narkoba yang mengandung methafetamin dan amphetamin.

(Baca Juga: Puslabfor Akan Cek Lagi Urine Balita Positif Narkoba di Riau)

Informasi yang dihimpun, pihak Satuan Reserse Narkoba Polres Meranti mendapatkan laporan dari warga berinisial RN (34) Jalan Alah Cikpuan Gang Mulia Selatpajang yang tidak lain adalah ibu korban, pada 31 Maret 2017. RN mengaku putrinya mengalami ilusi setelah mengonsumsi 3 buah permen.

RN mengaku pada 30 Maret 2017, anaknya bermain di rumah kakeknya di Jalan Alah Cikpuan. Saat bermain itu, kakeknya membelikan sejumlah permen di warung milik AR, dekat rumah kakeknya.

(Baca Juga: Balita Positif Narkoba Usai Makan Permen, Polisi: Kalau Mengandung Alkohol Ada)

Setelah mengonsumsi permen tersebut sekitar 3 jam perilaku korban langsung berubah. Korban yang masih balita itu bicara tidak karuan. Bahkan korban tidak bisa tidur. Karena khawatir pihak keluarga melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.

</content:encoded></item></channel></rss>
